Senin, 15 Mei 2017

My Brother, My Travel Mate



Kak Amenk, Saya dan Abil di atas bukit Rajasua Pulau Moyo

Abil. Mulutnya item habis makan cumi :P Lokasi: Tanjung Pasir Pulau Moyo
Karena beberapa kali menulis tentang Pulau Moyo di blog, saya akhirnya menjadi sasaran tempat bertanya teman-teman tentang pulau itu. Bertanya tentang transportasi menuju kesana, itinerary bahkan destinasi-destinasi apa saja yang harus dikunjungi selama di sana. Saya berasa menjadi pejalan yang bermanfaat bagi pejalan yang lain ketika apa yang saya tuliskan bisa menjadi rekomendasi perjalanan mereka. Dan selalu saja, Abil, adik bungsu saya, menjadi travel mate saya setiap ada teman yang meminta ditemani ke Pulau Moyo. Dia sangat menyukai laut. Tidak ada akhir pekan tanpa bermain dengan ikan-ikan di laut. Sampai Ibu geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
Seperti liburan kali ini, Kak Amenk, kakak senior ketika di Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP Universitas Mataram meminta untuk ditemani ke Pulau Moyo. Kak Amenk mengabari bahwa libur 3 hari di bulan ini, dia akan datang ke Sumbawa bersama beberapa temannya. Beliau meminta saya untuk menemaninya ke Pulau Moyo, yah hitung-hitung reunian selama di BEM FKIP dulu. Abil menjadi orang pertama yang saya kabari perihal keberangkatan ke Pulau Moyo. Bagi saya dia adalah pawangnya Pulau Moyo. Selalu merasa aman jika melakukan perjalanan keliling pulau bersamanya. Tentunya saja karena dia selalu bisa memanjakan kakaknya ini dengan ikan-ikan segar dari laut Pulau Moyo.
“Wajar juga sih kalau adikmu itu jadi suka laut, Kakek dan Buyutmu juga banyak yang jadi pelaut. Jadi ya nular ke adikmu.” Kata Ibu suatu waktu. Semua anak-anaknya Ibu sangat menyukai laut, kecuali Huda adik saya yang nomor 1. Dia tidak begitu suka jalan-jalan, baginya istirahat yang paling enak itu ya berdiam diri di kamar. Beda dengan kita bertiga, istirahat yang paling enak itu ya jalan-jalan, main ke pulau, lalu tiduran di atas pasir putihnya dan memandangi langit biru Sumbawa.

Jumat, 12 Mei 2017

Tanjung Menangis yang Tak Lagi Menangis

camping ala ala di Tanjung Menangis




Jam berapa pulang dari kampus??
Nanti habis dari sana langsung ke rumah Bang Ega ya.
Jangan lama-lama pulangnya nanti kita kemalaman nyampenya.
Sms bertubi-tubi dari Putri yang membuat saya tak konsentrasi menyelesaikan pekerjaan di kampus.
Iya.
 Balas saya singkat.
Iya apanya ini? Aku sms panjang kamu  jawabnya cuma ‘iya’?
Putri yang tak terima dengan singkatnya jawaban saya membuatnya semakin cerewet meng-sms.
Bagaimana aku mau konsentrasi selesaikan kerjaan kalau kamu sms terus.
Pesan terakhir terkirim dan tak ada balasan lagi dari Putri. Terkadang perempuan itu memang cerewetnya tanpa batas. Wajar saja dalam setiap buku-bukunya, Raditya Dika selalu ingin ‘pura-pura mati’ jika dihadapkan pertanyaan seperti itu. Saya juga ingin ‘pura-pura mati’, ‘pura-pura cuek’ dengan sms bertubi-tubi dari Putri, tapi bukankah orang sabar itu enteng jodoh?? Hahahaha. Bersahabat dekat dengan Putri delapan tahun cukup buat kita saling memahami satu sama lain.
Akhir pekan ini, kita sudah berencana untuk kemah di salah satu tempat eksotis di Sumbawa. Tempat yang tidak terlalu jauh dari pusat kota tetapi memiliki keindahan yang memikat hati. Tempat ini juga namanya lumayan mahsyur dalam legenda rakyat Sumbawa; Tanjung Menangis. Konon katanya, pada zaman dahulu kala Tanjung ini menjadi tempat seorang Putri Sumbawa menangisi kepergian laki-laki yang telah menyembuhkannya dari penyakit menahun yang bernama Kre Kure (penyakit kulit) yang tidak ada obatnya. Laki-laki tersebut bernama Zainal Abidin. Raja pada saat itu membuat sayembara, bahwa barang siapa yang berhasil menyembuhkan putri dari penyakitnya jika dia perempuan akan dijadikan saudara dan jika laki-laki akan dinikahkan dengan sang putri. Akhirnya Zainal Abidin tergoda untuk mengikuti sayembara tersebut. Ketika menyembuhkan sang putri, Zainal Abidin menyamar menjadi seorang kakek tua renta dan berhasil menyembuhkan sang putri. Tetapi sangat disayangkan, Raja tidak ingin menikahkan putrinya dengan Zainal Abidin karena penampilannya yang sangat jelek dan tua.

