Tampilkan postingan dengan label Lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lombok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2020

Sembalun: Akhir untuk Awal Perjalanan

Tiu Dewi Selendang
Bagi saya, atau mungkin mereka yang pernah menghabiskan banyak waktu dan hidupnya di Lombok, Lombok itu bukan hanya sebuah pulau, tetapi lebih dari itu semua, Lombok menyimpan banyak cerita, kenangan, dan perjalanan. Lombok itu adalah sebagian hidup saya.

Pernah ada saat ketika anak perempuan itu, tanpa tahu apa-apa, nekat melakukan perjalanan pertama kalinya ke suatu desa di Lombok, hanya dengan bermodalkan motor mio butut yang ketika melewati tanjakan, maka yang dibonceng harus turun mendorong. Pernah juga anak perempuan itu, ketika sedang dilanda kebosanan dengan skripsi, datang ke desa itu hanya untuk menikmati udara segarnya yang seketika bisa menghilangkan penat, memetik buah strawberry, kemudian pulang. Anak perempuan itu telah melakukan banyak perjalanan di Lombok. Saat itu, ia tak punya apa-apa, hanya modal motor dan percaya bahwa "perjalanan ini akan baik-baik saja". Sekarang anak perempuan itu sedang terjebak di dalam kurungan ruangan 3x4 meter, menikmati rutinitas datang jam delapan, pulang jam empat, keluar kandang jika ada pekerjaan yang harus dituntaskan saja. Anak perempuan itu berkhayal ingin menuntaskan perjalanannya yang belum selesai, tapi ia takut, ia tak seberani dulu lagi. Kasihan sekali dia.
-.-.-.-

Setelah sekian lama, akhirnya anak perempuan itu akhirnya melakukan perjalanan ke Lombok lagi. Perjalanan kali ini bukan perjalanan seorang anak perempuan dengan mio bututnya.  Tetapi perjalanan mengobati rindu, mengingat kembali setiap jengkal perjalanan di Lombok dulu, perjalanan-perjalanan yang membuat dia bisa sekuat sekarang. Setiap jalan yang dilewati  seperti menampilkan adegan panjang tentang perjalanan-perjalanannya kala itu. 
"Di jalan itu motor kita pernah mogok dan ndak ada satu pun yang bantu."
"Pernah motoran sendirian, Mataram-Sumbawa, hujan dan uang hanya cukup buat bensin dan tiket kapal."
"Pernah menggembel di masjid."
Dan banyak kenangan perjalanan, yang jika diingat lagi sekarang saya merasa bahwa "Gila Lulu, berani juga dulu kamu ya."
-.-.-.-

Selasa, 23 Juni 2015

Satu Hari di Bulan Juni Bersama Tulus


Tulus, keceeeeeeenya mengalihkan duniaku :D


“Ada semangat yang Baru di Satu Hari di Bulan Juni di kota tanpa Gajah ini, kota dimana aku pernah Jatuh Cinta dengan tulus bersama seseorang walaupun itu hanya Kisah Sebentar dan Boomerang bagiku, tetapi aku masih berharap dia akan menjadi Teman Hidup. Apakah itu Sewindu atau harus menunggu 1000 Tahun Lamanya lagi, aku berharap takdir kita tidak menjadikan kita bernasib seperti  Sepatu, yang selalu bersama tetapi tidak bisa bersatu. Jika memang takdir itu iya untuk kita,  Jangan Cintai Aku Apa Adanya ya, cintai aku dengan cara yang spesial, dengan caramu.”

Satu lagi bonus perjalanan yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Mataram kali ini. Bisa menonton konser Tulus. Ketika mengunjungi Pantai Ampenan kemarin ada seorang pemuda yang memberikan selebaran famplet konser Tulus di Halaman TVRI NTB. Konser Tulus yang telah diberitahu Kak Ade jauh hari sebelumnya, tetapi dengan setengah hati saya percaya, maklumlah Kak Ade suka iseng ngerjain saya, hahaha. Tetapi famplet yang saya dapatkan sore itu membuat saya melayang. Akhirnya, Tulus. Saya bisa juga menonton konser kece itu secara langsung. Konsernya hari Minggu 7 Juni 2015 pukul 20.00 Wita di acara launching Honda Scoopy yang berjudul “Honda Smart Adventure”. Yeay, kapan lagi saya bisa melihat Tulus secara langsung. 
konser Tulus di Halaman TVRI NTB, Mataram

