Kamis, 25 Juni 2015

Selamat Pagi Calabai



pelabuhan calabai
Semalaman menaklukan jalan Sumbawa-Dompu cukup membuat badan sakit tak karuan. Ibu sudah mengingatkan saya, kalau perjalanan Sumbawa-Dompu itu bukan perjalanan yang mudah, walaupun jalannya sudah bagus, tetapi jaraknya yang sangat jauh cukup membuat kelelahan. Dan benar saja, pukul 16.30 Wita meninggalkan Kota Sumbawa, baru tiba di Calabai-Dompu pukul 00.30 Wita. Bayangkan saja berapa jam waktu yang kita habiskan diperjalanan. Badan seperti mati rasa, pegal disana-sini. 
Tetapi memang untuk menikmati suatu keindahan memang butuh perjuangan, hahaha
Lets go adventure guys...
Gunung Tambora
Selamat Pagi Calabai
Calabai terletak di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, NTB. Selama ini Calabai dikenal sebagai gerbang masuk menuju Pulau Satonda dan Pulau Moyo. Bagi yang mau ke dua pulau eksotis itu bisa melalui Pelabuhan Calabai, menggunakan kapal boat milik warga. Tidak hanya itu, letaknya yang tepat berada di bawah kaki Gunung Tambora menjadikannya berhawa sejuk, tidak seperti daerah-daerah lain di Dompu (Pulau Sumbawa) yang panas. Airnya pun sangat dingin, mandi pagi dijamin menggigil. Pada pagi hari kita bisa menyaksikan keindahan matahari terbit tepat di atas Gunung Tambora. Di bagian baratnya lautan biru Teluk Saleh terhampar luas dengan Pulau Moyo dan Pulau Satonda yang terpajang di depannya. Ah memang tidak rugi saya menempuh perjalanan yang melelahkan ini, karena semua akan terbayar lunas dengan keindahan Calabai yang memikat mata dan hati.
“Cari kopi yuk. Kita ngopi di Pelabuhan Calabai, asyik ngopi pagi-pagi disana.” Seorang teman menawarkan. Ide yang bagus. Perut sedari tadi kembung, efek angin yang semalaman bebas masuk semaunya. Mungkin segelas kopi hangat bisa membuat perut sedikit membaik. Tepat di depan gapura Pelabuhan Calabai ada sebuah warung kecil yang sangat sederhana. Disitulah kami mampir sejenak, sembari menikmati pagi dengan segelas kopi panas.
Disekitar pelabuhan terlihat kesibukan para nelayan yang menebarkan jalanya, beberapa warga lainnya juga tak mau kalah mencoba peruntungan mendapatkan ikan dengan memancing. Di satu sudut lainnya anak-anak kecil berlarian kesana kemari, bermain bersama teman sebayanya.
nelayan yang lagi menebar jaring disekitar pelabuhan
mancing ikan dulu
anak-anak juga ga mau kalah dong ya :D
Rumah bang Chris yang juga markas Komppak (Komunitas Pencinta Penyu dan Karang)
Berkenalan dengan Bang Chris
“Kalau bukan kita siapa lagi? Beruntunglah kita ditakdirkan Tuhan hidup di negeri indah ini. Maka sudah seharusnya sebagai anak bangsa untuk menjaganya agar tetap indah.” 
Bang Chris
Sesekali kopi panas asli tambora itu diseruput. Lalu percakapan kembali dilanjutkan. Beruntung sekali saya bertemu dengan Bang Chris. Selama ini jejak ceritanya hanya bisa saya dengar dari Bang Takwa (Kapten Adventurous Sumbawa), tentang beliau yang selama ini berjuang untuk menjaga kelestarian laut daerahnya dengan mengedukasi nelayan dan membuat organisasi yang bernama Komppak (Komunitas Pencinta Penyu dan Karang). Karena kepedulian dan kegiatan-kegiatan edukasi tentang pelestarian laut bersama nelayan ini pulalah yang membuat perairan sekitar Calabai tetap terjaga. Transplantasi terumbu karang menjadi kegiatan rutin yang mereka lakukan setiap bulannya, bahkan setiap minggu jika waktu banyak luangnya. Beliau selama ini merangkul pemuda setempat dan nelayan untuk kegiatan-kegiatan itu. Hingga tidak heran jika setiap berkunjung rumah Bang Chris selalu ramai dengan pemuda yang datang, yah sekedar diskusi dengan Bang Chris ataupun duduk-duduk sembari menikmati keindahan Pelabuhan Calabai. Rumah Bang Chris sangat mudah ditemui, letaknya tepat berada di depan gapura Pelabuhan Laut Calabai. Beliau juga sangat ramah walau dengan orang yang baru dikenalnya (seperti kita ini, hehehe), jadi jangan segan untuk berkunjung kesana.
“Oh ya ada yang tau asal muasal kata ‘Calabai’?” Bang Chris tiba-tiba bertanya kepada kita semua.
“Ndak Bang.”
“Jadi Calabai itu sebenarnya dari bahasa inggris ‘Saleh Bay’ yang artinya teluk saleh, tetapi karena kita yang agak-agak alay makanya sebutnya ‘Calabai’, hahahaha.” Sontak kita semua langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan Bang Chris, iya ya bisa jadi. Bang Chris sangat pintar mencairkan suasana. Dari awal berbincang-bincang hingga kapal jemputan untuk snorkeling tiba, kami semua tak henti-hentinya tertawa, selalu saja ada hal unik yang beliau ceritakan yang mengundang gelak tawa kita semua.
Komppak (Komunitas Pencinta Penyu dan Karang)
Aroma kopi tambora yang khas menyeruak membuat tak henti-hentinya ingin menyeruput, di tambah lagi dengan percakapan-percakapan dengan Bang Chris dan kawan-kawan lainnya semakin menambah hangat suasana. Ini kali pertama saya bertemu dengan Bang Chris, tapi rasanya seperti telah mengenal beliau lama. Beliau banyak bercerita tentang kegiatan konservasi laut yang selama beberapa tahun ini giat  dilakukan, tentang pelestarian hutan Tambora, tentang kegiatan-kegiatan edukasi bersama masyarakat.
“Dulu ya, orang mengebom ikan itu sudah seperti mendengar petasan di bulan puasa, dar dur dar dur, tidak terhitung jumlahnya.” Tutur Bang Chris dengan nada yang lumayan tinggi.
Bang Chris bercerita, hampir setiap hari beliau dan kawan-kawan di Komppak (Komunitas Pencinta Penyu dan Karang) patroli untuk mengecek keadaan laut, jika ada yang tertangkap basah sedang mengebom ikan, tidak tanggung-tanggung kapalnya akan disita. Selama beberapa tahun ini Teluk Saleh menjadi lokasi empuk sasaran pengeboman, jumlah ikannya yang melimpah ruah menjadi alasan utamanya. Tetapi sejak Bang Chris dan komunitasnya rajin turun laut untuk patroli, aksi pengeboman itu semakin jarang terjadi. Sanksi pengeboman laut yang lumayan kejam (kapalnya disita, bahkan lebih parah akan dibakar) cukup membuat jera pelaku pengeboman. Tidak hanya patroli, beliau juga merangkul para pemuda dan nelayan sekitar, beliau mengedukasi mereka dengan cara pemberian pelatihan tentang cara menangkap ikan yang aman dan tidak merusak,  tentang betapa pentingnya menjaga kelestarian laut, konservasi alam, dan turun ke laut untuk transplantasi karang.
“Bang Chris ini hebat, dari jarak beberapa kilometer bisa mendengar suara pengeboman. Entahlah telinganya terbuat dari apa, heran saya.” Ucap Bang Aan sembari menggeleng-gelengkan kepala tanda pura-pura bingung, kita yang melihat ekspresinya pun tertawa.
“Kayak kelelawar aja Bang Chris, bisa mendengar suara-suara yang tidak bisa tertangkap telinga kita, hehehe.” Saya menambahkan.
“Ah nggak juga, ini mungkin karena insting saja, karena seringnya berada di laut dan menangani kasus-kasus pengeboman itu.” Bang Chris terlihat tersipu-sipu malu. Bapak dua anak ini kece. Bukan polisi laut, bukan pegawai kelautan, bukan orang LSM yang konsen tentang konservasi laut, beliau hanya orang biasa yang memiliki semangat luar biasa untuk menjaga alamnya agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh anak cucunya kelak.
 