Senin, 24 April 2017

Dusta Perempuan

Perasaan itu nakal seperti Biang Lala, naik turun semaunya.Lokasi: Pasar Malam Alun2 Kidul Jogja

Hati itu seperti cuaca, berubah-ubah, tidak jelas dan tidak bisa ditebak maunya seperti apa. Sekarang bisa bilang iya, dan dalam waktu beberapa detik dalam iya itu, bisa langsung berubah menjadi tidak. Saya tidak menginginkan ada yang membawakan saya bunga cantik setiap harinya atau menghubungi saya setiap saat hanya sekedar menanyakan “sudah makan?","Jangan lupa istirahat” atau kata-kata penuh basa-basi lainnya, jalan setiap malam minggu, show off hubungan di sosial media. Tidak. Saya tidak lagi dalam masa, kebahagiaan ditentukan dari seberapa sering dia menghubungi, telpon atau sms, saya tidak lagi di masa hati berbunga-bunga karena ‘satu  love’ di postingan instagram. Saya hanya menginginkan ada yang bisa membuat nyaman hati, menjadi pendengar cerita patah-patah bercampur suara serak, yang di depannya saya berani menunjukkan luka dan tangis, seseorang yang bisa saya percaya bahwa bersamanya perjalanan sesulit apapun pasti bisa terlewati. Ada seseorang yang seperti itu? Entahlah.

Saya menemukan tulisan itu ketika iseng membuka draft tulisan di blog. Tertarik ketika melihat postingan yang judulnya “Kata Hati Anak Perempuannya Papa Bandy.” Saya tiba-tiba ngakak parah ketika membacanya. Itu bukan Lulu yang nulis, atau mungkin memang benar Lulu, tapi sungguh percayalah, saya yakin tulisan itu saya tulis ketika sedang dilanda patah hati yang sangat hebat, atau sedang sok-sokan menulis sesuatu yang romantis ketika hati terserang perasaan mellow drama.

