Kamis, 11 Juni 2015

Pantai Ampenan Sore Itu


lapak pantai ampenan

Semenjak pertama kali merantau, menginjakkan kaki di Mataram lima tahun yang lalu, tempat pertama yang ingin saya kunjungi adalah Ampenan. Alasannya sederhana, karena penasaran tentang rupa Ampenan yang selalu diceritakan guru sejarah saya semasa SMA, tentang kejayaannya sebagai kota niaga zaman dahulu kala. Ketika memasuki Ampenan kita akan dimanjakan dengan bangunan-bangunan tua dengan arsitektur gaya barat zaman dahulu kala yang pernah menjadi saksi betapa maju dan mahsyurnya Ampenan saat itu. Tauke Cina dan juragan Arab juga banyak terlihat berdagang disekitar bangunan tua itu menjadi bukti akulturasi budaya yang datang dari berbagai penjuru dunia yang kemudian menyatu dan berkumpul di Ampenan. Masuk menuju pelabuhan, bangunan-bangunan tua yang dulunya lebih terlihat seperti bangunan angker yang mengerikan sekarang dikemas menjadi lebih menarik, bangunannya di cat warna-warni. Katanya supaya lebih menarik minat wisatawan, karena  Ampenan akan dijadikan ikon wisata kota tua di Lombok. Di sepanjang Pantai Ampenan juga telah dibangun lapak-lapak permanen bagi para pedagang kaki lima yang berjualan disekitar pantai. Pemerintah telah memberikan porsi perhatiannya secara lebih kepada Ampenan, tidak seperti beberapa tahun yang lalu ketika pertama kali kesini, Ampenan benar-benar tak terurus.  
sisa sisa kayu pelabuhan ampenan dahulu kala

jejeran perahu nelayan di pantai ampenan
Sabtu Minggu menjadi hari yang paling ramai bagi Pantai Ampenan untuk menerima kunjungan masyarakat dari berbagai pelosok di Kota Mataram. Selain karena pantai ini memang cukup mudah dijangkau, harga-harga makanan yang dijual disini juga sangat murah dan tidak mencekik leher. Disepanjang pantai akan terlihat keasyikan muda-mudi bermain disekitar pantainya, anak-anak kecil juga tak kalah hebohnya menceburkan diri menikmati terjangan ombak Pantai Ampenan, bahkan beberapa juga tengah asyik bermain bola di daratan pasirnya yang tidak seberapa luasnya.  Pantai Ampenan menjadi tempat refreshing yang murah dan menyenangkan bagi masyarakat, tidak terkecuali saya.
pantai ampenan
anak anak yang bermain disekitaran lapak pantai ampenan
Pantai ini menjadi tempat favorit para fotografer mengabadikan keindahan matahari terbenam itu. Tidak ada ada satu pun fotografer lombok yang tidak memiliki foto sunset di Ampenan. Selain karena jaraknya yang lumayan dekat dari pusat kota, kecantikan matahari terbenamnya juga selalu berhasil memikat hati untuk membuat rindu untuk menghabiskan sore disana. Ada beberapa waktu dimana air pantainya surut dan memperlihatkan secara utuh sisa-sisa onggokan kayu dan bebatuan pelabuhan Ampenan dahulu kala, bagian itulah yang menjadi tempat favorit para fotografer untuk mengabadikan bidikan lensa mereka.  Pada musim kemarau seperti saat ini, matahari akan jatuh dengan sempurna indahnya. Bulat menyala, cantik. Pulau Dewata pun akan terlihat mengagumkan dibalik jatuhnya matahari itu. Tetapi sayang, ketika saya berkunjung kesana, mendung sedang menyelimuti Lombok. Keindahan matahari terbenam itu tak bisa saya saksikan secara sempurna, hanya bisa melihat pendar-pendar orange yang samar menghiasi langit. Tak apalah, minum kopi dan menghabiskan sore di Pantai Ampenan sudah cukup buat saya mengobati rindu akan kota ini. 
menikmati senja yang malu-malu
kopi diketika senja itu memang nikmat...
Tak ada yang lebih indah dari menikmati sore di tepi pantai, memandangi senja dengan segelas kopi panas. Dunia benar-benar berjalan sempurna saat itu. 
Pantai Ampenan mengingatkan saya pada sebuah pantai di pinggir Kota Sumbawa, pantainya tidak cantik, bahkan cenderung kotor dengan sampah disana sini, bangunan kumuh banyak berdiri di pinggirnya, tetapi pantai itu menjadi pantai terindah di Kota Sumbawa untuk menghabiskan sore dengan menikmati matahari terbenam. Pantai ini juga menjadi tempat nongkrong abadi saya dan teman-teman, yah sekedar duduk-duduk dan menyeruput segelas kopi. View sunset terlihat indah dari pantai itu. Dulunya pantai ini sangat tidak terurus, tetapi sejak mendapat campur tangan dari pemerintah, pantai itu menjadi tempat nongkrong favorit masyarakat Sumbawa, hampir setiap hari pantai itu menjadi ramai oleh pengunjung tidak seperti delapan tahun yang lalu ketika saya dan teman-teman sering berkunjung kesana. Pantainya khas kampung nelayan yang kotor dan rada kumuh. Jangankan mau dijadikan tempat nongkong, berkunjung saja malas. Pantai itu kini bernama “Jembatan Polak.” Nasibnya sama dengan Pantai Ampenan, dahulu kala pernah menjadi pusat perniagaan Sumbawa, pelabuhan pernah berdiri kokoh disana, tetapi hancur begitu saja diterjang zaman, jembatan sisa pelabuhan itulah yang hancur dan dinamakan Jembatan Polak atau Jembatan Patah dalam bahasa Sumbawa. Anak-anak muda Sumbawa lebih familiar menggunakan akronim Jempol untuk menyebut Jembatan Polak. Perbaikan-perbaikan tempat wisata pinggir kota seperti inilah yang harus gencar dilakukan pemerintah, karena selain bisa menjadi sumber pemasukan bagi masyarakat sekitar, itu juga bisa menjadi sarana refreshing yang murah dan menyenangkan.
selfie sama adek tersayang
Taman Malomba Ampenan
beli cilok
ehmmm yummy :D

4 komentar:

  1. sampai sekarang kayu bekas pelabuhan masih ada ya mba ..

    BalasHapus
  2. di MAtaram juga ada cilok ternyata ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, iya ada... cilok di mataram itu ya pentolan bakso :D

      Hapus

Tinggalkan jejak ya teman-teman, supaya saya bisa berkunjung kembali....
Salam persahabatan Blogger Indonesia ^_^