Rabu, 29 Oktober 2014

Menang GA untuk Pertama Kalinya (GA Mbak Shabrina WS)

Sebenarnya ini kejadian sudah lama, cuma masih tersimpan di draft blog, eh pas buka-buka baru tahu kalau ada postingan yang nyempil belum di post. Ibarat pepatah, lebih baik telat daripada tidak sama sekali, begitu pun saya, daripada telat ngepost daripada gak ngepost sama sekali, hihihi...
Ceritanya 28 Oktober tahun lalu (setahun yang lalu, hehe) saya ikut GA yang diadakan oleh Mbak Shabrina WS, beliau ini adalah penulis novel. Saya belum pernah ikut GA selama jadi blogger, bukan karena tidak tertarik sih, cuma karena waktu itu saya jarang sekali blogwalking jadi info-info GA semacam itu jarang saya dapatkan. Iseng, mungkin itu juga yang ada dipikiran saya saat itu, pengen coba, juga iya sih. Menjejal kemampuan menulis, hehe..
GA-nya sederhana tapi susah sekali, pertanyaannya  adalah "mengapa kamu mau membaca novel 'Betang'?" Saat itu saya sedang dalam posisi yang down sekali, ada banyak hal yang terjadi yang membuat saya dalam posisi seperti itu, mungkin efek dari perasaan saya yang mendalam kali ya yang membuat beliau terenyuh dengan kata-kata saya, hehehe, mungkin lho :D
kata yang saya tuliskan pada GA tersebut..

Selasa, 28 Oktober 2014

Happy Wedding Kak....

Pertama, saya mau meminta maaf kepada kak Andri karena tak bisa menghadiri acara nikahnya kemarin (25 oktober 2014), karena ada hal crowded yang mesti di urus dikampus, hehehe.
Kedua, saya membuat sebuah video untuk Kak Andri sebagai hadiah pernikahan kakak. Ini saya buat sebelum nikahan, jadinya foto-foto pernikahannya belum masuk ke video. Maaf.
Ketiga, ini stop motion saya yang kedua, mohon maaf sekali kalau banyak kekurangan ^_^
Keempat, selamat menempuh hidup baru buat kak Andri dan Pak Ilman, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah...
Kelima, doakan saya juga semoga segera menemukan seseorang itu, hehehe
Keenam, Selamat menyaksikan video ini, semoga sukaaa ^_^

happy wedding kak :D


Batu Gong, Pantai Keluarga di Sumbawa

Pantai Batu Gong
 Ada satu pantai di Sumbawa yang menjadi destinasi favorit para keluarga untuk liburan, namanya Pantai Batu Gong. Batu Gong dalam bahasa Sumbawa adalah batu yang berbentuk gong (sebuah alat musik tradisional yang terbuat dari leburan logam (perunggu dan tembaga) yang berbentuk bundar besar dengan tonjolan ditengahnya). Konon katanya disini ada batu yang berbentuk gong makanya dinamakan Batu Gong, cuma sampai sekarang saya belum melihat dimana letak batu yang konon berbentuk gong itu. Pantai ini letaknya lumayan jauh dari pusat kota, mengendarai motor sekitar 20 menit (standar kecepatan saya menggunakan motor yang lumayan hati-hati, hehe). Di pantai ini ada banyak penjual makanan yang menjual beraneka macam makanan ringan dan makanan Sumbawa. Jadi, kalau mau ke pantai ini dan tidak mau repot-repot membawa makanan, bisa membawa uang yang banyak untuk membeli makanan disini, soalnya harganya lumayan mahal, standar harga ditempat pariwisatalah. Disekitar pantai ini juga banyak disediakan berugak, yang bisa digunakan pengunjung untuk duduk-duduk. Bersantai di berugak sambil menikmati makanan, atau menyaksikan keramaian anak-anak yang bermain di pantai memang sangat menyenangkan. Ombak disini lumayan besar dan banyak karang-karang kecil yang bisa bikin kaki lecet, jadi mesti ekstra pengawasan kalau membawa anak-anak kemari, tapi tenang saja ombaknya masih dalam kategori aman kok. Ada banyak tempat penyewaan ban untuk berenang, dengan harga yang terjangkau sesuai ukuran ban yang kita inginkan, mulai 5rb sampai 10r. Oh ya kita juga bisa bermain banana boat disini, dengan harganya yang lumayan terjangkau dan bisa dinego-nego, hehehe.

Senin, 27 Oktober 2014

Peacefull Moment

kopi dan matahari orange

Duduk di pinggir pantai dengan segelas kopi hangat dan matahari orange adalah kedamaian yang tak terkira. Lalu kita akan bercerita tentang banyak hal, hingga tak sadar kopi ini beranjak pada gelas berikutnya, dan matahari pun hilang. Ah ini benar-benar kedamaian yang sempurna, karena ini tentang kopi, matahari orange dan kamu....

