Tampilkan postingan dengan label Ayo Ke Sumbawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayo Ke Sumbawa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Mei 2023

Menghangatkan Badan dengan Setusuk Sate Kuda

 

Sate Kuda

Berawal dari perjalanan pertama di Ramadhan kemarin ke Ai Mual, membuat saya ketagihan untuk kesana lagi. Setiap memposting foto Ai Mual di status watsapp maupun instagram, selalu mengundang komentar teman-teman. "Lu, ajak kesana". Jawaban saya pun selalu sama, "Ayok". Asli sarat getak, Lulu. Dalam Bahasa Sumbawa Sarat getak itu artinya tidak bisa ada yang ajak, langsung saja mengiyakan tanpa pikir panjang hahhaa.  Karena perjalanan ke Ai Mual itu juga yang akhirnya mempertemukan saya dengan Sate Kuda khas Brang Rea ini. Cerita tentang kenikmatan Sate Kuda ini sudah sering saya dengar dari teman-teman asli Sumbawa Barat, tetapi saya belum pernah tertarik mencobanya sekali pun. Saya tidak terbiasa memakan daging kuda. Walaupun Sumbawa dari dulu terkenal dengan Susu Kuda Liarnya, tetapi  jarang sekali kita menemukan masakan yang terbuat dari daging kuda. Kalau dari cerita Kakek saya, dulu setiap rumah di Sumbawa selalu ada kuda di halamannya. Selain dijadikan sebagai alat transportasi sehari-hari, kuda bagi orang Sumbawa juga seperti teman di dalam keluarga. 

Sabtu, 22 April 2023

Jodoh Pertemuan

Si Cute Whale Shark :)


Saya percaya bahwa tidak pernah ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Kapan kita bertemu, di mana kita bertemu dan bagaimana cara pertemuan itu, pasti sudah diatur dengan baik. Jika memikirkan bagaimana cara Allah mengatur perihal pertemuan itu, sungguh otak tidak akan sanggup, karena jauh dinalar kita sebagai manusia biasa. Allah sebaik-baik sutradara hidup ini.  

Saya ingat sekali malam itu, tiba-tiba ada nomor baru yang menghubungi saya melalui watsapp, katanya ada temannya yang ingin dibuatkan boneka rajut berbentuk whale shark di @anakpapabandy.craft (usaha crafting khusus rajutan yang saya buat). Saya mengiyakan, tetapi tidak bisa berjanji akan bisa selesai dengan cepat karena pekerjaan sekolah sedang banyak-banyaknya. Keesokan harinya temannya itu kemudian menghubungi saya lagi. Bertanya-tanya beberapa hal tentang amigurumi whale shark yang sempat saya bahas di chat sebelumnya. Melalui obrolan kita di watsapp, saya baru tahu kalau ternyata boneka rajut yang dia pesan itu spesial untuk souvenir para tamu yang menginap di Amanwana Resort. Mendengar kata Amanwana Resort, pikiran saya langsung melayang jauh. Demi apa pun saya tidak pernah menyangka bahwa boneka rajut buatan saya bisa masuk ke resort besar sekelas Aman. Amanwana merupakan satu-satunya resort super mewah yang menawarkan konsep glamping yang ada di Pulau Moyo, Sumbawa. Banyak tokoh-tokoh besar, baik nasional maupun internasional yang pernah kesini. Lady Diana menjadi

Kamis, 09 Juli 2020

Menuntaskan Rindu dengan Bersepeda Keliling Sumbawa

Jembatan Samota yang menjadi salah satu ikon Sumbawa. Di sini menjadi tempat favorit masyarakat Sumbawa utk lari sore dan sepedaan

Selama Pandemi, ada satu hal yang tidak bisa dilakukan anak rantau, yaitu pulang ke rumah, padahal jarak antara rumah dan tempat saya mengajar sekarang hanya 2,5 jam perjalanan saja jika menggunakan motor. Kebijakan pemerintah kabupaten setempat yang melarang warganya untuk keluar masuk kabupaten membuat kami para anak rantau tidak bisa pulang. Hanya jurus sabar yang bisa dikeluarkan sebagai obat dari semuanya sambil merapal doa-doa panjang semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa pulang ke rumah dan menikmati kehangatan kebersamaan dengan keluarga kembali. 
Tidak selamanya badai berlangsung, tidak selamanya pula hujan deras mengguyur. Akan ada jeda yang bisa membuat kita bisa menarik nafas untuk bisa melalukan perjalanan lagi walau dengan mendung yang menggelayut. Sumbawa perlahan membaik. Pasien positif semakin menurun. Pemerintah pun mulai melonggarkan kebijakannya. Kami anak rantau bersorak bergembira menyambut itu semua. Libur sekolah tiga minggu tidak akan kami habiskan lagi di rantauan. Kami bisa pulang. Horeeeee.
Satu hari setelah pembagian laporan perkembangan anak, saya pulang ke rumah. Selama perjalanan, yang ada di dalam otak saya adalah bayangan wajah bahagia Ibu dan Bapak yang sedang menunggu di rumah. Beberapa bungkus palopo dan jagung rhee kesukaan Ibu Bapak tak lupa saya bawa. Begini ya ternyata rasanya bisa pulang ke rumah setelah sekian lama. Ada rasa bahagia yang sulit untuk diungkapkan. 

