Tampilkan postingan dengan label Mataram Mengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mataram Mengajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Desember 2013

Pembagian Hasil Laporan Perkembangan Anak PAUD Merah Putih

Tidak terasa sudah enam bulan kami bergelut di PAUD Merah Putih. Rasanya baru saja kemarin kami di sini. Portofolio hasil kerja anak-anak bertumpuk banyak, wow sebanyak inikah??? Kaget juga kita melihat hasil kerja yang begitu menumpuk di ruang perpustakaan PAUD. Sudah dari beberapa waktu yang lalu kami mencicil sedikit demi sedikit untuk memeriksa hasil portofolio mereka, dari portofolio itulah kita bisa melihat perkembangan anak, bagaimana perkembangan menulisnya, megenal hurufnya, dll. Berasa jadi guru beneran,hehehe.
Ini adalah pertama kalinya saya membuat Laporan Perkembangan Anak. Pernah satu kali diajari semasa kuliah dulu, dan semua data kit bebas manipulasi yang penting adalah cara penilaian yang kita lakukan. Ini sama juga rasanya seperti perasaan dokter yang mendiagnosis pasiennya, sakit apa dan obat apa yang diberikan semua tergantung dengan diagnosis dokter tersebut, yah begitulah saya saat ini. Bertumpuk portofolio dan pengamatan sehari-hari kami disekolah menjadi rujukan utama untuk memberikan penilaian kepada anak-anak. Saya berharap apapun yang tertulis dalam setiap deskripsi Laporan Perkembangan Anak tersebut bisa menjadi rujukan untuk para Orangtua di rumah memperlakukan anak mereka. Berharap sedikit tidak apa kan?? Walaupun saya sadar sampai saat ini kami masih belum berhasil merubah kultur masyarakat di Btn Tsunami ini atau sedikit tidak mempengaruhi anak-anaknya, padahal hampir setahun kami mengabdi di sini. Anak-anaknya telah dengan sekuat tenaga kami didik dengan pembiasaan-pembiasaan, tetapi tetap saja ketika kembali ke rumah mereka kembali lagi dengan kebiasaan di lingkungannya (saya pernah curhat di sini tentang kondisi masyarakat Tsunami). Batu saja jika terus menerus ditetesi air akan berlubang kan?? Saya yakin anak-anak itu juga begitu tidak peduli seberapa keras lingkungan tempat tinggalnya, suatu saat mereka akan melunak juga. Semoga kesabaran ini tetap ada pada kami.
Bagi rapot anak-anak
Guru dan Anak-anak PAUD Merah Putih
Seperti doa-doa saya sebelumnya, saya berharap semoga kita tetap istiqomah untuk mereka...... 
^_^

Minggu, 10 November 2013

Bahagia Itu Ini ^.^

Saya baru tahu dan baru benar-benar sadar bahwa anak kecil tidak boleh diberikan janji, karena sampai kapanpun dia akan mengingatnya dan terus menagihnya sampai janji itu kita tepati. Seperti beberapa hari yang lalu, saya keceplosan berjanji 
"Ibu Guru akan ajak semuanya ke pantai hari ini, asalkan tidak boleh ribut dan ganggu temannya di kelas selama kegiatan." 
Ternyata kata-kata itu mereka ingat, alhasil sepulang sekolah mereka merengek meminta saya mengajak mereka ke pantai. Janji-janji, kau begitu mematikan rupanya. Bagi seorang anak kecil, janji adalah suatu yang sakral yang harus tertepati, tetapi bagi orang dewasa janji adalah sekeping janji yang entah bagaimana akan tertepati. Saya harus banyak belajar tentang cara menepati janji dengan anak-anak itu. 
Jadilah pagi itu saya bermain-main di pantai bersama anak-anak. Lihatlah muka mereka, penuh dengan raut kebahagiaan, seolah ini adalah kali pertama bagi mereka bermain di pantai. Ini memang kali pertama mereka dengan gurunya sih, hehe. Kalau melihat senyum mengembang mereka, rasa sayang itu semakin tumbuh, mengembang, besar, dan tak ingin melepaskan mereka. Bahagia bagi mereka juga sederhana, tidak perlu mainan mewah, atau gadget mahal, semua itu tidak perlu, cukup dengan menghabiskan waktu bermain dengan teman-temannya dengan alat permainan sederhana itu sudah cukup.  Bisa tertawa bebas tanpa memikirkan nantinya sepulang dari pantai akan kena omel Ibu di rumah karena bajunya yang kotor. Terkadang orang dewasa juga perlu menjadi anak kecil sekali waktu untuk bisa meresakan bahagia bebas tanpa memikirkan beban yang ada. Hanya tertawa lepas, dan bebas. Saya begitu menikmati waktu saya dengan mereka, berbasah-basahan di pantai tanpa takut kotor.
 