NB: Foto ini diikutsertakan pada Turnamen Foto Perjalanan Ronde 51, Tema : Peacefull

Kamis, 23 Oktober 2014

Menunggu Matahari Terbit di Bukit Kenawa

serasa gembel, hihihi
Kenawa itu serasa privat island. Tak ada orang lain selain kita disana, apalagi pas malam, sepinya terasa sekali. Yang terdengar hanya deburan ombak dan semilir angin laut yang menambah syahdu suasana. Kayaknya tempat ini cocok dijadikan tempat menengkan diri, soalnya sepi dari hingar bingar kota. Tapi Kenawa tak setenang yang terlihat, mesti ekstra hati-hati disini, soalnya pas malam banyak ular laut yang naik ke daratan, ular laut ini sangat berbahaya daripada kobra, gigitannya bisa membuat manusia mati seketika. Saran saya kalau mau menginap lebih baik buat tenda diatas berugaknya saja, lebih aman dan terjaga, dan mesti banyak bawa persediaan air, disini tak ada sumur air tawar, jadinya susah kalau mau BAB, dan hal-hal yang berurusan dengan bebersih.
Jam 8 malam, dinginnya sudah mulai terasa, tak ada diantara kita yang membawa perlengkapan yang cukup, hanya membawa beberapa potong baju dan kain pantai. Semua baju yang ada di tas dipakai bertumpuk-tumpuk supaya hangat, bahkan mukenah pun jadi selimut kita. Yang kasian itu Kak Adit dn Ginty, baju yang mereka bawa hanya baju yang mereka kenakan saja, jadi bayangkan saja betapa menderitanya mereka menahan dinginnya angin laut. Ini pengalaman kemah yang tak terlupakan selama travelling saya :D
Lagi, kopi pun sukses mendinginkan badan kita, walau gara-gara kopi itu aku sukses tak tidur semalaman...hahaha
Demi menyaksikan sunrise yang amazing, jam 4 kita sudah bangun. Setelah cuci muka dan sholat kita langsung menuju puncak bukit. Sebenarnya puncak bukitnya tidak terlalu tinggi, tetapi berhubung kita semua pakai sandal teplek jadinya agak licin pas mendaki.

Rabu, 22 Oktober 2014

Menunggu Matahari Terbenam di Kenawa

Kalau kata om Om Imran, kalau cuma buat panas-panasan ngapain ke Kenawa, yang paling seru itu kemah terus nikmati sunset dan sunrisenya yang luar biasa. Dan ternyata benar, sunsetnya itu keren sekali. Duduk-duduk dipinggir pantai, melihat matahari terbenam sambil meminum segelas kopi putih itu adalah sore yang paling indah. Seharian berlelah-lelah dengan ombak pantai kenawa, sekarang saatnya santai dengan matahari orange di depan mata, yihuuuui,,,
sunset di kenawa

Jelajah Eksotisme Sumbawa (Episode Pulau Kenawa)