Sabtu, 20 Juni 2020

Membuktikan Kekerenan Pantai Balad

Anak-anak yang asyik bermain di pinggir Pantai Balad

"Gak ke Balad, gak keren", kata-kata itu yang selalu diucapkan Pak Fud Syaifuddin, Wakil Bupati Sumbawa Barat setiap memposting apapun tentang Pantai Balad di sosial medianya. Saya jadi penasaran, sekeren apa sih Pantai Balad saat ini sampai kata-kata itu selalu digaungkan? Pertama kali saya ke Pantai Balad tahun 2017 yang lalu bersama teman-teman dari Sumbawa. Saat itu Pantai Balad hanya ada beberapa warung makan yang belum begitu tertata, rumah-rumah warga sekitar, dan berugak yang juga tidak begitu banyak. Sampah di mana-mana, belum lagi anjing yang berkeliaran kesana-kemari yang membuat saya tidak nyaman berlama-lama di sana. Kesan pertama saya ke Pantai Balad jadi kurang begitu baik.

Minggu, 14 Juni 2020

Perjalanan ke Desa di Atas Sumbawa

Tampang sebelum perjalanan kt yang aduhai. Masih oke semua ni tampilannya.. Wwkwk

Ada rindu yang tiba-tiba menyeruak ketika membuka HP dan melihat beberapa foto-foto perjalanan ke Desa Tepal dan Desa Tangkampulit beberapa bulan yang lalu. Apa kabar ya para guru di Madrasah dan anak-anak di sana. Saya penasaran dengan kehidupan di sana selama masa pandemi ini. Sepertinya dengan atau tanpa pandemi ini, kehidupan di sana berjalan seperti biasanya. Mereka tetap stay at home tidak keluar desa, ke ladang di pagi hari, lalu pulang sore harinya. Semua kebutuhan untuk makan sehari-hari didapatkan dari hasil berkebun. Ke Sumbawa hanya sekali dalam beberapa bulan untuk membeli kebutuhan pokok. Mereka juga tidak perlu pusing dengan segala pemberitaan terkait pandemi ini. Alangkah indahnya.
Kak Ilham santuy banget di atas hartop, padahal jalannya lumayan itu bikin jantung copot :)

Sabtu, 13 Juni 2020

Main di Bendungan Kalimantong

Bersama guru2 TK Gugus 1 Brang Ene

Di saat seperti ini, penting rasanya untuk menjaga kewarasan, agar otak selalu bisa berpikir dengan baik. Sudah beberapa bulan sejak Indonesia diserang virus yang bernama Covid-19 ini, dan sudah beberapa bulan itu pula kami para guru diserang kebosanan karena tidak mengajar. Setiap hari yang kami lakukan hanyalah datang ke sekolah, membuat RPP dan memberikan anak-anak beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Rasanya sangat membosankan sekali. Berbeda rasanya ketika ada anak-anak datang ke sekolah, setiap harinya selalu ada kejutan yang terjadi. Tingkah lucu dan unik anak-anak selalu ampuh menjadi penghibur kami. 

"Besok sabtu kita makan-makan yuk di Bendungan Kalimantong." Ajak Ibu Eka setelah kami selesai sarapan bersama pagi itu. 
"Eh iya ya, sudah lama kita ndak makan-makan bersama." Ibu Jum menimpali. 
Bendungan Kalimantong memang selalu menjadi tempat favorit masyarakat Brang Ene untuk menghabiskan waktu bersama. Makan bersama di pinggir bendungan, kemudian mandi di saluran airnya. Atau kalau airnya sedang bagus dan banyak-banyaknya, kita juga bisa mandi di sungainya. 
"Ayo mo." Jawab Ibu Rus, yang kemudian di-iya-kan oleh guru-guru yang lainnya. Mungkin makan-makan di bendungan ini bisa menjadi pengobat stress kami. 

Selasa, 19 Mei 2020

Bukan Cerita Jalan-jalan

Selama beberapa bulan sejak kasus pertama covid-19 ditemukan di NTB, akses masuk ke Sumbawa Barat, tempat saya tinggal sekarang diperketat. Hanya masyarakat yang ber-KTP KSB, bahan pangan, logistik dan hal yang bersifat darurat saja yang boleh memasuki KSB. Apalah daya anak rantau seperti saya ini. Ramadhan benar-benar saya habiskan sendiri di kampung orang. 

"Ikut yuk ke Sekongkang." Watsapp Mbak Erma siang itu. Mbak Erma adalah salah satu teman saya di KSB, beliau juga asli Sumbawa dan sudah setahun ini tinggal di KSB. Kami sama-sama Guru TK dan lulus seleksi CPNS 2018 yang lalu. 
"Ngapain Mbak?"
"Ke tempat Kak Ari."
"Ayo dah." Saya tanpa pikir panjang langsung mengiyakan ajakan Mbak Erma. Sebagai anak rantau yang hanya sendirian di kosan, mengunjungi kosan atau rumah teman menjadi salah satu cara untuk mengobati kebosanan dan rindu akan rumah. 
Setelah bersih-bersih kosan, dan cuci baju, saya akhirnya berangkat ke kos Mbak Erma. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 30 menit perjalanan dari kos saya. Saya tinggal di Kecamatan Brang Ene, dan Mbak Erma di Kecamatan Jereweh, sedangkan kita akan berangkat ke Kecamatan Sekongkang. Main kita sudah antar Kecamatan ini. Hahahhahaha. 

