Minggu, 02 Juni 2013

Enjoy Weekend To Trawangan

Terkadang rencana yang tidak terencanakan dengan matang seringkali terealisasi daripada rencana yang direncanakan dengan matang. Seperti saat ini, rencananya tercetus jum'at malam, ketika iseng-iseng main ke kostan sensei. "bagaimana untuk akhir pekan besok kita main-main ke gili, kan kemarin rencana kita setelah kuta akan ke gili" Kata si sensei. Nah, karena saya juga suka jalan-jalan langsung dah saya mengiyakan rencana itu. Diantara tiga gili, yaitu gili trawangan, gili meno dan gili air, kita lebih memilih untuk jalan-jalan ke gili air. Kenapa gili air?? Pertama, karena gili air lebih sepi dari bule-bule berbikini dan cocok untuk mencari inspirasi menulis. Kedua, ingin melihat langsung penyu-penyu yang naik ke darat untuk bertelur. Ketiga, biasalah toekang potret, cari view yang bagus buat jepret-jepret landscape. Keempat, ada beberapa setting di gili air yang ingin dijadikan objek cerita di novel si sensei. Berbekal info om google dan beberapa teman guide tour akhirnya kita nekat buat merencanakan akhir pekan di gili air. Mumpung tanggal muda, kantong tebal,hehehe. Walaupun aslinya kere, tapi si sensei dan kak cu lagi dompet tebal jadinya gowes aja saya mah^_^. Konsep travelling kita adalah perjalanan senyaman mungkin dengan biaya seminimal mungkin. Jadi, untuk penginapan kita berencana pakai tenda langsung pasang pas untuk orang bertiga, dan makanan kita persiapkan dari mataram. Telepon teman sana-sini buat pinjam tenda, tapi ternyata tendanya dipakai semua. Rubah rencana, searching google penginapan di gili air. Paling rendah ternyata Rp.150.000. Yah bolehlah. Masih menjangkau kantong. 
Keesokan harinya, entah karena apa. Si sensei mulai agak berubah pikiran untuk berangkat ke gili air, karena memang juga persiapan kita yang belum matang, takutnya nanti kita bisa terlunta-lunta disana. Kak cu juga
sepi-sepi saja. Saya akhirnya pesimis bahwa rencana jalan-jalan ini akan jadi. Sampai jam 13.30 Wita dari rencana jalan jam 14.00 Wita, tak ada dari kedua orang itu yang menghubugi saya. Waduuh, gagal dah ne jalan-jalannya, pikir saya. Ya sudah karena merasa kita tidak jadi berangkat, perlengkapan yang saya siapkan saya keluarkan lagi dari dalam tas. Lagi asyiknya leha-leha baca buku, dapat telepon dari kak cu, nanya udah siap-siap belum. Lah, kaget saya kirain tidak jadi berangkat. Perlengkapan yang tak keluarin, lagi tak masukin. Haduuuh..
Pusuk, jalan di pegunungan Lombok Utara
Jam 14.30 Wita, berangkat dari mataram. Sampai di bangsal (pelabuhan untuk penyebrangan ke tiga gili) pukul 15.30 Wita dengan kecepatan 40km/jam. Lelet sangat -_-. Soalnya si sensei tidak berani ngebut. Kata sensei "Pelan dan aman, yang penting sampai". Sampai di bangsal, motor bisa dititipkan di tempat parkir yang banyak tersedia di sana. Tarifnya Rp.5000/hari. Setelah parkir motor langsung menuju ticketing service pelabuhan. Pas pesan tiket ternyata kapal menuju gili air tidak ada jam segitu, ganti rencana ke gili meno, tetangganya gili air. Ternyata gak ada juga, akhirnya terpaksa oh terpaksa memilih gili trawangan. Rencana yang tidak pernah terbayangkan di dalam otak. Mindset saya tentang gili trawangan dan bulenya itu yang tidak bagus itu membuat saya tidak terlalu bersemangat kesana. Kak cu dan si sensei berpositif thingking, mungkin ada rencana Allah buat kita. Sekali lagi, manusia hanyna bisa berencana tetapi Allah yang menentukan. Gili trawangan sekarang adalah tempat yang Allah tentukan untuk kamu datangi.
Tiket sudah di tangan. Rp.10.000/orang. Kita tinggal menunggu beberapa orang lagi untuk penumpang kapal barulah kapal berangkat. Tidak beberapa lama menunggu kapal, ada bapak-bapak cina memaggil kita untuk naik kapal yang dicharternya. Wah, beruntung sekali, pikir kita. Jadi, tidak perlu menunggu lama. Untuk yang pertama kali ke gili, hati-hati calo. Disini banyak sekali calo berkeliaran menawarkan tiket harga murah, saran saya pergi saja ke pembelian tiket resmi agar tidak tertipu. Kemarin kita kena tipu juga soalnya. Pelajaran pertama, hati-hati, jangan mudah percaya orang lain.
Menuju Gili Trawangan
Berangkat dari bangsal pukul 16.00 Wita, tiba di gili trawangan pukul 16.30 Wita. Setengah jam waktu penyebrangannya. Buat yang tidak terbiasa naik kapal mungkin agak sedikit pusing-pusing karena goncangan kapal yang begitu besar. Tetapi percayalah sensasinya itu begitu asyik. Oleng kiri, oleng kanan. Bagi yang takut ombak besar, datangnya bisa pagi hari, karena jam segitu ombak relatif tenang.
Sampai di gili trawangan, hal pertama yang kita cari adalah, masjid. Sholat ashar. Bagaimana pun asyiknya jalan-jalan, menghadap Yang Kuasa tidak boleh lupa.
 