Kamis, 11 Juni 2015

Pantai Ampenan Sore Itu


lapak pantai ampenan

Semenjak pertama kali merantau, menginjakkan kaki di Mataram lima tahun yang lalu, tempat pertama yang ingin saya kunjungi adalah Ampenan. Alasannya sederhana, karena penasaran tentang rupa Ampenan yang selalu diceritakan guru sejarah saya semasa SMA, tentang kejayaannya sebagai kota niaga zaman dahulu kala. Ketika memasuki Ampenan kita akan dimanjakan dengan bangunan-bangunan tua dengan arsitektur gaya barat zaman dahulu kala yang pernah menjadi saksi betapa maju dan mahsyurnya Ampenan saat itu. Tauke Cina dan juragan Arab juga banyak terlihat berdagang disekitar bangunan tua itu menjadi bukti akulturasi budaya yang datang dari berbagai penjuru dunia yang kemudian menyatu dan berkumpul di Ampenan. Masuk menuju pelabuhan, bangunan-bangunan tua yang dulunya lebih terlihat seperti bangunan angker yang mengerikan sekarang dikemas menjadi lebih menarik, bangunannya di cat warna-warni. Katanya supaya lebih menarik minat wisatawan, karena  Ampenan akan dijadikan ikon wisata kota tua di Lombok. Di sepanjang Pantai Ampenan juga telah dibangun lapak-lapak permanen bagi para pedagang kaki lima yang berjualan disekitar pantai. Pemerintah telah memberikan porsi perhatiannya secara lebih kepada Ampenan, tidak seperti beberapa tahun yang lalu ketika pertama kali kesini, Ampenan benar-benar tak terurus.  
sisa sisa kayu pelabuhan ampenan dahulu kala

jejeran perahu nelayan di pantai ampenan

Unpredictable Moment Perjalanan Sumbawa Lombok Kali Ini



pelabuhan kayangan lombok di waktu malam
Kalau boleh jujur saya adalah orang yang paling suka ‘galau’ ketika hendak melakukan perjalanan jauh keluar kota. Pertama, saya susah mendapatkan izin Ibu yang horornya melebihi izin kantor, dan kedua saya paling malas untuk packing (semua barang dilemari maunya saya angkut, padahal pergi hanya beberapa hari). Tetapi undangan nikahan teman kantor ke Lombok pada Minggu ini sangat berat untuk tidak dihadiri, selain karena dia merupakan teman seruangan a.k.a bos di kantor, dia juga teman semasa kuliah, yah jadinya tidak enak saja jika tidak menghadiri momen sakralnya itu.
“Bu, boleh saya ke Lombok minggu ini?? Nikahan teman.”
“Jam berapa berangkat? Sama siapa aja? Motoran? SIM-mu kan mati.” Pertanyaan beruntun Ibu yang membuat saya shock sebelum mengambil hatinya untuk diberikan izin. Nasib anak gadis yang memang tidak gampang untuk bisa kemana-mana semau hati.
“Sama temen kantor, Bu. Iya kita motoran semua, biar gampang nanti ke acara nikahannya.” Alasan dari A sampai Z saya keluarkan untuk bisa ‘diiyakan’ Ibu.
 “Iya boleh berangkat, tapi siang jalan dari Sumbawa biar ndak kemalaman.”
Ingin rasanya teriak jingkrak-jingkrak mendengar izin dari Ibu itu. Malam itu juga saya packing semua barang yang saya butuhkan, bongkar-bongkar lemari, memilih dan memilah mana yang harus dibawa dan mana yang tidak. Menghadiri nikahan sekaligus jalan-jalan ke Lombok, asyik.
Ngaret 2,5 Jam
Jum’at 5 Juni 14.30 Wita
Lagi dimana? Saya sudah dirumahnya ini.
Bunyi sms saya kepada Melda, teman kantor yang akan berangkat bersama ke Lombok siang ini. Dalam hati saya sudah membatin pasti akan ngaret jalannya. Jam segini saja belum ada satu pun teman yang muncul. Ibu sedari tadi sudah menelepon menanyakan apakah saya sudah jalan atau belum. Satu jam berlalu tanpa kepastian keberangkatan yang jelas. Satu orang teman lagi yang harus ditunggu, karena ada beberapa ‘kejadian’ mendadak yang membuat dia lama meninggalkan rumah. Kalau menggunakan travel, tidak masalah mau berangkat kapan pun ke Mataram, tetapi ini menggunakan motor, sangat rawan jika melakukan perjalanan malam-malam, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan diperjalanan nanti, semisal ban motor pecah, kehabisan bensin atau yang lebih parah ketemu pembegal, kan bisa gawat itu, apalagi yang berangkat semua adalah perempuan. Adzan ashar sudah berkumandang, Ibu pun semakin gencar menelepon saya, dengan amat sangat terpaksa saya mengatakan bahwa saya sudah diperjalanan. Khawatir jika Ibu mengetahui jika sesore ini saya masih di Sumbawa, izin berangkat ke Lombok akan dicabut kembali. Ibu, maafkan anakmu yang harus berbohong padamu.

