Jumat, 26 Desember 2014

Indahnya Air Terjun Pamurun Desa Bangkat Monteh

Selalu ada kejutan disetiap perjalanan kami,  setelah berjuang dijalan yang begitu menantang, masuk hutan dengan medan yang licin, menikmati petualangan di Gua Mumber yang begitu menakjubkan, ternyata petualangan tidak terhenti disitu,  Sang Kapten mengajak kami ke tempat yang tidak pernah kami sangka sebelumnya, sebuah air terjun yang begitu mempesona, kawan.
Hanya 20 menit Desa Bangkat Monteh untuk menuju ke lokasi air terjun tersebut, tetapi karena hujan yang baru saja mengguyur Bumi Pariri Lema Bariri ini jalanan menjadi sedikit licin, kami mesti ekstra hati-hati dalam mengendarai motor, jalurnya juga sangat kece untuk penggemar motor trail (Bagi penggemar motor trail jalanan bagus sudah mainstream, jadi mesti ke jalanan yang sedikit bergoyang supaya anti mainstream, hehehe). Di desa ini (Desa Bangkat Monteh, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat) tidak hanya gua-gua eksotis yang menjadi daya tariknya, tetapi ada juga Air Terjun Pamurun yang begitu mempesona, sungai dengan aliran air yang begitu jernih, ditambah lagi dengan hijaunya hutan Selalu Legini yang membuat kita tidak henti-hentinya berdecak kagum, benar-benar pemandangan alam yang begitu alami tanpa jamahan tangan-tangan jahil manusia, dan harapan kami, semoga tangan-tangan jahil itu tidak mengganggu keindahan Sumbawa ini sampai kapanpun. Kalau ini dijadikan promosi produk, tidak hanya "buy one, get two" "beli satu, dapat dua", tapi "beli satu, dapat banyak", mengunjungi satu desa tapi bisa menikmati banyak keindahan alam yang emejing
Air Terjun Pamurun, Foto By Bang Fahri Samalewa