Satu hal yang saya syukuri. Walau sudah ada yang positif Covid-19 di KSB, tetapi daerah ini termasuk dalam kategori aman. Beberapa kecamatan masih dalam zona hijau. Jadi kita tetap bisa berpergian ke daerah-daerah di dalam KSB, asalkan tetap menjaga protokol kesehatan. Menggunakan masker kemana pun kita pergi. 
Jalan menuju ke Sekongkang

Senin, 15 Mei 2017

My Brother, My Travel Mate



Kak Amenk, Saya dan Abil di atas bukit Rajasua Pulau Moyo

Abil. Mulutnya item habis makan cumi :P Lokasi: Tanjung Pasir Pulau Moyo
Karena beberapa kali menulis tentang Pulau Moyo di blog, saya akhirnya menjadi sasaran tempat bertanya teman-teman tentang pulau itu. Bertanya tentang transportasi menuju kesana, itinerary bahkan destinasi-destinasi apa saja yang harus dikunjungi selama di sana. Saya berasa menjadi pejalan yang bermanfaat bagi pejalan yang lain ketika apa yang saya tuliskan bisa menjadi rekomendasi perjalanan mereka. Dan selalu saja, Abil, adik bungsu saya, menjadi travel mate saya setiap ada teman yang meminta ditemani ke Pulau Moyo. Dia sangat menyukai laut. Tidak ada akhir pekan tanpa bermain dengan ikan-ikan di laut. Sampai Ibu geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
Seperti liburan kali ini, Kak Amenk, kakak senior ketika di Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP Universitas Mataram meminta untuk ditemani ke Pulau Moyo. Kak Amenk mengabari bahwa libur 3 hari di bulan ini, dia akan datang ke Sumbawa bersama beberapa temannya. Beliau meminta saya untuk menemaninya ke Pulau Moyo, yah hitung-hitung reunian selama di BEM FKIP dulu. Abil menjadi orang pertama yang saya kabari perihal keberangkatan ke Pulau Moyo. Bagi saya dia adalah pawangnya Pulau Moyo. Selalu merasa aman jika melakukan perjalanan keliling pulau bersamanya. Tentunya saja karena dia selalu bisa memanjakan kakaknya ini dengan ikan-ikan segar dari laut Pulau Moyo.
“Wajar juga sih kalau adikmu itu jadi suka laut, Kakek dan Buyutmu juga banyak yang jadi pelaut. Jadi ya nular ke adikmu.” Kata Ibu suatu waktu. Semua anak-anaknya Ibu sangat menyukai laut, kecuali Huda adik saya yang nomor 1. Dia tidak begitu suka jalan-jalan, baginya istirahat yang paling enak itu ya berdiam diri di kamar. Beda dengan kita bertiga, istirahat yang paling enak itu ya jalan-jalan, main ke pulau, lalu tiduran di atas pasir putihnya dan memandangi langit biru Sumbawa.

Jumat, 12 Mei 2017

Tanjung Menangis yang Tak Lagi Menangis

camping ala ala di Tanjung Menangis




Jam berapa pulang dari kampus??
Nanti habis dari sana langsung ke rumah Bang Ega ya.
Jangan lama-lama pulangnya nanti kita kemalaman nyampenya.
Sms bertubi-tubi dari Putri yang membuat saya tak konsentrasi menyelesaikan pekerjaan di kampus.
Iya.
 Balas saya singkat.
Iya apanya ini? Aku sms panjang kamu  jawabnya cuma ‘iya’?
Putri yang tak terima dengan singkatnya jawaban saya membuatnya semakin cerewet meng-sms.
Bagaimana aku mau konsentrasi selesaikan kerjaan kalau kamu sms terus.
Pesan terakhir terkirim dan tak ada balasan lagi dari Putri. Terkadang perempuan itu memang cerewetnya tanpa batas. Wajar saja dalam setiap buku-bukunya, Raditya Dika selalu ingin ‘pura-pura mati’ jika dihadapkan pertanyaan seperti itu. Saya juga ingin ‘pura-pura mati’, ‘pura-pura cuek’ dengan sms bertubi-tubi dari Putri, tapi bukankah orang sabar itu enteng jodoh?? Hahahaha. Bersahabat dekat dengan Putri delapan tahun cukup buat kita saling memahami satu sama lain.
Akhir pekan ini, kita sudah berencana untuk kemah di salah satu tempat eksotis di Sumbawa. Tempat yang tidak terlalu jauh dari pusat kota tetapi memiliki keindahan yang memikat hati. Tempat ini juga namanya lumayan mahsyur dalam legenda rakyat Sumbawa; Tanjung Menangis. Konon katanya, pada zaman dahulu kala Tanjung ini menjadi tempat seorang Putri Sumbawa menangisi kepergian laki-laki yang telah menyembuhkannya dari penyakit menahun yang bernama Kre Kure (penyakit kulit) yang tidak ada obatnya. Laki-laki tersebut bernama Zainal Abidin. Raja pada saat itu membuat sayembara, bahwa barang siapa yang berhasil menyembuhkan putri dari penyakitnya jika dia perempuan akan dijadikan saudara dan jika laki-laki akan dinikahkan dengan sang putri. Akhirnya Zainal Abidin tergoda untuk mengikuti sayembara tersebut. Ketika menyembuhkan sang putri, Zainal Abidin menyamar menjadi seorang kakek tua renta dan berhasil menyembuhkan sang putri. Tetapi sangat disayangkan, Raja tidak ingin menikahkan putrinya dengan Zainal Abidin karena penampilannya yang sangat jelek dan tua.