Selasa, 18 April 2017

Pulau Dangar Ode: Perjalanan Pelipur Lara, Penyembuh Luka dan Penumbuh Rasa

Dangar Ode

Selama beberapa minggu ini, rasa kepala mau pecah seperti ditoyor palu gada. Pekerjaan juga mulai dihiasi kata rapat, yang sudah seperti makan obat, harus tiga kali sehari dan sesuai dosis. Ditambah lagi setiap kali ingat pengumuman beasiswanya yang sebentar lagi, tiba-tiba saja jantung langsung salto-kayang-koprol-jumpalitan. Maka jangan ditanya lagi bagaimana bentuk jantung ini setiap dia berkunjung ke rumah atau melihat namanya tertera di pesan whatsapp “sedang mengetik”. Ada rasa yang tetiba deg, menyerang langsung ke dasar jantung. Entahlah. Rasanya satu minggu ini bukan lagi rasa gado-gado, tapi gado-gado campur rujak dan disirami kuah soto. Rasanya aneh kan? Begitulah rasa perasaan ini. Aneh.
Absurd. Nggak Jelas.
=-=-=
Ketika akhirnya memutuskan menuliskan tulisan ini, saya telah membuang waktu sekitar ratusan menit hanya untuk guling-guling nggak jelas di kamar, memutar lagu Mocca sampai seisi makhluk di kamar bosan mendengarnya dan masker bengkoang yang saya oleskan di muka saya yang sudah mengering mulai basah lagi karena keringat mengalir di sekujur tubuh. Sakit perut akibat memakan kerang membuat saya bolak balik kamar mandi, dan keringat dingin yang keluar juga sukses membuat masker basah lagi.
“Kamu ya gitu, keras kepala dan ndak pernah bisa tahan mulut. Tau ndak bisa makan kerang, tapi tetap aja makan.” Ibu mulai mengeluarkan kalimat-kalimat omelannya yang akan berujung pada larangan untuk jalan-jalan lagi. Ah tapi yang namanya Ibu, selamanya akan tetap jadi Ibu yang mudah luluh hanya dengan sekali rayuan dari sang anak. Semuanya juga salah saya sih, tidak pernah bisa tahan jika disajikan dengan makanan laut. Apalagi itu adalah kerang fresh from the sea, hasil perjuangan kita menggali pasir laut Pulau Dangar Ode. Tetapi percayalah bahwa sakit perut ini tidak sebanding dengan betapa menyenangkannya perjalanan ke Pulau Dangar Ode di akhir pekan kemarin. Perjalanan yang tidak pernah saya masukkan dalam list kegiatan di akhir pekan saya yang ternyata sanggup menjadi moodbooster.

Rabu, 12 April 2017

Sebuah Kado di Hari Lahir

Selamat Hari Lahir, Lulu

“Selamat hari lahir….
Tanggal 26 untuk usiamu yang 26, its special day for you.”
Hanya sebaris kalimat itu yang muncul di layar telpon genggam saya malam itu. Hanya sebaris kalimat tanpa selipan doa, harapan, kata-kata romantis sepanjang rel kereta api atau apapun itu. Alhamdulillah, karena saya tidak suka pesan yang dipenuhi kata-kata puitis sok romantis. Kalau kata seorang teman “Kamu tu aries sekali Lu.” Sambil memperlihatkan ramalan sifat berdasarkan zodiak. Di sana tertuang kalimat.
“Jangan menuntut romantis ke Aries, apalagi dengan cara menye-menye menjijikkan. Definisi romantis versi aries itu beda banget. Mereka cenderung melakukan hal yang ‘aneh’ dan membuat kamu ingat selalu. That’s definition of romantic. They are into actions, not romantic words.
Makjleb, glek-glek-glek, seperti rasa meminum setenggak sprite tanpa tarikan nafas, sodanya langsung menusuk dan membuat sendawa keluar. Hahahaha. Kok bisa ramalan sifat dari milyaran orang terkotakkan menjadi 12 zodiak? Mungkin dalam kasus saya ini kebetulan saja. Mungkin.

Minggu, 09 April 2017

Cerita Setahun (tanpa) Perjalanan

Lokasi pelaksanaan Kelas Inspirasi Lombok Menjelajah Pulau, Gili Maringkik, Lombok Timur

Ketika saya menuliskan tulisan ini saya sedang berada di dalam mood untuk menulis lagi dan Frau berhasil membangkitkan mood itu. 
Saya baru berkunjung ke blog beberapa teman yang dulu sering sekali saya datangi. Membaca, mencari tahu kabar, dan melihat apa yang sedang mereka lakukan di rumah mereka. Satu tahun ternyata bukanlah waktu yang sebentar untuk saya menjeda. Ada banyak yang terjadi selama satu tahun saya tidak berkunjung ke rumah mereka. Ada teman yang telah menikah dan punya anak, dan membaca blognya dan segala keseruannya dengan keluarga barunya membuat saya senyum-senyum sendiri membayangkan bahwa saya nantinya juga akan tiba pada masa itu. Ada seorang teman yang baru saja menyelesaikan perjalanannya menjelajah ke Timur. Betapa bahagianya saya membaca setiap cerita yang dia tuliskan disana. Semua pengalaman-pengalamannya yang membuat saya membangkitkan kembali mimpi yang kemarin sudah saya kubur ke tempat yang entah. Ada teman yang sekarang sedang menyelesaikan wish list perjalanannnya dan mimpinya. Ahh terlalu banyak cerita tentang mereka yang saya lewatkan.