Senin, 15 Desember 2014

Petualangan Menakjubkan di Gua Mumber



Efek petualangan di Liang Dewa beberapa minggu yang lalu ternyata berbekas mendalam di hati saya. Saya jadi terpesona dan mulai menyukai ruang gelap bawah tanah yang bernama gua itu Memasukinya membuat sadar bahwa kekuasaan Allah itu tidak ada batasnya.
Tidak perlu menjelajah jauh untuk mencoba menikmati sensasi berpetualang di dalam gua, apalagi jika harus mengeluarkan banyak uang dan harus keluar negeri untuk itu. Sumbawa punya banyak gua yang amazing (baca:emejing) untuk menguji adrenallin kita, tetapi masalahnya (memang agak klasik tapi berpengaruh besar) adalah tidak adanya publikasi yang masif tentang keberadaan gua tersebut dan akses kesana yang agak susah, sehingga banyak yang mengira bahwa Sumbawa hanya sebuah daerah gersang tanpa sisi menarik sama sekali, padahal Sumbawa begitu mempesona untuk coba dijelajahi lebih dalam lagi. Adventurous Sumbawa mengajak dan memperkenalkan saya tentang semuanya, tentang keindahan Sumbawa yang tidak hanya ada di Pulau Moyo, Madu Sumbawa, dan Main Jarannya, lebih dari itu Sumbawa menjanjikan petualangan yang tak akan terlupakan. 
Sudah direncanakan selama beberapa minggu yang lalu, akhir pekan ini Adventurous Sumbawa akan caving lagi ke salah satu gua yang tidak kalah amazing-nya dengan yang ada di Liang Dewa, yaitu Gua Mumber yang ada di Sumbawa Barat. Gua ini belum banyak yang tahu, informasinya di internet pun tidak begitu banyak, bahkan susah untuk ditemukan. Tidak usah berbicara tentang informasi tentang wisata Sumbawa, karena itu sangat minim sekali, masyarakat Sumbawa saja tidak banyak yang tahu tentang itu. Om Imran adalah salah seorang teman fotografer yang pertama kalinya meracuni saya tentang gua itu, kata beliau gua itu sangat indah, dan terbukti dengan foto-foto yang diperlihatkan kepada saya. Ah ‘racun’ itu ada dimana-mana, kawan, maka berhati-hatilah jika tidak ingin racunnya masuk kedalam syaraf otak terdalam yang bisa membuat otakmu lumpuh seketika jika tidak datang kesana.
West Sumbawa Adventure
Judulnya adalah “West Sumbawa Adventure”. Perjalanan 2 hari di Sumbawa Barat dari tanggal 13-14 Desember 2014 dengan menjelahi beberapa tempat bersejarah di Sumbawa Barat, seperti Tiu Kelamu yang merupakan kolam tempat mandi Lala Jinis, makam Datu Seran yang merupakan makam raja-raja pada Kerajaan Seran dahulu kala, dan beberapa tempat lainnya. Salah satu tempat yang membuat saya sangat tertarik untuk ikut trip ini adalah perjalanan ke Gua Mumber, gua emejing yang membuat saya mupeng tak terkira sejak diracuni oleh Om Imran dengan foto dan cerita-cerita kece-nya.
Perjalanan dari Sumbawa ke Taliwang, Sumbawa Barat memakan waktu kurang lebih tiga setengah jam dengan kecepatan standar. Dari Sumbawa pukul 15.00 wita, tiba di taliwang pukul 17.30 wita. Lumayan melelahkan tetapi itu tidak akan terasa karena disepanjang jalan, mata akan dimanjakan dengan pemandangan hijau dengan barisan bukit dan sawah Sumbawa yang menyejukkan mata. Kalau badan sudah begitu lelah, bisa juga istirahat sejenak sambil menikmati jagung rebus asli Rhee yang terkenal itu. Jagungnya manis dan enak. Disepanjang jalan kawasan Rhee banyak penjual jagung rebus yang menjajakan jualannya di bale-bale sederhana pinggir jalan, disana kita bisa makan jagung sembari memulihkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan kembali. 
Ada satu tempat yang menarik juga untuk menjadi tempat peristirahatan, yaitu Bukit Galau. Dinamakan Bukit Galau bukan karena disini banyak ABG labil yang sering nongkrong  kemudian bergalau ria bersama ya, bukan, itu karena di bukit inilah tempat para pengendara dari Sumbawa ataupun Taliwang beristirahat melepas lelah sambil minum kopi di kedai yang ada di bukit tersebut. Bukit ini sebenarnya bernama Bukit Samarekat, tetapi belakangan lebih populer dengan nama Bukit Galau. Pemandangan yang disajikan juga tak kalah indah seperti jalan yang ada di film-film Hollywood dengan  bukit dan jalan meliuk-liuk tajam. Dari bukit ini akan terlihat jelas lautan Sumbawa dengan pulau-pulau kecilnya.
pemandangan laut Sumbawa dari Bukit Galau
berugak tempat istirahat dipuncak bukit

