Tampilkan postingan dengan label Journey Lulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journey Lulu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2015

Jurang Setan: Keindahannya Tidak Seseram Namanya



Pantai Jurang Setan
Pantai Jurang Setan
Setelah dari Istana Karang, Bang Chris mengajak kita semua snorkeling ke Jurang Setan. Mendengar namanya saya langsung bergidik ngeri, jurang setan? Jurang Setan ini adalah nama tempat di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Dompu. Letaknya tidak jauh dari Desa Calabai. Saya tidak tahu kenapa pantainya dinamakan Jurang Setan, mungkin karena diatas pantai ini ada tebing jalan yang lumayan ngeri sehingga disebut jurang setan, mungkin.
Matahari sedang terik-teriknya ketika kita tiba di Pantai Jurang Setan. Pantai berpasir hitam ini sangat sepi dari pengunjung, hanya ada beberapa anak muda yang sedang bermain-main di sana. Tidak jauh dari pantai itu ada aliran sungai air tawar yang sangat dingin, kontras dengan cuaca dan kedinginan airnya. Kata Bang Chris juga tidak jauh dari aliran sungai itu, tepat di bawah tebing Jurang Setan ada sebuah goa dengan lorong yang lumayan panjang dengan aliran sungai kecil didalamnya. Dari Pantai Jurang Setan, kita hanya berenang beberapa menit saja untuk menuju ke spot snorkelingnya, tidak perlu naik kapal seperti snorkeling kita yang pertama. Snorkeling di pantai ini bisa jadi alternatif pengobat rindu bermain dengan ikan-ikan, jika tidak bisa snorkeling di Istana Karang yang mengharuskan menyewa kapal. Letaknya pun tidak susah ditemui, tidak jauh dari pusat desa, jadi bisa dikunjungi setiap saat.
Yuhuuu, its time to snorkeling again.
Hari ini benar-benar surga bagi saya. Main sepuasnya bersama ikan-ikan. Terik yang begitu menyengat kulit tidak terasa ketika menceburkan diri kedalam laut. Adem. Berenang kesana kemari, say hello dengan ikan-ikan yang cantik. 
Karang di Jurang Setan

Sabtu, 27 Juni 2015

Berkunjung Ke Istana Karang Teluk Saleh

menuju lokasi snorkeling


Bicara tentang laut maka kita akan dihadapkan pada kegiatan asyik nan menyenangkan, yaitu snorkeling. Saya paling suka ini. Tujuan ke Calabai juga untuk itu, main-main bersama ikan cantiknya. Dari Pelabuhan Calabai kita bisa menyewa kapal milik nelayan untuk menuju spot-spot snorkeling bagus di sana. Laut Calabai, masuk ke dalam perairan Teluk Saleh, yang selama ini dikenal sebagai aquarium raksasa dunia. Ikan yang beraneka ragam, karang-karang yang cantik bisa kita temui disini.
“Spot snorkeling yang paling bagus itu ada di Istana Karang. Karangnya beraneka ragam, saya yakin ketika kesana kalian tidak bisa move on dari laut, ndak mau pulang.” Ehm promosi Bang Chris sedari tadi tidak ada habisnya tentang keindahan bawah laut Calabai semakin membuat tak sabar untuk say hello sama ikan-ikan itu. 
siap siap snorkeling

Kamis, 25 Juni 2015

Selamat Pagi Calabai



pelabuhan calabai
Semalaman menaklukan jalan Sumbawa-Dompu cukup membuat badan sakit tak karuan. Ibu sudah mengingatkan saya, kalau perjalanan Sumbawa-Dompu itu bukan perjalanan yang mudah, walaupun jalannya sudah bagus, tetapi jaraknya yang sangat jauh cukup membuat kelelahan. Dan benar saja, pukul 16.30 Wita meninggalkan Kota Sumbawa, baru tiba di Calabai-Dompu pukul 00.30 Wita. Bayangkan saja berapa jam waktu yang kita habiskan diperjalanan. Badan seperti mati rasa, pegal disana-sini. 
Tetapi memang untuk menikmati suatu keindahan memang butuh perjuangan, hahaha
Lets go adventure guys...
Gunung Tambora
Selamat Pagi Calabai
Calabai terletak di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, NTB. Selama ini Calabai dikenal sebagai gerbang masuk menuju Pulau Satonda dan Pulau Moyo. Bagi yang mau ke dua pulau eksotis itu bisa melalui Pelabuhan Calabai, menggunakan kapal boat milik warga. Tidak hanya itu, letaknya yang tepat berada di bawah kaki Gunung Tambora menjadikannya berhawa sejuk, tidak seperti daerah-daerah lain di Dompu (Pulau Sumbawa) yang panas. Airnya pun sangat dingin, mandi pagi dijamin menggigil. Pada pagi hari kita bisa menyaksikan keindahan matahari terbit tepat di atas Gunung Tambora. Di bagian baratnya lautan biru Teluk Saleh terhampar luas dengan Pulau Moyo dan Pulau Satonda yang terpajang di depannya. Ah memang tidak rugi saya menempuh perjalanan yang melelahkan ini, karena semua akan terbayar lunas dengan keindahan Calabai yang memikat mata dan hati.
“Cari kopi yuk. Kita ngopi di Pelabuhan Calabai, asyik ngopi pagi-pagi disana.” Seorang teman menawarkan. Ide yang bagus. Perut sedari tadi kembung, efek angin yang semalaman bebas masuk semaunya. Mungkin segelas kopi hangat bisa membuat perut sedikit membaik. Tepat di depan gapura Pelabuhan Calabai ada sebuah warung kecil yang sangat sederhana. Disitulah kami mampir sejenak, sembari menikmati pagi dengan segelas kopi panas.
Disekitar pelabuhan terlihat kesibukan para nelayan yang menebarkan jalanya, beberapa warga lainnya juga tak mau kalah mencoba peruntungan mendapatkan ikan dengan memancing. Di satu sudut lainnya anak-anak kecil berlarian kesana kemari, bermain bersama teman sebayanya.