Sabtu, 25 Maret 2017

Selamat Hari Lahir, Pak

Suatu Sore di Pelabuhan Perikanan Labuhan Lombok

"Tempat itu selalu sukses menjadi jembatan pengingat dengan kenangan"


Ibu pernah bercerita, bagaimana pertemuannya dengan Bapak waktu itu. Pertemuan yang tidak di sengaja di sebuah pantai di pinggir Kayangan Lombok. Pertemuan pertama yang kemudian melahirkan pertemuan berikutnya. Bapak mulai jatuh hati pada Ibu.
"Bapakmu itu hitam jelek, rambutnya gondrong ndak terurus." Ibu mulai membuka cerita. Diantara banyak laki-laki yang dekat dengan Ibu, Bapak adalah yang paling ketinggalan zaman dari segi penampilan. Di zaman 80-an pria yang mengenakan celana levis dan baju oblong dengan hem berkerah tanpa dikancingi menjadi model yang paling ngehits saat itu. "Bapakmu aja ngapel pake batik dan celana kain kok, mana mau disuruh pake levis." Ibu berwajah cantik, matanya lentik, hidung bagus khas perempuan keturunan arab lainnya. "Banyak yg datang kerumah Ibu, tapi tak ada satu pun yang serius." Ibu melanjutkan ceritanya. Bapak menjadi orang yg selalu datang ke rumah mengajak Ibu serius menikah. Hingga suatu hari Ibu menguji kesabaran Bapak, dengan menghidangkan Bapak segelas kopi dari air rebusan sayur bayam. Dan Bapak meminum kopi itu hingga yang tersisa hanya ampasnya. Segelas kopi rasa air bayam membuat Ibu luluh. Karena segelas kopi juga Ibu menerima pinangan Bapak.

Tempat ini memang biasa, tapi pernah ada suatu waktu dimana gadis kecil itu dengan setia duduk di boncengan sepeda ontel bapaknya, teriak kegirangan melihat kapal berderet rapi. Tempat ini pernah jd pertemuan dua insan yg kemudian melahirkan empat anak yang hebat. Tempat ini pernah menjadi tempat teromantis anak dan Bapaknya menghabiskan sore yang indah.

Selamat hari lahir Bapak, semoga sehat selalu. Terimakasih telah menjadi Bapak yang hebat buat anak-anaknya. Terimakasih pak atas kesabarannya selama ini. Terimakasih atas cinta yang terselip dalam setiap nasehatnya. Terimakasih pak, kita sayang Bapak...


Pelabuhan Perikanan Labuhan Lombok, 25 Maret 2017




NB:
Sengaja melakukan perjalanan ke Lombok pada 25 sampai 26 Maret kemarin. Pulang sebentar ke tempat saya dilahirkan dulu, Labuhan Lombok. Ada banyak cerita disana, tentang seorang anak perempuan yang tidak pernah jauh boncengan sepeda Bapaknya, yang kemana-mana selalu ngitil di belakang Bapak. Hanya berbeda satu hari kelahiran dengan Bapak, Bapak 25 Maret, dan anak perempuannya ini 26 Maret. Itu sebabnya anaknya ini sangat mirip dengan Bapak. Fisik, sifat, tingkah laku dan segalanya... 
Saya sayang Bapak, sehat selalu Pak.....

Sabtu, 03 Desember 2016

Kau Bisa Pulang (Bagian 3)