Dari kemarin sepulang dari Kenawa, hati ini tak sabar sekali ingin memposting kisah perjalanan kesana. Tapi kok ya begini jadinya, ketika mau mengetik, selalu saja kehabisan kata-kata, lalu delete semua tulisan yang sudah diketik -_-, mungkin ini yang namanya efek keindahan yang membuat tak bisa berkata apa-apa, hingga menulis pun jadi tak bisa ^_^, hehehe.
Jum'at tanggal 17 Oktober kemarin saya dan beberapa teman masa SMA, berencana untuk mengadakan kemah bersama, awal mula tujuan yang kami pilih adalah Pulau Moyo, secara saya sudah pernah kesana, jadi seluk beluknya saya sudah tahu. Tetapi malam harinya sebelum keberangkatan, Ibu Bapak tiba-tiba tidak memberikan izin kesana, dengan alasan ombaknya sekarang lagi besar. Iis dan Putry (teman masa SMA saya) juga tidak diberikan izin orang tuanya, akhirnya kita merencanakan ulang agenda kita, dan terlintaslah nama Pulau Kenawa, sebuah pulau kecil yang terletak di barat Sumbawa. Yang ada di dalam otak kita saat itu, terserahlah mau kemana yang penting kita bisa liburan bersama. Setelah Kenawa kita ingin ke Pulau Bungin, pulau terpadat dunia.
Jum'at pagi pukul 07.30 kita langsung berangkat, memakan waktu yang cukup lama, sekitar 2 jam untuk sampai Poto Tano (tempat penyebrangan ke Pulau Kenawa), itu pun dengan kecepatan yang luar biasa, berhubung kita mau menikmati perjalanan, kita pun sepakat untuk tidak kebut-kebutan, walaupun dua orang yang membawa motor adalah laki-laki yang sangat tidak bisa jika tidak memacu motor dengan kecepatan tinggi. Kita pergi berlima, saya, Putry, Iis, Kak Adit (kakaknya Putry) dan Ginty (teman SMA). Mesti bawa cadangan laki-laki, sapa tau nanti dijalan motor kenapa-napa, kan ribet kalau tidak ada yang ngerti motor, hehehe.
Jam 09.00 kita sampai Alas, sarapan sebentar, dan lanjut lagi ke Poto Tano. Sampai Poto Tano jam 10.00. Sampai sana kita bingung mau kemana, dan mesti menghubungi siapa untuk penyebrangan ke Kenawa, karena kita semua masih awam info tentang pulau itu, modal nekat saja kita pergi. Sampai plang yang berbunyi, ada Bapak-bapak yang teriak dan memanggil kita. Bapak itu menawari kita untuk penyebrangan ke Kenawa. Tahu aja si Bapak kalau kita lagi bingung.
Gapura selamat datang
Kak adit yang sabar ya, hehehe
Tanpa menunggu waktu, motor langsung kita parkir ke rumah si Bapak. Si Bapak banyak bercerita tentang Kenawa, dan beliau menyarankan kita untuk menginap saja. Tapi bagaimana mau menginap, tidak ada tenda, tak ada alat masak, makanan pun kita tak bawa, hanya camilan kecil saja. Untunglah, si Bapak baik hati, beliau menawari kami untuk peminjaman alat masak, seperti panci, piring, gelas, ember, dll. Diskusi sebentar, dan kita pun fix untuk menginap, walaupun dengan peralatan yang amat sederhana. Tapi namanya juga kemah, ya mesti survival. Kak Adit juga bawa pancing, jadi kita bisa memancing ikan disana. Beli mie instan, kopi, autan, air minum 2 galon, dan snack-snack kecil lainnya sebagai persiapan kita. 
Pukul 11.00 kita langsung menyebrang ke Pulau Kenawa, waktu penyebrangan hanya sekitar 15 menit, jarak antara pelabuhan penyebrangan dengan pulau tidak begitu jauh, jadi tidak memakan waktu yang lama untuk menyebrang.
Barang-barang yang kami bawa walaupun dengan persiapan yang sangat minim ternyata banyak juga, bagaimana kalau persiapannya matang, saya khawatir kapal akan penuh dengan barang-barang yang kami bawa, hehehe. Di Poto Tano ini juga ada pelabuhan penyebrangan kapal Ferry untuk ke Pulau Lombok, jadi di sekitar laut menuju ke Kenawa kita akan melihat banyak kapal Ferry yang sedang bersandar. 
Menuju Kenawa

