Tampilkan postingan dengan label Pulau Moyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pulau Moyo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 April 2023

Jodoh Pertemuan

Si Cute Whale Shark :)


Saya percaya bahwa tidak pernah ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Kapan kita bertemu, di mana kita bertemu dan bagaimana cara pertemuan itu, pasti sudah diatur dengan baik. Jika memikirkan bagaimana cara Allah mengatur perihal pertemuan itu, sungguh otak tidak akan sanggup, karena jauh dinalar kita sebagai manusia biasa. Allah sebaik-baik sutradara hidup ini.  

Saya ingat sekali malam itu, tiba-tiba ada nomor baru yang menghubungi saya melalui watsapp, katanya ada temannya yang ingin dibuatkan boneka rajut berbentuk whale shark di @anakpapabandy.craft (usaha crafting khusus rajutan yang saya buat). Saya mengiyakan, tetapi tidak bisa berjanji akan bisa selesai dengan cepat karena pekerjaan sekolah sedang banyak-banyaknya. Keesokan harinya temannya itu kemudian menghubungi saya lagi. Bertanya-tanya beberapa hal tentang amigurumi whale shark yang sempat saya bahas di chat sebelumnya. Melalui obrolan kita di watsapp, saya baru tahu kalau ternyata boneka rajut yang dia pesan itu spesial untuk souvenir para tamu yang menginap di Amanwana Resort. Mendengar kata Amanwana Resort, pikiran saya langsung melayang jauh. Demi apa pun saya tidak pernah menyangka bahwa boneka rajut buatan saya bisa masuk ke resort besar sekelas Aman. Amanwana merupakan satu-satunya resort super mewah yang menawarkan konsep glamping yang ada di Pulau Moyo, Sumbawa. Banyak tokoh-tokoh besar, baik nasional maupun internasional yang pernah kesini. Lady Diana menjadi

Senin, 15 Mei 2017

My Brother, My Travel Mate



Kak Amenk, Saya dan Abil di atas bukit Rajasua Pulau Moyo

Abil. Mulutnya item habis makan cumi :P Lokasi: Tanjung Pasir Pulau Moyo
Karena beberapa kali menulis tentang Pulau Moyo di blog, saya akhirnya menjadi sasaran tempat bertanya teman-teman tentang pulau itu. Bertanya tentang transportasi menuju kesana, itinerary bahkan destinasi-destinasi apa saja yang harus dikunjungi selama di sana. Saya berasa menjadi pejalan yang bermanfaat bagi pejalan yang lain ketika apa yang saya tuliskan bisa menjadi rekomendasi perjalanan mereka. Dan selalu saja, Abil, adik bungsu saya, menjadi travel mate saya setiap ada teman yang meminta ditemani ke Pulau Moyo. Dia sangat menyukai laut. Tidak ada akhir pekan tanpa bermain dengan ikan-ikan di laut. Sampai Ibu geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
Seperti liburan kali ini, Kak Amenk, kakak senior ketika di Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP Universitas Mataram meminta untuk ditemani ke Pulau Moyo. Kak Amenk mengabari bahwa libur 3 hari di bulan ini, dia akan datang ke Sumbawa bersama beberapa temannya. Beliau meminta saya untuk menemaninya ke Pulau Moyo, yah hitung-hitung reunian selama di BEM FKIP dulu. Abil menjadi orang pertama yang saya kabari perihal keberangkatan ke Pulau Moyo. Bagi saya dia adalah pawangnya Pulau Moyo. Selalu merasa aman jika melakukan perjalanan keliling pulau bersamanya. Tentunya saja karena dia selalu bisa memanjakan kakaknya ini dengan ikan-ikan segar dari laut Pulau Moyo.
“Wajar juga sih kalau adikmu itu jadi suka laut, Kakek dan Buyutmu juga banyak yang jadi pelaut. Jadi ya nular ke adikmu.” Kata Ibu suatu waktu. Semua anak-anaknya Ibu sangat menyukai laut, kecuali Huda adik saya yang nomor 1. Dia tidak begitu suka jalan-jalan, baginya istirahat yang paling enak itu ya berdiam diri di kamar. Beda dengan kita bertiga, istirahat yang paling enak itu ya jalan-jalan, main ke pulau, lalu tiduran di atas pasir putihnya dan memandangi langit biru Sumbawa.