Jumat, 25 November 2016

Elang Muda di Langit Sumbawa


guru dan anak-anak SDN Talagumung
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, bukan hanya bualan kosong amanat Undang-undang Dasar 1945, tetapi hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh semua anak bangsa. Ketika ribuan orang berbondong-bondong untuk antri masuk di sekolah ternama, ketika para pemangku kepentingan sibuk membicarakan tentang ujian nasional bagusnya menggunakan komputer atau tidak, ketika segala informasi begitu mudah didapatkan hanya dengan sekali klik di ujung jari, ternyata ada anak-anak di dusun terpencil nan kaya sumber daya alam yang belum bisa menikmati kenyamanan seperti itu. Jangankan berbicara bagusnya ujian nasional menggunakan komputer atau tidak, melihat rupa komputer saja mereka belum pernah. Ilmu yang bagi jutaan rakyat Indonesia begitu mudahnya didapatkan hanya dengan sekali klik di ujung jari mereka, anak-anak di dusun tersebut malah harus berebutan membaca buku yang sama setiap harinya. Di tengah keterbatasan yang serba kekurangan, ada pemuda-pemuda hebat yang tak henti-hentinya menyalakan lilin harapan itu. Sudah lelah rasanya, jika hanya merutuk kenapa dusunnya masih tertinggal seperti ini, kenapa pendidikan hanya menjadi dongeng manis bagi mereka. Daripada merutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin-lilin. Itu pula yang mendasari mereka untuk membuat SD Fillial atau SD cabang untuk membantu anak-anak dusun tersebut mendapatkan hak yang sama, mengenyam pendidikan yang layak, sama dengan jutaan anak Indonesia lainnya. 

Rabu, 23 November 2016

Baper Manjyah Liburan di Pulau Mungil nan Romantis




Pulau Bedil Uyeeeeee, Look at Ocid, bertopi baju putih, eskpresinya selalu sayu sendu manjah gt kalau foto -_-
Rencana Liburan yang Super Rempong
Cuaca saja yang bisa diramalkan kapan hujan, kapan badai, kapan petir, bisa tidak terjadi sesuai dengan ramalannya, apalagi rencana, yang kita belum tahu pasti bisa tereksekusi apa tidak, yang bisa berubah-ubah sesuai kehendak hati dan keadaan. Ya sama dengan rencana liburan ini, yang sudah jauh-jauh hari direncanakan, menjelang H-1 masih belum jelas akan jadi atau tidak.
”Lagi mager, males kemana-mana weekend ini.” Kata saya di dalam grup watsapp Baper Manjyah. FYI, Baper Manjyah ini adalah grup panitia lokal Kelas Inspirasi Sumbawa, yang dikarenakan kebaperan dan ke-manjah-annya sudah masuk ke dalam kategori akut stadium akhir, grup itu pun berganti nama setelah melalui prosesi bakar-bakar Ayam Nyerengkang (Ayam Taliwang versi kita, yang setiap masak bumbunya selalu absurd tapi ngengenin). Grup itu butuh waktu lama untuk pencarian jati diri, mencari nama yang cocok untuk menggambarkan diri yang sesungguhnya, mulai dari nama yang normal hingga yang abnormal. Ketika dilahirkan namanya adalah “Panlok KI Sumbawa”, kemudian menjadi “Fasil KI Sumbawa”, mulai error sedikit menjadi “Panlok Baper Akut”, hal itu dikarenakan hampir semua panitia lokalnya adalah jomblo dan selalu baper, bapernya sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Kemudian  menggila lagi “Fasil Baper Manjah” dan kerena Arif yang ngomong manjahnya sedikit jibang (jijik banget) dengan bibir yang agak nyelekit ke atas sedikit, kita pun mengganti namanya menjadi “Fasil Baper Manjyah”. Nama itu tidak akan berganti lagi hingga semua anggotanya berhenti baper dan tidak jomblo, hhaaaaaaatchim.