Rabu, 24 Juni 2015

Karena Selfie di Bendungan Mamak itu Menyenangkan


Bendungan Mamak
Bendungan Mamak, merupakan satu dari banyak bendungan yang ada di Sumbawa. Bendungan ini terletak di Desa Mamak, Kecamatan Lopok, Sumbawa. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di bendungan ini, hanya 45 menit dari pusat kota Sumbawa. Jalannya pun sudah beraspal mulus, hanya di beberapa titik saja jalannya berlubang. Sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan oleh hijaunya persawahan penduduk. Bendungan Mamak ini sangat familiar di telinga warga Sumbawa. Selain fungsinya sebagai pusat irigasi sawah-sawah di Sumbawa, bendungan ini juga menjadi tempat mancing favorit warga. Hampir setiap hari, bendungan ini selalu ramai dikunjungi oleh para pemancing, tidak hanya berasal dari warga desa sekitar bendungan tetapi juga daerah-daerah di dalam kota Sumbawa. Nelayan ikan air tawar juga banyak ditemukan disini. Perahu mereka berjejer rapi disepanjang bendungan. Bagi warga yang ingin membeli ikan tanpa mau bersusah payah memancing, bisa membeli ikan melalui nelayan-nelayan yang ada di bendungan ini 
perahun nelayan

Selasa, 23 Juni 2015

Satu Hari di Bulan Juni Bersama Tulus


Tulus, keceeeeeeenya mengalihkan duniaku :D


“Ada semangat yang Baru di Satu Hari di Bulan Juni di kota tanpa Gajah ini, kota dimana aku pernah Jatuh Cinta dengan tulus bersama seseorang walaupun itu hanya Kisah Sebentar dan Boomerang bagiku, tetapi aku masih berharap dia akan menjadi Teman Hidup. Apakah itu Sewindu atau harus menunggu 1000 Tahun Lamanya lagi, aku berharap takdir kita tidak menjadikan kita bernasib seperti  Sepatu, yang selalu bersama tetapi tidak bisa bersatu. Jika memang takdir itu iya untuk kita,  Jangan Cintai Aku Apa Adanya ya, cintai aku dengan cara yang spesial, dengan caramu.”

Satu lagi bonus perjalanan yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Mataram kali ini. Bisa menonton konser Tulus. Ketika mengunjungi Pantai Ampenan kemarin ada seorang pemuda yang memberikan selebaran famplet konser Tulus di Halaman TVRI NTB. Konser Tulus yang telah diberitahu Kak Ade jauh hari sebelumnya, tetapi dengan setengah hati saya percaya, maklumlah Kak Ade suka iseng ngerjain saya, hahaha. Tetapi famplet yang saya dapatkan sore itu membuat saya melayang. Akhirnya, Tulus. Saya bisa juga menonton konser kece itu secara langsung. Konsernya hari Minggu 7 Juni 2015 pukul 20.00 Wita di acara launching Honda Scoopy yang berjudul “Honda Smart Adventure”. Yeay, kapan lagi saya bisa melihat Tulus secara langsung. 
konser Tulus di Halaman TVRI NTB, Mataram