Minggu, 05 April 2015

Mata Jitu: Sekeping Surga di Tanah Sumbawa

Selamat datang di Pulau Moyo
Ketika menyebut Sumbawa, bayangan tentang keindahan Pulau Moyo pasti langsung terlintas di pikiran. Wajar saja, karena Pulau Moyo adalah satu dari sekian banyak kepingan surga yang terhampar di tanah Sabalong Samalewa ini. Saya jatuh cinta dengan Pulau Moyo pada pandangan pertama. Segala keindahan yang tersaji disana membuat saya rindu untuk kembali, lagi dan lagi. Snorkling di lautannya yang jernih nan cantik, berendam di Mata Jitu, atau sekedar menghabiskan malam dengan kemah di pinggir pantainya yang indah adalah satu dari sekian sensasi perjalanan yang ditawarkan Pulau Moyo.
kampung Labuan Aji Pulau Moyo
Penyebrangan menuju ke Pulau Moyo hampir setiap hari selalu tersedia di pelabuhan-pelabuhan Sumbawa, terutama melalui jalur penyebrangan di Pelabuhan Kampung Pasir atau Boa Brang. Setiap harinya akan ada masyarakat dari Labuan Aji Pulau Moyo yang akan menuju ke Sumbawa untuk membeli segala kebutuhan hidupnya, sepulangnya dari berbelanja kita bisa ikut nyebrang bersama perahu mereka. Bisa juga melalui Desa Ai Bari, desa nelayan yang terletak di Kecamatan Moyo Utara. Ada banyak nelayan yang menyediakan penyebrangan ke Pulau Moyo, saya biasanya menggunakan jasa penyebrangan milik Bapaknya Ichal, Pak Yakub. Selain harganya terjangkau di kantong, orangnya juga ramah dan supel, sehingga perjalanan selalu menyenangkan jika bersama beliau.
Waktu penyebrangan dari Sumbawa ke Pulau Moyo adalah sekitar dua jam, bisa juga lebih tergantung dari kondisi cuaca. Jika kondisi lautnya tenang, kita bisa tiba di Pulau Moyo dalam waktu dua jam. 
Satu yang menjadi daya tarik Pulau Moyo adalah Air Terjun Mata Jitu. Air terjunnya sangat cantik dengan paduan biru dan tosca yang eksotis. Airnya sangat jernih, kalau bahasa hiperbolanya, jarum yang jatuh ke dasar Mata Jitu pasti akan terlihat. Memakan waktu kurang lebih satu jam trackking dari kampung Labuan Aji menuju Mata Jitu.

Belajar dari Sebuah Perjalanan

Kamis, 2 April 2015
Beberapa jam yang lalu saya masih berkutat dengan segala kesibukan di kampus. Rapat dengan mahasiswa, persiapan seminar dan ini itunya yang membuat kepala ini pusing tujuh keliling. Hujan juga tak kunjung mereda. Belum lagi memikirkan izin dari Ibu yang belum saya kantongi. Beberapa kali menekan keypad di HP, mencoba menuliskan sepatah dua patah kata permohonan maaf kepada teman-teman untuk tidak bisa mengikuti perjalanan ke Pulau Moyo kali ini, tetapi pesan itu saya hapus kembali. Takut teman-teman kecewa, karena saya sudah mengiyakan jauh-jauh hari sebelumnya. Jika memang ada ‘jodoh’ untuk bisa kesana, entah dengan cara apa Allah akan membawa saya kesana. Sekarang waktunya berserah diri atas segala takdir Allah, mengikuti segala rencana yang tersaji di depan. Seperti air yang mengalir mengikuti kemana aliran membawanya. Dengan segala kerendahan hatinya menerima perjalanan-perjalanan itu dengan ikhlas. Saya juga harusnya seperti itu, seperti air yang mengalir: ikhlas menerima.
Pukul 19.30 Wita
Duur, duur, duuur, duur…

Suara perahu klotok milik Bapaknya Ichal langsung memecah keheningan laut Sumbawa. Malam ini laut begitu tenang, angin pun berhembus perlahan, riak ombak malu-malu mengganggu perjalanan kami. Semesta seakan berkolaborasi menciptakan satu perjalanan  yang tak akan terlupakan bagi kami. Skenario indah yang tak terencana bagi para pejalan. Tidak ada yang kebetulah. Tentu saja. Karena sebelum kami berencana, Allah telah terlebih dahulu menuliskan segala cerita untuk kami dalam bukunya yang agung: Lauhul Mahfudz. Kami hanya eksekutor dari segala rencana-rencanaNya. Ibarat sebuah film, kami adalah artisnya, dan Allah adalah penulis skenarionya. Penulis skenario tahu mana scene yang baik untuk artisnya dan mana yang tidak.
“Gak nyangka kita jadi juga ke Pulau Moyo.” Celoteh Mbak Elly, teman di Adventurous Sumbawa yang juga menjadi otak dalam perjalanan kali ini.
“Iya Mbak, padahal tadi saya masih pusing dengan seminar-seminar di kampus. Tak kirain bakal gak jadi kita berangkatnya, hehehe.”
“Itulah rencana Allah.”
siap2 berangkat