Minggu, 28 Juni 2015

Jurang Setan: Keindahannya Tidak Seseram Namanya



Pantai Jurang Setan
Pantai Jurang Setan
Setelah dari Istana Karang, Bang Chris mengajak kita semua snorkeling ke Jurang Setan. Mendengar namanya saya langsung bergidik ngeri, jurang setan? Jurang Setan ini adalah nama tempat di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Dompu. Letaknya tidak jauh dari Desa Calabai. Saya tidak tahu kenapa pantainya dinamakan Jurang Setan, mungkin karena diatas pantai ini ada tebing jalan yang lumayan ngeri sehingga disebut jurang setan, mungkin.
Matahari sedang terik-teriknya ketika kita tiba di Pantai Jurang Setan. Pantai berpasir hitam ini sangat sepi dari pengunjung, hanya ada beberapa anak muda yang sedang bermain-main di sana. Tidak jauh dari pantai itu ada aliran sungai air tawar yang sangat dingin, kontras dengan cuaca dan kedinginan airnya. Kata Bang Chris juga tidak jauh dari aliran sungai itu, tepat di bawah tebing Jurang Setan ada sebuah goa dengan lorong yang lumayan panjang dengan aliran sungai kecil didalamnya. Dari Pantai Jurang Setan, kita hanya berenang beberapa menit saja untuk menuju ke spot snorkelingnya, tidak perlu naik kapal seperti snorkeling kita yang pertama. Snorkeling di pantai ini bisa jadi alternatif pengobat rindu bermain dengan ikan-ikan, jika tidak bisa snorkeling di Istana Karang yang mengharuskan menyewa kapal. Letaknya pun tidak susah ditemui, tidak jauh dari pusat desa, jadi bisa dikunjungi setiap saat.
Yuhuuu, its time to snorkeling again.
Hari ini benar-benar surga bagi saya. Main sepuasnya bersama ikan-ikan. Terik yang begitu menyengat kulit tidak terasa ketika menceburkan diri kedalam laut. Adem. Berenang kesana kemari, say hello dengan ikan-ikan yang cantik. 
Karang di Jurang Setan

Sabtu, 27 Juni 2015

Berkunjung Ke Istana Karang Teluk Saleh

menuju lokasi snorkeling


Bicara tentang laut maka kita akan dihadapkan pada kegiatan asyik nan menyenangkan, yaitu snorkeling. Saya paling suka ini. Tujuan ke Calabai juga untuk itu, main-main bersama ikan cantiknya. Dari Pelabuhan Calabai kita bisa menyewa kapal milik nelayan untuk menuju spot-spot snorkeling bagus di sana. Laut Calabai, masuk ke dalam perairan Teluk Saleh, yang selama ini dikenal sebagai aquarium raksasa dunia. Ikan yang beraneka ragam, karang-karang yang cantik bisa kita temui disini.
“Spot snorkeling yang paling bagus itu ada di Istana Karang. Karangnya beraneka ragam, saya yakin ketika kesana kalian tidak bisa move on dari laut, ndak mau pulang.” Ehm promosi Bang Chris sedari tadi tidak ada habisnya tentang keindahan bawah laut Calabai semakin membuat tak sabar untuk say hello sama ikan-ikan itu. 
siap siap snorkeling

Kamis, 25 Juni 2015

Selamat Pagi Calabai



pelabuhan calabai
Semalaman menaklukan jalan Sumbawa-Dompu cukup membuat badan sakit tak karuan. Ibu sudah mengingatkan saya, kalau perjalanan Sumbawa-Dompu itu bukan perjalanan yang mudah, walaupun jalannya sudah bagus, tetapi jaraknya yang sangat jauh cukup membuat kelelahan. Dan benar saja, pukul 16.30 Wita meninggalkan Kota Sumbawa, baru tiba di Calabai-Dompu pukul 00.30 Wita. Bayangkan saja berapa jam waktu yang kita habiskan diperjalanan. Badan seperti mati rasa, pegal disana-sini. 
Tetapi memang untuk menikmati suatu keindahan memang butuh perjuangan, hahaha
Lets go adventure guys...
Gunung Tambora
Selamat Pagi Calabai
Calabai terletak di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, NTB. Selama ini Calabai dikenal sebagai gerbang masuk menuju Pulau Satonda dan Pulau Moyo. Bagi yang mau ke dua pulau eksotis itu bisa melalui Pelabuhan Calabai, menggunakan kapal boat milik warga. Tidak hanya itu, letaknya yang tepat berada di bawah kaki Gunung Tambora menjadikannya berhawa sejuk, tidak seperti daerah-daerah lain di Dompu (Pulau Sumbawa) yang panas. Airnya pun sangat dingin, mandi pagi dijamin menggigil. Pada pagi hari kita bisa menyaksikan keindahan matahari terbit tepat di atas Gunung Tambora. Di bagian baratnya lautan biru Teluk Saleh terhampar luas dengan Pulau Moyo dan Pulau Satonda yang terpajang di depannya. Ah memang tidak rugi saya menempuh perjalanan yang melelahkan ini, karena semua akan terbayar lunas dengan keindahan Calabai yang memikat mata dan hati.
“Cari kopi yuk. Kita ngopi di Pelabuhan Calabai, asyik ngopi pagi-pagi disana.” Seorang teman menawarkan. Ide yang bagus. Perut sedari tadi kembung, efek angin yang semalaman bebas masuk semaunya. Mungkin segelas kopi hangat bisa membuat perut sedikit membaik. Tepat di depan gapura Pelabuhan Calabai ada sebuah warung kecil yang sangat sederhana. Disitulah kami mampir sejenak, sembari menikmati pagi dengan segelas kopi panas.
Disekitar pelabuhan terlihat kesibukan para nelayan yang menebarkan jalanya, beberapa warga lainnya juga tak mau kalah mencoba peruntungan mendapatkan ikan dengan memancing. Di satu sudut lainnya anak-anak kecil berlarian kesana kemari, bermain bersama teman sebayanya.

