Tampilkan postingan dengan label Adventurous Sumbawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adventurous Sumbawa. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Mei 2017

My Brother, My Travel Mate



Kak Amenk, Saya dan Abil di atas bukit Rajasua Pulau Moyo

Abil. Mulutnya item habis makan cumi :P Lokasi: Tanjung Pasir Pulau Moyo
Karena beberapa kali menulis tentang Pulau Moyo di blog, saya akhirnya menjadi sasaran tempat bertanya teman-teman tentang pulau itu. Bertanya tentang transportasi menuju kesana, itinerary bahkan destinasi-destinasi apa saja yang harus dikunjungi selama di sana. Saya berasa menjadi pejalan yang bermanfaat bagi pejalan yang lain ketika apa yang saya tuliskan bisa menjadi rekomendasi perjalanan mereka. Dan selalu saja, Abil, adik bungsu saya, menjadi travel mate saya setiap ada teman yang meminta ditemani ke Pulau Moyo. Dia sangat menyukai laut. Tidak ada akhir pekan tanpa bermain dengan ikan-ikan di laut. Sampai Ibu geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
Seperti liburan kali ini, Kak Amenk, kakak senior ketika di Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP Universitas Mataram meminta untuk ditemani ke Pulau Moyo. Kak Amenk mengabari bahwa libur 3 hari di bulan ini, dia akan datang ke Sumbawa bersama beberapa temannya. Beliau meminta saya untuk menemaninya ke Pulau Moyo, yah hitung-hitung reunian selama di BEM FKIP dulu. Abil menjadi orang pertama yang saya kabari perihal keberangkatan ke Pulau Moyo. Bagi saya dia adalah pawangnya Pulau Moyo. Selalu merasa aman jika melakukan perjalanan keliling pulau bersamanya. Tentunya saja karena dia selalu bisa memanjakan kakaknya ini dengan ikan-ikan segar dari laut Pulau Moyo.
“Wajar juga sih kalau adikmu itu jadi suka laut, Kakek dan Buyutmu juga banyak yang jadi pelaut. Jadi ya nular ke adikmu.” Kata Ibu suatu waktu. Semua anak-anaknya Ibu sangat menyukai laut, kecuali Huda adik saya yang nomor 1. Dia tidak begitu suka jalan-jalan, baginya istirahat yang paling enak itu ya berdiam diri di kamar. Beda dengan kita bertiga, istirahat yang paling enak itu ya jalan-jalan, main ke pulau, lalu tiduran di atas pasir putihnya dan memandangi langit biru Sumbawa.

Jumat, 12 Mei 2017

Tanjung Menangis yang Tak Lagi Menangis

camping ala ala di Tanjung Menangis




Jam berapa pulang dari kampus??
Nanti habis dari sana langsung ke rumah Bang Ega ya.
Jangan lama-lama pulangnya nanti kita kemalaman nyampenya.
Sms bertubi-tubi dari Putri yang membuat saya tak konsentrasi menyelesaikan pekerjaan di kampus.
Iya.
 Balas saya singkat.
Iya apanya ini? Aku sms panjang kamu  jawabnya cuma ‘iya’?
Putri yang tak terima dengan singkatnya jawaban saya membuatnya semakin cerewet meng-sms.
Bagaimana aku mau konsentrasi selesaikan kerjaan kalau kamu sms terus.
Pesan terakhir terkirim dan tak ada balasan lagi dari Putri. Terkadang perempuan itu memang cerewetnya tanpa batas. Wajar saja dalam setiap buku-bukunya, Raditya Dika selalu ingin ‘pura-pura mati’ jika dihadapkan pertanyaan seperti itu. Saya juga ingin ‘pura-pura mati’, ‘pura-pura cuek’ dengan sms bertubi-tubi dari Putri, tapi bukankah orang sabar itu enteng jodoh?? Hahahaha. Bersahabat dekat dengan Putri delapan tahun cukup buat kita saling memahami satu sama lain.
Akhir pekan ini, kita sudah berencana untuk kemah di salah satu tempat eksotis di Sumbawa. Tempat yang tidak terlalu jauh dari pusat kota tetapi memiliki keindahan yang memikat hati. Tempat ini juga namanya lumayan mahsyur dalam legenda rakyat Sumbawa; Tanjung Menangis. Konon katanya, pada zaman dahulu kala Tanjung ini menjadi tempat seorang Putri Sumbawa menangisi kepergian laki-laki yang telah menyembuhkannya dari penyakit menahun yang bernama Kre Kure (penyakit kulit) yang tidak ada obatnya. Laki-laki tersebut bernama Zainal Abidin. Raja pada saat itu membuat sayembara, bahwa barang siapa yang berhasil menyembuhkan putri dari penyakitnya jika dia perempuan akan dijadikan saudara dan jika laki-laki akan dinikahkan dengan sang putri. Akhirnya Zainal Abidin tergoda untuk mengikuti sayembara tersebut. Ketika menyembuhkan sang putri, Zainal Abidin menyamar menjadi seorang kakek tua renta dan berhasil menyembuhkan sang putri. Tetapi sangat disayangkan, Raja tidak ingin menikahkan putrinya dengan Zainal Abidin karena penampilannya yang sangat jelek dan tua.