Kamis, 18 Juni 2015

Mantar: Desa Kecil Nan Cantik di Atas Poto Tano



Mantar di pagi hari
Siang itu saya mendapatkan telepon dari Bang Jhony, seorang teman di Adventurous Sumbawa. Beliau memberitahukan bahwa ada volunteer dari Taiwan yang ingin memberikan bantuan peralatan sekolah kepada anak-anak di Desa Mantar dan Bang Jhony ingin saya ikut serta juga untuk membantu disana nanti. Mendengar tawaran itu, saya langsung tertarik dan buru-buru mengiyakan. Pak Rektor UTS juga langsung setuju memberikan izin ketika saya memberikahukan alasan saya untuk tidak masuk kerja beberapa hari dikampus.
“Iya Lulu, tidak apa-apa. Kegiatan itu bagus sekali untuk kamu.” Izin dari Pak Rektor itu membuat saya bahagia, serasa ingin terbang melayang. Dari dulu Mantar telah masuk ke dalam wish list perjalanan saya. Saya tidak menyangka bahwa wish list itu bisa  di-check list secepat mungkin, diluar dugaan saya sebelumnya. Kerja sosial sambil jalan-jalan, asyik.
Pukul 19.00 Wita kita telah tiba di Seteluk (3 jam perjalanan dari Sumbawa, dan hanya 30 menit jika dari Poto Tano). Dari Seteluk ini kita bisa menyewa Ranger, alat transportasi publik yang berbentuk mobil bak terbuka yang biasa digunakan warga untuk menuju Mantar.  Karena kemalaman tiba di lokasi, semua Ranger yang menuju ke Desa Mantar sudah tidak ada. Salah seorang teman yang juga warga Seteluk menyarankan untuk menyewa Ranger, yang  tentu saja harganya dua kali lipat dari harga biasanya.
“Kalau menggunakan motor, amankah?” Bang Jhony bertanya kepada warga setempat.
“Aman sih Pak, cuma motornya harus menggunakan motor gigi, soalnya jalan itu akan menanjak terus. Dan jalannya juga banyak batuan lepas. Kalau mau, bisa juga sewa tukang ojek untuk mengantarkan kesana.”
Bang Jhony berdiskusi dengan kita semua. Dari empat motor yang kita gunakan, hanya ada dua motor yang tidak memungkinkan jika digunakan untuk naik ke Mantar. Solusinya adalah menyewa tukang ojek yang merupakan warga setempat yang telah terbiasa naik ke Mantar. Jalannya yang merupakan batuan lepas dan tanjakan yang cukup ekstrim membuat kita tidak berani untuk mengambil resiko menggunakan motor yang bermasalah.
Suara raungan gas motor terdengar begitu menyakitkan ketika mulai melewati tanjakan pertama Mantar. Kata warga, ini pertama kalinya ada orang luar yang nekat naik ke Mantar malam-malam begini tanpa menggunakan public transport (Ranger). Kesulitan semakin terasa ketika batuan lepas yang mengiringi sepanjang jalan Mantar membuat ban belakang motor ngepot, penumpang pun harus rela turun dari atas motor untuk menjaga keselamatan. Dingin yang semulanya begitu menggigit tulang jadi berganti dengan keringat yang mengucur deras karena harus menaiki tanjakan maut Mantar itu.

Kamis, 11 Juni 2015

Pantai Ampenan Sore Itu


lapak pantai ampenan

Semenjak pertama kali merantau, menginjakkan kaki di Mataram lima tahun yang lalu, tempat pertama yang ingin saya kunjungi adalah Ampenan. Alasannya sederhana, karena penasaran tentang rupa Ampenan yang selalu diceritakan guru sejarah saya semasa SMA, tentang kejayaannya sebagai kota niaga zaman dahulu kala. Ketika memasuki Ampenan kita akan dimanjakan dengan bangunan-bangunan tua dengan arsitektur gaya barat zaman dahulu kala yang pernah menjadi saksi betapa maju dan mahsyurnya Ampenan saat itu. Tauke Cina dan juragan Arab juga banyak terlihat berdagang disekitar bangunan tua itu menjadi bukti akulturasi budaya yang datang dari berbagai penjuru dunia yang kemudian menyatu dan berkumpul di Ampenan. Masuk menuju pelabuhan, bangunan-bangunan tua yang dulunya lebih terlihat seperti bangunan angker yang mengerikan sekarang dikemas menjadi lebih menarik, bangunannya di cat warna-warni. Katanya supaya lebih menarik minat wisatawan, karena  Ampenan akan dijadikan ikon wisata kota tua di Lombok. Di sepanjang Pantai Ampenan juga telah dibangun lapak-lapak permanen bagi para pedagang kaki lima yang berjualan disekitar pantai. Pemerintah telah memberikan porsi perhatiannya secara lebih kepada Ampenan, tidak seperti beberapa tahun yang lalu ketika pertama kali kesini, Ampenan benar-benar tak terurus.  
sisa sisa kayu pelabuhan ampenan dahulu kala