Rabu, 24 Juni 2015

Karena Selfie di Bendungan Mamak itu Menyenangkan


Bendungan Mamak
Bendungan Mamak, merupakan satu dari banyak bendungan yang ada di Sumbawa. Bendungan ini terletak di Desa Mamak, Kecamatan Lopok, Sumbawa. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di bendungan ini, hanya 45 menit dari pusat kota Sumbawa. Jalannya pun sudah beraspal mulus, hanya di beberapa titik saja jalannya berlubang. Sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan oleh hijaunya persawahan penduduk. Bendungan Mamak ini sangat familiar di telinga warga Sumbawa. Selain fungsinya sebagai pusat irigasi sawah-sawah di Sumbawa, bendungan ini juga menjadi tempat mancing favorit warga. Hampir setiap hari, bendungan ini selalu ramai dikunjungi oleh para pemancing, tidak hanya berasal dari warga desa sekitar bendungan tetapi juga daerah-daerah di dalam kota Sumbawa. Nelayan ikan air tawar juga banyak ditemukan disini. Perahu mereka berjejer rapi disepanjang bendungan. Bagi warga yang ingin membeli ikan tanpa mau bersusah payah memancing, bisa membeli ikan melalui nelayan-nelayan yang ada di bendungan ini 
perahun nelayan

Kamis, 18 Juni 2015

Mantar: Desa Kecil Nan Cantik di Atas Poto Tano



Mantar di pagi hari
Siang itu saya mendapatkan telepon dari Bang Jhony, seorang teman di Adventurous Sumbawa. Beliau memberitahukan bahwa ada volunteer dari Taiwan yang ingin memberikan bantuan peralatan sekolah kepada anak-anak di Desa Mantar dan Bang Jhony ingin saya ikut serta juga untuk membantu disana nanti. Mendengar tawaran itu, saya langsung tertarik dan buru-buru mengiyakan. Pak Rektor UTS juga langsung setuju memberikan izin ketika saya memberikahukan alasan saya untuk tidak masuk kerja beberapa hari dikampus.
“Iya Lulu, tidak apa-apa. Kegiatan itu bagus sekali untuk kamu.” Izin dari Pak Rektor itu membuat saya bahagia, serasa ingin terbang melayang. Dari dulu Mantar telah masuk ke dalam wish list perjalanan saya. Saya tidak menyangka bahwa wish list itu bisa  di-check list secepat mungkin, diluar dugaan saya sebelumnya. Kerja sosial sambil jalan-jalan, asyik.
Pukul 19.00 Wita kita telah tiba di Seteluk (3 jam perjalanan dari Sumbawa, dan hanya 30 menit jika dari Poto Tano). Dari Seteluk ini kita bisa menyewa Ranger, alat transportasi publik yang berbentuk mobil bak terbuka yang biasa digunakan warga untuk menuju Mantar.  Karena kemalaman tiba di lokasi, semua Ranger yang menuju ke Desa Mantar sudah tidak ada. Salah seorang teman yang juga warga Seteluk menyarankan untuk menyewa Ranger, yang  tentu saja harganya dua kali lipat dari harga biasanya.
“Kalau menggunakan motor, amankah?” Bang Jhony bertanya kepada warga setempat.
“Aman sih Pak, cuma motornya harus menggunakan motor gigi, soalnya jalan itu akan menanjak terus. Dan jalannya juga banyak batuan lepas. Kalau mau, bisa juga sewa tukang ojek untuk mengantarkan kesana.”
Bang Jhony berdiskusi dengan kita semua. Dari empat motor yang kita gunakan, hanya ada dua motor yang tidak memungkinkan jika digunakan untuk naik ke Mantar. Solusinya adalah menyewa tukang ojek yang merupakan warga setempat yang telah terbiasa naik ke Mantar. Jalannya yang merupakan batuan lepas dan tanjakan yang cukup ekstrim membuat kita tidak berani untuk mengambil resiko menggunakan motor yang bermasalah.
Suara raungan gas motor terdengar begitu menyakitkan ketika mulai melewati tanjakan pertama Mantar. Kata warga, ini pertama kalinya ada orang luar yang nekat naik ke Mantar malam-malam begini tanpa menggunakan public transport (Ranger). Kesulitan semakin terasa ketika batuan lepas yang mengiringi sepanjang jalan Mantar membuat ban belakang motor ngepot, penumpang pun harus rela turun dari atas motor untuk menjaga keselamatan. Dingin yang semulanya begitu menggigit tulang jadi berganti dengan keringat yang mengucur deras karena harus menaiki tanjakan maut Mantar itu.