Senin, 08 Desember 2014

Hei, Ada Pegunungan Alpen di Sumbawa



“Mau kemana?? Tumben sepagi ini sudah mandi” Tanya Ibu yang heran melihatku sudah bebersih sepagi ini. Ah Ibu, tahu aja anaknya jarang mandi kalau tidak ada keperluan keluar rumah.
“Mau jalan-jalan, Bu, sama teman-teman kita.”
“Sepagi ini??? Biasanya masih dalam selimut.”
Hari minggu bagi saya adalah waktu relaksasi tenaga dan pikiran dengan bersantai. Jika tidak ada agenda keluar rumah alias jalan-jalan, maka jangan harap melihat saya rapi di rumah, kalau tidak untuk keperluan wudhu, air itu tidak akan mampir di kulit saya, Ibu sampai menggerutu “Anak gadis, anak gadis,” Hehehehe. Seharian tidur manis dengan TV di depan mata menjadi ritual wajib saya, bangun pagi sudah pasang channel Trans TV dan Trans 7, karena bagi saya hanya 2 channel TV itu saja yang masih agak normal, tanpa adanya sinetron hewan jadi manusia. Selesai acara petualangan ‘My Trip My Adventure’ barulah saya duduk manis dengan novel-novel cantik dipangkuan. Ah benar-benar hari minggu yang menyenangkan. Tetapi hari minggu saya belakangan ini mulai terganggu dengan tawaran-tawaran trip dari kawan-kawan Adventurous Sumbawa dan teman-teman yang lain, selalu saja ada agenda jalan-jalan disetiap minggunya, dan itu sangat menggiurkan, bisa membuat air liur saya menetes tiada henti. Setelah minggu kemarin ikut tripnya yang menantang adrenalin di Liang Dewa, minggu ini teman-teman AS kembali mengajak saya untuk berpetualang ke sebuah air terjun yang berada di Pernek, letaknya tidak jauh dari pusat kota Sumbawa Besar (Alhamdulillah tidak jauh, irit bensin :D)
Tidak hanya saya ciin yang niat pakai sangat untuk ke air terjun itu, Subhan travelmate saya selama beberapa minggu terakhir ini juga sampai rela menelpon membangungkan saya pagi-pagi demi tidak telat sampai dilokasi berkumpul kami. Saya jadi penasaran dengan keindahan air terjun ini.
Perjalanan ke Pernek
Jembatan Bendungan Pernek
Pukul 06.00 Wita kita sudah sampai lokasi pertemuan, hanya Mbak Elly yang kami jumpai disana, sedangkan yang lain masih dalam perjalanan. Selang beberapa jenak menunggu, teman-teman pun berkumpul dan perjalanan menuju air terjun kami lanjutkan. Memakan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke Pernek, salah satu desa yang berada di Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa. Jalan menuju ke desa ini bagus, tetapi ketika masuk menuju  Bendungan Pernek (Embung Pernek) jalannya sudah mulai jelek. Akibat hujan semalam, jalanan agak licin, jadi kita mesti hati-hati dan waspada dalam mengendarai motor, tidak perlu terburu-buru, safety first. Sampai di Bendungan Pernek, Bang Yudi Rusdian yang terlebih dahulu jalan mendahului kami terlihat kembali dengan muka yang agak kecewa.