jejeran perahu nelayan di pantai ampenan

Unpredictable Moment Perjalanan Sumbawa Lombok Kali Ini



pelabuhan kayangan lombok di waktu malam
Kalau boleh jujur saya adalah orang yang paling suka ‘galau’ ketika hendak melakukan perjalanan jauh keluar kota. Pertama, saya susah mendapatkan izin Ibu yang horornya melebihi izin kantor, dan kedua saya paling malas untuk packing (semua barang dilemari maunya saya angkut, padahal pergi hanya beberapa hari). Tetapi undangan nikahan teman kantor ke Lombok pada Minggu ini sangat berat untuk tidak dihadiri, selain karena dia merupakan teman seruangan a.k.a bos di kantor, dia juga teman semasa kuliah, yah jadinya tidak enak saja jika tidak menghadiri momen sakralnya itu.
“Bu, boleh saya ke Lombok minggu ini?? Nikahan teman.”
“Jam berapa berangkat? Sama siapa aja? Motoran? SIM-mu kan mati.” Pertanyaan beruntun Ibu yang membuat saya shock sebelum mengambil hatinya untuk diberikan izin. Nasib anak gadis yang memang tidak gampang untuk bisa kemana-mana semau hati.
“Sama temen kantor, Bu. Iya kita motoran semua, biar gampang nanti ke acara nikahannya.” Alasan dari A sampai Z saya keluarkan untuk bisa ‘diiyakan’ Ibu.
 “Iya boleh berangkat, tapi siang jalan dari Sumbawa biar ndak kemalaman.”
Ingin rasanya teriak jingkrak-jingkrak mendengar izin dari Ibu itu. Malam itu juga saya packing semua barang yang saya butuhkan, bongkar-bongkar lemari, memilih dan memilah mana yang harus dibawa dan mana yang tidak. Menghadiri nikahan sekaligus jalan-jalan ke Lombok, asyik.
Ngaret 2,5 Jam
Jum’at 5 Juni 14.30 Wita
Lagi dimana? Saya sudah dirumahnya ini.
Bunyi sms saya kepada Melda, teman kantor yang akan berangkat bersama ke Lombok siang ini. Dalam hati saya sudah membatin pasti akan ngaret jalannya. Jam segini saja belum ada satu pun teman yang muncul. Ibu sedari tadi sudah menelepon menanyakan apakah saya sudah jalan atau belum. Satu jam berlalu tanpa kepastian keberangkatan yang jelas. Satu orang teman lagi yang harus ditunggu, karena ada beberapa ‘kejadian’ mendadak yang membuat dia lama meninggalkan rumah. Kalau menggunakan travel, tidak masalah mau berangkat kapan pun ke Mataram, tetapi ini menggunakan motor, sangat rawan jika melakukan perjalanan malam-malam, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan diperjalanan nanti, semisal ban motor pecah, kehabisan bensin atau yang lebih parah ketemu pembegal, kan bisa gawat itu, apalagi yang berangkat semua adalah perempuan. Adzan ashar sudah berkumandang, Ibu pun semakin gencar menelepon saya, dengan amat sangat terpaksa saya mengatakan bahwa saya sudah diperjalanan. Khawatir jika Ibu mengetahui jika sesore ini saya masih di Sumbawa, izin berangkat ke Lombok akan dicabut kembali. Ibu, maafkan anakmu yang harus berbohong padamu.

Rabu, 27 Mei 2015

Bakso H. Anang, Rasanya Susah Bikin Move On



Semasa zaman kuliah dulu, pusing skripsian atau galau gara-gara something, langsung deh badan nongol di warung bakso ini. Makan semangkok bakso dengan cabe ekstra, dijamin pusing gara-gara skripsi hilang. Yah walaupun pusingnya hilang sebentar, dan muncul lagi nanti ketika berkutat dengan lembar-lembar kertas itu, tapi setidaknya kenikmatan bakso itu membuat pusing hilang sebentar, hahaha (bagaimana ndak gemuk coba, setiap galau larinya ke warung bakso). Bakso ini sangat akrab dengan lidah orang Mataram. Sejak pertama kali tiba di Mataram dan menikmati kelezatan bakso ini, saya sudah tidak bisa move on dengan warung bakso yang lain. Hanya Bakso H. Anang yang bisa memikat lidah, dan membuat ingin menikmatinya lagi dan lagi. Selain karena rasa baksonya yang nikmat, warung bakso ini juga bersih. Jadi tidak khawatir untuk menemukan hal-hal yang tidak mengenakkan selama memakan bakso disini. Ada banyak varian bakso, mulai bakso urat, bakso telur, dll. Bisa dicoba sesuai dengan selera masing-masing. Dan yang paling penting bagi anak rantauan seperti saya adalah harganya yang bersahabat dengan kantong mahasiswa. Warung bakso yang fenomenal di Kota Mataram ini bisa dengan mudahnya ditemui, letaknya tepat di pusat kota Mataram, yaitu di Ruko setelah Museum NTB, atau di warung induknya yang ada di Ampenan. Tidak usah takut mau di warung cabang atau induk, rasanya sama kok.
bakso H. Anang

