Tampilkan postingan dengan label Sumbawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumbawa Barat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Mei 2023

Menghangatkan Badan dengan Setusuk Sate Kuda

 

Sate Kuda

Berawal dari perjalanan pertama di Ramadhan kemarin ke Ai Mual, membuat saya ketagihan untuk kesana lagi. Setiap memposting foto Ai Mual di status watsapp maupun instagram, selalu mengundang komentar teman-teman. "Lu, ajak kesana". Jawaban saya pun selalu sama, "Ayok". Asli sarat getak, Lulu. Dalam Bahasa Sumbawa Sarat getak itu artinya tidak bisa ada yang ajak, langsung saja mengiyakan tanpa pikir panjang hahhaa.  Karena perjalanan ke Ai Mual itu juga yang akhirnya mempertemukan saya dengan Sate Kuda khas Brang Rea ini. Cerita tentang kenikmatan Sate Kuda ini sudah sering saya dengar dari teman-teman asli Sumbawa Barat, tetapi saya belum pernah tertarik mencobanya sekali pun. Saya tidak terbiasa memakan daging kuda. Walaupun Sumbawa dari dulu terkenal dengan Susu Kuda Liarnya, tetapi  jarang sekali kita menemukan masakan yang terbuat dari daging kuda. Kalau dari cerita Kakek saya, dulu setiap rumah di Sumbawa selalu ada kuda di halamannya. Selain dijadikan sebagai alat transportasi sehari-hari, kuda bagi orang Sumbawa juga seperti teman di dalam keluarga. 

Sabtu, 20 Juni 2020

Membuktikan Kekerenan Pantai Balad

Anak-anak yang asyik bermain di pinggir Pantai Balad

"Gak ke Balad, gak keren", kata-kata itu yang selalu diucapkan Pak Fud Syaifuddin, Wakil Bupati Sumbawa Barat setiap memposting apapun tentang Pantai Balad di sosial medianya. Saya jadi penasaran, sekeren apa sih Pantai Balad saat ini sampai kata-kata itu selalu digaungkan? Pertama kali saya ke Pantai Balad tahun 2017 yang lalu bersama teman-teman dari Sumbawa. Saat itu Pantai Balad hanya ada beberapa warung makan yang belum begitu tertata, rumah-rumah warga sekitar, dan berugak yang juga tidak begitu banyak. Sampah di mana-mana, belum lagi anjing yang berkeliaran kesana-kemari yang membuat saya tidak nyaman berlama-lama di sana. Kesan pertama saya ke Pantai Balad jadi kurang begitu baik.

Sabtu, 13 Juni 2020

Main di Bendungan Kalimantong

Bersama guru2 TK Gugus 1 Brang Ene

Di saat seperti ini, penting rasanya untuk menjaga kewarasan, agar otak selalu bisa berpikir dengan baik. Sudah beberapa bulan sejak Indonesia diserang virus yang bernama Covid-19 ini, dan sudah beberapa bulan itu pula kami para guru diserang kebosanan karena tidak mengajar. Setiap hari yang kami lakukan hanyalah datang ke sekolah, membuat RPP dan memberikan anak-anak beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Rasanya sangat membosankan sekali. Berbeda rasanya ketika ada anak-anak datang ke sekolah, setiap harinya selalu ada kejutan yang terjadi. Tingkah lucu dan unik anak-anak selalu ampuh menjadi penghibur kami. 

"Besok sabtu kita makan-makan yuk di Bendungan Kalimantong." Ajak Ibu Eka setelah kami selesai sarapan bersama pagi itu. 
"Eh iya ya, sudah lama kita ndak makan-makan bersama." Ibu Jum menimpali. 
Bendungan Kalimantong memang selalu menjadi tempat favorit masyarakat Brang Ene untuk menghabiskan waktu bersama. Makan bersama di pinggir bendungan, kemudian mandi di saluran airnya. Atau kalau airnya sedang bagus dan banyak-banyaknya, kita juga bisa mandi di sungainya. 
"Ayo mo." Jawab Ibu Rus, yang kemudian di-iya-kan oleh guru-guru yang lainnya. Mungkin makan-makan di bendungan ini bisa menjadi pengobat stress kami. 

Selasa, 19 Mei 2020

Bukan Cerita Jalan-jalan

Selama beberapa bulan sejak kasus pertama covid-19 ditemukan di NTB, akses masuk ke Sumbawa Barat, tempat saya tinggal sekarang diperketat. Hanya masyarakat yang ber-KTP KSB, bahan pangan, logistik dan hal yang bersifat darurat saja yang boleh memasuki KSB. Apalah daya anak rantau seperti saya ini. Ramadhan benar-benar saya habiskan sendiri di kampung orang. 

"Ikut yuk ke Sekongkang." Watsapp Mbak Erma siang itu. Mbak Erma adalah salah satu teman saya di KSB, beliau juga asli Sumbawa dan sudah setahun ini tinggal di KSB. Kami sama-sama Guru TK dan lulus seleksi CPNS 2018 yang lalu. 
"Ngapain Mbak?"
"Ke tempat Kak Ari."
"Ayo dah." Saya tanpa pikir panjang langsung mengiyakan ajakan Mbak Erma. Sebagai anak rantau yang hanya sendirian di kosan, mengunjungi kosan atau rumah teman menjadi salah satu cara untuk mengobati kebosanan dan rindu akan rumah. 
Setelah bersih-bersih kosan, dan cuci baju, saya akhirnya berangkat ke kos Mbak Erma. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 30 menit perjalanan dari kos saya. Saya tinggal di Kecamatan Brang Ene, dan Mbak Erma di Kecamatan Jereweh, sedangkan kita akan berangkat ke Kecamatan Sekongkang. Main kita sudah antar Kecamatan ini. Hahahhahaha. 

Satu hal yang saya syukuri. Walau sudah ada yang positif Covid-19 di KSB, tetapi daerah ini termasuk dalam kategori aman. Beberapa kecamatan masih dalam zona hijau. Jadi kita tetap bisa berpergian ke daerah-daerah di dalam KSB, asalkan tetap menjaga protokol kesehatan. Menggunakan masker kemana pun kita pergi. 
Jalan menuju ke Sekongkang