Liat air langsung nyebur, kayaknya mereka harus mengajari saya berenang. Sumpah saya katro dalam urusan satu ini -_-
Sensor yah,hehehe
Setelah hampir satu tahun berkecimpung di kampung nelayan, ini untuk pertama kalinya saya bermain-main di pantai tsunami. Ternyata  pantai tsunami ini bagus juga lho. Gambar di atas itu adalah aliran sungai yang akan menuju ke laut, airnya tawar bukan payau. Makanya anak-anak itu tidak bosan-bosannya mandi di sana, walaupun kotor airnya tetapi tetep aja asyik main-main.
Saya sangat bahagia bisa bermain-main dengan mereka, mereka mengajari saya banyak hal, terutama pada janji yang harus tertepati ^_^

Rabu, 06 November 2013

Semoga Istiqomah

Awal Januari yang lalu, kami sempat pesimis, bisa nggak ya program ini berjalan. Ide yang datang tiba-tiba, hanya dengan satu semangat yang menggebu-gebu yaitu ingin membangun negeri dengan cara kami masing-masing. Saya dengan minat dibidang pendidikan dan ingin semua anak-anak negeri bisa mengenyam pendidikan yang layak tanpa takut biaya tinggi. Rizal yang bergelut dengan hukum selalu merasa gerah jika melihat anak-anak terkena kasus pelecehan seksual, kekerasan anak, trafikking, dll. Kami sempat berfikir bahwa sekolah ini tidak akan berjalan lama, hanya beberapa bulan pasti akan sepi. Tetapi ternyata tidak, anak-anaknya selalu rajin bersekolah, pengajarnya walaupun tanpa gaji tetap mengajar, ada yang di PAUD, TPQ. Entah hal gila apa yang mereka pikirkan sehingga mau bertahan di sini, terlalu gila untuk bisa melihat negeri ini baik dan bangkit dari keterpurukannya, terlalu gila untuk mencerdaskan anak bangsa. Sekarang sudah 11 bulan kami berjalan, semoga tetap selamanya.
Tidak banyak doa saya, semoga kami tetap istiqomah dengan semangat kami, semoga kami tetap gila untuk itu.
PAUD Merah Putih
 Mataram Mengajar Keep spirit kawan-kawan :D
Anak-anak hebat kami

Jumat, 11 Oktober 2013

Tanpa Judul

Hei apa kabar kau yang di sana????
Musim ini berlalu dengan cepat. Sekarang kemarau, besok hujan, besoknya lagi kadang hujan kadang kemarau, tak bisa dikira. Banyak yang sakit karena perubahan cuaca yang tak menentu. Anak-anak di sekolahku banyak yang terserang penyakit cacar, bukan satu atau dua orang tapi hampir setengahnya terserang cacar. Gurunya pun ada yang tertular. Penyakit itu begitu cepatnya menyebar dan melumpuhkan aktivitas sekolah. Bayangkan saja, karena cacar satu minggu sekolah diliburkan. Tidak mungkin bersekolah dengan kondisi seperti itu, kan??? Lumayan panik juga saat itu. Ini serasa virus mematikan yang akan melumpuhkan seluruh sendi-sendi kehidupan sekolah,hehe. Cerita sama Ibu tentang keadaan sekolah, Ibu malah bilang "ada masanya di mana anak-anak akan terserang cacar, satu kali seumur hidup. Jadi jangan terlalu didramatisasi, nanti sembuh kok. Penyakit itu untuk memperkuat imunitasnya saja"  Ingin sekali aku membawa petugas kesehatan untuk meriksa kesehatan mereka. Tetapi biasalah petugas-petugas itu lumayan rewel dan banyak maunya. Alhasil, dengan satu minggu libur mereka seperti sembuh dengan sendirinya dan datang kembali ke sekolah dengan ceria. Bahagia melihat mereka. Ternyata cacar tidak membuat mereka lemah, dengan bangganya mereka datang kepadaku memperlihatkan bekas cacarnya.
"Ibu, ini coba lihat muka saya banyak tatonya"
"Ibu  guru, Ibu guru, enak kita seminggu ndak sekolah" Dan masih banyak lagi celoteh mereka pasca hari pertama masuk sekolah.
Oh ya maksudnya dari tato itu adalah warna kehitaman yang berbekas dimukanya akibat cacar itu. Anak-anak ini ada-ada saja, sakitnya dijadikan lelucon. Mereka sekarang sudah mulai bersekolah. Bahagia melihat mereka.