Sabtu, 06 Desember 2014

Pantai Sebekil, Uniknya Tuh Disini

Perjalanan ke Pantai Sebekil
Sepulang dari Goa Liang Dewa kita melanjutkan trip ke pantai yang berada di Labangka 5. Katanya pantai yang akan kita datangi jaraknya lumayan jauh dari goa. Jarak yang dekat saja sudah terasa jauh, apalagi jarak yang jauh, hwaaa semangat Lulu.
Mungkin karena kita terlalu lama dalam mengendarai motor, kita sukses tertinggal dari teman-teman yang lain, dan itu mengakibatkan kita berkeliling di tempat yang sama berkali-kali alias nyasar. Bapak-bapak yang nongkrong dipinggir jalan saja sampai bingung melihat kita yang keliling tidak jelas, sekali lagi lewat ditempat itu saya khawatir piring cantik melayang ke muka, hwahahaha.
"Lost packer nih kita, ah lets get lost, lets goo." Teriak Bang Yudi.
Kita nyasaar ciiiin. Karena sinyal yang datang dan pergi, kita jadi susah menghubungi teman-teman AS untuk bertanya keberadaan mereka. Dan memang benar, malu bertanya sesat di jalan, dari tadi kita hanya putar-putar tidak jelas, tanpa adanya inisiatif untuk bertanya penduduk setempat, entah ide itu datang dari siapa diantara kita berempat, kita pun berhenti di pangkalan ojek dan bertanya kepada Bapak-bapak yang ada disana. Alhamdulillah, Allah selalu bersama para pejalan, berkat tanya-tanya kepada si Bapak kita pun menemukan jalan yang benar, putar arah lagi dan goooo....
Melihat teman AS menunggu kami di pinggir jalan rasanya seperti anak ayam yang telah menemukan induknya, bahagia. Setelah bertemu dengan teman-teman, kita melanjutkan lagi perjalanan kita menuju Pantai Sebekil. Dari jalan yang mulus halus hingga bertemu jalan yang membuat kita ajep-ajep diatas motor, tanda-tanda keberadaan pantai belum terlihat juga, yang ada hanyalah hamparan kebun yang mulai menghijau milik penduduk setempat. Ini adalah perjalanan terjauh saya selama di Sumbawa. 
"Biasanya pantai yang keren itu letaknya jauh kak." Hibur Subhan selama di perjalanan. Kita mengobati kelelahan selama diperjalanan dengan bercerita banyak hal, mulai dari cerita tentang pariwisata hingga cerita tentang gosip artis terkini (saking tidak adanya bahan pembicaraan lagi, gosip pun jadi ciin untuk rempong, hihihi).
Selama kurang lebih 1 jam (dikurangi waktu nyasar) kita sampai Pantai Sebekil Labangka 5. Mata langsung tertuju ke arah pantai, pasir hitam dengan batuan hitam yang cantik sukses menjadi daya tarik tersendiri pantai ini, ditambah lagi dengan ombak besarnya. 
Pantai Sebekil, Bang Yudi langsung action

Rabu, 03 Desember 2014

Petualangan Menakjubkan di Liang Dewa



Dalam Liang Dewa Foto by Bang Yudi Rusdian


Blind Trip
“Minggu ini kita ada agenda susur gua, yang bertempat di Labangka, kak.” Kata Subhan kepada saya malam itu.  Ini akan menjadi petualangan menegangkan, mengingat ini adalah yang pertama bagi saya. Yang pertama untuk menikmati petualangan susur gua, dan yang pertama ikut dalam trip kawan-kawan di Adventurous Sumbawa. Saya tidak punya ekspektasi apapun tentang perjalanan kali ini, yang ada dalam bayangan saya hanyalah, saya bisa bertemu dan berpetualang dengan kawan-kawan AS yang selama ini lebih banyak saya kenal melalui dunia maya a.k.a facebook, sebaik-baik teman dunia maya, alangkah lebih baik jika bertemu di dunia nyata, bukan??? Info tentang Liang Dewa pun saya tidak begitu tahu, baik dari segi sejarahnya atau tentang bentuk dari gua tersebut. Lets get lost, lest go-lah, sambil menirukan gaya Ruben Onsu, hehehe.
Bertemu Kawan-kawan AS untuk yang Pertama
Perasaan malu-malu kucing jelas sekali melanda perasaan saya pada pagi itu. Suasana baru dan orang-orang baru, membuat saya mati gaya, seakan di paksa beberapa saat untuk menjadi salah tingkah, tidak tahu mau berbuat apa. Ingin rasanya menyapa dan say “Ini Bang Takwa, ya??? Ini Bang Farhan, ya??? Salam kenal bang, saya Lulu.” Kata-kata itu ada di ujung lidah, tak bisa terucap dan hanya senyum yang canggung. Saya pemalu dalam hal ini, jujur.  Saya yakin kawan-kawan yang lain juga mengalami kebekuan yang sama dengan saya, hanya membutuhkan seorang perantara untuk membuat suasana dingin menjadi cair seketika. Keramahan langsung mendekap saya ketika Mbak Ely salah satu kawan AS tersenyum dan mengajak saya bersalaman. Detik selanjutnya berjalan seperti biasanya, normal, hanya membutuhkan waktu untuk kita saling mengenal satu sama lain. Perjalanan ini akan membawa kita pada titik itu, tidak perlu perkenalan yang formal, hanya perlu mengamati dalam bingkai masing-masing.

