"Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai" Anis Baswedan
Bisa baca cerita sebelumnya..
Deg-degan rasanya menunggu Hari Inspirasi itu tiba. Ini bukan kali pertama saya berdiri di depan kelas, tetapi ini rasanya lebih menakutkan dibanding dengan persentasi di depan bos di kantor. Rada horor sedikit (eh banyak, ding). Sebelum ke Lombok, saya sudah mempersiapkan segala hal yang saya butuhkan untuk mengisi Hari Inspirasi nanti, mulai dari spidol berwarna-warni, serta strategi yang saya lakukan nanti di kelas. Huh, ini rasanya amazing (baca: emejing).
"Kita bisa terapkan yel-yel ketika mengisi
training di
FKPS, Lu." Kata Kak Oby.
"Oke boleh juga kak."
Hingga pukul 01.00 malam kita masih bergelut dengan luapan ide-ide yang akan kita berikan besok kepada anak-anak. Untungnya ada Mas Dedy dan kawan-kawan, kameramen dan kreatif dari Lombok Post TV yang setia menemani kita diskusi tentang dunia jurnalis, videografi, hingga tentang pariwisata Lombok yang sedang naik daunnya, setidaknya diskusi-diskusi yang kita lakukan malam itu bisa menjadi penghibur hati yang tiba-tiba deg-degan menunggu esok tiba.
Hari Inspirasi Pun Tiba
"Lulu kamu dapat bagian mengisi di Desa paling atas Tete Batu." Ucap Bang Fathul ketika briefing pagi itu.
"Oke bang, siap."
Setelah briefing singkat serta doa bersama, kita pun langsung menuju ke lokasi masing-masing. Saya dan beberapa teman dari Lombok Backpacker dapat jatah mengisi di SDN 4 Tete Batu. Lokasi sekolahnya lumayan jauh, dan jalannya pun antimainstream, gradak-gruduk.
 |
| suasana SDN 4 Tete Batu |
 |
| senyum itu lho :D |
Tiba di sekolah kita langsung disambut dengan senyuman anak-anak yang begitu tulus. Senyum inilah yang kadang membuat rindu kembali ke sekolah itu begitu menggebu-gebu. Bermain, bercanda, tertawa bersama mereka, menjadi pelepas beban yang alami.
Setiap kelas diisi oleh dua orang, saya mendapat jatah untuk mengisi di kelas satu bersama Mbak Dede. Bisa dibayangkan apa jadinya 10 menit pertama di dalam kelas. Kacau balau. Anak-anak lari kesana kemari, kepala saya seakan mau pecah. Ide-ide yang tadinya berkeliaran bebas di kepala seakan menghilang entah kemana. Tapi untungnya Mbak Dede bisa mengatasi 'kekacauan' kelas dengan mengajak mereka bermain dan bernyanyi. Setelah kelas lumayan kondusif saya baru turun lagi, hehehe. Ini nih akibatnya setelah lama tidak turun ke sekolah, jadi kesabaran yang sudah dipupuk lama jadi mendadak hilang, huft.