Rabu, 22 April 2015

Menikmati Sensasi Keindahan Pulau Paserang

Pagi di Pulau Paserang
Dering telepon membangunkan saya. Dengan nyawa yang belum sepenuhnya kembali, saya mengangkat panggilan itu.
"Bangun, ndak sholat subuh???" Suara Ibu diseberang sana membuat kantuk yang tadinya menggelayut berat membebani pelupuk mata saya tiba-tiba hilang.
Astagfirullah, saya mengecek jam di tangan, pukul 05.00 Wita. Lelah yang menyelimuti kami dan suasana nyaman pulau ini membuat kami tak sadarkan diri. Padahal niatnya mau bangun pagi untuk foto sunrise. Bergegas saya membangunkan adik-adik yang masih tidur lelap.
"Dek, bangun, ayo sholat subuh dulu." Saya menepuk-nepuk pundak mereka satu persatu. Kok berasa jadi Emak-emak yang lagi membangunkan anak-anaknya ^_^. Tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka terbangun. Membersihkan diri sejenak, kemudian sholat berjamaah. Debur ombak yang tenang, angin yang berhembus perlahan, menambah suasana syahdu pagi ini. Jaket semakin saya eratkan untuk menghangatkan tubuh. Dingin dan suasana nyaman pagi ini sebenarnya membuat kantuk itu semakin menjadi-jadi, tapi sunrise tidak mungkin menunggu kami: waktu terus berlalu. 
***
"Lho bukannya ada trotoarnya ya??" Saya terheran-heran dengan jalan yang kita lewati, tidak ada setapaknya sedikit pun. Di blog beberapa teman, terlihat foto berupa jalan trotoar yang mengarahkan kita menuju atas bukit Pulau Paserang.
"Saya kurang tau Kak, dimana letak jalan trotoarnya, kemarin kita nyampenya pas gelap jadi belum sempat jalan-jalan." Dika mengklarifikasi. Dika dan Fajri terlebih dahulu naik ke bukit, mereka mau mengecek seperti apa kondisi jalannya, memungkinkan atau tidak untuk dilalui oleh kita (baca: kaum perempuan). Bukitnya tidak begitu terjal, ilalangnya yang tumbuh tinggi menjadi penolong kita. Ilalang itu yang menjadi pegangan kita untuk bisa mendaki bukitnya. Duri dari pohon-pohon kecil yang tumbuh liar sekitar bukit membuat kaki lecet. Selalu ada perjuangan dibalik perjalananan. Ada jalan yang cantik mulus, tapi karena ketidak tahuan tentang jalan itu membuat kita mendaki melalui jalan yang sama sekali tak enak. Tapi nikmatilah, kawan.
Rinjani dari atas Bukit Paserang
Fahmi

Selasa, 21 April 2015

Berakhir Pekan ke Pulau Paserang Bersama Elang-elang Muda

Elang-elang Muda UTS

"Kita cek biota laut Pulau Paserang. Jalan-jalan dan penelitian. Sesekali kita perlu untuk keluar dari Laboratorium itu, hehehe" Kata saya waktu itu ketika mulai meracuni mereka tentang ajakan jalan-jalan akhir pekan ini.
"Iya Kak Lulu, saya mau. Nanti saya ajak teman-teman yang lain lagi." Fahmi sangat antusias dengan ajakan ini. Dia baru pulang magang dari NIMS Jepang. Rutinitas di Laboratorium tentu saja membuatnya jenuh, dan refreshing akhir pekan ini bisa jadi satu obatnya. Tidak disangka, tawaran iseng-iseng saya berbuah manis. Fahmi dan kawan-kawan teracuni untuk mengunjungi pulau itu. Yeayyy. Ini kali pertama bagi saya jalan bersama adik-adik di Universitas Teknologi Sumbawa. Berasa jadi mahasiswa lagi jalan dengan mereka yang masih kyut hehehe. Elang-elang muda adalah sebutan bagi mahasiswa UTS, dengan harapan mereka bisa menjadi elang yang kuat dan perkasa dan terbang ke seluruh penjuru dunia.
Perjalanan Menuju Paserang
Pulau Paserang. Satu diantara banyak pulau eksotis yang terhampar di lautan sekitar Poto Tano: Gerbang masuk Pulau Sumbawa. Beberapa kali teman-teman mengajak saya untuk berakhir pekan disana, dan beberapa kali pula selalu ada hal yang tak terduga yang membuat saya tidak bisa memenuhi ajakan mereka. Selain spot snorklingnya terbaik di Sumbawa, ilalangnya juga sedang cantik-cantiknya, hijau. Mungkin kemarin itu memang belum waktunya.
"Lu, jangan lupa cek dulu angin ban motormu itu. Kata Bapak tadi bannya kempes itu." Ibu mengingatkan saya.
"Iya Bu, sudah kok." Saya menjawab sambil menaikkan barang-barang bawaan saya ke atas motor. Segala panci, piring, sendok, gelas, tak luput dari perhatian saya. Memastikan tidak boleh ada yang ketinggalan, hatta satu barang pun. Tak lupa snorkel juga masuk ke dalam tas. Tidak membawa alat snorkling ke Paserang sama artinya dengan tidak membawa uang ke pasar: tidak ada gunanya. Tidak seperti biasanya Ibu tidak banyak berkomentar dengan kepergian saya keluar rumah kali ini, biasanya beliau akan banyak tanya ini dan itu. Mungkin Ibu saya mulai paham kalau anaknya sudah beranjak dewasa ^_^
Kampung nelayan di Poto Tano
kampung nelayan di Poto Tano, landscapenya amazing :D
Pukul 13.30 Wita semua pasukan telah berkumpul dan kita pun melanjutkan perjalanan menuju Poto Tano. Memakan waktu sekitar kurang lebih dua jam dari pusat Kota Sumbawa untuk menuju Poto Tano. Ada delapan pulau kecil nan eksotis yang tersebar di sekitar Poto Tano Sumbawa. Pulau Kenawa menjadi satu destinasi andalan Sumbawa, kemudian Pulau Paserang menyusul. Hampir setiap akhir pekan Pulau Kenawa selalu ramai dikunjungi wisatawan dalam maupun luar Sumbawa. Seperti sore ini saja, puluhan orang sudah berkumpul di dermaga penyebrangan kampung Poto Tano untuk menuju kesana. Untuk menuju ke Pulau Paserang kita bisa menyewa kapal yang dimiliki nelayan di Kampung Poto Tano. Harga sewanya sekitar Rp. 400.000 hingga Rp. 450.000 (Tips, alangkah bagusnya jika perjalanan ke pulau-pulau kecil di Sumbawa dengan teman yang banyak, supaya sharing cost sewa kapalnya pun sedikit). Akhir pekan menjadi berkah tersendiri bagi nelayan di Poto Tano. Kapalnya beralih fungsi, dari yang biasa dijadikan untuk menangkap ikan menjadi kapal angkut pengunjung ke pulau-pulau kecil itu.
"Pak mahal sekali sewa kapalanya. Bisa diturunkan sedikit ndak?? Hehehe" Saya mencoba lobi-lobi si Bapak yang juga kenalan saya ketika berkunjung ke Kenawa beberapa waktu yang lalu.
"Pulau Paserang jaraknya lumayan jauh dek, tidak seperti Kenawa. Berapa orang yang pergi??"
"Kita berdelapan, pak."
"Yasudah buat kalian Rp. 400.000 aja dah."
"Boleh pak, tapi nanti setelah ke Paserang mampir ke Kenawa juga, boleh??"
"Iya, memang rutenya seperti itu dek. Kalau ke Paserang, kita kasi bonus mampir ke Kenawa."
Yes, asyiklah kalau begitu. Seperti buy one get two. Beli satu dapat dua. Adik-adik UTS excited sekali dengan perjalanan pertama mereka ini. Ketika sampai di dermaga kampung Poto Tano mereka sudah 'teriak-teriak' tidak sabaran untuk menikmati pengalaman petualangan yang akan mereka lalui.