Pagi di Bukit Kenawa


Jam 5 pagi aku sudah bangun, dan langsung menghampiri Ibu yang sedang sibuk di dapur. Aku mencoba mengambil hati beliau, dengan membantu memotong-motong sayur, dan mencuci semua piring-piring kotor. Beliau sudah tahu apa yang aku inginkan, jika melihatku mendadak rajin seperti ini.
“Kata Bapakmu, kamu boleh pergi, asal hati-hati kalau bawa motor.”
Kata-kata izin Ibu langsung membuatku berteriak kegirangan dan memeluk beliau. Selesai mencuci piring, aku langsung packing semua barang-barang yang aku butuhkan, kamera dan HP tak lupa aku cas, tripod aku cek ulang. Perjalanan seru kita akan segera dimulai. Jum’at jam 8 pagi kita berangkat. Semua perlengkapan sudah masuk ke ransel. Ranselku menjadi yang paling berat dan merepotkan, dengan tripod menggantung disisi kiri dan kamera di sisi kanan. Tak lengkap kemana-mana tanpa membawa kamera dan tripod, tak usah ada perjalanan jika tidak bersama dua benda itu. Perjalanan kita lumayan jauh dan memakan waktu yang lama, sekitar 3 jam baru sampai Taliwang, itu pun dengan kecepatan yang super, kalau menggunakan standar kecepatanku yang hanya 60km/jam, mungkin bisa sampai 4 atau 5 jam di jalan. Aku membonceng Iis, dia mengenakan rok dan tak ingin duduk laki-laki di motor, jadi aku mesti ekstra hati-hati dan sabar dalam megendarai motor. Putry dibonceng Kak Adit, kakak laki-lakinya, dan hanya Ginty yang tak memiliki boncengan. Belum setengah perjalanan aku sudah merasa amat kelelahan, jalan Sumbawa yang berkelok-kelok ditambah lagi dengan membonceng dengan posisi duduk seperti itu semakin membuat aku kelelahan dan ekstra hati-hati dalam mengendarai motor, ingin rasanya aku meminta Iis untuk mengubah posisi duduknya seperti duduk laki-laki, tapi aku yakin dia tak akan mau.  Putry pun berkali-kali mengatakan ke Iis supaya mengganti posisi duduknya, tapi dia mengatakan sudah terbiasa dengan duduk seperti ini. Seandainya dia bisa merasakan betapa susah dan lelahnya mengendarai motor dengan membonceng seperti itu. Dari SMA hingga sekarang aku serasa menjadi ojek pribadi Iis, dia tidak bisa mengendarai motor, jadi akulah yang menjadi soulmate-nya kemana-mana. Dia menyenangkan dalam beberapa hal tetapi menjadi sangat menyebalkan dalam beberapa hal juga, terutama ketika keras kepalanya mendadak mucul. Seperti saat ini, ketika dia mengatakan tak mau duduk laki-laki, maka sampai nanti pun dia tak akan mau mengubah posisi duduknya. Terkadang pilihan itu menuntut konsekuensi sabar dari yang lain, maka aku harus melapangkan hatiku untuk bersabar kali ini.

Jumat, 02 Desember 2016

Kau Bisa Pulang (Bagian 2)