Selasa, 03 Februari 2015

Perjalanan Menakjubkan ke Tanjung Pasir Pulau Moyo

"Destinasi bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Yang paling penting dari sebuah perjalanan itu adalah ya proses perjalanannya itu sendiri. Tidak Ada yang bisa menggantikan harumnya uap air garam yang menempel di kulit, tidak ada yang lebih nikmat dari menyesap aroma debu jalanan yang baru saja di guyur hujan, Dan tiada pernah ada yang lebih membahagiakan dari melihat senyum dan tingkah polah sahabat-sahabat baru yang kita temui di jalanan." Bolang Lost Packer

Perjalanan itu bukan terletak pada destinasi yang akan kita tuju tapi proses perjalanan itu, salah satu status FB dari Mas Bolang Lost Packer yang jleb banget. Yup benar, seindah apapun destinasi yang kita tuju tetapi jika hati tidak 'nyaman' yakinlah semuanya tidak akan terasa nikmat. Setelah nekat melakukan perjalanan bertiga, terkena badai yang sedikit membuat takut, hingga terdampar dengan orang-orang baru di Tanjung Pasir, semuanya adalah proses dari perjalanan itu sendiri. Setiap saat adalah refreshing, semua tergantung dari hati memaknainya seperti apa.
Semua Tak Terencana
Baca cerita sebelumnya.
Semalaman Ai Bari diguyur hujan lebat, walaupun kita tidak bertenda ria dipinggir pantai yang pastinya membuat badan basah kuyup tetapi tetap saja ketakutan-ketakutan itu datang. Terutama ketakutan akan cuaca seperti ini yang tidak berhenti hingga besok pagi, rencana untuk snorkling di Tanjung Pasir Pulau Moyo bisa gagal. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk besok, jika memang hujan tidak mengizinkan untuk mengecup indahnya bawah laut Pulau Moyo, berarti memang Allah sedang merencakan sesuatu yang indah untuk kita. 
Selamat pagi, view dari villa kece tempat kita menginap
jump shoot, view tambora di belakang