Rabu, 27 Mei 2015

Bakso H. Anang, Rasanya Susah Bikin Move On



Semasa zaman kuliah dulu, pusing skripsian atau galau gara-gara something, langsung deh badan nongol di warung bakso ini. Makan semangkok bakso dengan cabe ekstra, dijamin pusing gara-gara skripsi hilang. Yah walaupun pusingnya hilang sebentar, dan muncul lagi nanti ketika berkutat dengan lembar-lembar kertas itu, tapi setidaknya kenikmatan bakso itu membuat pusing hilang sebentar, hahaha (bagaimana ndak gemuk coba, setiap galau larinya ke warung bakso). Bakso ini sangat akrab dengan lidah orang Mataram. Sejak pertama kali tiba di Mataram dan menikmati kelezatan bakso ini, saya sudah tidak bisa move on dengan warung bakso yang lain. Hanya Bakso H. Anang yang bisa memikat lidah, dan membuat ingin menikmatinya lagi dan lagi. Selain karena rasa baksonya yang nikmat, warung bakso ini juga bersih. Jadi tidak khawatir untuk menemukan hal-hal yang tidak mengenakkan selama memakan bakso disini. Ada banyak varian bakso, mulai bakso urat, bakso telur, dll. Bisa dicoba sesuai dengan selera masing-masing. Dan yang paling penting bagi anak rantauan seperti saya adalah harganya yang bersahabat dengan kantong mahasiswa. Warung bakso yang fenomenal di Kota Mataram ini bisa dengan mudahnya ditemui, letaknya tepat di pusat kota Mataram, yaitu di Ruko setelah Museum NTB, atau di warung induknya yang ada di Ampenan. Tidak usah takut mau di warung cabang atau induk, rasanya sama kok.
bakso H. Anang

Beberapa bulan yang lalu, saya berkesempatan pergi ke Mataram, menjenguk adik-adik yang masih berkuliah disana. Pulang kampung, dan menetap di Sumbawa dalam waktu yang lama membuat rindu menikmati bakso ini berlipat-lipat. Serasa ada yang kurang jika ke Mataram tapi belum mampir ke warung bakso ini. Rugi total. Sama ruginya dengan ke pantai tetapi tidak bisa berenang cantik di pantainya. Makan bakso H. Anang juga semacam nostalgia zaman kuliah. Makan bakso bareng teman-teman kelas. Tempat yang dipilih wajib di pojokan, kata mereka biar kalau ribut, orang-orang tidak terlalu terganggu. Padahal sama saja, ribut ya pasti akan terdengar ke telinga pengunjung yang lain. Tempat ini benar-benar mengingatkan banyak hal. Ada banyak cerita yang pernah terkisah disini, cerita dengan sahabat, galau-galau skripsi, diskusi tentang wish list pun banyak terjadi disini. Wah jadi kangen, makan bakso H. Anang lagi.
menikmati semangkok bakso dan segelas es jeruk, ehmm yummi

Yuk buat teman-teman yang mau ke Mataram tapi belum tahu tempat asyik buat makan bakso atau hang out bareng teman, saya rekomendasikan untuk makan bakso di H. Anang. Dijamin deh gak bakal bisa move on dengan rasanya, sama dengan saya yang masih belum bisa move on dengan si dia #eh 

Lokasi Bakso H. Anang  
1. Bakso Cabang H. Anang, Ruko di perempatan setelah Museum NTB, Mataram
2. Ruko Griya Pesona Rinjani A9 Jalan Adi Sucipto, Ampenan, Mataram

Rabu, 04 Maret 2015

Menggila di Jerman

"Jadi mau ke Jerman?? Kalau iya, segera berangkat biar ndak kena hujan dijalan." Pesan Bang Fathul kepada kita siang itu. Setelah Hari Inspirasi pagi ini, kita semua berencana refreshing sejenak ke Jerman. Sebuah tempat mempesona di bawah kaki Gunung Rinjani. 
Jerman di Lombok, serius Lu?? Hehehe, Jerman itu singkatan dari Jeruk Manis, agar tidak kepanjangan dalam menyebut, orang-orang sekitar menyingkatnya dengan sebutan Jerman, alias Jeruk Manis. Jeruk Manis, terasa ambigu lagi ya, Jeruk Manis a.k.a Jerman itu apa sih?? Jeruk Manis ini bukan semacam keluarga jeruk atau buah-buahan asli Lombok lho, bukan. Jeruk Manis ini adalah nama air terjun yang berada di Taman Nasional Gunung Rinjani. Letaknya tidak begitu jauh, dari Desa Tete Batu tempat kita mengadakan Kelas Inspirasi, sekitar 15 menit menggunakan motor. 
Pemandangan khas pedesaan seketika menyambut kita. Sawah berundak-undak, Gunung Rinjani terpajang cantik dihadapan, menjadi landscape alami desa ini yang membuat diri tak henti-hentinya berdecak kagum. Sepanjang jalannya pun kita dimanjakan dengan hijaunya pepohonan yang berjejer rapi.
jalan menuju jerman
Taman Nasional Gunung Rinjani

Senin, 02 Maret 2015

Satu Hari untuk Menginspirasi Selamanya

"Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai" Anis Baswedan

Bisa baca cerita sebelumnya..