 
kita
“Kamu bisa jadi guide tour-ku? Aku mau pulang ke Sumbawa minggu depan.” Bunyi sms Putry yang membuatku langsung berjingkrak gembira. Sepertinya radar hati kita sama saat ini, aku sedang didera kebosanan yang amat sangat, dan perjalanan ini akan menjadi begitu menyenangkan.
“Dengan senang hati, Thy, gak sabar nunggu kamu disini.”
            Tidak ada hal yang begitu membahagiakan ketika mendengar kau akan pulang. Walau cuma beberapa hari, tapi aku berharap pertemuan itu menjadi pengobat kerinduan kita yang mendalam. Aku berharap perjalanan kita besok bisa menjadi pelepas penat selama bekerja di kantor. Aku jadi tidak sabar menunggu setiap cerita yang tersaji dalam perjalanan kita nanti.
Putry sampai di Sumbawa hari ini, dan kita berencana akan berkumpul di rumah Elly. Ketika aku tiba di rumah Elly, semua teman-teman sudah berkumpul. Dari dulu hingga sekarang, dari zaman Elly belum menikah, sampai dia punya suami dan anak, markas berkumpul kita tak pernah berubah, selalu dirumahnya. Yang terlihat berbeda diantara kita semua hanyalah Elly dengan perut besarnya. Mataku menyapu seluruh ruangan, mencari makhluk yang bernama Putry. Adegan yang terjadi selanjutnya sangat tidak romantis, bukan seperti di drama-drama korea dengan adegan yang melowdrama-nya, tapi ini seperti pertemuan teletubbies, Lala dan Pho yang berpelukan. Kita sama-sama memiliki badan dengan stok daging yang lumayan. Sore ini kita habiskan dengan bercerita banyak hal, tentang pengalaman-pengalaman Putry selama di Jogja, tentang cerita Elly dengan kehamilan anak keduanya, tentang Maria dan Iis yang lagi sibuk dengan skripsinya, tentang Ginty yang gagal move on dengan mantan pacarnya yang sudah dipacari selama 7 tahun. Inilah alasan mengapa pertemuan itu tidak boleh terlalu sering, agar kita memiliki banyak waktu untuk saling mendengarkan dan merindukan satu sama lain.
“Jadinya besok kita kemana?”
“Ke Pulau Moyo aja, Lu, kan kamu sudah pernah kesana, kamu pasti tahu banyaklah tentang pulau itu.” Putry menyarankan liburan kita ke Pulau Moyo.
“Aku sih ndak masalah, yang penting namanya jalan-jalan, ayoklah, hehe.”
“Kamu ya, Lu, kalau kita ajak kumpul aja ndak pernah bisa, tapi kalau jalan-jalan pasti bisa, dan rela izin kantor demi jalan-jalan.” Iis yang dari tadi lebih banyak diam menimpali kami, dan diiringi gelak tawa yang lain.
“Masalahnya Putry maunya aku yang keren ini jadi guide-nya, gimana dong??” Mereka kompak menyorakiku dengan kor ‘uuuu’ yang sama. Inilah momen-momen yang kita rindukan, dimana kita bisa berkumpul dan bercanda bersama seperti ini. Kita bersepakat ke Pulau Moyo besok.
Terkadang apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain, sama halnya dengan saat ini, ketika aku meminta izin kepada Bapak tentang keberangkatan ke Pulau Moyo, Bapak langsung menolak memberikan izin, katanya ombak lagi besar dan berbahaya melakukan penyebrangan. Setengah mati aku merayu Ibu dan Bapak agar aku diberikan izin, sampai memakai jurus ngambek masuk ke kamar tetapi beliau tetap pada pendiriannya. Aku memberitahu Putry dan Iis bahwa aku tak diberikan izin kalau ke Pulau Moyo, dan ternyata mereka berdua juga bernasib sama denganku. Setelah berunding lewat sms, kita akhirnya setuju untuk ke Taliwang, Sumbawa Barat, disana ada banyak pantai indah nan eksotisnya yang bisa kita kunjungi. Aku mengatakan kepada Bapak kalau kita tidak jadi ke Pulau Moyo, tapi beliau tetap tidak memberikan izin. Beliau menggunakan alasan kecewa denganku yang mengambil izin kantor hanya untuk jalan-jalan. Intinya semua alasan penolakan yang disampaikan Bapak adalah agar aku tidak pergi jalan-jalan jauh, apalagi sampai keluar kota Sumbawa.


“Pak, saya sudah besar, sudah umur segini masih saja dilarang-larang mau kemana, kan tumben juga kita keluar. Ayolah Pak, jarang-jarang bisa kumpul dengan teman-teman SMA kita.” Aku berusaha meyakinkan Bapak agar diberikan izin. Tetapi Bapak hanya diam, dengan mata yang tak beralih dari layar TV. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku tak bisa pergi besok, karena akulah yang menjadi otak dari rencana-rencana liburan itu. Ibu mengerling ke arahku, memintaku untuk segera masuk ke kamar kembali. Dalam situasi seperti ini, sama-sama bersikeras tidak akan membuat Bapak mengiyakan apa yang aku inginkan. Aku masuk ke kamar, menarik selimut dan tidur, berharap malam ini ada malaikat baik hati yang mencolek hati Bapak untuk memberikanku izin liburan besok. 