Senin, 02 Februari 2015

The Worst Thing it Can Be The Best Thing, Karena Ada Hikmah di Setiap Perjalanan


Membutuhkan waktu dua kali pertemuan untuk memantapkan rencana kemah ini. Rapat untuk menyiapkan segala perlengkapan yang kita butuhkan, list siapa saja yang akan ikut kemah, hingga kegiatan-kegiatan apa saja yang harus kita lakukan ketika sampai dilokasi kemah. Kemah sehari semalam saja kok rempong-nya seperti ini, pikir saya dalam hati. Kemah kali ini adalah ajang reuni bagi teman-teman FKPS(Forum Komunikasi Pemuda Samawa), yang merupakan organisasi kepemudaan yang ada di Sumbawa, beberapa anggotanya termasuk Ketua Umum sedang pulang berlibur ke Sumbawa, dan itu menjadi moment yang tepat untuk kita berkumpul, sekedar berbagi cerita selama dirantauan.  Saya membayangkan ini akan menjadi reuni yang menyenangkan untuk kita.
Ai Bari menjadi lokasi kemah kita. Ai Bari merupakan sebuah desa nelayan yang terletak di Kecamatan Moyo Utara. Butuh waktu 30 menit dari pusat kota Sumbawa untuk menuju daerah tersebut, tepat di depan Ai Bari, Pulau Moyo membentang indah. Jika pagi hari, di sisi kiri dan kanan Ai Bari akan tergambar indah Gunung Tambora dan Gunung Rinjani, gunung maha dahsyat yang ada di NTB. Ai Bari juga kita pilih sebagai lokasi kemah karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan Tanjung Pasir Pulau Moyo (salah satu spot snorkling di Pulau Moyo), sehingga memudahkan kita jika ingin menyeberang kesana.
Rencana dengan Eksekusi Terburuk
Sabtu 31 Januari 2014. Judulnya sih Fun Camp FKPS, tetapi saya tidak tahu apakah ini akan menjadi fun atau tidak, karena hingga pukul 14.00 Wita saya sudah mendengar beberapa kabar yang kurang membahagiakan, mulai dari sms izin beberapa teman yang awalnya positif ikut menjadi tidak bisa, hingga dari keterlambatan teman-teman yang membuat kita mesti menunggu. Semangat saya mulai menggalau, kawan. Saya sudah menyiapkan segala perlengkapan untuk kemah, makanan dan obat-obatan, bahkan izin dari orang tua yang tidak gampang untuk saya kantongi, konyol kan namanya kalau saya pulang dan mengatakan tidak jadi kemah hanya karena tidak ada yang bisa ikut. Dua setengah jam menunggu, yang pasti berangkat baru 3 orang, saya, Kak Oby dan Umam. What?? Rasanya ingin menangis guling-guling di pojokan -_-
Pukul 16.00 Wita hujan mengguyur Sumbawa. Kita sudah mulai pesimis apakah rencana kemah kita akan tetap dilaksanakan.
“Saya heran kok bisa orang dengan gampangnya men-cancel janji yang sudah matang di iya-kan, saya ndak mau kita gagal kemah hanya karena orang-orang yang tidak bisa menepati janji.” Saya menggerutu sebal.
“Ya sudah, ayo kita jalan walau hanya bertiga, ini pasti akan menyenangkan.” Kak Oby menyemangati kami. Ah ini perjalanan dengan eksekusi yang paling mengecewakan yang pernah saya alami. Hujan yang baru saja turun menyejukkan tanah Sumbawa benar-benar tidak bisa menyejukkan hati saya yang terlebih dahulu panas. Lebih baik mengatakan tidak dari awal, daripada iya dan membuat kecewa, hiks. Tapi ya sudahlah, mungkin ada hikmah dibalik keberangkatan kita yang hanya 3 orang ini.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Sumbawa di Festival Moyo

Pawai Budaya Sumbawa pada pembukaan festival moyo 2014
Sebagai upaya promosi budaya dan peningkatan kunjungan wisatawan ke Pulau Sumbawa, maka sejak tahun 2012 Pemkab Sumbawa menyelenggarakan Festival Moyo.
Festival ini sangat dinanti oleh hampir seluruh rakyat Sumbawa. Banyak juga wisatawan dari luar Sumbawa yang datang untuk menyaksikan festival ini, terutama para fotografer yang ingin mengabadikan momen budaya yang disuguhkan. Untuk tahun 2014 ada beberapa acara yang akan ditampilkan, yaitu pekan budaya samawa, pawai budaya, sarembang ratib, expo, maen jaran atau pacuan kuda, sepeda gunung, jelajah wisata motor, diving di Pulau Moyo, samawa basarune, hingga barapan kebo yakni atraksi karapan kerbau yang unik yang ada di Pulau Sumbawa.

Selasa, 16 September 2014

Pulau Moyo, GoodBye :(

Waktunya pulang pemirsaaaaa...
Dua hari disini sangat menyenangkan. Dua hari yang melelahkan sekaligus menggembirakan. Tapi hidup tidak melulu tentang jalan-jalan dan senang-senang, ada banyak hal yang mesti dituntaskan setelah sampai rumah, dan itu adalah pekerjaan kantor yang menumpuk. Semoga libur nanti bisa kembali lagi kesini, Aamin.
Jam 13.30 Wita, kapal berangkat. Kita menghindari pulang siang-siang, soalnya ombak besar, tapi apalah daya keasyikan main di Diwu Mba'i, jadi bikin kita semua kalap dan lupa waktu. Hanya bisa berdoa supaya ombak tidak menghantam kita diperjalanan nanti.
Labuhan Aji Pulau Moyo

Jelajah Sumbawa, Episode Pulau Moyo (Air Terjun Diwu Mba'i)