Deg-degan rasanya menunggu Hari Inspirasi itu tiba. Ini bukan kali pertama saya berdiri di depan kelas, tetapi ini rasanya lebih menakutkan dibanding dengan persentasi di depan bos di kantor. Rada horor sedikit (eh banyak, ding). Sebelum ke Lombok, saya sudah mempersiapkan segala hal yang saya butuhkan untuk mengisi Hari Inspirasi nanti, mulai dari spidol berwarna-warni, serta strategi yang saya lakukan nanti di kelas. Huh, ini rasanya amazing (baca: emejing).
"Kita bisa terapkan yel-yel ketika mengisi training di FKPS, Lu." Kata Kak Oby.
"Oke boleh juga kak."
Hingga pukul 01.00 malam kita masih bergelut dengan luapan ide-ide yang akan kita berikan besok kepada anak-anak. Untungnya ada Mas Dedy dan kawan-kawan, kameramen dan kreatif dari Lombok Post TV yang setia menemani kita diskusi tentang dunia jurnalis, videografi, hingga tentang pariwisata Lombok yang sedang naik daunnya, setidaknya diskusi-diskusi yang kita lakukan malam itu bisa menjadi penghibur hati yang tiba-tiba deg-degan menunggu esok tiba.
Hari Inspirasi Pun Tiba
"Lulu kamu dapat bagian mengisi di Desa paling atas Tete Batu." Ucap Bang Fathul ketika briefing pagi itu.
"Oke bang, siap." 
Setelah briefing singkat serta doa bersama, kita pun langsung menuju ke lokasi masing-masing. Saya dan beberapa teman dari Lombok Backpacker dapat jatah mengisi di SDN 4 Tete Batu. Lokasi sekolahnya lumayan jauh, dan jalannya pun antimainstream, gradak-gruduk. 
suasana SDN 4 Tete Batu
senyum itu lho :D
Tiba di sekolah kita langsung disambut dengan senyuman anak-anak yang begitu tulus. Senyum inilah yang kadang membuat rindu kembali ke sekolah itu begitu menggebu-gebu. Bermain, bercanda, tertawa bersama mereka, menjadi pelepas beban yang alami.
Setiap kelas diisi oleh dua orang, saya mendapat jatah untuk mengisi di kelas satu bersama Mbak Dede. Bisa dibayangkan apa jadinya 10 menit pertama di dalam kelas. Kacau balau. Anak-anak lari kesana kemari, kepala saya seakan mau pecah. Ide-ide yang tadinya berkeliaran bebas di kepala seakan menghilang entah kemana. Tapi untungnya Mbak Dede bisa mengatasi 'kekacauan' kelas dengan mengajak mereka bermain dan bernyanyi. Setelah kelas lumayan kondusif saya baru turun lagi, hehehe. Ini nih akibatnya setelah lama tidak turun ke sekolah, jadi kesabaran yang sudah dipupuk lama jadi mendadak hilang, huft.

Senin, 23 Februari 2015

Banyak Cara Menuju Sumbawa

pelabuhan Poto Tano Sumbawa
"Lebih murah ke Singapura Lu, daripada ke Sumbawa." Oceh seorang teman waktu itu. Ah masa sih?? Oke memang saya akui, Sumbawa masuk ke dalam zona timur, yang segala sesuatunya rada 'mahal', tetapi nggak terlalu ekstrim juga harganya, standar kalau menurut saya. Terkadang ada banyak kesalahpahaman terjadi karena ketidaktahuan tentang sesuatu, makanya kita diminta untuk berkeliling, menjelajah setiap pelosok negeri agar kesalahpahaman itu tidak terus berlanjut, kata Abang Tere Liye. Yups kata-kata Tere Liye itu saya amini dalam-dalam, karena memang benar, kesalah pahaman terjadi karena ketidaktahuan itu. Kata-kata teman itu juga yang mendasari saya membuat postingan ini, untuk sedikit pencerahan kepada para traveler yang hendak ke Sumbawa.
Ada beberapa transportasi yang bisa digunakan untuk ke Sumbawa, ada Mini Bus yang lebih dikenal dengan sebutan Travel, pesawat terbang, bus transportasi antar pulau, motoran, backpackeran. Semua alternatif transportasi itu bisa disesuaikan dengan budget yang kita punya.
1. Sepeda Motor
Ini salah satu transportasi yang paling saya sukai, motor. Selain pengeluarannya yang rada hemat, kita juga bebas untuk berhenti dimanapun yang kita suka. Apalagi pemandangan selama perjalanan dari Lombok Sumbawa banyak yang membuat kita mupeng untuk sekedar berfoto ria. Tidak hanya pemandangannya yang keren, disini ada banyak tempat persitirahatan dan penjual makanan khas yang hanya ada di jalan yang kita lewati itu saja, misalnya di perjalanan Lombok, di desa Lenek ada banyak penjual Bantal (makanan dari ketan yang dibungkus daun kelapa dengan isi pisang), di Narmada/ Lombok Barat jika awal tahun seperti ini ada banyak penjual Duren, Manggis, Rambutan, yang harganya lebih murah dibandingkan dengan harga pasar, Pringgabaya Lombok Timur ada banyak penjual Srikaya, di Sumbawa juga ada banyak penjual makanan musiman seperti itu, yang membuat kita mupeng untuk berhenti dan mencicipi makanan-makanan itu.

