Selasa, 18 November 2014

Seru-seruan di Tiu Kelep

“Kamu sudah pernah ke Tiu Kelep??” Tanya Kak Ema di perjalanan kami menuju ke Lombok Utara.
“Sudah Kak, dan betis saya berbuah besar setelah dari sana.”
“Haha, biar kamu tahu perjalanan juga butuh perjuangan.” Aku mengernyitkan dahi, tanda tak setuju dengan apa yang Kak Ema katakan, iya sih jalan-jalan butuh perjuangan, eh tapi membayangkan tangganya saja sudah membuatku putus asa sebelum bertarung. Awal Januari 2014 kemarin aku sudah kemari, dan itu sukses membuat betisku sakit beberapa hari. Aku tidak ingin mengulangnya kembali, tetapi aku akan sangat rugi kalau tidak ikut perjalanan ini. Untuk apa ke Lombok, kalau cuma duduk manis di dalam bis. Berangkat dari hotel tempat kami menginap pukul 09.30 Wita, tiba di Senaru, Lombok Utara sekitar pukul 12.00 Wita.  Setelah makan siang, sholat dan istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Air Terjun Tiu Kelep.
Aku jadi teringat lagu dari Ninja Hatori, “Mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudra” Cerita ini sama dengan lagu yang ada di Ninja Hatori.  Jalannya menurun, kemudian menanjak, lewati sungai berbatu dengan arus yang deras membuat perjalanan ini begitu melelahkan dan menantang. 
perjalanan menuju tiu kelep
perjalanan menuju tiu kelep
ini yang paling saya suka, nyebrang di sungai, soalnya kaki berasa langsung adem :D
Seperti yang sering aku katakan sebelumnya dalam tulisan-tulisan perjalananku, tempat yang indah selalu membutuhkan perjuangan yang sangat untuk bisa kesana. Semangat Lulu, teriakku dalam hati menyemangati diri sendiri. Memakan waktu sekitar 30 menit, kita sudah sampai di Air Terjun Tiu Kelep. Tiu artinya sungai dalam bahasa Sasak, sedangkan Kelep artinya terbang, mungkin karena jatuh airnya yang sangat tinggi sehingga membuat butiran-butiran airnya seperti terbang, makanya tempat ini dinamakan Tiu Kelep. Air Terjun Tiu Kelep ini menjadi salah satu tempat hunting terkece teman-teman Fotografer Lombok, wajib disetiap foto-foto mereka aku selalu melihat air terjun ini.

Narsis pun butuh perjuangan
Ini yang dinamakan narsis yang anti mainstream, tidak ada tongsis narsis, yang ada hanyalah tripod narsis.  Narsis pun butuh perjuangan, kawan.
Beberapa teman sudah mengeluarkan kamera, siap mengabadikan momen yang indah ini. Beberapa juga sudah nyebur menikmati dinginnya air Tiu Kelep. Aku tergoda juga melihat mereka berbasah-basahan seperti itu.
“Zahra, mau mandi???” Tanyaku pada Zahra, dia seorang blogger asal Bandung.
“Boleh sih, kapan lagi kita kesini.”
Oke baiklah, perkara baju basah dan dingin nanti saja kita pikirkan yang penting bisa seru-seruan dulu disini.
siap nyebur...
Seger... Foto di ambil dari Mas Bolang
Saya kira teman-teman jalan-jalan saya kali ini adalah orang yang normal, ternyata eh ternyata mereka gokil pakai sangat. Tidak ada kata jaga imej, semua berbaur dan seru-seruan bersama. Ini mungkin ya yang membuat para travel blogger tampak imut dari usia sebenarnya, karena selalu bahagia dimanapun berada.