Selasa, 18 April 2017

Pulau Dangar Ode: Perjalanan Pelipur Lara, Penyembuh Luka dan Penumbuh Rasa

Dangar Ode

Selama beberapa minggu ini, rasa kepala mau pecah seperti ditoyor palu gada. Pekerjaan juga mulai dihiasi kata rapat, yang sudah seperti makan obat, harus tiga kali sehari dan sesuai dosis. Ditambah lagi setiap kali ingat pengumuman beasiswanya yang sebentar lagi, tiba-tiba saja jantung langsung salto-kayang-koprol-jumpalitan. Maka jangan ditanya lagi bagaimana bentuk jantung ini setiap dia berkunjung ke rumah atau melihat namanya tertera di pesan whatsapp “sedang mengetik”. Ada rasa yang tetiba deg, menyerang langsung ke dasar jantung. Entahlah. Rasanya satu minggu ini bukan lagi rasa gado-gado, tapi gado-gado campur rujak dan disirami kuah soto. Rasanya aneh kan? Begitulah rasa perasaan ini. Aneh.
Absurd. Nggak Jelas.
=-=-=
Ketika akhirnya memutuskan menuliskan tulisan ini, saya telah membuang waktu sekitar ratusan menit hanya untuk guling-guling nggak jelas di kamar, memutar lagu Mocca sampai seisi makhluk di kamar bosan mendengarnya dan masker bengkoang yang saya oleskan di muka saya yang sudah mengering mulai basah lagi karena keringat mengalir di sekujur tubuh. Sakit perut akibat memakan kerang membuat saya bolak balik kamar mandi, dan keringat dingin yang keluar juga sukses membuat masker basah lagi.
“Kamu ya gitu, keras kepala dan ndak pernah bisa tahan mulut. Tau ndak bisa makan kerang, tapi tetap aja makan.” Ibu mulai mengeluarkan kalimat-kalimat omelannya yang akan berujung pada larangan untuk jalan-jalan lagi. Ah tapi yang namanya Ibu, selamanya akan tetap jadi Ibu yang mudah luluh hanya dengan sekali rayuan dari sang anak. Semuanya juga salah saya sih, tidak pernah bisa tahan jika disajikan dengan makanan laut. Apalagi itu adalah kerang fresh from the sea, hasil perjuangan kita menggali pasir laut Pulau Dangar Ode. Tetapi percayalah bahwa sakit perut ini tidak sebanding dengan betapa menyenangkannya perjalanan ke Pulau Dangar Ode di akhir pekan kemarin. Perjalanan yang tidak pernah saya masukkan dalam list kegiatan di akhir pekan saya yang ternyata sanggup menjadi moodbooster.

Minggu, 28 Juni 2015

Jurang Setan: Keindahannya Tidak Seseram Namanya



Pantai Jurang Setan
Pantai Jurang Setan
Setelah dari Istana Karang, Bang Chris mengajak kita semua snorkeling ke Jurang Setan. Mendengar namanya saya langsung bergidik ngeri, jurang setan? Jurang Setan ini adalah nama tempat di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Dompu. Letaknya tidak jauh dari Desa Calabai. Saya tidak tahu kenapa pantainya dinamakan Jurang Setan, mungkin karena diatas pantai ini ada tebing jalan yang lumayan ngeri sehingga disebut jurang setan, mungkin.
Matahari sedang terik-teriknya ketika kita tiba di Pantai Jurang Setan. Pantai berpasir hitam ini sangat sepi dari pengunjung, hanya ada beberapa anak muda yang sedang bermain-main di sana. Tidak jauh dari pantai itu ada aliran sungai air tawar yang sangat dingin, kontras dengan cuaca dan kedinginan airnya. Kata Bang Chris juga tidak jauh dari aliran sungai itu, tepat di bawah tebing Jurang Setan ada sebuah goa dengan lorong yang lumayan panjang dengan aliran sungai kecil didalamnya. Dari Pantai Jurang Setan, kita hanya berenang beberapa menit saja untuk menuju ke spot snorkelingnya, tidak perlu naik kapal seperti snorkeling kita yang pertama. Snorkeling di pantai ini bisa jadi alternatif pengobat rindu bermain dengan ikan-ikan, jika tidak bisa snorkeling di Istana Karang yang mengharuskan menyewa kapal. Letaknya pun tidak susah ditemui, tidak jauh dari pusat desa, jadi bisa dikunjungi setiap saat.
Yuhuuu, its time to snorkeling again.
Hari ini benar-benar surga bagi saya. Main sepuasnya bersama ikan-ikan. Terik yang begitu menyengat kulit tidak terasa ketika menceburkan diri kedalam laut. Adem. Berenang kesana kemari, say hello dengan ikan-ikan yang cantik. 
Karang di Jurang Setan

Sabtu, 27 Juni 2015

Berkunjung Ke Istana Karang Teluk Saleh

menuju lokasi snorkeling


Bicara tentang laut maka kita akan dihadapkan pada kegiatan asyik nan menyenangkan, yaitu snorkeling. Saya paling suka ini. Tujuan ke Calabai juga untuk itu, main-main bersama ikan cantiknya. Dari Pelabuhan Calabai kita bisa menyewa kapal milik nelayan untuk menuju spot-spot snorkeling bagus di sana. Laut Calabai, masuk ke dalam perairan Teluk Saleh, yang selama ini dikenal sebagai aquarium raksasa dunia. Ikan yang beraneka ragam, karang-karang yang cantik bisa kita temui disini.
“Spot snorkeling yang paling bagus itu ada di Istana Karang. Karangnya beraneka ragam, saya yakin ketika kesana kalian tidak bisa move on dari laut, ndak mau pulang.” Ehm promosi Bang Chris sedari tadi tidak ada habisnya tentang keindahan bawah laut Calabai semakin membuat tak sabar untuk say hello sama ikan-ikan itu. 
siap siap snorkeling