Cerita Perjalanan ke Lombok (lagi)



diatas kapal menuju Lombok

Kelas Inspirasi Lombok

Lombok, satu kata yang tak akan bisa lepas dari diri saya. Terlahir dan menghabiskan sebagian besar waktu saya disana cukup membuat Lombok membekas dan kuat dalam ingatan saya.
“Tanggal 21 Februari kita ada kelas inspirasi di Lombok. Jadi relawan yuk.” Bunyi pesan Bang Fathul beberapa minggu yang lalu.
“Oh ya bang? Tapi kan saya kerja.”
“Izin aja, kan cuma sehari itu.”
Saya sempat mendengar tentang Kelas Inspirasi ini dari beberapa teman yang pernah menjadi relawan, dan saya sangat tertarik sejak pertama kali tahu bahwa Kelas Inspirasi akan diadakan di Lombok lagi. Kelas Inspirasi ini adalah program turunan dari Indonesia Mengajar, yang ditujukan kepada para professional yang ingin berbagi ilmu kepada adik-adik sekolah tentang pekerjaannya dan segala hal yang berhubungan dengan pekerjaannya, dengan tujuan mereka bisa memiliki semangat yang sama untuk bisa mengejar cita-cita mereka. Tujuan dari Kelas Inspirasi ini ada dua, yaitu menjadi wahana bagi sekolah dan siswa untuk belajar dari para profesional, serta agar para profesional, khususnya kelas menengah secara lebih luas, dapat belajar mengenai kenyataan dan fakta mengenai kondisi pendidikan kita. Asyik nih, hitung-hitung bisa berbagi ilmu dan mengobati rindu akan Lombok.

Senin, 01 Desember 2014

Nyongkolan, Pawai ala Sasak

Nyongkolan
Sewaktu kecil ketika aku tinggal di Lombok, aku paling suka menjadi bagian buntut barisan ini. Hanya sekedar membawa dompet kecil lusuh sebagai bekal untuk beli es, kaki mungilku setengah berlari mensejajarkan diri bersama barisan yang lain. Sedangkan, Ibu juga turut menjadi bagian dari barisan ini, bukan karena Ibu ingin turut serta, bukan, itu karena aku juga ikut barisan ini. Ibu akan sangat khawatir, jika dia membiarkanku sendiri dalam barisan yang didominasi orang dewasa itu. 
Gendang-gendangan ditabuh, penari-penari profesional dan amatir pun ikut bergoyang mengikuti irama yang disajikan. Aku hanya ikut goyang-goyang kecil seperti mereka. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang aku lakukan, yang aku tahu bahwa teman-teman seusiaku juga ikut dalam barisan ini.  Mereka semua larut dalam kebahagiaan yang sama. Sang laki-laki dan wanita di arak oleh warga satu kampung, setelah di bawa 'lari' oleh sang laki-laki dan dinikahkan, sang wanita akan diantar kembali dalam prosesi 'nyongkolan' ke rumah keluarga wanita. Ini Pernikahan ala Suku Sasak, kawan.

Minggu, 23 November 2014

Aku Suka Bunga

Sebenarnya pertama kali terjebak dalam dunia fotografi adalah karena bunga. Saya suka dengan bunga. Saya rela ikut challenge, dilepas seharian di taman bunga, tanpa uang, tanpa makanan, cukup dengan kamera full baterai, dan memori kosong, saya bisa lupa yang namanya lapar. Ini kebiasaan masa kecil saya. Waktu kecil, saya paling suka jalan-jalan keliling kompleks sama Bapak, wajib hukumnya pulang dari jalan-jalan itu saya bawa bunga. Kalau bunga tidak berhasil bertengger ditangan saya sepulangnya, siap-siaplah menutup telinga dengan kapas, saya akan menangis sepanjang jalan. Pilih mana, mendengar anak menangis atau menahan malu izin dengan si pemilik bunga untuk dipetik bunganya?? Jelas Bapak saya akan memilih pilihan yang kedua. Beliau paling tidak suka mendengar saya menangis, ribut.
Ketika sampai di Jayakarta Hotel kemarin, mata saya langsung menyisiri tamannya, melihat apakah ada yang berwarna-warni disana. Jadi ingat cerita awal belajar foto makro, modusnya adalah membeli bunga sama si Ibu pemilik kebun bunga, tapi setelah itu izin untuk foto-foto sampai puas. Dan itu tidak sekali, tapi berkali-kali, setiap satu minggu sekali. Belajar juga butuh perjuangan dan pengorbanan, kawan. Awal belajar pun tidak menggunakan kamera keren nan kece, pakai kamera digital Sony Cybershoot yang sekarang entah sedang jalan-jalan kemana alias hilang, beberapa bulan ini saya mulai memegang DSLR. Berharap suatu saat bisa beli lensa makro, biar tidak susyeeh jepretnya, seperti kalau jepret pakai lensa kit.
Belajar Makro itu Menyenangkan
Mau menguji kesabaran dalam foto-foto?? Mari belajar foto makro. Bayangkanlah serangga sekecil itu mesti di foto, dan mesti tidak bergerak bahkan tahan nafas nafas beberapa saat supaya serangganya tidak terganggu karena pergerakan kita. Tapi saya malah menyukai momen ini, kesabaran memang sangat diuji, tapi kepuasannya setara dengan perjuangan berlelah-lelah menfoto si serangga unyu.
Bukan Manusia laba2
Bukan manusia laba2