Tiba di Gili Trawangan
Jejeran Kapal

Lombok merupakan kombinasi atraksi alam beserta keindahan pulau-pulau kecil yang disebut gili. Ada tiga gili yang namanya meroket ke mancanegara, yaitu gili trawangan (The Party Island), gili meno (Home Sweet Home), gili air (Relaxation Island). Di ketiga pulau itu terdapat lebih dari 3.500 spesis laut yang hidup, oleh karena itu gili ini dijadikan syurga bagi para penyelam.
Gili trawangan memang benar-benar desa dunia. Semua warga negara dari berbagai penjuru dunia dan berbeda ras berkumpul  di sini. Bedanya gili trawangan dengan pulau-pulau wisata lainnya adalah disini tidak ada kendaraan bermotor. Jadinya bebas polusi. Untuk transportasi ada dua pilihan, sepeda atau cidomo. Mungkin karena hal itulah para turis suka ke gili trawangan. Oh ya, saya suka juga karena disini tidak ada anjingnya. Saya paling takut dengan anjing, jadinya jalan-jalan saya aman ^_^
Tiga orang berjilbab, jalan-jalan sepanjang main street gili trawangan, sontak menarik perhatian orang-orang disana. Assalamu'alaikum. Sapa mereka. Aneh mungkin ya, di tengah orang-orang bule yang tampilannya "begitu" ada perempuan berjilbab tertutup rapi lewat. Dengan penampilan seperti ini, kita merasa terlindungi dan orang-orang juga ramah menegur kita. Ini gaya saya, karena saya muslimah. Mereka saja bangga dengan bikini mereka, kenapa saya yang dengan jilbab saya tidak. Pelajaran nomor dua, asing itu enak juga ternyata ^_^
Di dalam pikiran saya, mencari masjid disini itu susah tapi ternyata tidak. Masjidnya ada di sekitar main street. Jadi sangat strategis. Tepat di depan jalan. Katanya kak cu, maret tahun 2012 yang lalu masjidnya masih dalam bentuk musholla kecil, sekarang sudah di renovasi jadi besar.
Masjid Gili Trawangan
Arsitektur masjidnya juga bagus.
Catatan buat teman-teman muslim yang ingin jalan-jalan ke lombok untuk tidak khawatir susah menemukan masjid atau musholla jika travelling di lombok. Sepanjang jalan di lombok pasti akan menemukan masjid, bisa singgah juga untuk istirahat. Buat teman-teman fotografer yang suka building photography juga bisa sekalian jepret. Arsitektur masjid-masjid di lombok indah-indah. Tidak salah jika Lombok dikatakan bumi seribu masjid.
Habis sholat ashar. Kita tilawah bersama dulu, mendengarkan taujih dan hikmah-hikmah perjalanan kita dari awal hingga sampai pada trawangan. Tiga orang dengan tiga perspektif berbeda.
Bekal kak cu