Beberapa bulan yang lalu, saya berkesempatan pergi ke Mataram, menjenguk adik-adik yang masih berkuliah disana. Pulang kampung, dan menetap di Sumbawa dalam waktu yang lama membuat rindu menikmati bakso ini berlipat-lipat. Serasa ada yang kurang jika ke Mataram tapi belum mampir ke warung bakso ini. Rugi total. Sama ruginya dengan ke pantai tetapi tidak bisa berenang cantik di pantainya. Makan bakso H. Anang juga semacam nostalgia zaman kuliah. Makan bakso bareng teman-teman kelas. Tempat yang dipilih wajib di pojokan, kata mereka biar kalau ribut, orang-orang tidak terlalu terganggu. Padahal sama saja, ribut ya pasti akan terdengar ke telinga pengunjung yang lain. Tempat ini benar-benar mengingatkan banyak hal. Ada banyak cerita yang pernah terkisah disini, cerita dengan sahabat, galau-galau skripsi, diskusi tentang wish list pun banyak terjadi disini. Wah jadi kangen, makan bakso H. Anang lagi.
menikmati semangkok bakso dan segelas es jeruk, ehmm yummi

Yuk buat teman-teman yang mau ke Mataram tapi belum tahu tempat asyik buat makan bakso atau hang out bareng teman, saya rekomendasikan untuk makan bakso di H. Anang. Dijamin deh gak bakal bisa move on dengan rasanya, sama dengan saya yang masih belum bisa move on dengan si dia #eh 

Lokasi Bakso H. Anang  
1. Bakso Cabang H. Anang, Ruko di perempatan setelah Museum NTB, Mataram
2. Ruko Griya Pesona Rinjani A9 Jalan Adi Sucipto, Ampenan, Mataram

Jumat, 08 Mei 2015

Jeda

Mungkin perlu jeda sejenak, menarik nafas yang tersengal-sengal karena terlalu lelah berjalan. Mari mengumpulkan energi yang terkuras habis untuk kemudian meneruskan perjalanan ini...
Semangat untuk diri saya, Ganbatte Kuadasai Lulu.
perlu jeda, untuk kemudian berjalan kembali....

Rabu, 22 April 2015

Menikmati Sensasi Keindahan Pulau Paserang

Pagi di Pulau Paserang
Dering telepon membangunkan saya. Dengan nyawa yang belum sepenuhnya kembali, saya mengangkat panggilan itu.
"Bangun, ndak sholat subuh???" Suara Ibu diseberang sana membuat kantuk yang tadinya menggelayut berat membebani pelupuk mata saya tiba-tiba hilang.
Astagfirullah, saya mengecek jam di tangan, pukul 05.00 Wita. Lelah yang menyelimuti kami dan suasana nyaman pulau ini membuat kami tak sadarkan diri. Padahal niatnya mau bangun pagi untuk foto sunrise. Bergegas saya membangunkan adik-adik yang masih tidur lelap.
"Dek, bangun, ayo sholat subuh dulu." Saya menepuk-nepuk pundak mereka satu persatu. Kok berasa jadi Emak-emak yang lagi membangunkan anak-anaknya ^_^. Tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka terbangun. Membersihkan diri sejenak, kemudian sholat berjamaah. Debur ombak yang tenang, angin yang berhembus perlahan, menambah suasana syahdu pagi ini. Jaket semakin saya eratkan untuk menghangatkan tubuh. Dingin dan suasana nyaman pagi ini sebenarnya membuat kantuk itu semakin menjadi-jadi, tapi sunrise tidak mungkin menunggu kami: waktu terus berlalu. 
***
"Lho bukannya ada trotoarnya ya??" Saya terheran-heran dengan jalan yang kita lewati, tidak ada setapaknya sedikit pun. Di blog beberapa teman, terlihat foto berupa jalan trotoar yang mengarahkan kita menuju atas bukit Pulau Paserang.
"Saya kurang tau Kak, dimana letak jalan trotoarnya, kemarin kita nyampenya pas gelap jadi belum sempat jalan-jalan." Dika mengklarifikasi. Dika dan Fajri terlebih dahulu naik ke bukit, mereka mau mengecek seperti apa kondisi jalannya, memungkinkan atau tidak untuk dilalui oleh kita (baca: kaum perempuan). Bukitnya tidak begitu terjal, ilalangnya yang tumbuh tinggi menjadi penolong kita. Ilalang itu yang menjadi pegangan kita untuk bisa mendaki bukitnya. Duri dari pohon-pohon kecil yang tumbuh liar sekitar bukit membuat kaki lecet. Selalu ada perjuangan dibalik perjalananan. Ada jalan yang cantik mulus, tapi karena ketidak tahuan tentang jalan itu membuat kita mendaki melalui jalan yang sama sekali tak enak. Tapi nikmatilah, kawan.
Rinjani dari atas Bukit Paserang
Fahmi