Senin, 01 Desember 2014

Nyongkolan, Pawai ala Sasak

Nyongkolan
Sewaktu kecil ketika aku tinggal di Lombok, aku paling suka menjadi bagian buntut barisan ini. Hanya sekedar membawa dompet kecil lusuh sebagai bekal untuk beli es, kaki mungilku setengah berlari mensejajarkan diri bersama barisan yang lain. Sedangkan, Ibu juga turut menjadi bagian dari barisan ini, bukan karena Ibu ingin turut serta, bukan, itu karena aku juga ikut barisan ini. Ibu akan sangat khawatir, jika dia membiarkanku sendiri dalam barisan yang didominasi orang dewasa itu. 
Gendang-gendangan ditabuh, penari-penari profesional dan amatir pun ikut bergoyang mengikuti irama yang disajikan. Aku hanya ikut goyang-goyang kecil seperti mereka. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang aku lakukan, yang aku tahu bahwa teman-teman seusiaku juga ikut dalam barisan ini.  Mereka semua larut dalam kebahagiaan yang sama. Sang laki-laki dan wanita di arak oleh warga satu kampung, setelah di bawa 'lari' oleh sang laki-laki dan dinikahkan, sang wanita akan diantar kembali dalam prosesi 'nyongkolan' ke rumah keluarga wanita. Ini Pernikahan ala Suku Sasak, kawan.

Minggu, 23 November 2014

Aku Suka Bunga

Sebenarnya pertama kali terjebak dalam dunia fotografi adalah karena bunga. Saya suka dengan bunga. Saya rela ikut challenge, dilepas seharian di taman bunga, tanpa uang, tanpa makanan, cukup dengan kamera full baterai, dan memori kosong, saya bisa lupa yang namanya lapar. Ini kebiasaan masa kecil saya. Waktu kecil, saya paling suka jalan-jalan keliling kompleks sama Bapak, wajib hukumnya pulang dari jalan-jalan itu saya bawa bunga. Kalau bunga tidak berhasil bertengger ditangan saya sepulangnya, siap-siaplah menutup telinga dengan kapas, saya akan menangis sepanjang jalan. Pilih mana, mendengar anak menangis atau menahan malu izin dengan si pemilik bunga untuk dipetik bunganya?? Jelas Bapak saya akan memilih pilihan yang kedua. Beliau paling tidak suka mendengar saya menangis, ribut.
Ketika sampai di Jayakarta Hotel kemarin, mata saya langsung menyisiri tamannya, melihat apakah ada yang berwarna-warni disana. Jadi ingat cerita awal belajar foto makro, modusnya adalah membeli bunga sama si Ibu pemilik kebun bunga, tapi setelah itu izin untuk foto-foto sampai puas. Dan itu tidak sekali, tapi berkali-kali, setiap satu minggu sekali. Belajar juga butuh perjuangan dan pengorbanan, kawan. Awal belajar pun tidak menggunakan kamera keren nan kece, pakai kamera digital Sony Cybershoot yang sekarang entah sedang jalan-jalan kemana alias hilang, beberapa bulan ini saya mulai memegang DSLR. Berharap suatu saat bisa beli lensa makro, biar tidak susyeeh jepretnya, seperti kalau jepret pakai lensa kit.
Belajar Makro itu Menyenangkan
Mau menguji kesabaran dalam foto-foto?? Mari belajar foto makro. Bayangkanlah serangga sekecil itu mesti di foto, dan mesti tidak bergerak bahkan tahan nafas nafas beberapa saat supaya serangganya tidak terganggu karena pergerakan kita. Tapi saya malah menyukai momen ini, kesabaran memang sangat diuji, tapi kepuasannya setara dengan perjuangan berlelah-lelah menfoto si serangga unyu.
Bukan Manusia laba2
Bukan manusia laba2

