Rabu, 05 November 2014

Istana Dalam Loka Riwayatmu Kini


istana dalam loka
Istana Dalam Loka ini adalah merupakan istana kerajaan Sumbawa yang dibangun pada pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III (sekitar tahun 1885 M). Saat ini digunakan/dimanfaatkan sebagai "Museum Daerah Sumbawa" tempat penyimpanan benda-benda sejarah Kabupaten Sumbawa. Istana ini merupakan dua bangunan kembar ditopang atas tiang kayu besar sebanyak 99 buah, sesuai dengan sifat Allah dalam Al - Qur'an (Asma'ul Husna). Di Dalam Loka ini kita dapat melihat ukiran motif khas daerah Samawa, sebagai ornamen pada kayu bangunannya. Miniatur Dalam Loka ini dapat dilihat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Sunset di Batu Kuping

Tambah lagi satu tempat keren di Sumbawa untuk menikmati keindahan matahari terbenam, tempatnya bernama Pantai Batu Kuping. Sebelumnya saya pernah nge-post tentang pantai ini, kemarin ketika hunting bareng Om Imran Putra Sasak. Batu Kuping ini adalah nama pantai di Sumbawa, karena bentuknya karangnya yang melengkung menyerupai kuping, makanya dinamakan Batu Kuping. Pantai ini letaknya gak jauh dari pusat kota, dari Brang Biji Sumbawa, 20 menit menggunakan motor dengan trek yang lumayanlah, hehehe. Belum banyak yang tahu lokasi pantai ini, paling yang sering kesini adalah teman-teman traveler Sumbawa dan para fotografer yang ingin hunting sunset, mungkin letaknya yang terpencil dan jalan menuju kesana yang belum bagus membuat orang malas mengunjungi pantai ini. Tapi yang namanya tempat keren, memang memerlukan perjuangan yang sangat untuk bisa kesana...
jembatan kayu yang bikin deg2an

Selasa, 04 November 2014

Framing Sunset

sunset di batu kuping Sumbawa
Dalam bingkai ini, matahari itu pun sejenak menghilang dan bergantikan petang....

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde ke 52: Tema Framing

Main Gerobak Kayak Gini Cuma Ada di Sumbawa

"Sumbawa ternyata tidak hanya tentang main jaran, pulau moyo, susu kuda liar, madu sumbawa, ternyata ada hal menarik dan unik lainnya yang ada di Sumbawa, yaitu perlombaan main gerobak." 
Kemarin sepulang dari jalan-jalan ke Kenawa, kita berencana akan ke Pulau Bungin, ada beberapa hal yang ingin diteliti disana, tetapi pas mau kesana kita terpancing dengan kerumunan masyarakat di Lapangan Kerato, Alas. Pertama saya mengira ada perkelahian antar kampung, karena suaranya yang gaduh, tapi ternyata disana ada perlombaan main gerobak. Ini pertama kalinya saya mendengar kalau ada yang namanya main gerobak di Sumbawa. Saya hanya tahu main jaran saja. Ngakunya cinta Sumbawa, yang kayak gini aja baru tahu sekarang, sakitnya tuh disini (tunjuk dada), hehe. Dari info yang saya dapatkan dari seorang Bapak yang menjadi panitia acara ini, sejak tahun 2000-an perlombaan ini rutin diadakan sekali hingga dua kali setahun (tetapi ini tidak tentu juga, tergantung dari panitiannya), biasanya diadakan ketika hari sabtu dan minggu di Lapangan Kerato, Alas. Biaya yang digunakan murni dari swadaya masyarakat dan uang pendaftaran dari peserta lomba. Perlombaan ini dilakukan sebagai wujud apresiasi terhadap para kusir dokar yang ada di Alas. Good Job pak :D
Kuda-kuda ini tidak sekalem seperti yang ada di foto. Dari daris start sampai finish cuma sekedip mata, kecepatannya luar biasa. Saya berkali-kali gagal dalam mengambil gambar, selalu goyang, dan pas mau mengambil ulang gambar, gerobaknya sudah sampai finish. Cuma bisa ternganga dengan aksi di Bapak. Dan yang hebatnya lagi bukan hanya Bapak-bapak yang ikut, ada juga anak kecil yang ikut. Luar biasa kamu nak :D
perlombaan main gerobak


Senin, 03 November 2014

Rabu, 29 Oktober 2014

Menang GA untuk Pertama Kalinya (GA Mbak Shabrina WS)

Sebenarnya ini kejadian sudah lama, cuma masih tersimpan di draft blog, eh pas buka-buka baru tahu kalau ada postingan yang nyempil belum di post. Ibarat pepatah, lebih baik telat daripada tidak sama sekali, begitu pun saya, daripada telat ngepost daripada gak ngepost sama sekali, hihihi...
Ceritanya 28 Oktober tahun lalu (setahun yang lalu, hehe) saya ikut GA yang diadakan oleh Mbak Shabrina WS, beliau ini adalah penulis novel. Saya belum pernah ikut GA selama jadi blogger, bukan karena tidak tertarik sih, cuma karena waktu itu saya jarang sekali blogwalking jadi info-info GA semacam itu jarang saya dapatkan. Iseng, mungkin itu juga yang ada dipikiran saya saat itu, pengen coba, juga iya sih. Menjejal kemampuan menulis, hehe..
GA-nya sederhana tapi susah sekali, pertanyaannya  adalah "mengapa kamu mau membaca novel 'Betang'?" Saat itu saya sedang dalam posisi yang down sekali, ada banyak hal yang terjadi yang membuat saya dalam posisi seperti itu, mungkin efek dari perasaan saya yang mendalam kali ya yang membuat beliau terenyuh dengan kata-kata saya, hehehe, mungkin lho :D
kata yang saya tuliskan pada GA tersebut..