Kamis, 25 Juni 2015

Selamat Pagi Calabai



pelabuhan calabai
Semalaman menaklukan jalan Sumbawa-Dompu cukup membuat badan sakit tak karuan. Ibu sudah mengingatkan saya, kalau perjalanan Sumbawa-Dompu itu bukan perjalanan yang mudah, walaupun jalannya sudah bagus, tetapi jaraknya yang sangat jauh cukup membuat kelelahan. Dan benar saja, pukul 16.30 Wita meninggalkan Kota Sumbawa, baru tiba di Calabai-Dompu pukul 00.30 Wita. Bayangkan saja berapa jam waktu yang kita habiskan diperjalanan. Badan seperti mati rasa, pegal disana-sini. 
Tetapi memang untuk menikmati suatu keindahan memang butuh perjuangan, hahaha
Lets go adventure guys...
Gunung Tambora
Selamat Pagi Calabai
Calabai terletak di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, NTB. Selama ini Calabai dikenal sebagai gerbang masuk menuju Pulau Satonda dan Pulau Moyo. Bagi yang mau ke dua pulau eksotis itu bisa melalui Pelabuhan Calabai, menggunakan kapal boat milik warga. Tidak hanya itu, letaknya yang tepat berada di bawah kaki Gunung Tambora menjadikannya berhawa sejuk, tidak seperti daerah-daerah lain di Dompu (Pulau Sumbawa) yang panas. Airnya pun sangat dingin, mandi pagi dijamin menggigil. Pada pagi hari kita bisa menyaksikan keindahan matahari terbit tepat di atas Gunung Tambora. Di bagian baratnya lautan biru Teluk Saleh terhampar luas dengan Pulau Moyo dan Pulau Satonda yang terpajang di depannya. Ah memang tidak rugi saya menempuh perjalanan yang melelahkan ini, karena semua akan terbayar lunas dengan keindahan Calabai yang memikat mata dan hati.
“Cari kopi yuk. Kita ngopi di Pelabuhan Calabai, asyik ngopi pagi-pagi disana.” Seorang teman menawarkan. Ide yang bagus. Perut sedari tadi kembung, efek angin yang semalaman bebas masuk semaunya. Mungkin segelas kopi hangat bisa membuat perut sedikit membaik. Tepat di depan gapura Pelabuhan Calabai ada sebuah warung kecil yang sangat sederhana. Disitulah kami mampir sejenak, sembari menikmati pagi dengan segelas kopi panas.
Disekitar pelabuhan terlihat kesibukan para nelayan yang menebarkan jalanya, beberapa warga lainnya juga tak mau kalah mencoba peruntungan mendapatkan ikan dengan memancing. Di satu sudut lainnya anak-anak kecil berlarian kesana kemari, bermain bersama teman sebayanya.

Rabu, 24 Juni 2015

Karena Selfie di Bendungan Mamak itu Menyenangkan


Bendungan Mamak
Bendungan Mamak, merupakan satu dari banyak bendungan yang ada di Sumbawa. Bendungan ini terletak di Desa Mamak, Kecamatan Lopok, Sumbawa. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di bendungan ini, hanya 45 menit dari pusat kota Sumbawa. Jalannya pun sudah beraspal mulus, hanya di beberapa titik saja jalannya berlubang. Sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan oleh hijaunya persawahan penduduk. Bendungan Mamak ini sangat familiar di telinga warga Sumbawa. Selain fungsinya sebagai pusat irigasi sawah-sawah di Sumbawa, bendungan ini juga menjadi tempat mancing favorit warga. Hampir setiap hari, bendungan ini selalu ramai dikunjungi oleh para pemancing, tidak hanya berasal dari warga desa sekitar bendungan tetapi juga daerah-daerah di dalam kota Sumbawa. Nelayan ikan air tawar juga banyak ditemukan disini. Perahu mereka berjejer rapi disepanjang bendungan. Bagi warga yang ingin membeli ikan tanpa mau bersusah payah memancing, bisa membeli ikan melalui nelayan-nelayan yang ada di bendungan ini 
perahun nelayan

Kamis, 18 Juni 2015

Mantar: Desa Kecil Nan Cantik di Atas Poto Tano



Mantar di pagi hari
Siang itu saya mendapatkan telepon dari Bang Jhony, seorang teman di Adventurous Sumbawa. Beliau memberitahukan bahwa ada volunteer dari Taiwan yang ingin memberikan bantuan peralatan sekolah kepada anak-anak di Desa Mantar dan Bang Jhony ingin saya ikut serta juga untuk membantu disana nanti. Mendengar tawaran itu, saya langsung tertarik dan buru-buru mengiyakan. Pak Rektor UTS juga langsung setuju memberikan izin ketika saya memberikahukan alasan saya untuk tidak masuk kerja beberapa hari dikampus.
“Iya Lulu, tidak apa-apa. Kegiatan itu bagus sekali untuk kamu.” Izin dari Pak Rektor itu membuat saya bahagia, serasa ingin terbang melayang. Dari dulu Mantar telah masuk ke dalam wish list perjalanan saya. Saya tidak menyangka bahwa wish list itu bisa  di-check list secepat mungkin, diluar dugaan saya sebelumnya. Kerja sosial sambil jalan-jalan, asyik.
Pukul 19.00 Wita kita telah tiba di Seteluk (3 jam perjalanan dari Sumbawa, dan hanya 30 menit jika dari Poto Tano). Dari Seteluk ini kita bisa menyewa Ranger, alat transportasi publik yang berbentuk mobil bak terbuka yang biasa digunakan warga untuk menuju Mantar.  Karena kemalaman tiba di lokasi, semua Ranger yang menuju ke Desa Mantar sudah tidak ada. Salah seorang teman yang juga warga Seteluk menyarankan untuk menyewa Ranger, yang  tentu saja harganya dua kali lipat dari harga biasanya.
“Kalau menggunakan motor, amankah?” Bang Jhony bertanya kepada warga setempat.
“Aman sih Pak, cuma motornya harus menggunakan motor gigi, soalnya jalan itu akan menanjak terus. Dan jalannya juga banyak batuan lepas. Kalau mau, bisa juga sewa tukang ojek untuk mengantarkan kesana.”
Bang Jhony berdiskusi dengan kita semua. Dari empat motor yang kita gunakan, hanya ada dua motor yang tidak memungkinkan jika digunakan untuk naik ke Mantar. Solusinya adalah menyewa tukang ojek yang merupakan warga setempat yang telah terbiasa naik ke Mantar. Jalannya yang merupakan batuan lepas dan tanjakan yang cukup ekstrim membuat kita tidak berani untuk mengambil resiko menggunakan motor yang bermasalah.
Suara raungan gas motor terdengar begitu menyakitkan ketika mulai melewati tanjakan pertama Mantar. Kata warga, ini pertama kalinya ada orang luar yang nekat naik ke Mantar malam-malam begini tanpa menggunakan public transport (Ranger). Kesulitan semakin terasa ketika batuan lepas yang mengiringi sepanjang jalan Mantar membuat ban belakang motor ngepot, penumpang pun harus rela turun dari atas motor untuk menjaga keselamatan. Dingin yang semulanya begitu menggigit tulang jadi berganti dengan keringat yang mengucur deras karena harus menaiki tanjakan maut Mantar itu.