Jumat, 21 November 2014

Sade, Perempuan dan Tenunan



Tentang Sade 
So Colourfull
Sepulang dari Batu Payung kemarin, kita mampir sebentar ke Desa Sade. Desa ini letaknya tidak terlalu jauh dengan Bandara Internasional Lombok, memakan waktu sekitar 20 menit. Ini kali ke berapa saya kesini, entah, tapi saya tak ada bosan-bosannya kesini, karena setiap kesini selalu ada cerita baru yang akan dibagikan. Sade, ada banyak cerita tertinggal disini. Sampai pada gerbang utama Desa Tradisional Lombok ini, kita sudah disambut oleh guide tour yang juga masyarakat asli desa tersebut. Sebelum berkeliling desa, kami diberikan sedikit informasi tentang desa asli Sasak itu. Yang unik dari desa ini adalah terletak pada bangunannya yang lantai bangunannya di pel dengan menggunakan kotoran sapi yang masih hangat a.k.a baru keluar dari empunya kotoran. Kata masyarakat setempat, kotoran sapi yang masih hangat sangat bagus untuk lantai rumah, bisa membuat lantai rumah awet dan tahan lama. Lantai rumah di desa ini terbuat dari tanah liat, jadi mengepel lantai dengan menggunakan kotoran sapi ini menjadi ritual wajib kalau ingin lantainya awet sampai nanti. Jangan khawatir hidung akan terganggu dengan bau kotoran sapinya, karena setelah kering, lantainya tidak menimbulkan bau apapun.
Ada kerendahan hati mereka juga disini. Bangunan rumah mereka yang rendah dari ruangan utamanya bermakna bahwa siapapun yang masuk, entah itu Bupati, Presiden, atau orang-orang keren lainnya, mereka harus menunduk untuk bisa masuk ke dalamnya, itu artinya bahwa mereka harus menghormati yang punya rumah dan patuh terhadap aturan-aturan yang berlaku di desa tersebut. Ingat pepatah "Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung", pun begitu dengan Sade, masuk kesini artinya menghormati segala aturan yang berlaku disini. Salah satu kearifan lokal yang harus dijaga selamanya.

Kamis, 20 November 2014

Batu Payung, Ada Jejak Kita Disini

Perlu banyak part untuk menceritakan tentang keseruan kita selama di Lombok. Terlalu banyak yang ingin diceritakan membuat saya bingung untuk menulis bagian yang mana yang terlebih dulu yang akan saya ceritakan. 3 hari di Lombok, seperti 3 hari bermimpi kemudian bangun lagi ketika senin menyapa untuk kembali bekerja. Seandainya saja tidak ada bukti foto di memory card kamera saya, mungkin saya akan menyangka bahwa saya sedang bermimpi semalam. Bersama dengan mereka, seperti men-charger semangat full selama 3 hari. Semangat saya untuk menggapai mimpi saya tiba-tiba bangkit, meluap-luap tak terbendung. Bagi saya mereka adalah orang-orang keren yang berani melawan arus untuk mengejar apa yang diinginkan. Sedangkan saya, saya hanyalah seoarang perempua biasa yang terjebak dalam kotak 4x3 meter.  Suatu saat saya akan membuktikan kepada Ibu Bapak, "Ini lho Bu, Pak, anakmu bisa."
Curhat, Lulu??? Hehehe, lanjut lagi cerita tentang perjalanan saya selama 3 hari di Lombok kemarin :D
Perjalanan ke Batu Payung
"Kita check out hari ini ya???" Tanyaku pada Zahra. Sebenarnya ini bukan pertanyaan yang mesti dijawab, karena saya sudah tahu kalau ini adalah hari terakhir kita di Lombok, tapi sekedar memastikan dan berbasa-basi saya bertanya lagi.
"Iya, Lu."
3 hari di Lombok, melekat serat dihati saya. Perjalanan kali ini semakin menambah kecintaan saya kepada kota ini, sangat. Pagi ini, jam 08.00 Wita kita mesti check out dari hotel. Teman-teman juga sudah lengkap dengan ransel dan kopernya masing-masing, melihat wajah mereka, tiba-tiba ada perasaan sedih yang datang, wah berpisah dong kita???
Sebelum naik ke dalam bis, kita menyempatkan dulu untuk berfoto ria, sebagai dokumentasi bahwa kita pernah disini. Dari Mataram ke Lombok Selatan menghabiskan waktu kurang lebih 60 menit. Tidak terlalu banyak hal menarik yang bisa kita lihat selama perjalanan menuju Lombok Selatan, yang ada hanya hamparan sawah yang belum sepenuhnya menghijau. Berbeda dengan ketika berangkat ke Lombok Utara, kalau melewati Senggigi, mata akan dimanjakan dengan birunya laut Lombok, dan jika melewati Pusuk, kita akan puas dengan hijaunya hutan Lombok, dan tentu saja bisa puas bermain-main dengan monyet-monyet yang tinggal di hutan Pusuk. Tetapi perjalanan ini begitu menyenangkan, karena kita lebih banyak bercengkerama di dalam bis sembari mendengarkan lantunan lagu-lagu yang diputar pak sopir. Menikmati setiap saat dalam perjalanan adalah hal yang paling membahagiakan, bukan?
Sampai di Tanjung An, pukul 10.00 Wita. Istirahat sebentar, kemudian menyebrang ke Batu Payung. Sebenarnya bisa kok lewat darat, seperti perjalanan saya tahun lalu ke Batu Payung, tetapi sekarang kita ingin menikmati petualang yang lebih seru lagi, makanya menggunakan perahu alias menyebrang. Tidak lama menyebrangnya, hanya 10 menit kita sudah sampai di Batu Payung.
siap2 naik ke perahu