Jumat, 21 November 2014

Sade, Perempuan dan Tenunan



Tentang Sade 
So Colourfull
Sepulang dari Batu Payung kemarin, kita mampir sebentar ke Desa Sade. Desa ini letaknya tidak terlalu jauh dengan Bandara Internasional Lombok, memakan waktu sekitar 20 menit. Ini kali ke berapa saya kesini, entah, tapi saya tak ada bosan-bosannya kesini, karena setiap kesini selalu ada cerita baru yang akan dibagikan. Sade, ada banyak cerita tertinggal disini. Sampai pada gerbang utama Desa Tradisional Lombok ini, kita sudah disambut oleh guide tour yang juga masyarakat asli desa tersebut. Sebelum berkeliling desa, kami diberikan sedikit informasi tentang desa asli Sasak itu. Yang unik dari desa ini adalah terletak pada bangunannya yang lantai bangunannya di pel dengan menggunakan kotoran sapi yang masih hangat a.k.a baru keluar dari empunya kotoran. Kata masyarakat setempat, kotoran sapi yang masih hangat sangat bagus untuk lantai rumah, bisa membuat lantai rumah awet dan tahan lama. Lantai rumah di desa ini terbuat dari tanah liat, jadi mengepel lantai dengan menggunakan kotoran sapi ini menjadi ritual wajib kalau ingin lantainya awet sampai nanti. Jangan khawatir hidung akan terganggu dengan bau kotoran sapinya, karena setelah kering, lantainya tidak menimbulkan bau apapun.
Ada kerendahan hati mereka juga disini. Bangunan rumah mereka yang rendah dari ruangan utamanya bermakna bahwa siapapun yang masuk, entah itu Bupati, Presiden, atau orang-orang keren lainnya, mereka harus menunduk untuk bisa masuk ke dalamnya, itu artinya bahwa mereka harus menghormati yang punya rumah dan patuh terhadap aturan-aturan yang berlaku di desa tersebut. Ingat pepatah "Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung", pun begitu dengan Sade, masuk kesini artinya menghormati segala aturan yang berlaku disini. Salah satu kearifan lokal yang harus dijaga selamanya.