Baca tulisan saya sebelumnya tentang Pulau Moyo sama Air Terjun Mata Jitu

Sehari di Pulau Moyo memang tidak cukup untuk mengeksplore semua keindahan alamnya. Pas kesana baru bisa ke Air Terjun Mata Jitu dan Air Terjun Diwu Mba'i saja, masih ada satu air terjun lagi yang belum kita datangi. Terus pantai pasir putihnya yang eksotisnya pun belum saya jadikan kasur buat guling-gulingan, selfie sana selfie sini,hehehe, dan menyedihkannya lagi belum sempat say hello sama karang dan ikan-ikannya yang lucu. Oke wait, saya pasti akan kesana lagi.
Hari kedua di Pulau Moyo kita pake buat beres-beres kemah, masak dan main-man ke air terjun Diwu Mba'i, itu pun main-mainnya tidak bisa lama-lama, soalnya kalau kesiangan pulang, kita bisa dihantam ombak.
Jam 09.00 Wita kita sudah selesai beres-beres barang, bersihkan lokasi kemah (Jangan sampai pas datangnya bersih, terus pulang meninggalkan sampah), masukkan barang-barang ke kapal, dan perjalanan kami di Pulau Moyo pun dilanjutkan ke air terjun Diwu Mba'i. Diwu Mba'i ini berasal dari bahasa Bima yang artinya kolam buaya (Diwu artinya kolam, Mba'i artinya buaya), konon menurut warga sekitar dulunya kolam air terjun ini pernah ditinggali oleh seekor buaya, makanya dinamakan Diwu Mba'i. Tapi tenang saja, sekarang sudah tidak ada lagi buayanya, jadi aman tentram buat mandi dan nyebur-nyebur.
Jalan menuju air terjun Diwu Mba'i
Air Terjun Diwu Mba'i, unik soalnya ada  tali buat gantungan

siap-siap, satu dua tiga dan byuuuuuur

Senin, 15 September 2014

Jelajah Sumbawa, Episode Pulau Moyo (Air Terjun Mata Jitu)

Untuk tahu segala hal tentang Pulau Moyo bisa baca dulu postingan saya sebelumnya. Buat teman-teman yang baru kesana bisa baca-baca dulu infonya untuk menambah referensi jalan-jalan ke Moyo,hehehe.
Ini seperti mimpi, dan rencana yang menakjubkan bagi saya. Berkali-kali berencana kesana bersama beberapa orang teman tetapi selalu saja gagal, dan akhirnya bisa kesana tanpa perencanaan yang matang, alias modal nekat saja. Fix keputusan berangkat hari kamis, kemudian seorang teman mencarikan kapal, tanpa guiding (karena diantara 67 orang yang akan kesana tak ada satu pun yang pernah pergi, jadi kita sangat buta info), tanpa persiapan yang benar-benar matang, hanya berbekal Bismillah dan keberanian yang nekat kita berangkat. Menginap sehari, sabtu minggu di Pulau Moyo.
Sampai di Pulau Moyo, kita beres-beres dan membangun tenda. Setelah itu lanjut trackking ke air terjun Mata Jitu. 7,5 Km dari Desa Labuhan Aji. Kalau gak kuat jalan, bisa kok sewa motor warga, tapi bayarnya lumayan mahal, Rp.100.000, jadi jalan kaki rupanya lebih menyehatkan kantong,hehehe
Istirahat dan foto-foto dulu, lumayan jalan 7,5 km

Pulau Moyo, Mahal? Kata Siapa??



Dermaga Labuhan Aji Pulau Moyo


“Ada banyak kesalahpahaman di dunia ini terjadi karena ketidaktahuan kita tentang sesuatu. Oleh karena itu, kita diminta untuk pergi berkeliling, menjelajah ke setiap pelosok negeri agar kesalahpahaman itu tidak terus berlanjut.” (Tere Liye)

Selama ini saya mengira bahwa untuk ke Pulau Moyo kita perlu merogoh kocek yang lumayan dalam bahkan hingga membuat kantong bolong.  Selama ini saya mengira bahwa segala sesuatu yang sudah tereskpose dan menjadi mindset pariwisata akan mahal segala sesuatunya.  Apalagi ketika mendengar nama Lady Diana yang pernah kesana juga, semakin takut (karena mahal) dan tertanglah untuk kesana. Saya selama ini juga mengira akses kesana susah, terus ombaknya yang besar itu membahayakan kita yang menyeberang kesana. Teryata segala perkiraan itu terbantahkan, telak. Sabtu 13 September 2014, saya dan teman mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa pergi ke Pulau Moyo dalam rangka pembubaran panitia ospek. Dreams Come True, beib. Sudah lama memimpikan datang ke pulau moyo, tetapi selalu terhalang beberapa hal, terutamanya adalah tentang pikiran saya yang masih menganggap bahwa untuk ke Pulau Moyo itu mesti punya banyak uang. Sama sekali tidak, ketika sampai disana ada banyak ‘kejutan’ yang kita terima.