Selasa, 21 April 2015

Berakhir Pekan ke Pulau Paserang Bersama Elang-elang Muda

Elang-elang Muda UTS

"Kita cek biota laut Pulau Paserang. Jalan-jalan dan penelitian. Sesekali kita perlu untuk keluar dari Laboratorium itu, hehehe" Kata saya waktu itu ketika mulai meracuni mereka tentang ajakan jalan-jalan akhir pekan ini.
"Iya Kak Lulu, saya mau. Nanti saya ajak teman-teman yang lain lagi." Fahmi sangat antusias dengan ajakan ini. Dia baru pulang magang dari NIMS Jepang. Rutinitas di Laboratorium tentu saja membuatnya jenuh, dan refreshing akhir pekan ini bisa jadi satu obatnya. Tidak disangka, tawaran iseng-iseng saya berbuah manis. Fahmi dan kawan-kawan teracuni untuk mengunjungi pulau itu. Yeayyy. Ini kali pertama bagi saya jalan bersama adik-adik di Universitas Teknologi Sumbawa. Berasa jadi mahasiswa lagi jalan dengan mereka yang masih kyut hehehe. Elang-elang muda adalah sebutan bagi mahasiswa UTS, dengan harapan mereka bisa menjadi elang yang kuat dan perkasa dan terbang ke seluruh penjuru dunia.
Perjalanan Menuju Paserang
Pulau Paserang. Satu diantara banyak pulau eksotis yang terhampar di lautan sekitar Poto Tano: Gerbang masuk Pulau Sumbawa. Beberapa kali teman-teman mengajak saya untuk berakhir pekan disana, dan beberapa kali pula selalu ada hal yang tak terduga yang membuat saya tidak bisa memenuhi ajakan mereka. Selain spot snorklingnya terbaik di Sumbawa, ilalangnya juga sedang cantik-cantiknya, hijau. Mungkin kemarin itu memang belum waktunya.
"Lu, jangan lupa cek dulu angin ban motormu itu. Kata Bapak tadi bannya kempes itu." Ibu mengingatkan saya.
"Iya Bu, sudah kok." Saya menjawab sambil menaikkan barang-barang bawaan saya ke atas motor. Segala panci, piring, sendok, gelas, tak luput dari perhatian saya. Memastikan tidak boleh ada yang ketinggalan, hatta satu barang pun. Tak lupa snorkel juga masuk ke dalam tas. Tidak membawa alat snorkling ke Paserang sama artinya dengan tidak membawa uang ke pasar: tidak ada gunanya. Tidak seperti biasanya Ibu tidak banyak berkomentar dengan kepergian saya keluar rumah kali ini, biasanya beliau akan banyak tanya ini dan itu. Mungkin Ibu saya mulai paham kalau anaknya sudah beranjak dewasa ^_^
Kampung nelayan di Poto Tano
kampung nelayan di Poto Tano, landscapenya amazing :D
Pukul 13.30 Wita semua pasukan telah berkumpul dan kita pun melanjutkan perjalanan menuju Poto Tano. Memakan waktu sekitar kurang lebih dua jam dari pusat Kota Sumbawa untuk menuju Poto Tano. Ada delapan pulau kecil nan eksotis yang tersebar di sekitar Poto Tano Sumbawa. Pulau Kenawa menjadi satu destinasi andalan Sumbawa, kemudian Pulau Paserang menyusul. Hampir setiap akhir pekan Pulau Kenawa selalu ramai dikunjungi wisatawan dalam maupun luar Sumbawa. Seperti sore ini saja, puluhan orang sudah berkumpul di dermaga penyebrangan kampung Poto Tano untuk menuju kesana. Untuk menuju ke Pulau Paserang kita bisa menyewa kapal yang dimiliki nelayan di Kampung Poto Tano. Harga sewanya sekitar Rp. 400.000 hingga Rp. 450.000 (Tips, alangkah bagusnya jika perjalanan ke pulau-pulau kecil di Sumbawa dengan teman yang banyak, supaya sharing cost sewa kapalnya pun sedikit). Akhir pekan menjadi berkah tersendiri bagi nelayan di Poto Tano. Kapalnya beralih fungsi, dari yang biasa dijadikan untuk menangkap ikan menjadi kapal angkut pengunjung ke pulau-pulau kecil itu.
"Pak mahal sekali sewa kapalanya. Bisa diturunkan sedikit ndak?? Hehehe" Saya mencoba lobi-lobi si Bapak yang juga kenalan saya ketika berkunjung ke Kenawa beberapa waktu yang lalu.
"Pulau Paserang jaraknya lumayan jauh dek, tidak seperti Kenawa. Berapa orang yang pergi??"
"Kita berdelapan, pak."
"Yasudah buat kalian Rp. 400.000 aja dah."
"Boleh pak, tapi nanti setelah ke Paserang mampir ke Kenawa juga, boleh??"
"Iya, memang rutenya seperti itu dek. Kalau ke Paserang, kita kasi bonus mampir ke Kenawa."
Yes, asyiklah kalau begitu. Seperti buy one get two. Beli satu dapat dua. Adik-adik UTS excited sekali dengan perjalanan pertama mereka ini. Ketika sampai di dermaga kampung Poto Tano mereka sudah 'teriak-teriak' tidak sabaran untuk menikmati pengalaman petualangan yang akan mereka lalui.

Kamis, 16 April 2015

Sarkofagus: Napak Tilas Sumbawa Dahulu Kala


jalan yang berbatu, membuat kita ekstra hari2

Berkali-kali saya harus turun dari motor yang saya tumpangi untuk melewati jalanan yang penuh perjuangan ini. Jalan antimainstream yang tidak biasa membuat motor harus didorong.  Tanjakan dengan batuan lepas yang sangat menakutkan selalu menghadang di perjalanan kami menuju tempat bersejarah itu.
“Orang yang berhasil ke Sarkofagus dengan selamat sepertinya harus diberikan penghargaan khusus.” Celoteh Bang Fathul, saking ekstrimnya jalan menuju lokasi itu.
“Kalau kita berhasil ke Sarkofagus berarti Tepal di depan mata dong ya.” Saya menambahkan.
Saya mengira jalan menuju Ai Beling adalah yang paling ekstrim yang ada di Sumbawa, ternyata kenyataan itu terbantahkan ketika saya kesini. Peluh membanjiri wajah, bahkan penampilan pun sudah tidak jelas seperti apa bentuknya. Jilbab mencong sana mencong sini. Subhan harus berjuang keras mendorong motor dengan dibantu Candra dibelakangnya. Badan Subhan yang lumayan ‘subur’ membuatnya berjuang dengan semangat dan tenaga ekstra. Si Bapak penjaga sarkofagus yang kita temui di jalan tadi juga ikut membantu, membersihkan batu-batu besar yang menghalangi perjalanan kami.
Sarkofagus atau kuburan batu ini terletak di Situs Ai Renung, di Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa. Sekitar 30 km dari pusat Kota Sumbawa.
Subhan dibantu candra dengan sekuat tenaga mendorong motor dijalanan yang menanjak
ayo bang Fathul semangaaaaat!!! :D