Kamis, 20 November 2014

Batu Payung, Ada Jejak Kita Disini

Perlu banyak part untuk menceritakan tentang keseruan kita selama di Lombok. Terlalu banyak yang ingin diceritakan membuat saya bingung untuk menulis bagian yang mana yang terlebih dulu yang akan saya ceritakan. 3 hari di Lombok, seperti 3 hari bermimpi kemudian bangun lagi ketika senin menyapa untuk kembali bekerja. Seandainya saja tidak ada bukti foto di memory card kamera saya, mungkin saya akan menyangka bahwa saya sedang bermimpi semalam. Bersama dengan mereka, seperti men-charger semangat full selama 3 hari. Semangat saya untuk menggapai mimpi saya tiba-tiba bangkit, meluap-luap tak terbendung. Bagi saya mereka adalah orang-orang keren yang berani melawan arus untuk mengejar apa yang diinginkan. Sedangkan saya, saya hanyalah seoarang perempua biasa yang terjebak dalam kotak 4x3 meter.  Suatu saat saya akan membuktikan kepada Ibu Bapak, "Ini lho Bu, Pak, anakmu bisa."
Curhat, Lulu??? Hehehe, lanjut lagi cerita tentang perjalanan saya selama 3 hari di Lombok kemarin :D
Perjalanan ke Batu Payung
"Kita check out hari ini ya???" Tanyaku pada Zahra. Sebenarnya ini bukan pertanyaan yang mesti dijawab, karena saya sudah tahu kalau ini adalah hari terakhir kita di Lombok, tapi sekedar memastikan dan berbasa-basi saya bertanya lagi.
"Iya, Lu."
3 hari di Lombok, melekat serat dihati saya. Perjalanan kali ini semakin menambah kecintaan saya kepada kota ini, sangat. Pagi ini, jam 08.00 Wita kita mesti check out dari hotel. Teman-teman juga sudah lengkap dengan ransel dan kopernya masing-masing, melihat wajah mereka, tiba-tiba ada perasaan sedih yang datang, wah berpisah dong kita???
Sebelum naik ke dalam bis, kita menyempatkan dulu untuk berfoto ria, sebagai dokumentasi bahwa kita pernah disini. Dari Mataram ke Lombok Selatan menghabiskan waktu kurang lebih 60 menit. Tidak terlalu banyak hal menarik yang bisa kita lihat selama perjalanan menuju Lombok Selatan, yang ada hanya hamparan sawah yang belum sepenuhnya menghijau. Berbeda dengan ketika berangkat ke Lombok Utara, kalau melewati Senggigi, mata akan dimanjakan dengan birunya laut Lombok, dan jika melewati Pusuk, kita akan puas dengan hijaunya hutan Lombok, dan tentu saja bisa puas bermain-main dengan monyet-monyet yang tinggal di hutan Pusuk. Tetapi perjalanan ini begitu menyenangkan, karena kita lebih banyak bercengkerama di dalam bis sembari mendengarkan lantunan lagu-lagu yang diputar pak sopir. Menikmati setiap saat dalam perjalanan adalah hal yang paling membahagiakan, bukan?
Sampai di Tanjung An, pukul 10.00 Wita. Istirahat sebentar, kemudian menyebrang ke Batu Payung. Sebenarnya bisa kok lewat darat, seperti perjalanan saya tahun lalu ke Batu Payung, tetapi sekarang kita ingin menikmati petualang yang lebih seru lagi, makanya menggunakan perahu alias menyebrang. Tidak lama menyebrangnya, hanya 10 menit kita sudah sampai di Batu Payung.
siap2 naik ke perahu

Rabu, 19 November 2014

Pedasnya Bikin Ketagihan

Masih dalam rangkaian acara World Travel Writer Ghatering. Sepulang dari Tiu Kelep kita mampir di warung sate ikan tanjung. Walaupun namanya sate ikan tanjung, tapi kita makannya di Pemenang, Lombok Utara. Sate ini gampang kita temui disepanjang jalan di Lombok Utara.

Sate Ikan Khas Tanjung
Pedasnya langsung menendang lidah pada gigitan pertamanya. Rasa ikan yang khas dengan rempah-rempah asli Indonesia langsung melekat di lidah. Saya paling suka sate ini. Saya bukan penyuka pedas, tetapi memakan sate ini membuat saya lupa bahwa saya tidak suka pedas. Pedasnya membuat saya ketagihan, lagi, dan lagi.
Namanya Sate Ikan Tanjung. Sate ini adalah sate ikan kuliner asli Sasak yang berasal Tanjung, Lombok Utara. Sate ini terbuat dari ikan cakalang, cuma karena ikan itu agak mahal disini dan seringnya juga tidak musim, ikannya sering diganti dengan ikan yang rasanya sama, seperti ikan lamoan, ikan paso dan ikan marlin.
Membuat sate ini ternyata tidak segampang memakannya, ikannya mesti dipisahkan dulu dari durinya, kemudian dipotong kecil dan paling tidak butuh waktu semalam untuk ikan direndam bersama bumbu-bumbu. Kemudian ikan yang sudah direndam tadi barulah bisa diproses lebih lanjut dengan cara dililitkan di tusukan bambu, kemudian dibakar.
Jangan pernah sekali-kali mencoba makan sate ini deh, kalau tidak mau ketagihan. Rasa ikannya itu nendang sekali di lidah, ditambah lagi dengan pedasnya yang bikin maknyoos
Sate ikan khas Tanjung Lombok
sate ikan khas Tanjung Lombok