Selasa, 28 Oktober 2014

Batu Gong, Pantai Keluarga di Sumbawa

Pantai Batu Gong
 Ada satu pantai di Sumbawa yang menjadi destinasi favorit para keluarga untuk liburan, namanya Pantai Batu Gong. Batu Gong dalam bahasa Sumbawa adalah batu yang berbentuk gong (sebuah alat musik tradisional yang terbuat dari leburan logam (perunggu dan tembaga) yang berbentuk bundar besar dengan tonjolan ditengahnya). Konon katanya disini ada batu yang berbentuk gong makanya dinamakan Batu Gong, cuma sampai sekarang saya belum melihat dimana letak batu yang konon berbentuk gong itu. Pantai ini letaknya lumayan jauh dari pusat kota, mengendarai motor sekitar 20 menit (standar kecepatan saya menggunakan motor yang lumayan hati-hati, hehe). Di pantai ini ada banyak penjual makanan yang menjual beraneka macam makanan ringan dan makanan Sumbawa. Jadi, kalau mau ke pantai ini dan tidak mau repot-repot membawa makanan, bisa membawa uang yang banyak untuk membeli makanan disini, soalnya harganya lumayan mahal, standar harga ditempat pariwisatalah. Disekitar pantai ini juga banyak disediakan berugak, yang bisa digunakan pengunjung untuk duduk-duduk. Bersantai di berugak sambil menikmati makanan, atau menyaksikan keramaian anak-anak yang bermain di pantai memang sangat menyenangkan. Ombak disini lumayan besar dan banyak karang-karang kecil yang bisa bikin kaki lecet, jadi mesti ekstra pengawasan kalau membawa anak-anak kemari, tapi tenang saja ombaknya masih dalam kategori aman kok. Ada banyak tempat penyewaan ban untuk berenang, dengan harga yang terjangkau sesuai ukuran ban yang kita inginkan, mulai 5rb sampai 10r. Oh ya kita juga bisa bermain banana boat disini, dengan harganya yang lumayan terjangkau dan bisa dinego-nego, hehehe.

Senin, 27 Oktober 2014

Peacefull Moment

kopi dan matahari orange

Duduk di pinggir pantai dengan segelas kopi hangat dan matahari orange adalah kedamaian yang tak terkira. Lalu kita akan bercerita tentang banyak hal, hingga tak sadar kopi ini beranjak pada gelas berikutnya, dan matahari pun hilang. Ah ini benar-benar kedamaian yang sempurna, karena ini tentang kopi, matahari orange dan kamu....

NB: Foto ini diikutsertakan pada Turnamen Foto Perjalanan Ronde 51, Tema : Peacefull

Kamis, 23 Oktober 2014

Menunggu Matahari Terbit di Bukit Kenawa

serasa gembel, hihihi
Kenawa itu serasa privat island. Tak ada orang lain selain kita disana, apalagi pas malam, sepinya terasa sekali. Yang terdengar hanya deburan ombak dan semilir angin laut yang menambah syahdu suasana. Kayaknya tempat ini cocok dijadikan tempat menengkan diri, soalnya sepi dari hingar bingar kota. Tapi Kenawa tak setenang yang terlihat, mesti ekstra hati-hati disini, soalnya pas malam banyak ular laut yang naik ke daratan, ular laut ini sangat berbahaya daripada kobra, gigitannya bisa membuat manusia mati seketika. Saran saya kalau mau menginap lebih baik buat tenda diatas berugaknya saja, lebih aman dan terjaga, dan mesti banyak bawa persediaan air, disini tak ada sumur air tawar, jadinya susah kalau mau BAB, dan hal-hal yang berurusan dengan bebersih.
Jam 8 malam, dinginnya sudah mulai terasa, tak ada diantara kita yang membawa perlengkapan yang cukup, hanya membawa beberapa potong baju dan kain pantai. Semua baju yang ada di tas dipakai bertumpuk-tumpuk supaya hangat, bahkan mukenah pun jadi selimut kita. Yang kasian itu Kak Adit dn Ginty, baju yang mereka bawa hanya baju yang mereka kenakan saja, jadi bayangkan saja betapa menderitanya mereka menahan dinginnya angin laut. Ini pengalaman kemah yang tak terlupakan selama travelling saya :D
Lagi, kopi pun sukses mendinginkan badan kita, walau gara-gara kopi itu aku sukses tak tidur semalaman...hahaha
Demi menyaksikan sunrise yang amazing, jam 4 kita sudah bangun. Setelah cuci muka dan sholat kita langsung menuju puncak bukit. Sebenarnya puncak bukitnya tidak terlalu tinggi, tetapi berhubung kita semua pakai sandal teplek jadinya agak licin pas mendaki.

Rabu, 22 Oktober 2014

Menunggu Matahari Terbenam di Kenawa

Kalau kata om Om Imran, kalau cuma buat panas-panasan ngapain ke Kenawa, yang paling seru itu kemah terus nikmati sunset dan sunrisenya yang luar biasa. Dan ternyata benar, sunsetnya itu keren sekali. Duduk-duduk dipinggir pantai, melihat matahari terbenam sambil meminum segelas kopi putih itu adalah sore yang paling indah. Seharian berlelah-lelah dengan ombak pantai kenawa, sekarang saatnya santai dengan matahari orange di depan mata, yihuuuui,,,
sunset di kenawa