Perut keroncongan juga. Bekal hasil karya kak cu hampir habis dilahap tiga orang kelaparan yang khilaf. Liat nasi itu seperti melihat harta karun. Benar-benar menggoda. Berhubung kak cu yang pengertian kita orangnya suka kelaparan jadi beliau menyisihkan separuh untuk makan malam. Kalau tidak seperti itu. Habis sama saya semuanya ^_^
Perut sudah terisi, waktunya jalan-jalan keliling gili trawangan.
Teringat buku Tere Liye yang berjudul "Sunset Bersama Rossie" yang juga mengambil setting di Gili trawangan, kita juga ingin menikmati sunset di trawangan. Untuk bisa melihat sunset kita mesti jalan memutar ke belakang pulau. Nasi yang tadinya sudah masuk, turun lagi. Kita kira jarak menuju belakang pulau itu tidak jauh, tapi ternyataaaa alamak jauh juga jika berjalan kaki. Harus pakai kendaraan. Cidomo. Lihat sunsetnya lain kali saja.
Galau. Nempel tembok ^_^
Kembali lagi ke pantai depan trawangan. Pasir putihnya itu benar-benar indah. Pasirnya beda dengan yang ada dikuta. Jika di kuta bermerica tetapi di trawangan pasirnya lembut sekali. Si sensei dan kak cu suka sekali dengan pasir ini. kak cu malah sampai guling-gulingan di pasir. Dont try this at home kawan. Berbahaya.hehe.
Dari gili trawangan kita bisa langsung melihat gili meno dan gunung rinjani. Gili meno memang agak sepi. Pusat hiburan semua ada di gili trawangan. Gili meno lebih banyak cottage dan penginapan jadinya lebih tenang disana dan cocok untuk warga lokal yang mau liburan tanpa bule yang banyak. Gili air juga sepi. (recomended selanjutnya buat jalan-jalan). Diantara kita bertiga yang pernah ke gili trawangan hanya kak cu. Saya dan si sensei belum pernah ke gili jadinya pas sampai, muka saya melongo. Berasa bukan dilombok tapi di luar negeri. Isinya full bule. Wisatawan lokal tidak banyak mendominasi.
Magrib. Kita bertiga sholat masjid jama'ah di pinggir pantai. Syahduu sekali rasanya. Ketika angin laut itu menyapu wajah dan lantunan ayat suci itu dibacakan serasa ada yang masuk ke dalam hati. Dalam.  Maha besar Allah dengan segala ciptaanNya.
Suzanna,hihi
Oh ya lupa, sampai magrib pun kita belum mendapatkan penginapan. Si sensei bilang kita tidurnya di masjid aja. Kak cu saranin kita di pinggir pantai saja. Dua pilihan yang sama-sama susah. Simalakama. Tapi apa boleh buat. Rasakan saja sensasinya. Lupakan tentang penginapan sejenak sekarang adalah waktunya jalan-jalan, melihat suasana malam di trawangan. Sekali lagi, ini seperti bukan di lombok tapi di luar negeri. Suara musik kedengaran kedang-kedung. Bule-bule berseliweran.
Antara suara musik yang kedang-kedung itu akhirnya tiba juga waktunya Isya. Adzan berkumandang. Lagi, lagi dan lagi, seperti bukan di lombok. Antara suara musik dan adzan. Dalaaam sekali rasanya. Seperti ini mungkin ya rasanya hati teman-teman muslim yang tinggal di luar negeri ketika mendengar adzan. Stop jalan-jalan!!!! Kita ke masjid. Wahhh, yang jama'ah laki-lakinya lumayan banyak. Di tempat seperti ini lumayan banyak yang jama'ah di masjid itu luar biasa. Inilah yang Allah ingin perlihatkan kepada saya. Sisi lain gili trawangan. Adzan yang selamanya tidak bisa kau dengar dengan ramai seperti di mataram. Orang-orang yang ikhlas menjejakkan kakinya ke masjid datang sholat jama'ah. Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan????
Selesai sholat isya. Galau cari tempat penginapan. Rapat bertiga dan memutuskan untuk menginap di masjid saja. Aman dan nyaman kok. Bukankah backpacker gayanya juga seperti ini??? Its okey, santai saja, kata si sensei menenangkan. Asyik taujih, tiba-tiba ada bapak-bapak yang datang menghampiri kita, bertanya sudah dapat tempat menginap belum. Wah kebetulan sekali, pikir kita. Bapak itu merasa tidak enak melihat perempuan diam di masjid, takut ada apa-apa. Kultur masyarakat disini masih sangat kental dan menghargai perempuan itu. Buat backpacker perempuan ketika jalan-jalan keliling indonesia masalah utamanya mungkin ada pada penginapan. Jika ingin menghemat biaya, harus bawa tenda kemana-mana kayaknya,hehe.
Bapak itu menghubungi beberapa temannya yang punya homestay, tetapi tidak ada yang kosong. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya kita baru ingat kalau tadi ketika jalan-jalan nyari sunset ada ibu-ibu yang menawari kita penginapan dengan tarif Rp.100.000/malam. Ya kita langsung saja menuju perumahan warga di belakang masjid. Di sana ada banyak homestay milik warga, harganya jauh lebih murah dari yang ada di main street. Tarif hotel-hotel yang ada di main street itu kisaran Rp.500.000/malam sampai jutaan rupiah. Fantastic.  W O W. Ukuran kantong kita mana cukup. Oleh karena itu, kita lebih memilih penginapan warga. Ingat slogan: Konsep travelling kita adalah perjalanan senyaman mungkin dengan biaya seminimal mungkin.
Kamar kita
Alhamdulillah, penginapan yang ditawarkan tadi masih ada yang kosong. Tadinya berfikir akan menggembel, hehehe. Penginapan dengan tarif Rp.100.000/malam itu adalah yang paling murah di gili trawangan.
Di samping itu foto kamar penginapan kita. Tidak buruk kok. Nyaman.
Baiklah, seharian perjalananan lelah juga. Ini waktunya istirahat. Besok lagi dilanjutkan pada sesi Enjoy Weekend ti Trawangan Part 2




6 komentar:

  1. Hahahaha... good... Fotonya oke juga, but who is Suzanna??? *bukan gue

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak kenal kak tu suzanna,hehehe
      nemu dimana mungkin ^_^

      Hapus
  2. Balasan
    1. eh ada kak fery,hehehe
      iya kak, lagi belajar nulis niy. Berawal dari hal-hal kecil kek ginilah ^_^

      Hapus
  3. itu juga dong, foto bule yang lagi beli bakso keliling itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak jelas fotonya itu kak, gelap...

      Hapus

Tinggalkan jejak ya teman-teman, supaya saya bisa berkunjung kembali....
Salam persahabatan Blogger Indonesia ^_^