Rabu, 15 Oktober 2014

My First Stop Motion

Tanggal 26 Oktober nanti, kita dari Badan Perencanaan dan Pengembangan SDM (BPPSDM) UTS, mau mengadakan Gebyar Mentoring Asyik, nah saya pengen di sela-sela acaranya menampilkan video motivasi untuk mentoring. Dengan mengajak beberapa mahasiswa untuk menggarap projek ini, kita mulai memikirkan konsep, dsb. Saya sangat tidak bisa dalam soal pengambilan video dan otak-atiknya, makanya saya membutuhkan bantuan dari adek-adek mahasiswa yang bisa untuk membantu saya. Tapi ternyata mereka banyak yang sibuk mengerjakan tugas, praktikum, dan tetek bengek kuliah lainnya, alhasil saya terpekur sendiri dipojokan ruangan memikirkan bagaimana caranya buat video tapi tidak menggunakan video. Searching video-video di Youtube akhinya ketemu dengan  teknik pembuatan video dengan stop motion. Saya sangat awam dengan hal-hal grafis seperti ini, makanya rada kuno dan ketinggalan jaman sekali karena baru tahu adanya stop motion kayak gini. 
Ide awal saya adalah semua gambar yang akan difoto adalah hasil karya sendiri, pun dengan tulisan-tulisannya, tetapi setelah mencoba menggambar saya terhalang dengan kemampuan saya yang sangat lemah dengan gambar-menggambar itu, apalagi tulisan saya yang bagusnya mengalahkan tulisan dokter. Akhirnya saya minta bantuan lagi denga om google, setelah obrak-abrik, akhirnya ketemu semua gambar yang saya butuhkan, dan print. Gambar yang saya print kemudian saya potong-potong sesuai bentuknya, dan jadilah satu konsep cerita yang saya inginkan. Setelah konsep jadi, yang perlu dilakukan adalah pengambilan gambar, salahnya saya adalah saya lupa membawa tripod, padahal teknik stop motion seperti ini sangat membutuhkan tripod, agar hasilnya bagus. Tapi ya namanya juga Lulu yang sangat keras kepala, dan kalau sudah mau itu harus, saya nekat foto semuanya sendiri tanpa tripod, hasilnya tidak seperti yang saya inginkan. Berhubung Om Imran Putra Sasak ada di Sumbawa, saya meminta bantuan beliau untuk memberi masukan tentang gambar yang yang saya ambil, dan benar beliau mengatakan perlu menggunakan tripod untuk hal seperti ini. Okay gagal, semalaman saya tidak bisa tidur memikirkan ulang konsep, dan segalanya. Rabu pagi ke kantor, langsung buka kamera, tripod, dan mulai jepret-jepret gambar. Hampir dua jam berkutat dengan kamera dan gambar-gambar tidak jelas, bahkan teman seruangan saya cuma bisa melihat dengan heran apa yang saya kerjakan. 
Saya tipikal orang yang sangat penasaran, kalau saya mau belajar tentang sesuatu maka saya harus bisa, tidak perlu jadi ahli yang penting bisa. Kalau saya sudah bisa, rasanya senang yang tak terungkapkan, bahagianya tu disini (tunjuk hati :D). Seharian otak-atik laptop, edit menggunakan Picasa, program editing yang sangat standar, soalnya cuma program itu yang saya bisa. Dan akhirnya dari jam 11 pagi, video saya baru jadi jam 3 siang. Bayangkan bagaimana pegelnya badan dan otak, tapi saya bahagia bisa mengalahkan ketidakmampuan saya. Dari youtube dan om google, saya banyak belajat otodidak. Memang benar, internet itu bagai pisau bermata tajam, jika digunakan oleh penjahat maka dia bisa membunuh, tapi jika digunakan oleh chef dia bisa berguna untuk memotong makanan.
colase foto yang akan jadi animasi
Taraaaa, ini stop motion saya yang pertama, mohon masukannya ya :D

Hunting Bareng Om Imran Putra Sasak

Bagi yang punya pekerjaan rutin yang mengharuskan masuk kerja setiap hari, pasti, "i hate monday", tapi saya tidaaaaaak, soalnya senin kemarin jadi senin terkece di Oktober ini, kenapa? Soalnya dapat ajakan hunting dari seorang Master Landscaper Lombok. Namanya Om Imran Iswadhi, tapi nama gaulnya Om Imran Putra Sasak. Beliau ini adalah fotografer landscape asal Lombok, awal mula saya belajar jepret-jepret, kepo nanya ini-itu ya sama beliau. Walaupun sudah master, tapi tetap aja gak pernah merasa terganggu kalau setiap hari FB-nya penuh dengan tag-an foto newbie kayak kita-kita ini, setiap hunting terus upload di FB dan minta komentar-komentar beliau, sebagai masukan supaya jepretan semakin bagus, hihihi. Sampai sekarang pun walaupun saya sudah tidak tinggal di Lombok lagi, tapi beliau masih saja rela direpotkan dengan ajakan hunting ala newbie (baca: pendatang baru/ awam/ baru belajar) ini, hehehe. Terimakasih om Imran, sudah mau direpotkan selama ini. Ini nasehat yang paling saya ingat dari beliau:
"Tidak peduli seberapa bagus kamera yang kamu punya, yang penting itu adalah seberapa sering kamu pake kamera itu untuk foto-foto. Banyak orang yang baru belajar fotografi beberapa hari tapi sudah mau kamera yang mahal, dengan alat yang serba mahal, padahal foto yang bagus itu bukan semata-mata dari alat tapi dari pengalaman yang kita punya.  Pakai pocket pun kalau ngerti komposisi pastinya jadi oke."
Dari awal saya belajar jepret sama beliau pun, beliau selalu menekankan itu, itulah kenapa saya selalu percaya diri dengan pocket kemana-mana, walaupun disamping saya DSLR bergentayangan. Beliau banyak cerita tentang pengalaman foto beliau, bagaimana beliau belajar foto, yang semuanya juga otodidak, dari searching google, dari bertanya kepada master-master yang lain, dari pengalaman-pengalaman foto. Intinya adalah kalau mau dapat foto yang bagus maka harus rajin "jepret", itu rumus baku yang tidak akan pernah berubah. Walaupun kamera belum punya, modal kamera HP, modal memory card, modal pocket, yang penting jepret.