Rabu, 15 April 2015

Basiru: Wujud Tolong Menolong Masyarakat Sumbawa

suasana di persawahan Batu Alang

Matahari sedang cerah-cerahnya. Awan juga terlukis indah dengan paduan biru langit yang menggoda. Sempurna sebagai padanan foto landscape hari ini. Saya memacu motor dengan kecepatan biasa-biasa saja sembari menengok kiri dan kanan, siapa tahu ada pemandangan yang asyik untuk diabadikan. Beberapa orang ibu-ibu terlihat berjalan beriringan. Ada yang memanggul bakul dengan isian yang terlihat penuh dari luar. Ada juga yang menggunakan topi caping khas petani dengan kerucut diatasnya. Mereka terlihat sibuk membawa barang bawaannya masing-masing, ditambah lagi dengan kerepotan mengurus anak-anak kecil mereka yang mengekor dibelakang. Satu yang menjadi kesamaan ibu-ibu tersebut yaitu seme’ yang melekat erat diwajah mereka. Seme’ dengan warna kuning pekat yang mentereng.  Seme’ adalah lulur tradisional khas Sumbawa. Para petani khususnya kaum perempuan selalu menggunakan seme’ jika turun ke sawah, itu bertujuan untuk menjaga kulit wajah dari paparan sinar matahari langsung.
Pemandangan itu membuat saya menghentikan laju motor saya.

Minggu, 05 April 2015

Mata Jitu: Sekeping Surga di Tanah Sumbawa

Selamat datang di Pulau Moyo
Ketika menyebut Sumbawa, bayangan tentang keindahan Pulau Moyo pasti langsung terlintas di pikiran. Wajar saja, karena Pulau Moyo adalah satu dari sekian banyak kepingan surga yang terhampar di tanah Sabalong Samalewa ini. Saya jatuh cinta dengan Pulau Moyo pada pandangan pertama. Segala keindahan yang tersaji disana membuat saya rindu untuk kembali, lagi dan lagi. Snorkling di lautannya yang jernih nan cantik, berendam di Mata Jitu, atau sekedar menghabiskan malam dengan kemah di pinggir pantainya yang indah adalah satu dari sekian sensasi perjalanan yang ditawarkan Pulau Moyo.
kampung Labuan Aji Pulau Moyo
Penyebrangan menuju ke Pulau Moyo hampir setiap hari selalu tersedia di pelabuhan-pelabuhan Sumbawa, terutama melalui jalur penyebrangan di Pelabuhan Kampung Pasir atau Boa Brang. Setiap harinya akan ada masyarakat dari Labuan Aji Pulau Moyo yang akan menuju ke Sumbawa untuk membeli segala kebutuhan hidupnya, sepulangnya dari berbelanja kita bisa ikut nyebrang bersama perahu mereka. Bisa juga melalui Desa Ai Bari, desa nelayan yang terletak di Kecamatan Moyo Utara. Ada banyak nelayan yang menyediakan penyebrangan ke Pulau Moyo, saya biasanya menggunakan jasa penyebrangan milik Bapaknya Ichal, Pak Yakub. Selain harganya terjangkau di kantong, orangnya juga ramah dan supel, sehingga perjalanan selalu menyenangkan jika bersama beliau.
Waktu penyebrangan dari Sumbawa ke Pulau Moyo adalah sekitar dua jam, bisa juga lebih tergantung dari kondisi cuaca. Jika kondisi lautnya tenang, kita bisa tiba di Pulau Moyo dalam waktu dua jam. 
Satu yang menjadi daya tarik Pulau Moyo adalah Air Terjun Mata Jitu. Air terjunnya sangat cantik dengan paduan biru dan tosca yang eksotis. Airnya sangat jernih, kalau bahasa hiperbolanya, jarum yang jatuh ke dasar Mata Jitu pasti akan terlihat. Memakan waktu kurang lebih satu jam trackking dari kampung Labuan Aji menuju Mata Jitu.

Belajar dari Sebuah Perjalanan

Kamis, 2 April 2015
Beberapa jam yang lalu saya masih berkutat dengan segala kesibukan di kampus. Rapat dengan mahasiswa, persiapan seminar dan ini itunya yang membuat kepala ini pusing tujuh keliling. Hujan juga tak kunjung mereda. Belum lagi memikirkan izin dari Ibu yang belum saya kantongi. Beberapa kali menekan keypad di HP, mencoba menuliskan sepatah dua patah kata permohonan maaf kepada teman-teman untuk tidak bisa mengikuti perjalanan ke Pulau Moyo kali ini, tetapi pesan itu saya hapus kembali. Takut teman-teman kecewa, karena saya sudah mengiyakan jauh-jauh hari sebelumnya. Jika memang ada ‘jodoh’ untuk bisa kesana, entah dengan cara apa Allah akan membawa saya kesana. Sekarang waktunya berserah diri atas segala takdir Allah, mengikuti segala rencana yang tersaji di depan. Seperti air yang mengalir mengikuti kemana aliran membawanya. Dengan segala kerendahan hatinya menerima perjalanan-perjalanan itu dengan ikhlas. Saya juga harusnya seperti itu, seperti air yang mengalir: ikhlas menerima.
Pukul 19.30 Wita
Duur, duur, duuur, duur…