Kamis, 05 September 2013

Cinta Kami untuk Mereka

Yah mereka masih seperti biasa. Perubahan yang terlihat hanyalah mereka sedikit lebih rapi dari pertama kali bertemu dulu. Mereka sudah mulai menggunakan seragam ke sekolah, sudah mulai membawa tas dan buku-buku, sudah mulai mengenakan sepatu. Walaupun saya tau bahwa itu bukanlah hal terpenting dari sekolah itu, tetapi setidaknya kita bisa mengajarkan disiplin dan hidup rapi dari sana. Hal yang membahagiakan bagi kami adalah melihat mereka datang setiap hari ke sekolah, melihat senyum mereka, melihat tingkah unik mereka, melihat mereka saling berebut tangan untuk bersalaman. 
Saya ingat awal mula datang ke Kampung Tsunami ini bulan Februari 2013 yang lalu, anak-anak di sana tak ada satupun yang bersih, di wajahnya masih membekas ingus yang kena lap dengan baju lalu mengering, mengenakan sandal pun tidak, sehingga wajar kaki-kakinya mengeras tidak seperti anak lainnya yang seumuran. Seperti artis yang masuk kampung begitulah cara mereka menyambut kami, mereka berlarian dengan begitu hebohnya, tangan kami direbut untuk bisa bersalaman yang pertama. Saya suka saat-saat itu. Saya suka ketika mereka antusias mendengarkan kami mengajari mereka mengaji, berdoa, belajar, dll. 
Jujur saja, saya selama kuliah (walaupun kuliah di PAUD) tidak pernah terbersit sedikit pun keinginan untuk mengajar di PAUD ataupun di TK. Saya lebih memilih untuk kerja di instansi pemerintahan yang berhubungan dengan pendidikan atau menjadi dosen. Bagi saya mengajar PAUD itu adalah hal yang menguras tenaga dan membutuhkan kesabaran yang ekstra. Tetapi segala pikiran itu langsung lenyap begitu saja ketika saya mulai mengajar di PAUD Merah Putih. Saya suka dan menikmati hari-hari saya menjadi guru. Awalnya saya tidak percaya diri untuk menjadi guru PAUD (soalnya saya lumayan kaku) apalagi menjadi Ketua PAUDnya, PPL saja saya tidak pernah menjadi guru utama dalam kelas, semua pembelajaran diambil alih oleh teman-teman yang lain. Tanggung jawab yang besar yang membuat saya belajar dan membuka buku lagi tentang anak-anak. Pada saat pertama mengajar, saya merasakan kelelahan yang luar biasa. Anak-anak di sana aktifnya luar biasa (tidak boleh dikatakan nakal, soalnya mereka lagi masa pertumbuahan. Kata nakal akan jadi image yang jelek untuk mereka). Lari-lari kesana kemari, meja di tendang-tendang, kalau marah dengan teman-temannya mereka tidak segan-segan saling pukul dan baku hantam. Efek lingkungan tempat tinggalnya yang lumayan keras membuat mereka seperti itu. Setiap hari mereka selalu dipukuli orang tuanya, sehingga mereka menjadi kebal dan tidak takut apa pun. Pastinya awal mula mengajar di sana, dua jam terada dua tahun. Lamaaa sekali.
Satu kunci yang akhirnya saya temukan adalah kesabaran. Hanya kesababaran kepada merekalah yang membuat kita  bertahan. Kesabaran itulah yang akan membuahkan Cinta. Mungkin pada awalnya mereka tidak akan mendengar kita, tetapi sadar atau tidak sadar semua penanaman moral yang selalu kita berikan kepada mereka akan tersampaikan diotaknya dan menjadi memori yang akan diingatnya. Kami guru-gurunya selalu menanamkan budaya "maaf" jika melakukan kesalahan apa pun, pertama menerapkan mereka cuek bebek, lama kelamaan karena kita selalu mengatakan itu dan akhirnya mereka pun terbiasa mengucapkan maaf. Budaya buang sampah pada tempatnya, jika teman-teman ada yang pernah berkunjung ke PAUD ini ketika awal mula terbentuk mungkin akan mengira bahwa PAUD ini adalah gudang sampah, kita memulai dengan memberikan contoh "membuang sampah pada tempatnya", dan akhirnya mereka terbiasa.
Saya pun mulai menyadari sebagai guru kita mesti keras kepala, mesti keras dan gigih, jikalau lemah maka kita akan kalah dengan mereka. Tidak peduli apakah mereka akan mendengarkan setiap nasihat yang kita sampaikan, tidak peduli apakah mereka mencontoh apa yang kita lakukan, setidaknya kita telah melakukan itu, karena saya yakin mereka akan merekam semuanya dalam otaknya. Apa yang terekam dalam otak akan menjadi memori yang akan diikutinya. Merry Eming Young mengatakan bahwa 60% perkembangan otak anak terjadi pada masa 0-7 tahun, maka ini adalah waktu bagi kita untuk mengembangkan segala potensi yang mereka miliki. 
Sabar dan jangan pernah menyerah, man shabara zhafira, siapa yang bersabar maka dialah yang beruntung. 
Semangat anak-anakku. Kelak jadilah orang hebat dan berguna bagi negeri ini...
#Ganbatte
^_^ P