Kamis, 16 April 2015

Sarkofagus: Napak Tilas Sumbawa Dahulu Kala


jalan yang berbatu, membuat kita ekstra hari2

Berkali-kali saya harus turun dari motor yang saya tumpangi untuk melewati jalanan yang penuh perjuangan ini. Jalan antimainstream yang tidak biasa membuat motor harus didorong.  Tanjakan dengan batuan lepas yang sangat menakutkan selalu menghadang di perjalanan kami menuju tempat bersejarah itu.
“Orang yang berhasil ke Sarkofagus dengan selamat sepertinya harus diberikan penghargaan khusus.” Celoteh Bang Fathul, saking ekstrimnya jalan menuju lokasi itu.
“Kalau kita berhasil ke Sarkofagus berarti Tepal di depan mata dong ya.” Saya menambahkan.
Saya mengira jalan menuju Ai Beling adalah yang paling ekstrim yang ada di Sumbawa, ternyata kenyataan itu terbantahkan ketika saya kesini. Peluh membanjiri wajah, bahkan penampilan pun sudah tidak jelas seperti apa bentuknya. Jilbab mencong sana mencong sini. Subhan harus berjuang keras mendorong motor dengan dibantu Candra dibelakangnya. Badan Subhan yang lumayan ‘subur’ membuatnya berjuang dengan semangat dan tenaga ekstra. Si Bapak penjaga sarkofagus yang kita temui di jalan tadi juga ikut membantu, membersihkan batu-batu besar yang menghalangi perjalanan kami.
Sarkofagus atau kuburan batu ini terletak di Situs Ai Renung, di Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa. Sekitar 30 km dari pusat Kota Sumbawa.
Subhan dibantu candra dengan sekuat tenaga mendorong motor dijalanan yang menanjak
ayo bang Fathul semangaaaaat!!! :D

Rabu, 15 April 2015

Basiru: Wujud Tolong Menolong Masyarakat Sumbawa

suasana di persawahan Batu Alang

Matahari sedang cerah-cerahnya. Awan juga terlukis indah dengan paduan biru langit yang menggoda. Sempurna sebagai padanan foto landscape hari ini. Saya memacu motor dengan kecepatan biasa-biasa saja sembari menengok kiri dan kanan, siapa tahu ada pemandangan yang asyik untuk diabadikan. Beberapa orang ibu-ibu terlihat berjalan beriringan. Ada yang memanggul bakul dengan isian yang terlihat penuh dari luar. Ada juga yang menggunakan topi caping khas petani dengan kerucut diatasnya. Mereka terlihat sibuk membawa barang bawaannya masing-masing, ditambah lagi dengan kerepotan mengurus anak-anak kecil mereka yang mengekor dibelakang. Satu yang menjadi kesamaan ibu-ibu tersebut yaitu seme’ yang melekat erat diwajah mereka. Seme’ dengan warna kuning pekat yang mentereng.  Seme’ adalah lulur tradisional khas Sumbawa. Para petani khususnya kaum perempuan selalu menggunakan seme’ jika turun ke sawah, itu bertujuan untuk menjaga kulit wajah dari paparan sinar matahari langsung.
Pemandangan itu membuat saya menghentikan laju motor saya.