Selasa, 21 April 2015

Berakhir Pekan ke Pulau Paserang Bersama Elang-elang Muda

Elang-elang Muda UTS

"Kita cek biota laut Pulau Paserang. Jalan-jalan dan penelitian. Sesekali kita perlu untuk keluar dari Laboratorium itu, hehehe" Kata saya waktu itu ketika mulai meracuni mereka tentang ajakan jalan-jalan akhir pekan ini.
"Iya Kak Lulu, saya mau. Nanti saya ajak teman-teman yang lain lagi." Fahmi sangat antusias dengan ajakan ini. Dia baru pulang magang dari NIMS Jepang. Rutinitas di Laboratorium tentu saja membuatnya jenuh, dan refreshing akhir pekan ini bisa jadi satu obatnya. Tidak disangka, tawaran iseng-iseng saya berbuah manis. Fahmi dan kawan-kawan teracuni untuk mengunjungi pulau itu. Yeayyy. Ini kali pertama bagi saya jalan bersama adik-adik di Universitas Teknologi Sumbawa. Berasa jadi mahasiswa lagi jalan dengan mereka yang masih kyut hehehe. Elang-elang muda adalah sebutan bagi mahasiswa UTS, dengan harapan mereka bisa menjadi elang yang kuat dan perkasa dan terbang ke seluruh penjuru dunia.
Perjalanan Menuju Paserang
Pulau Paserang. Satu diantara banyak pulau eksotis yang terhampar di lautan sekitar Poto Tano: Gerbang masuk Pulau Sumbawa. Beberapa kali teman-teman mengajak saya untuk berakhir pekan disana, dan beberapa kali pula selalu ada hal yang tak terduga yang membuat saya tidak bisa memenuhi ajakan mereka. Selain spot snorklingnya terbaik di Sumbawa, ilalangnya juga sedang cantik-cantiknya, hijau. Mungkin kemarin itu memang belum waktunya.
"Lu, jangan lupa cek dulu angin ban motormu itu. Kata Bapak tadi bannya kempes itu." Ibu mengingatkan saya.
"Iya Bu, sudah kok." Saya menjawab sambil menaikkan barang-barang bawaan saya ke atas motor. Segala panci, piring, sendok, gelas, tak luput dari perhatian saya. Memastikan tidak boleh ada yang ketinggalan, hatta satu barang pun. Tak lupa snorkel juga masuk ke dalam tas. Tidak membawa alat snorkling ke Paserang sama artinya dengan tidak membawa uang ke pasar: tidak ada gunanya. Tidak seperti biasanya Ibu tidak banyak berkomentar dengan kepergian saya keluar rumah kali ini, biasanya beliau akan banyak tanya ini dan itu. Mungkin Ibu saya mulai paham kalau anaknya sudah beranjak dewasa ^_^
Kampung nelayan di Poto Tano
kampung nelayan di Poto Tano, landscapenya amazing :D
Pukul 13.30 Wita semua pasukan telah berkumpul dan kita pun melanjutkan perjalanan menuju Poto Tano. Memakan waktu sekitar kurang lebih dua jam dari pusat Kota Sumbawa untuk menuju Poto Tano. Ada delapan pulau kecil nan eksotis yang tersebar di sekitar Poto Tano Sumbawa. Pulau Kenawa menjadi satu destinasi andalan Sumbawa, kemudian Pulau Paserang menyusul. Hampir setiap akhir pekan Pulau Kenawa selalu ramai dikunjungi wisatawan dalam maupun luar Sumbawa. Seperti sore ini saja, puluhan orang sudah berkumpul di dermaga penyebrangan kampung Poto Tano untuk menuju kesana. Untuk menuju ke Pulau Paserang kita bisa menyewa kapal yang dimiliki nelayan di Kampung Poto Tano. Harga sewanya sekitar Rp. 400.000 hingga Rp. 450.000 (Tips, alangkah bagusnya jika perjalanan ke pulau-pulau kecil di Sumbawa dengan teman yang banyak, supaya sharing cost sewa kapalnya pun sedikit). Akhir pekan menjadi berkah tersendiri bagi nelayan di Poto Tano. Kapalnya beralih fungsi, dari yang biasa dijadikan untuk menangkap ikan menjadi kapal angkut pengunjung ke pulau-pulau kecil itu.
"Pak mahal sekali sewa kapalanya. Bisa diturunkan sedikit ndak?? Hehehe" Saya mencoba lobi-lobi si Bapak yang juga kenalan saya ketika berkunjung ke Kenawa beberapa waktu yang lalu.
"Pulau Paserang jaraknya lumayan jauh dek, tidak seperti Kenawa. Berapa orang yang pergi??"
"Kita berdelapan, pak."
"Yasudah buat kalian Rp. 400.000 aja dah."
"Boleh pak, tapi nanti setelah ke Paserang mampir ke Kenawa juga, boleh??"
"Iya, memang rutenya seperti itu dek. Kalau ke Paserang, kita kasi bonus mampir ke Kenawa."
Yes, asyiklah kalau begitu. Seperti buy one get two. Beli satu dapat dua. Adik-adik UTS excited sekali dengan perjalanan pertama mereka ini. Ketika sampai di dermaga kampung Poto Tano mereka sudah 'teriak-teriak' tidak sabaran untuk menikmati pengalaman petualangan yang akan mereka lalui.