Kamis, 01 Desember 2016

Kau Bisa Pulang (Bagian 1)



 
kopi dan senja
Tentang sore, laut dan matahari orange. Sepenggal kata antara aku dan kamu. Tidak ada sore yang begitu indah di kota ini selain menghabiskan waktu dengan menenggak segelas kopi panas dengan celupan roti roma kesukaanmu. Lalu kita akan bercerita seenaknya tentang apa saja yang terlintas dipikiran kita. Seperti percakapan kita di sore itu, bisakah para ilmuwan menciptakan pintu kemana saja Doraemon. Aku mengatakan mustahil. Tapi kamu ngotot, bisa.
“Dalam bentuk nyata, tidak mungkin ada yang bisa membuat pintu kemana saja. Tapi zaman sekarang semua tanpa sekat yang bernama pintu. Kamu bisa tahu tentang Amerika tanpa harus datang kesana langsung, kamu bisa tahu bagaimana cara membuat tahu tanpa harus bereksperimen dan wawancara si pembuat tahu. Kamu tahu bahwa ada banyak hal yang kamu tidak tahu karena itu.”
“Terus?”
“Baca, Lu, baca. Buku ada dimana-mana, internet merajalela. Kamu bisa tahu segala hal dengan mencari di internet. Kamu bisa kemana saja dengan google. Bagiku itu wujud lain dari pintu kemana saja. Mau ke capadocia? Bisa. Tinggal cari di google. Gampang kan?” Dia masih keukeuh dengan Google dan internet adalah wujud lain dari pintu kemana saja. Dunia tanpa sekat karena makhluk itu, tak ada pintu, tak ada pembatas yang menghalangi semua orang. Orang di kutub utara bisa berteman dengan orang di Afrika tanpa harus mengunjungi, mereka bisa bertatap muka tanpa harus bertemu raga. Semuanya karena kecanggihan internet. Dia juga keukeuh supaya pembuat komik Doreamon diberi penghargaan karena menciptakan cerita yang menginspirasi orang untuk think out the box. Ini bukan penyakit gila Andrea Hirata, tetapi aku sudah cukup gila mendengar pikiran-pikiran anehnya. Seperti cerita percakapan-percakapan kita terdahulu, tidak akan ada akhir sebelum matahari di ufuk barat itu menghilang ditelan ombak tenang kota.
Tentang sore, laut dan matahari orange. Sepenggal cerita tentang aku dan kamu. Jika ada yang bertanya padaku dimana pantai terindah di Sumbawa, aku tidak tahu. Aku tidak mengenal dimana pantai indah nan eksotis disini. Yang aku tahu hanyalah rute sekolah, rumah, sekolah, rumah. Tapi jika ada yang bertanya padaku dimanakah pantai yang bagus untuk menikmati matahari terbenam di Sumbawa, maka aku akan dengan senang hati mengajaknya ke pantai ini. Pantai dengan sebuah dermaga kecil ditengahnya, pantai dengan jejeran kapal-kapal nelayan, pantai dengan riuh suara anak-anak bermain bola setiap sorenya, pantai dengan ribut suara pedagang yang menjajakan jualannya, pantai dengan matahari tenggelam indah tepat ditengahnya. Tak ada pasir putih seperti bayangan pantai Kuta Bali, yang ada hanya pasir hitam dengan sampah-sampah yang terhempas setiap ombak datang. Tak ada wisatawan asing seperti di Gili Trawangan, yang ada hanyalah nelayan-nelayan berotot kekar yang setiap sorenya membersihkan kapalnya dan jaring-jaringnya untuk bisa dipakai melaut esok. Kadang jika beruntung, kita bisa menyaksikan pertunjukkan piring melayang keluar rumah, gelas-gelas pecah. Pertengkaran suami dan isteri karena hasil melaut yang kurang, karena uang tak cukup untuk makan besok, pertengkaran-pertengkaran yang seharusnya kecil tetapi melebar karena semua menyangkut urusan perut, tak ada orang yang bisa berfikir rasional ketika perut dalam keadaan lapar. Beruntung menyaksikan ini, setidaknya kita bisa berfikir bahwa ada kehidupan yang jauh terpuruk dari apa yang kita rasakan. Sore, laut, dan matahari orange, tidak melulu tentang keindahan yang membuat kita mensyukuri nikmat Allah, kehidupan mereka disekelilingmu membuat banyak kata syukur atas hidup ini tak henti-hentinya keluar dari mulut. Lebih dari itu, di pantai ini kita pernah bersama, menghabiskan sepotong sore disini.
Tentang sore, laut dan matahari orange. Kita berjanji disini. Sejauh apapun kita pergi kita akan kembali pulang.