Kamis, 22 Agustus 2013

PAUD Merah Putih, untuk Sebuah Semangat

Daripada merutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin, kan???? 
Saya tidak menapikkan bahwa saya juga pernah menjadi bagian dari orang yang merutuk keadaan negeri ini. Kenapa pendidikannya kacau, kenapa masih banyak anak yang tidak bisa sekolah, kenapa kesenjangan ekonomi semakin menjadi-jadi, kenapa korupsi semakin merajalela, dan banyak lagi kenapa yang lainnya. Saya juga suka turun-turun ke jalan bersama teman-teman mahasiswa lainnya untuk mengkritisi ini semua. Tidak hanya turun jalan, kita juga sering hearing, dialog, dengan pejabat atau instansi terkait. Tetapi semakin lama jengah juga hanya merutuk keadaan. Oleh karena itu, awal 2013 yang lalu, atas inisiatif beberapa teman-teman kita membuat perkumpulan yang namanya "Mataram Mengajar", gayanya mirip-mirip Indonesia Mengajar-lah,hehe. Mataram Mengajar di bina oleh Lembaga Perlindungan Anak Kota Mataram dan Dewan Anak Mataram. Saya yang kesehariannya berkecimpung dalam dunia pendidikan, khususnya dunia anak-anak merasa tertantang untuk berpartisipasi di sini. 
Sekarang Mataram Mengajar telah berhasil membangun 1 PAUD sosial, namanya adalah PAUD Merah  Putih, dan TPQ, yang letaknya di perkampungan nelayan Ampenan, Mataram.  Tidak ada perjalanan yang tidak menemukan rintangan. Tujuan mulia tidak selamanya mendapatkan respon baik, tidak banyak juga orang yang menentang apa yang kita lakukan. Tetapi satu azzam yang tertanam dalam diri "Ingin melakukan sesuatu untuk mereka". Teman-teman yang tergabung di sini hanya beberapa orang saja yang pendidikan, rata-rata mereka adalah anak fakultas hukum yang setiap harinya bergelut dengan undang-undang dan peraturan. Tidak ada pengalaman sama sekali dalam mengajar, tetapi mereka rela belajar dan bekerja keras untuk mengajar mereka. Kita memulai pembangunan PAUD ini dari nol, berbekal sedikit sokongan dana dari pemerintah dan donatur, PAUD ini bisa terbentuk. Mulai dari perombakan bangunan, pengecatan, dsb yang mengerjakannya adalah teman-teman di Mataram Mengajar dan DAM (Dewan Anak Mataram). Baju kotor dan kena cat menjadi sensasi sendiri. Masyarakat setempat juga antusias membantu kita dalam membangun PAUD ini. 
Saat ini PAUD Merah Putih sudah berjalan 4 bulan. Walaupun fasilitas seadanya, tetapi kami para pengajar menikmati hari-hari kita di sana. Hari-hari kita jadi ramai dengan canda tawa mereka. Semoga dari Mataram Mengajar ini semakin banyak sekolah sosial yang akan terbangun.

Ini adalah langkah awal kami. Kami hanya ingin melakukan sedikit yang kami bisa untuk negeri ini. Kami putera-puteri bangsa siap membangun negeri. Dari sini semoga akan lahir bibit-bibit bangsa yang berprestasi...
Sempat masuk Lombok Post kemarin,hehehe.. Deadlinenya harusnya Mataram Mengajar

Senin, 03 Juni 2013

Bakti Kami Untuk Negeri

Kami ada untuk membangun negeri
Kami bangga mejadi anak negeri
Meskipun kami bukan pahlawan
Atau orang yang patut dikenang
Kami tetap akan menunjukkan kepada dunia
Bahwa kami bisa dan kami mampu membangun negeri

Pendidikan adalah faktor penting dalam pembangunan suatu bangsa. Maju atau tidaknya suatu bangsa bisa dilihat dari kualitas pendidikannya. Maka itu juga akan berpengaruh pada kualitas SDM (Sumber Daya Manusia). Oleh karena itu, banyak hal dilakukan pemerintah untuk memajukan pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah melalui pendidikan anak usia dini. Pendidikan harus dimulai sejak dini karena berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa perkembangan yang diperoleh pada masa anak usia dini akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Inilah yang disebut para ahli sebagai golden age atau masa keemasan.Hal itulah yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk giat menggalakkan pendidikan anak usia dini.