Bertemu Mario Teguh
Rayyan Haris, Mas Adi, dan Aku
You are not fat.” Selorohnya disela-sela perjalanan pulang kami dari Tiu Kelep. Ini pertama kalinya ada yang mengatakan padaku bahwa aku tidak gemuk. Tersanjung #manatisumana
“Aku bingung kenapa perempuan mesti minder dengan badan yang gemuk, badanmu tidak gemuk. Katika kamu bahagia, itulah yang paling penting.”
Don’t care what people say. Kenapa kamu mesti pusing dengan apa yang orang katakan, hidupmu adalah milikmu bukan orang lain, maka lakukan apa yang membuatmu bahagia bukan melakukan apa yang membuat orang lain bahagia.” Kira-kira itulah arti dari apa yang dia katakan padaku siang itu. Kata-katanya dalam Bahasa Inggris membuat otakku bekerja cepat mengartikan apa yang dia katakan, dan tentu saja aku juga mesti berfikir lebih keras juga untuk menanggapinya dalam Bahasa Inggris, walaupun tak sefasih mereka yang terbiasa ber-english ria, setidaknya aku mengerti sedikit, jadi tidak memalukanlah.
Jalan menanjak, kemudian menurun lagi, dengan nafas yang memburu tidak terasa begitu melelahkan seperti perjalanan ketika berangkat tadi, karena disampingku ada ‘Mario Teguh’ yang setia memberiku petuah bijaknya.  Ini pertama kalinya setelah dua hari acara TW Gathering ini aku terlibat percakapan serius dan lumayan lama dengannya. Namanya Rayyan Hariss, travel blogger dari Malaysia. Jangan tanyakan padanya kemana saja dia sudah melalang buana. Usai acara ini saja, dia akan menjejakkan kakinya (lagi) ke Australia. Badan yang lumayan besar tidak menjadi alasan baginya untuk tidak bisa melihat betapa indahnya dunia ini. Pertama kali melihat perawakannya, aku sangsi apakah dia bisa melewati tangga yang menurun dan menanjak, dengan jalan terabas hutan yang tidak dekat, tapi ternyata dia bisa, tanpa ada acara geret-menggeret seperti kasusku kemarin ketika susur pantai.  Ketika berangkat tadi, aku malah tertinggal jauh dengannya. Sepulang dari tiu kelep aku tidak banyak melenguh seperti berangkat tadi, entah kenapa aku mulai menikmati perjalanan ini.
“Jalan-jalan tak perlu uang banyak, aku bisa ke Jepang dan tinggal lama disana karena aku menjadi volunteer bencana Tsunami beberapa waktu yang lalu. Aku memanfaatkan momen itu untuk membantu orang lain, dan aku juga bisa ke Jepang.” Dia kembali bercerita tentang pengalaman perjalanannya. Aku semakin terkesan dengan semua cerita-ceritanya. Lelahku lumayan berkurang dengan ceritanya, setidaknya perhatianku terhadap tangga yang banyak dan jalan yang jauh mulai berkurang dan fokus ke ceritanya. “Aku ingin orang-orang khususnya pembaca blogku bisa mengambil inspirasi dari apa yang aku tuliskan disana.”
Beberapa teman sudah mendahului kita di depan. Bajuku yang basah membuatku menggerutukkan gigi, tanda dingin mulai menyerang. Rayyan melihat saluran air (kanal) yang kita lewati, dia tertarik mencobanya, dengan harapan dia bisa hanyut terbawa arus ketika masuk kedalamnya, tapi airnya yang tidak terlalu dalam membuat badannya mentok dan tidak bisa terbawa arus. Rayyan kecewa dan naik kembali ke atas jalan melaui darat bersama kami. Selalu saja ada tingkah uniknya. Satu yang aku ingat dari perjalanan ke Tiu Kelep ini adalah mensyukuri apa yang kita punya adalah hal terbaik dari apapun. Mengeluh tidak akan ada artinya. Perjalanan tidak semata-mata untuk melihat tempat-tempat yang indah, tetapi untuk mengerti apa itu arti sebuah perjuangan.
Yuhuuuu :)

16 komentar:

  1. tongsisinya sangat inspiratif. tak ada tongsis, tripodpun jadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas yandi, tongsis yang antimainstream, hihihi

      Hapus
  2. Perjalanan menuju Tiu Kelep nya yang keren sekali. Saya suka gaya penulisan ADMIN nya yang sudah memenuhi kaidah Jurnalistik. Foto dengan teks, dan ada JUDUL di chapter chapter lainnya, Memudahkan pembaca dalam memahami artikelnya

    BalasHapus
  3. Mantap bngt Mba Lulu, seru banget.. Itu air terjunnya bisa di pindahin bentar ke Bdg ga ya. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa sih, tapi kita barter, tiu kelep ke Bandung, terus taman bunganya ke Sumbawa, hehehe

      Hapus
  4. Saya setuju, Lulu. Tiu Kelep ini memang cantik. Oiya, koreksi sedikit, Rayyan bukan dari Singapura, dia dari Malaysia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh dari malaysia toh mas adi?? soalnya gak bisa bahasa melayu sih, jadi saya kiranya dari singapura :D hehehe

      Hapus
  5. pikirkan ujungnya ya kalau menemui tangga yang banyak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak....
      perjuangannya kerasa bangeet :D

      Hapus
  6. ehhhh....klo namaku disebut2,,apalagi berkali-kali...jadi harus di link-kan ke blog-ku..whahaha...

    BalasHapus
  7. wah ini dia... foto narsis yang terakhir kece bingitz hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas yudas, iya mas, kece abis nih foto yang terakhir.....
      foto yang penuh perjuangan :D

      Hapus
  8. Itu bukan tongsis, tapi trisis=tripod narsis :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas rifqy,, trisisnya anti mainstream....
      :D

      Hapus

Tinggalkan jejak ya teman-teman, supaya saya bisa berkunjung kembali....
Salam persahabatan Blogger Indonesia ^_^