Jumat, 10 Oktober 2014

Tanpa Judul

Ini kopi yang kedua, setelah kopi pertama habis dalam satu teguk. Bukan peminum kopi memang, karena peminum kopi menyeruput kopinya perlahan, dalam keadaan panas, sedikit demi sedikit. Kopi ini teman setia kalau aku sedang sibuk berkutat dengan tugas, laptop, dan beberapa pekerjaan yang memusingkan otak. Aku suka begadang, bahkan begadang yang tidak jelas, membaca novel-novel yang sudah beberapa kali kubaca, mendengar musikalisasi Sapardi Djoko Damono yang aku hafal lyrik bahkan iramanya saking seringnya aku mendengarnya, membuka internet hanya sekedar membunuh waktu malam. Kopi ini kadang hadir menjadi teman, tergeletak angkuh disamping notebook-ku, sebagai bagian penyela helaan nafas yang memberat ketika tak bisa menahan beban ini sendiri. 
Ini kopi yang kedua, aku meminumnya perlahan, tanpa menunggunya dingin kemudian meneguknya perlahan seolah ini kopi terakhir yang tak ingin kuhabiskan sia-sia. Dalam seruputan kopi kedua, ada sebuah pesan yang datang dari seorang sahabat lama, hanya menanyakan kabar yang dia pun tahu sebenarnya kabarku baik-baik saja, menanyakan sedikit basa-basi sebagai prolog obrolan kami. Antara mereka yang telah dekat mengenalku, namanya beberapa kali hadir dalam inbox HP-ku, hanya sekedar menyapa dan menanyakan kabar. Hingga di pesan terakhir dia mengingatkanku untuk segera tidur. 
Sebuah pesan sederhana yang membuatku sedikit tersanjung, oh ternyata masih ada yang memperhatikan aku. Tanpa menunggu waktu, selimut kutarik, berharap malam ini aku tidak terlalu lama menunggu waktu untuk terlelap.
Terimakasih untuk sebuah perhatian yang sederhana, yang aku pun baru sadar bahwa masih ada orang yang memperhatikan.
"Jika kamu tidak dipertemukan dengan seseorang yang kau sebut dalam setiap doamu, mungkin kau akan dipertemukan dengan seseorang yang selalu menyebutmu dalam setiap doanya."

Dalam Keheningan,
Sumbawa, 9 Oktober 2014

Kamis, 09 Oktober 2014

Jilbab Bukan Penghalang untuk Travelling

"Travelling harusnya menjadi satu cara untuk kita mengenal Rabb kita, travelling menjadi satu cara untuk kita banyak bersyukur kepada-Nya, jangan sampai karena hobi jalan-jalan, sholat yang tiba waktunya malah ditunda-tunda, terus yang seharusnya istiqomah menggunakan rok, roknya harus dilepas. Kalau travelling membuat kita jadi jauh dari-Nya, lebih baik diam di rumah, nonton TV, itu lebih baik menurut saya."
Sering orang bertanya kepada kita-kita (perempuan berjilbab) ketika travelling atau melakukan aktivitas yang rada ekstrim, "Itu rok gak ribet apa kalau buat mendaki? Terus jilbaban gak panas apa, dilepas aja, kan gak ada laki-laki, nanti kalau mau outbond roknya diganti celana." Dan masih banyak komentar yang lainnya. Saya sih seringnya senyum aja kalau ada yang bilang seperti itu, karena saya tipikal orang yang tidak mau berdebat terkait masalah prinsip. Bagi saya ada hak kita yang menjadi kewajiban orang lain, dan ada kewajiban kita yang menjadi hak orang lain. Beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan kita merupakan hak semua orang, dan wajib untuk menghormati itu. Saling menghargai apa yang menjadi prinsip masing-masing menurut saya adalah satu cara untuk bisa melenggengkan hubungan sesama makhluk sosial.
Saya hobi jalan-jalan, awal mula menggunakan jilbab, saya merasa itu sangat ribet dan melelahkan, apalagi kalau mau wudhu, mesti ditempat yang tertutup dan tidak ada laki-lakinya. Apalagi dengan rok dan celana di dalam, bagi saya itu sangat tidak mengenakkan, tapi perlahan demi perlahan saya mulai terbiasa dengan jilbab dan rok itu. Malahan, sensasi jalan-jalannya terletak pada itu, seasyik apapun kegiatan yang kita lakukan, kita mesti istirahat ketika waktu sholat, mesti cari-cari masjid, mesti ribet ala perempuan, dan masih banyak lagi keribetan yang lain.  Kalau kata kakak saya, semuanya harus dinikmati, dan jangan dijadikan beban. Kalau kita merasa jilbab dan rok adalah beban untuk kita, maka selamanya akan beban juga, tak akan ada kenikmatan yang kita rasakan. Sumbawa yang super duper panas, gak pake penutup kepala, atau gak pake jaket keluar rumah sama artinya dengan membiarkan kulit gosong seketika, dan beruntunglah yang menggunakan jilbab, kulitnya terlindungi dari radiasi panas sinar matahari.
Gaya yang paling saya sukai ketika jalan-jalan atau trackking adalah kaos oblong, jilbab kaos yang langsung pakai, terus rok jeans, sepatu, dan tas ransel, berasa menjadi muslimah tangguh dengan penampilan itu, hihihi. Rok dan jilbab jangan dijadikan alasan untuk tidak bisa berativitas, malah itu jadi pelindung dan identitad kita :D
Di bawah ini ada beberapa foto saya ketika outbond di Lombok beberapa bulan yang lalu, sebelum kembali ke Sumbawa. Walaupun pakai rok, kalem aja lanjut terus :D Hihihi
Siap-siap untuk flying fox
satu dua tiga, meluncurrr
i believe i can fly
So buat para muslimah, jangan takut ya gak bisa 'eksis' jalan-jalan dengan jilbab dan rok itu, jalan-jalan gak pake baju pun mereka tidak risih sama sekali, kenapa kita mesti risih dengan penampilan kita.