Suara perahu klotok milik Bapaknya Ichal langsung memecah keheningan laut Sumbawa. Malam ini laut begitu tenang, angin pun berhembus perlahan, riak ombak malu-malu mengganggu perjalanan kami. Semesta seakan berkolaborasi menciptakan satu perjalanan  yang tak akan terlupakan bagi kami. Skenario indah yang tak terencana bagi para pejalan. Tidak ada yang kebetulah. Tentu saja. Karena sebelum kami berencana, Allah telah terlebih dahulu menuliskan segala cerita untuk kami dalam bukunya yang agung: Lauhul Mahfudz. Kami hanya eksekutor dari segala rencana-rencanaNya. Ibarat sebuah film, kami adalah artisnya, dan Allah adalah penulis skenarionya. Penulis skenario tahu mana scene yang baik untuk artisnya dan mana yang tidak.
“Gak nyangka kita jadi juga ke Pulau Moyo.” Celoteh Mbak Elly, teman di Adventurous Sumbawa yang juga menjadi otak dalam perjalanan kali ini.
“Iya Mbak, padahal tadi saya masih pusing dengan seminar-seminar di kampus. Tak kirain bakal gak jadi kita berangkatnya, hehehe.”
“Itulah rencana Allah.”
siap2 berangkat

Rabu, 01 April 2015

Mengobati Hati yang Patah di Kenawa

Menanti matahari terbenam di Dermaga Desa Poto Tano, Foto By Bang Fathul
"Memang benar apa yang mereka katakan, kalau patah hati, berjalanlah. Hati siapa yang tidak akan terhibur melihat keindahan yang sempurna ini. Kerlip nakal bintang, bulan bersinar indah, matahari yang cantik menyapa pagi dengan malu-malu, benar-benar bisa menjadi obat mujarab untuk (sedikit) melupakan kisah-kisah kemarin"
Tiba-tiba ada satu rindu yang menusuk hati ini yang membuat ingin segera kesana. Hanya sekedar menghabiskan malam dengan bintang bertaburan dan angin laut yang syahdu. Aku pernah kesana beberapa bulan yang lalu bersama teman-teman semasa SMA. Pengalaman bermalam disana membuat rasa rindu untuk kembali lagi, dan lagi. Semacam ada magnet ampuh yang menarik kaki untuk segera menjejakkan langkah kesana. Pulau Kenawa. Satu pulau kecil yang berada di barat Sumbawa. Pulau yang terkenal dengan keindahan ilalang dan mataharinya. Duduk ditepi pantai sambil menyaksikan matahari tenggelam adalah satu dari banyak sensasi romantis yang akan didapatkan di Kenawa.
***
Bintang malam ini terlihat begitu jelas. Kelap kelipnya nakal menggoda setiap yang melihat, ditambah lagi dengan bulan yang mempertunjukkan sinarnya yang teduh. Ahh, rasanya air mata ingin segera meluncur mambasahi pipi. Entahlah, aku selalu didera perasaan melankolis dengan suasana seperti ini. Teman-teman asyik bercengkrama. Aku lebih memilih menghabiskan malam dengan menikmati segelas kopi hangat, dan tentu saja mengingat segala hal tentang kamu, tentang perjalanan kita. Tentang kamu yang semakin ingin dilupakan, semakin dalam tertanam di hati ini. Tanpa aba-aba, tanpa izin, bulir bening itu menghangati pipi ini. Aku tidak mudah jatuh hati dengan seseorang, dan sekalinya jatuh hati, kemudian dipatahkan, itu sakitnya dimana-mana (nyesek).
"Woi ngapain duduk disitu, ayo ngumpul sama kita." Bang Opik mengajakkku kumpul bersama teman-teman. Oke baiklah, tentang kamu bisa dihilangkan sebentar dari pikiran ini, kan? Jangan siksa aku dengan perasaan yang aku juga tak tahu apa. Lets Move On, Luluuuuuu.... Yeyyyy...

Senin, 23 Maret 2015

Menyusuri Keindahan Brang Mapin (Perjalanan Menuju Tiu Sagemong)

susur sungai Brang Mapin
jepret jepret dulu
"Mbak Winda, jadi ikut???" sms saya kepada salah seorang teman di Adventurous Sumbawa. Motor saya yang mendadak 'ngambek' memaksa saya mencari teman boncengan untuk sampai ke tempat trip hari ini. Satu jam penantian sms balasan tak kunjung datang membuat saya galau dan meng-sms Bang Farhan, mengkonfirmasi untuk tidak ikut serta pada trip kali ini. Saya sudah benar-benar pasrah tidak bisa ikut jalan minggu ini, mungkin Allah meminta saya untuk istirahat di rumah (mencoba berfikir positif). Nyalakan TV, berleha-leha sambil nonton Trans TV dan menyeruput segelas kopi putih.
Eh tapi ternyata, Bang Farhan menelepon dan meminta siap-siap segera, karena Mbak Winda akan datang menjemput kerumah. Alamak, saya belum mandi dan ini-itu. Rumah juga masih berantakan, bisa-bisa Emak mencak-mencak karena pergi tanpa beres-beres rumah dulu -_- 
"Pelajaran nomor 1 pada perjalanan hari ini adalah, jika Allah berkehendak, pasti bisa. Yeyy.."
 ***
Tiu Sagemong. Dalam Bahasa Sumbawa, tiu artinya adalah kolam kecil, Sagemong saya tidak tahu artinya apa, sepertinya hanya nama biasa. Jika diartikan bebas Tiu Sagemong adalah kolam kecil yang bernama Sagemong, hehehe (maaf kalau rada aneh). Tiu Sagemong ini terletak di Desa Mapin Rea, Kecamatan Alas Barat. Memakan waktu sekitar dua jam dari pusat kota untuk tiba di desa tersebut. Tiu Sagemong ini belum banyak yang tahu keberadaannya, mungkin hanya masyarakat setempat yang sering mengunjungi Tiu tersebut. Untuk menuju Tiu Sagemong kita harus menyusuri Brang Mapin (Sungai Mapin: Sumbawa Red).
"Kita trackking kurang lebih 40 menit." Bang Yudis memberitahu kami. 
Empat puluh menit, saya pasti bisa. Efek nyasar dan melewati jalur ekstrim ketika ke Agal kemarin membuat saya semangat dan tidak takut untuk trackking sejauh apapun itu, ciee. Yah hitung-hitung untuk menurunkan berat badan yang sudah berlebih-lah, hahaha.
Berangkat dari Sumbawa pukul 08.00 Wita, dan tiba di Alas Barat pukul 10.00 Wita. Istirahat sebentar di Kantor Camat Alas Barat, diskusi sebentar dengan Pak Camat untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Mapin Rea, tempat Tiu Sagemong itu bersemayam (berasa apa gitu denger kata bersemayam, hahaha). Sama seperti hawa desa yang lainnya, hijau dan asri langsung menyapa kita ketika tiba di lokasi. Gemericik air yang jatuh dari sela bebatuan menjadi irama khas yang menenangkan.