Bersambung.....

8 komentar:

  1. hahaha Bang cris bisa aja ya menjelaskan kata calabai

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, iya mbak :D
      beliau orangnya lucu :D

      Hapus
  2. Calabay keren juga nih alami bgt foto2nya.. btw, tempat wisata yg terkenal di sana pantai atau bawah lautnya nih? Atau bahkan gunung?

    BalasHapus
    Balasan
    1. semuanya, pantai, bawah laut, bahkan gunungnya juga terkenal, yang paling booming itu ya Gunung Tambora :D

      Hapus
  3. Biarpun capek, tapi kalau alam yang bisa dinikmati seperti yang ada di foto-foto tersebut, dijamin ilang kak. Salam..

    BalasHapus
  4. Hai anakpapa..apa punya kontaknya mr cris yg di calabai? Terima kasih

    BalasHapus
  5. Baca tulisan ini jadi rindu Calabai dan Bang Chris, gimana kabar transplantasi terumbu karang yang diinisiasi komppak? apakah masih berjalan?
    Sekarang sudah ada penginapan kah di Calabai?

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sudah jarang komunikasi dengan bang chris, tetapi sepertinya masih aktif kok dalam transplantasi karang... :D
      kalau penginapannya saya kurang tahu mas :D

      Hapus

Tinggalkan jejak ya teman-teman, supaya saya bisa berkunjung kembali....
Salam persahabatan Blogger Indonesia ^_^