Rabu, 08 Oktober 2014

Sedikit Cerita tentang Mereka dan Kurban di UTS



Seperti bayi kecil yang sedang tumbuh-tumbuhnya, lucu, imut, menggemaskan, dan terkadang juga menjengkelkan. Umur 1 tahun jikalau diibaratkan manusia adalah waktunya untuk belajar banyak, belajar berdiri, berjalan, kemudian berlari. Kadang mereka tiba-tiba demam, sakit, harus diberi beberapa imun agar sehat kembali. Kadang mereka akan merengek ketika apa yang diinginkan tidak diberikan, tetapi mereka harus belajar bahwa ada yang harus mereka dapatkan dan ada juga yang harus bersabar hingga menunggu waktunya. Ibarat bayi, mereka sedang haus-hausnya untuk belajar banyak hal. Kalian begitu lucu, menggemaskan. Bahagia bisa bersama ditengah kalian, diminta menjadi pembimbing kalian, besar dan belajar bersama. Kalian hebat, kalian luar biasa. Kelak nantinya, dari tangan-tangan kalianlah kota ini akan besar dan maju, kelak nanti di tangan-tangan kalianlah teknologi akan berkembang pesat disini. Sejalan waktu, harapan itu tumbuh, benih-benih doa bersemi setiap waktunya “Cepat besar dek, tumbuh dewasa, dan tebar manfaat itu kemanapu kalian pergi, dan katakana pada dunia bahwa kalianlah elang-elang muda di kaki Bukit Olat Maras itu.”
(Special for elang-elang muda Universitas Teknologi Sumbawa)

Prolog yang lumayan mellow untuk mengawali cerita saya kali ini, hehe. Sekarang saya bekerja di Universitas Teknologi Sumbawa, pada Badan Perencanaan dan Pengembangan SDM, kerjanya samalah seperti kemahasiswaan di Universitas lain. Ini tidak seperti bekerja, tetapi menjadi mahasiswa lagi, karena semua pekerjaan yang kita lakukan berhubungan langsung dengan mahasiswa, karena itu walaupun baru beberapa bulan disini tapi sudah banyak mahasiswa yang saya kenal. Di UTS belum ada BEM, sebagai gantinya dibentuklah FALA (Forum Alumni Leadership Academy), mereka yang masuk ke dalam FALA adalah mahasiswa yang telah mengikuti Leadership Academy yang diadakan BPPSDM. Anak-anak FALA ini nantinya akan digembleng untuk aktif di dunia organisasi kampus. Untuk tugas pertama, mereka telah sukses melaksanakan Respek UTS, mengisi mentoring agama islam untuk mahasiswa baru, dan beberapa hari yang lalu mereka jadi pantia kurban. Excited sekali melihat mereka sibuk membuat proposal kurban, hingga dengan takut-takut mencoba menghubungi Rektor UTS, Pak Zulkieflimansyah, untuk meminta kurban, kemudian menghadap bendahara kampus untuk meminta dana pelaksanaan kegiatan. Melihat kegigihan mereka, sama dengan memflash back kembali cerita saya ketika kuliah di Unram. Mereka angkatan pertama di UTS, jadi belum ada role model dari kakak-kakak tingkat terdahulu terkait pelaksanaan kegiatan, dll, jadinya kita yang di BPPSDM mesti setia mendampingi mereka (kerjaannya memang itu sih, hehe). Sebagai angkatan pertama, mereka tergolong keren, dan pintar, malah saya suka meminta bantuan mereka untuk design cover, famplet, dsb, hihihi. Berhari-hari berkutat dengan surat, proposal, donatur, rapat-rapat hingga magrib di kampus memang tidak sia-sia, mereka berhasil meng-oke-kan Pak Rektor untuk bersedekah 1 sapi, Bank BRI Sumbawa untuk berkurban 1 ekor sapi, Rumah Zakat 1 sapi, dan dapat sumbangan dari mahasiswa sebesar 3juta. Salut untuk kalian adek-adek. 
Alhamdulillah berkat kerja keras adek-adek panitia, kegiatan hari raya Idul Adha di UTS berjalan lancar. Diawali dengan pengumuman tata cara sholat Ied,  kemudian dilanjutkan dengan sholat Ied yang dipimpin oleh Ustad. Muklis Abdullah, dan bertindak sebagai khotib, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir. Thalipuddin M.Si, yang dalam khotbahnya membahas tentang taqarrub dan ketaatan sebagai solusi berbagai krisis multidimensi yang telah terjadi sepanjang tahun ini.  Hingga  proses pemotongan hewan kurban dan pendistribusiannya dikerjakan oleh panitia. 
Tetap semangat dan smilee :D
 