Rabu, 18 Maret 2015

Lost In Jungle: Tentang Perjuangan dan Kebersamaan di Hutan Marente

persawahan di Marente
Mendaki gunung
Lewati lembah
Sungai mengalir indah ke samudra
Bersama teman bertualang

Setiap ingin mengetik postingan tentang perjalanan ini, rasanya bulir bening itu langsung menggelayut dan jatuh ke pelupuk mata. Sedih, haru, mengegangkan, menggembirakan. Ah semua perasaan bercampur jadi satu, susah untuk diungkapkan walau itu hanya kata-kata. Izinkan saya menarik nafas sejenak, mengatur emosi yang tiba-tiba membuncah, huuuuft. 
***
Perjalanan Penuh Perjuangan
Beberapa bulan terakhir ini Agal menjadi primadona. Semua orang ingin datang kesana dengan satu kata yang sama "penasaran". Keindahannya menjadi magnet ampuh yang memikat siapapun yang melihat. Jumlah sharing artikelnya pun tak tanggung-tanggung, hingga mencapai 1000 lebih sharing (dalam blog Bang Takwa ayokesumbawa.wordpress.com). Air terjun Agal terletak di Hutan Marente, Kecamatan Alas Barat. Marente adalah salah satu hutan terindah yang dimiliki Sumbawa, vegetasinya yang unik dan cantik membuat setiap yang melihat tak henti-hentinya mengucapkan kagum. Wajar jika Marente ini menjadi akronim MAras REna Nyaman aTE (MARENTE). Dalam bahasa Sumbawa itu artinya keseruan yang membahagiakan. Setiap yang melihat akan diliputi perasaan bahagia. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari pusat Kota Sumbawa untuk sampai ke Marente. 
"Sejak Agal mulai dikenal oleh orang-orang, bukan hanya setiap minggu tapi hampir setiap hari selalu saja ada yang datang untuk kesana." Ucap salah seorang warga tempat kami menitipkan motor. Hobi berpetualang ke hutan-hutan membuat jiwa Bang Takwa tergugah dengan Marente, dan dalam proses perjalanan itulah Bang Takwa melihat Air Terjun Agal ini dan langsung mempostingnya di blog. Tidak disangka, postingan di blog itu membuat Agal booming. Namanya seketika melejit, layaknya artis yang sedang naik daun. Ngehit. 
Hari Sabtu, Minggu, 14-15 Maret 2015 eksplore Marente secara terbuka dilakukan oleh Adventurous Sumbawa. AS membuka kesempatan seluas-luasnya kepada semua orang yang ingin mengunjungi Marente terutama Air Terjun Agal. Dua hari full eksplorasi hutan dengan mengunjungi Batu Payung, batu unik yang tersimpan di Hutan Marente, dan Brang Dalap yang telah mensuplai air bersih ribuan masyarakat Alas. Marente menyimpan kekayaan yang luar biasa.
Pada hari kedua, penjelajahan ke Air Terjun Agal kami lakukan. Sekitar 56 orang ikut dalam perjalanan ini. Setelah briefing dan berdoa bersama kita langsung menuju ke Hutan Marente. Dikarenakan jumlah yang akan mengunjungi Agal sangat banyak, kitapun dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, agar memudahkan koordinasi dalam perjalanan nanti. Pemandangan sawah-sawah yang menghijau, dialiri oleh sungai nan cantik benar-benar memikau mata.
untuk menuju Hutan Marente kita mesti menyebrangi sungai ini dulu

Selasa, 03 Februari 2015

Memanen Ikan di Laut Sumbawa

lets sailing capten
Nenek moyangku seorang pelaut
gemar meraungi luas samudra.
Menerjang ombak sudah biasa
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Tidak ada henti-hentinya saya menyenandungkan lagu itu selama dalam pelayaran ini. Seakan ingin bernostalgia betapa hebatnya Nenek Moyang kita dahulu kala. Ah Indonesia begitu sayang jika dilewatkan hanya melalui cerita-cerita, sesekali kita harus turun 'lapangan' untuk melihat kebenaran cerita-cerita itu yang saya yakin akan lebih menakjubkan dari yang sering kita dengar.
Saya bahagia dalam perjalanan-perjalanan ini saya dipertemukan dengan orang-orang hebat, para petani tangguh yang tidak kenal panas terik tetap turun ke sawah, para nelayan tangguh yang tak kenal badai tetap melaut. 
Namanya Rizal
Namanya Rizal, seorang anak laki-laki yang saya kenal di Adventurous Sumbawa. Dia adalah anak seorang nelayan di Desa Ai Bari, Kecamatan Moyo Utara. Umurnya masih sangat muda, baru menginjak 17 tahun. Hei tapi jangan melihat usianya, pengalamannya melaut tidak bisa diragukan, dia sudah terbiasa dengan segala kondisi di laut, bahkan badai pun sudah biasa diterjang. 
Mulanya saya mengenalnya sebagai anak yang biasa-biasa saja, sama seperti anak SMA pada umumnya, tetapi ketika melihatnya mengendalikan kapal dengan lincah, membuat kesalutan saya naik beberapa tingkat.
"Saya sempat berhenti sekolah setahun, dan waktu itu saya pakai untuk ikut Bapak melaut. Kalau Bapak lagi tidak enak badan, saya sendirilah yang melaut."
"Kamu ndak takut??"
"Sudah biasa saya mbak, perahu kecil itu teman saya dari dulu. Saya sering menjaring ikan sendirian, ndak ada anak nelayan yang boleh manja, dari kecil kita sudah dibiasakan kuat."
Iya benar juga, saya belum menemukan anak nelayan yang manja, mereka terbiasa kuat, dan tahan 'banting'. Bagaimana tidak, laut adalah salah satu tempat yang tidak bisa diprediksi, dengan tiba-tiba saja badai itu bisa datang, dan mereka mesti bisa menghadapi itu semua.
Bapaknya Rizal sedang mengecek mesin kapal agar bisa dipakai melaut siang ini