Rabu, 19 November 2014

Pedasnya Bikin Ketagihan

Masih dalam rangkaian acara World Travel Writer Ghatering. Sepulang dari Tiu Kelep kita mampir di warung sate ikan tanjung. Walaupun namanya sate ikan tanjung, tapi kita makannya di Pemenang, Lombok Utara. Sate ini gampang kita temui disepanjang jalan di Lombok Utara.

Sate Ikan Khas Tanjung
Pedasnya langsung menendang lidah pada gigitan pertamanya. Rasa ikan yang khas dengan rempah-rempah asli Indonesia langsung melekat di lidah. Saya paling suka sate ini. Saya bukan penyuka pedas, tetapi memakan sate ini membuat saya lupa bahwa saya tidak suka pedas. Pedasnya membuat saya ketagihan, lagi, dan lagi.
Namanya Sate Ikan Tanjung. Sate ini adalah sate ikan kuliner asli Sasak yang berasal Tanjung, Lombok Utara. Sate ini terbuat dari ikan cakalang, cuma karena ikan itu agak mahal disini dan seringnya juga tidak musim, ikannya sering diganti dengan ikan yang rasanya sama, seperti ikan lamoan, ikan paso dan ikan marlin.
Membuat sate ini ternyata tidak segampang memakannya, ikannya mesti dipisahkan dulu dari durinya, kemudian dipotong kecil dan paling tidak butuh waktu semalam untuk ikan direndam bersama bumbu-bumbu. Kemudian ikan yang sudah direndam tadi barulah bisa diproses lebih lanjut dengan cara dililitkan di tusukan bambu, kemudian dibakar.
Jangan pernah sekali-kali mencoba makan sate ini deh, kalau tidak mau ketagihan. Rasa ikannya itu nendang sekali di lidah, ditambah lagi dengan pedasnya yang bikin maknyoos
Sate ikan khas Tanjung Lombok
sate ikan khas Tanjung Lombok

Selasa, 18 November 2014

Seru-seruan di Tiu Kelep

“Kamu sudah pernah ke Tiu Kelep??” Tanya Kak Ema di perjalanan kami menuju ke Lombok Utara.
“Sudah Kak, dan betis saya berbuah besar setelah dari sana.”
“Haha, biar kamu tahu perjalanan juga butuh perjuangan.” Aku mengernyitkan dahi, tanda tak setuju dengan apa yang Kak Ema katakan, iya sih jalan-jalan butuh perjuangan, eh tapi membayangkan tangganya saja sudah membuatku putus asa sebelum bertarung. Awal Januari 2014 kemarin aku sudah kemari, dan itu sukses membuat betisku sakit beberapa hari. Aku tidak ingin mengulangnya kembali, tetapi aku akan sangat rugi kalau tidak ikut perjalanan ini. Untuk apa ke Lombok, kalau cuma duduk manis di dalam bis. Berangkat dari hotel tempat kami menginap pukul 09.30 Wita, tiba di Senaru, Lombok Utara sekitar pukul 12.00 Wita.  Setelah makan siang, sholat dan istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Air Terjun Tiu Kelep.
Aku jadi teringat lagu dari Ninja Hatori, “Mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudra” Cerita ini sama dengan lagu yang ada di Ninja Hatori.  Jalannya menurun, kemudian menanjak, lewati sungai berbatu dengan arus yang deras membuat perjalanan ini begitu melelahkan dan menantang. 
perjalanan menuju tiu kelep
perjalanan menuju tiu kelep
ini yang paling saya suka, nyebrang di sungai, soalnya kaki berasa langsung adem :D

Minggu, 16 November 2014

Bertemu Orang-orang Baru

Lombok dari atas burung besi

Seminggu deg-degan menanti pengumuman pemenang. Ini lomba blog pertama saya setelah kecemplung dalam dunia perbloggeran, saya tidak terlalu mengejar liburan ke Lomboknya, 4 tahun disana cukuplah buat saya mengelilinginya, bahkan dipelosok terpencil sekalipun, yang saya kejar adalah pengalaman bertemu dengan orang-orang baru nan kece yang namanya sudah tersohor di dunia travelling Indonesia. Allah memeluk mimpi hamba-Nya yang percaya, dan seperti takdir indah yang siap saya kecup, tulisan saya tentang Pulau Moyo masuk ke dalam 3 besar tulisan terbaik. Terimakasih Ya Allah. 