Rabu, 15 April 2015

Basiru: Wujud Tolong Menolong Masyarakat Sumbawa

suasana di persawahan Batu Alang

Matahari sedang cerah-cerahnya. Awan juga terlukis indah dengan paduan biru langit yang menggoda. Sempurna sebagai padanan foto landscape hari ini. Saya memacu motor dengan kecepatan biasa-biasa saja sembari menengok kiri dan kanan, siapa tahu ada pemandangan yang asyik untuk diabadikan. Beberapa orang ibu-ibu terlihat berjalan beriringan. Ada yang memanggul bakul dengan isian yang terlihat penuh dari luar. Ada juga yang menggunakan topi caping khas petani dengan kerucut diatasnya. Mereka terlihat sibuk membawa barang bawaannya masing-masing, ditambah lagi dengan kerepotan mengurus anak-anak kecil mereka yang mengekor dibelakang. Satu yang menjadi kesamaan ibu-ibu tersebut yaitu seme’ yang melekat erat diwajah mereka. Seme’ dengan warna kuning pekat yang mentereng.  Seme’ adalah lulur tradisional khas Sumbawa. Para petani khususnya kaum perempuan selalu menggunakan seme’ jika turun ke sawah, itu bertujuan untuk menjaga kulit wajah dari paparan sinar matahari langsung.
Pemandangan itu membuat saya menghentikan laju motor saya.

Minggu, 05 April 2015

Mata Jitu: Sekeping Surga di Tanah Sumbawa

Selamat datang di Pulau Moyo
Ketika menyebut Sumbawa, bayangan tentang keindahan Pulau Moyo pasti langsung terlintas di pikiran. Wajar saja, karena Pulau Moyo adalah satu dari sekian banyak kepingan surga yang terhampar di tanah Sabalong Samalewa ini. Saya jatuh cinta dengan Pulau Moyo pada pandangan pertama. Segala keindahan yang tersaji disana membuat saya rindu untuk kembali, lagi dan lagi. Snorkling di lautannya yang jernih nan cantik, berendam di Mata Jitu, atau sekedar menghabiskan malam dengan kemah di pinggir pantainya yang indah adalah satu dari sekian sensasi perjalanan yang ditawarkan Pulau Moyo.
kampung Labuan Aji Pulau Moyo
Penyebrangan menuju ke Pulau Moyo hampir setiap hari selalu tersedia di pelabuhan-pelabuhan Sumbawa, terutama melalui jalur penyebrangan di Pelabuhan Kampung Pasir atau Boa Brang. Setiap harinya akan ada masyarakat dari Labuan Aji Pulau Moyo yang akan menuju ke Sumbawa untuk membeli segala kebutuhan hidupnya, sepulangnya dari berbelanja kita bisa ikut nyebrang bersama perahu mereka. Bisa juga melalui Desa Ai Bari, desa nelayan yang terletak di Kecamatan Moyo Utara. Ada banyak nelayan yang menyediakan penyebrangan ke Pulau Moyo, saya biasanya menggunakan jasa penyebrangan milik Bapaknya Ichal, Pak Yakub. Selain harganya terjangkau di kantong, orangnya juga ramah dan supel, sehingga perjalanan selalu menyenangkan jika bersama beliau.
Waktu penyebrangan dari Sumbawa ke Pulau Moyo adalah sekitar dua jam, bisa juga lebih tergantung dari kondisi cuaca. Jika kondisi lautnya tenang, kita bisa tiba di Pulau Moyo dalam waktu dua jam. 
Satu yang menjadi daya tarik Pulau Moyo adalah Air Terjun Mata Jitu. Air terjunnya sangat cantik dengan paduan biru dan tosca yang eksotis. Airnya sangat jernih, kalau bahasa hiperbolanya, jarum yang jatuh ke dasar Mata Jitu pasti akan terlihat. Memakan waktu kurang lebih satu jam trackking dari kampung Labuan Aji menuju Mata Jitu.