Kamis, 22 Januari 2015

Bakela Tude di Sungai Ai Nunuk

"Tude itu apa???" Tanyaku heran, karena ini adalah pertama kali saya mendengar nama itu.
"Tude itu semacam kerang-kerangan yang hidup di sungai dan sekarang jumlahnya lagi banyak-banyaknya." Papar seorang teman tentang Tude itu.
"Ohh.... semacam Remis yang dilaut itu ya??"
"Nah bentuknya tidak jauh seperti itu."
Hasil searching di Google, bahasa umumnya Tude ini dikenal dengan nama Kerang Etok (curbiculacea). Tude atau Kerang Etok umumnya dijumpai di kawasan sungai air tawar yakni pada dasar sungai atau terusan. Ia bisa juga hidup dikawasan muara sungai yang berdekatan dengan delta atau laut, namun kerang ini lebih banyak hidup di sungai yang berdekatan dengan sawah. Kerang ini memiliki dua warna, hitam dan kuning, kerang yang berwarna hitam biasanya hidup di sungai berlumpur, sedangkan yang berwarna kuning hidup di sungai berpasir (Sumber Wikipedia)
Selain enak, ternyata kerang ini sangat bagus untuk dikonsumsi, karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan bagus untuk tubuh.  Tude ini banyak dijual di Pasar Seketeng (nama Pasar di Sumbawa) dan harga Tude yang masih mentah lumayan mahal sekitar Rp.3.000 untuk satu sing (takaran satu mangkok kecil dalam Bahasa Sumbawa), kalau membeli hanya satu atau beberapa sing saja, dipastikan tidak akan cukup, bahkan untuk makan saya sendiri. 
Saya merasa beruntung saat ini, karena seorang teman di Adventurous Sumbawa mengajak saya dan teman-teman AS untuk mencari Tude di sungai dekat rumahnya, di Ai Nunuk. Ai Nunuk itu adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Moyo Hilir, hanya 30 menit dari pusat kota Sumbawa. Kata si empunya yang punya desa, Tude di sungai Ai Nunuk jumlahnya berlimpah ruah, sekuat-kuat kita mencari, sebanyak itu pula hasil yang kita dapatkan. Rasa penasaran saya tentang pengalaman apa yang saya dapatkan nanti ketika mencari Tude membuat saya rela izin untuk pulang lebih awal sama Bos di kantor, hihi, judulnya itu 'Demi Tude apapun rela kulakukan' ^_^
tiba di lokasi

Minggu, 18 Januari 2015

Di Air Terjun Sejari, Kebersamaan Kita Kembali Terukir

Air Terjun Sejari
Jalan menyusuri hutan selama kurang lebih 20 menit kita sudah sampai di air terjun ini, namanya Air Terjun Sejari. Letaknya tidak jauh dari Air Terjun Pelman, air terjun pertama yang kita datangi. Air terjun ini juga masuk kedalam daftar air terjun yang jarang dikunjungi di Sumbawa a.k.a tidak sepopuler air terjun yang telah menjadi mindset pariwisata Sumbawa, padahal keindahannya juga tidak kalah memukau dan sayang jika dilewatkan begitu saja. 

Bang Jaka yang begitu menikmati suasana di air terjun ini
persiapan bakar-bakar ikan
bakar ikan
kebersamaan bersama keluarga besar AS
 Kebersamaan ini yang nantinya akan kita rindukan....


"Terkadang foto lebih bercerita daripada kata-kata, dan biarlah ini menjadi bukti bahwa kita pernah bersama"

Senin, 12 Januari 2015

Terjun Bebas di Pelman

Libur weekend cuma dua hari tapi ajakan jalan-jalan datang dari berbagai arah, itu sama artinya dengan punya uang cuma 100 ribu rupiah tapi keinginan belanja ini-itu tak bisa terbendung, ngenes gaes -_-. Eh tapi karena hidup itu harus memilih, maka harus ada pilihan-pilihan yang juga harus dipilih, dan saya memilih berpetualang ke tempat yang anti mainstream di Sumbawa, niatnya selain ajang promosi, juga sebagai wujud pelampiasan rasa keinginan untuk melihat surga-surga tersembunyi yang ada di Sumbawa.
Setelah sabtunya bernarsis ria di Ai Beling, hari minggu saya kembali diculik oleh teman-teman Adventurous Sumbawa untuk melakukan petualangan yang tak kalah emejing-nya, kita akan ke Pelman. Pelman merupakan sebuah nama air terjun yang terletak di lereng gunung Jaran Pusang, hanya 30 menit berjalan kaki menyusuri hutan dari Dusun Sejari, Kecamatan Plampang. Air terjun ini adalah air terjun yang paling mudah dijangkau di Sumbawa, jalannya pun tidak perlu gradak-gruduk seperti ketika ke Ai Beling kemarin, jalan menuju ke Dusun Sejari-nya sudah sangat bangus, melewati jalan raya besar yang beraspal mulus, kurang dari dua jam kita sudah sampai di Dusun Sejari. Setelah memarkir motor di perkampungan warga, kita bisa langsung melanjutkan trekking menyusuri hutan Jaran Pusang yang hijau nan indah alami. Tidak ada tanjakan yang menguras tenaga, jalannya lurus-lurus saja, makanya wajar dikatakan air terjun ini adalah air terjun yang aksesnya paling mudah di Sumbawa. 
Setelah berjalan kaki selama 30 menit kita akan sampai di tebing air terjun Pelman, tingginya sekitar 3 meter. Dari atas tebing itu kita bisa merasakan sensasi uji adrenaline yang sesungguhnya, yaitu dengan cara terjun bebas dari atas tebing. Buat teman-teman yang tidak bisa berenang, jangan coba-coba untuk ikut terjun bebas seperti ini, karena kolamnya lumayan dalam, kecuali membawa perlengkapan keselamatan seperti pelampung. Ini PR buat saya untuk segera bisa berenang, kan saya juga pengen terbang bebas seperti itu, hiks T_T
siap-siap Foto by Bang Farhan
1 foto by bang farhan