Lombok, aku datang kembali!!!!
Kadang ada perasaan tidak menyangka yang tiba-tiba muncul, serius saya sudah Lombok??? Lha baru tadi pagi saya merasakan guyuran air tanah Sumbawa yang segar, perasaan kemarin saya baru saja berkutat dengan laptop dan tugas-tugas kantor, perasaan baru saja kemarin saya sibuk dengan pekerjaan yang memusingkan otak. Okelah, mari sejenak melupakan pekerjaan yang memusingkan itu untuk menikmati 3 hari liburan di Kota nan eksotis ini, Lombok. Sekarang cuma memakan waktu 20 menit terbang dari Sumbawa ke Lombok, yang biasanya lewat darat sampai 6 jam lebih. Wew, terimakasih Lion Air yang sudah beroperasi di Sumbawa, semoga dengan banyaknya maskapai penerbangan yang beroperasi di Sumbawa semakin menambah kedatangan wisatawan kesini #bukanpromo
Hampir 30 menit dari kedatangan saya, tapi tidak ada tanda-tanda ada seseorang yang akan menjemput. Jempol menari-nari di keypad hape sebagai pengobat kebosanan sendiri di Bandara ini. Sepintas beberapa orang lewat dihadapan saya dengan ransel besar dipunggung. Membatin "Kapan ya saya bisa jalan-jalan semau saya kayak gini??" Emak, Bapak, anakmu udah segede ini lho masih nggak dibolehin kesana-kemari, apa perlu cari pangeran berkuda putih buat ngelamar terus jalan-jalan kemana-mana????
Selalu, Bandara menjadi tempat saya mupeng buat jalan-jalan, bukan karena bisa terbang kemana-mana dalam waktu yang cepat, tapi karena melihat orang yang datang dan pergi dengan ransel besar kesana-kemari, apalagi kalau lihat bule nge-backpacker-an, wuihhhh keinginan langsung mendidih sampai ke ubun-ubun. Tapi perjuangan itu tidak segampang apa yang kita lihat, kita hanya bisa melihat apa yang terlihat, tetapi kita tidak tahu bagaimana perjuangan mereka untuk bisa menjadi seperti apa yang mereka mau sekarang. Semua hanya butuh kesabaran dan perjuangan, Lu. Just say ganbatte :D
"Ini Mbak Lulu??" Suara diseberang sana membuyarkan lamunan saya tentang keinginan jalan-jalan itu.
"Iya Pak."
"Saya Pak Dani, yang diminta menjemput Mbak, tunggu di depan Solaria ya mbak."
Akhirnya telepon jemputan itu datang juga. Menunggu dijemput, rasa-rasanya seperti menunggu jodoh datang #eh
Di depan Solaria sudah ada beberapa orang yang menunggu. Lho, ini bukannya yang tadi saya lihat pakai ransel besar itu yah. Coba tahu kalau teman-teman juga, sudah nyempil dibelakangnya tadi.
"Mbak Lulu????" Seorang laki-laki paruh baya dengan medok Jawa yang kental menyapa saya.
"Iya Pak,"
"Saya Pak Dani yang tadi menelepon. Oh ya, ini teman-teman pembicara yang akan ikut Travel Writers Gathering" Rupanya beliau Bapak yang tadi menelepon saya, beliau memperkenalkan kami. Saling melihat satu sama lain, lalu berkenalan. Bertemu orang-orang baru adalah satu hal menarik dari sebuah perjalanan itu. Selama perjalanan menuju ke Jayakarta Hotel Sengigi, Mas Yudas dan Mas Bolang banyak bercerita tentang pengalamannya selama menjadi Travel Writer. Ternyata memang benar, apa yang kita lihat saat ini tidak seindah yang terlihat, mereka seperti sekarang juga penuh dengan perjuangan, peluh-peluh melekat erat di baju-baju mereka. Mas Yudas dulunya bekerja di restoran cepat saji, dan memilih keluar dari pekerjaannya dan memilih apa yang diinginkan juga tidak segampang apa yang kita lihat. Mas Bolang yang seorang teknisi pesawat terbang juga memilih keluar dari zona nyamannya dan memilih untuk keliling Indonesia. 
Menjadi out of the box adalah pilihan yang tidak mudah, saya salut kepada mereka yang telah berhasil memilih jalan itu. Ah lagi, perempuan dan budaya timur yang masih sangat ketat di rumah saya membuat saya mesti menyingkirkan sedikit keinginan saya untuk keluar dari kotak 4x3 meter itu untuk keluar melihat Indonesia.

Mas Aan, Lulu, Mas Barry Kusuma, Mas Bolang, Mas Yudas