Rabu, 01 April 2015

Mengobati Hati yang Patah di Kenawa

Menanti matahari terbenam di Dermaga Desa Poto Tano, Foto By Bang Fathul
"Memang benar apa yang mereka katakan, kalau patah hati, berjalanlah. Hati siapa yang tidak akan terhibur melihat keindahan yang sempurna ini. Kerlip nakal bintang, bulan bersinar indah, matahari yang cantik menyapa pagi dengan malu-malu, benar-benar bisa menjadi obat mujarab untuk (sedikit) melupakan kisah-kisah kemarin"
Tiba-tiba ada satu rindu yang menusuk hati ini yang membuat ingin segera kesana. Hanya sekedar menghabiskan malam dengan bintang bertaburan dan angin laut yang syahdu. Aku pernah kesana beberapa bulan yang lalu bersama teman-teman semasa SMA. Pengalaman bermalam disana membuat rasa rindu untuk kembali lagi, dan lagi. Semacam ada magnet ampuh yang menarik kaki untuk segera menjejakkan langkah kesana. Pulau Kenawa. Satu pulau kecil yang berada di barat Sumbawa. Pulau yang terkenal dengan keindahan ilalang dan mataharinya. Duduk ditepi pantai sambil menyaksikan matahari tenggelam adalah satu dari banyak sensasi romantis yang akan didapatkan di Kenawa.
***
Bintang malam ini terlihat begitu jelas. Kelap kelipnya nakal menggoda setiap yang melihat, ditambah lagi dengan bulan yang mempertunjukkan sinarnya yang teduh. Ahh, rasanya air mata ingin segera meluncur mambasahi pipi. Entahlah, aku selalu didera perasaan melankolis dengan suasana seperti ini. Teman-teman asyik bercengkrama. Aku lebih memilih menghabiskan malam dengan menikmati segelas kopi hangat, dan tentu saja mengingat segala hal tentang kamu, tentang perjalanan kita. Tentang kamu yang semakin ingin dilupakan, semakin dalam tertanam di hati ini. Tanpa aba-aba, tanpa izin, bulir bening itu menghangati pipi ini. Aku tidak mudah jatuh hati dengan seseorang, dan sekalinya jatuh hati, kemudian dipatahkan, itu sakitnya dimana-mana (nyesek).
"Woi ngapain duduk disitu, ayo ngumpul sama kita." Bang Opik mengajakkku kumpul bersama teman-teman. Oke baiklah, tentang kamu bisa dihilangkan sebentar dari pikiran ini, kan? Jangan siksa aku dengan perasaan yang aku juga tak tahu apa. Lets Move On, Luluuuuuu.... Yeyyyy...

Senin, 23 Maret 2015

Menyusuri Keindahan Brang Mapin (Perjalanan Menuju Tiu Sagemong)

susur sungai Brang Mapin
jepret jepret dulu
"Mbak Winda, jadi ikut???" sms saya kepada salah seorang teman di Adventurous Sumbawa. Motor saya yang mendadak 'ngambek' memaksa saya mencari teman boncengan untuk sampai ke tempat trip hari ini. Satu jam penantian sms balasan tak kunjung datang membuat saya galau dan meng-sms Bang Farhan, mengkonfirmasi untuk tidak ikut serta pada trip kali ini. Saya sudah benar-benar pasrah tidak bisa ikut jalan minggu ini, mungkin Allah meminta saya untuk istirahat di rumah (mencoba berfikir positif). Nyalakan TV, berleha-leha sambil nonton Trans TV dan menyeruput segelas kopi putih.
Eh tapi ternyata, Bang Farhan menelepon dan meminta siap-siap segera, karena Mbak Winda akan datang menjemput kerumah. Alamak, saya belum mandi dan ini-itu. Rumah juga masih berantakan, bisa-bisa Emak mencak-mencak karena pergi tanpa beres-beres rumah dulu -_- 
"Pelajaran nomor 1 pada perjalanan hari ini adalah, jika Allah berkehendak, pasti bisa. Yeyy.."
 ***
Tiu Sagemong. Dalam Bahasa Sumbawa, tiu artinya adalah kolam kecil, Sagemong saya tidak tahu artinya apa, sepertinya hanya nama biasa. Jika diartikan bebas Tiu Sagemong adalah kolam kecil yang bernama Sagemong, hehehe (maaf kalau rada aneh). Tiu Sagemong ini terletak di Desa Mapin Rea, Kecamatan Alas Barat. Memakan waktu sekitar dua jam dari pusat kota untuk tiba di desa tersebut. Tiu Sagemong ini belum banyak yang tahu keberadaannya, mungkin hanya masyarakat setempat yang sering mengunjungi Tiu tersebut. Untuk menuju Tiu Sagemong kita harus menyusuri Brang Mapin (Sungai Mapin: Sumbawa Red).
"Kita trackking kurang lebih 40 menit." Bang Yudis memberitahu kami. 
Empat puluh menit, saya pasti bisa. Efek nyasar dan melewati jalur ekstrim ketika ke Agal kemarin membuat saya semangat dan tidak takut untuk trackking sejauh apapun itu, ciee. Yah hitung-hitung untuk menurunkan berat badan yang sudah berlebih-lah, hahaha.
Berangkat dari Sumbawa pukul 08.00 Wita, dan tiba di Alas Barat pukul 10.00 Wita. Istirahat sebentar di Kantor Camat Alas Barat, diskusi sebentar dengan Pak Camat untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Mapin Rea, tempat Tiu Sagemong itu bersemayam (berasa apa gitu denger kata bersemayam, hahaha). Sama seperti hawa desa yang lainnya, hijau dan asri langsung menyapa kita ketika tiba di lokasi. Gemericik air yang jatuh dari sela bebatuan menjadi irama khas yang menenangkan.