pelaksanaan sholat ied di lapangan UTS

Kaki Bukit Olat Maras

Olat Maras itu nama bukit yang ada di Desa Batu Alang Kecamatan Moyo Hulu Sumbawa, tetapnya Olat Maras ini berada di belakang kampus Universitas Teknologi Sumbawa. Olat Maras ini salah satu dari ratusan bukit yang ada di Sumbawa, secara Sumbawa adalah pulau dengan bukit-bukit yang eksotis a.k.a panas, hehe. Kalau musim kemarau seperti ini bukitnya cokelat, kering kerontang. Hampir semua anak-anak UTS sudah pernah mendaki bukit ini, kata mereka pemandangan dari atas bukit sangat menakjubkan, apalagi kalau musim hujan, bukit-bukit sekitar menghijau cantik, wow I feel free deh. Bukitnya tidak terlalu tinggi, cuma agak curam dan penuh dengan batu-batu besar, jadi kalau mau mendaki tidak bisa sendiri, supaya ada tempat berpegangan ketika mendaki. Saya belum bisa cerita detailnya, karena saya pun belum sempat mendaki, walaupun setiap hari saya selalu melihat bukit cokelat itu. So, untuk mengobati keinginan karena belum bisa menjajaki puncaknya tak apalah hanya narsisan di kaki bukitnya saja, hehehe.
Saya tidak punya foto yang menampilkan keseluruhan dari bukit Olat Maras dengan latar UTS, tapi tak apalah pakai gambar yang ini saja, biar penasarannya makin tinggi, hihi. Fotonya diambil pas musim hujan, soalnya bukitnya hijau cantik :D
foto dicomot di website UTS
ini perjalanan tentang kita, aku dan kamu :D
nah lho, hihihi
panas sih, tapi rela dong demi foto-foto
Lihatlah, bunganya saja mengering saking panasnya Sumbawa, hehehe. Hanya ada beberapa foto di kaki bukitnya, doaken saya supaya bisa mendaki ke puncaknya, dan mengabarkan kepada dunia betapa indahnya Sumbawa :D

Tidak Perlu Kamera Bagus untuk Belajar Jepret


si blue yang setia menemani perjalanan saya selama 3 tahun :D

Kalau misalnya ada yang bilang “fotografi adalah hobi yang mahal”, saya rasa tidak. Beberapa orang berprinsip, ingin memiliki semua alat-alat fotografi yang lengkap dulu baru belajar, ada juga yang dengan modal memori card sudah bisa belajar fotografi. Untuk pemula yang baru belajar fotografi, tidak perlulah memiliki kamera mahal dan superkece seperti punya fotografer professional, yang penting kamera bisa dioperasikan dan memaksimalkan yang ada untuk mendapatkan hasil yang bagus. Saya punya beberapa teman yang suka FG, mereka tidak punya kamera, hanya punya memorycard 4GB tetapi karya-karya mereka luar biasa kerennya. Setiap ada agenda hunting, mereka suka ikut-ikut teman yang senior untuk jepret-jepret, disana mereka bisa sambil sharing dan diskusi terkait fotografi, terus kalau ada waktu dan diperolehkan meminjam kamera (biasanya sih boleh), mereka menggunakan kesempatan itu untuk jepret-jepret juga, setelah itu para senior mengomentari hasil yang mereka dapatkan. Dari sanalah mereka banyak belajar. Tentu tidak mungkin jika setiap jepret selalu bermodal memorycard, oleh karena itu kalau ada rezeki mulailah menabung sedikit demi sedikit. Saya mulai belajar dan tertarik fotografi sejak tahun 2009, saat duduk dibangku pertama kuliah. Sukanya berawal dari seringnya diajak jalan-jalan keliling Lombok dan banyaknya agenda kampus yang saya ikuti, mulai saat itu saya berfikir, tidak mungkin tempat-tempat keren ini tidak saya abadikan, makanya setiap jalan-jalan atau ada agenda keren kampus, saya selalu berusaha meminjam kamera kepada teman-teman yang punya.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Sumbawa di Festival Moyo

Pawai Budaya Sumbawa pada pembukaan festival moyo 2014
Sebagai upaya promosi budaya dan peningkatan kunjungan wisatawan ke Pulau Sumbawa, maka sejak tahun 2012 Pemkab Sumbawa menyelenggarakan Festival Moyo.
Festival ini sangat dinanti oleh hampir seluruh rakyat Sumbawa. Banyak juga wisatawan dari luar Sumbawa yang datang untuk menyaksikan festival ini, terutama para fotografer yang ingin mengabadikan momen budaya yang disuguhkan. Untuk tahun 2014 ada beberapa acara yang akan ditampilkan, yaitu pekan budaya samawa, pawai budaya, sarembang ratib, expo, maen jaran atau pacuan kuda, sepeda gunung, jelajah wisata motor, diving di Pulau Moyo, samawa basarune, hingga barapan kebo yakni atraksi karapan kerbau yang unik yang ada di Pulau Sumbawa.

Kamis, 02 Oktober 2014

Yuk Berkurban

Makjleb, ga bisa ngomong apa2
Gak bisa ngomong apa-apa, gambar di atas kayaknya cukup untuk membuat kita berfikir, "oh iya ya"
Lihat disekeliling kita, masyarakat yang kecanduan merokok (maaf) banyak yang berada di kelas menengah ke bawah, tetapi sebagai penerima daging kurban kebanyakan dari mereka juga. Sekreatifnya pun bungkus rokok memuat gambar-gambar mengerikan tetap tidak berefek pada kesadaran masyarakat untuk tidak merokok, kecuali jika harga rokok dinaikkan, tetapi akan ada pro kontra yang terjadi terhadap hal itu. Di Bali, saya lupa itu daerah apa, disana ada peraturan untuk tidak melayani masyarakat yang menggunakan BPJS tetapi merokok, mereka beranggapan bahwa untuk merokok saja mereka rela menghabiskan uang banyak, masa' untuk kesehatan tidak bisa. Memang berat dan susah, tetapi peraturan tersebut berhasil menekan angka perokok di Bali (salah satu daerahnya yang menerapkan itu).
Back to topic, makjleb sangat bagi saya, tapi tidak dalam kategori rokok, setiap hari bisa beli pulsa minimal 5 ribu sehari, yang kalau dikali 30 hari kemudian 12 bulan maka dihitung-hitung bisalah beli seekor kambing, tapi tidak berusaha untuk melakukan itu, tanya kenapa???
Sadar akan hal itu sudah lama, tetapi selalu bilang "ah ntar, masih lama juga Idhul Adhanya. Nabungnya nanti saja." Akibat 'ntar-ntar' itu jadinya tak sadar waktu tidak bisa menunggu nanti, Idhul Adha di depan mata, mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat tak mungkin bisa, akhirnya lebaran tahun ini (lagi) dilewatkan tanpa berkurban padahal dari segi keuangan sudah mampu, tapi kenapa tidak? Itu juga yang berseliweran dalam otak saya. Ketika selalu makjleb dengan kisah inspiratif orang-orang yang rela banting tulang bertahun-tahun demi bisa berkurban, tetapi kita (yang mampu) ini untuk menyisihkan uang 5 ribu rupiah saja kok susah ya, rupanya bisikan setan itu masih bergentayangan mengganggu, naudzubillahimindzalik.
Ayoooo, untuk lebaran tahun besok (semoga diberi umur lagi sama Allah) kita rencanakan untuk berkurban, menabung  5rb sehari, kalau dikalikan bisa untuk satu kambing. Kalau dilihat jumlah harga belinya yang jutaan memang terasa berat, sangat berat, tetapi kalau dari uang belanja ditabung 5rb rupiah saja, maka tidak akan terasa berat. Di rumah (bersama tetangga sekitar rumah) kita ada tabungan kurban, setiap hari ada penanggung jawab yang berkeliling ke setiap rumah untuk menagih iuran kurban, jadi setiap hari selalu ada pengingat untuk menabung dan aman untuk bisa dapat 1 ekor kambing. Bisa jadi masukan juga buat yang ingin berkurban untuk bisa melakukan hal yang sama "Tabungan Kurban", kalau sendiri agak berat, mungkin dengan beramai-ramai akan terasa ringan menabungnya. Ringan sama dijinjing berat sama dipikul, sedikit-sedikit menjadi bukit :D

#YukBerkurban :D