Tampilkan postingan dengan label Tanjung Pasir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanjung Pasir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Februari 2015

Perjalanan Menakjubkan ke Tanjung Pasir Pulau Moyo

"Destinasi bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Yang paling penting dari sebuah perjalanan itu adalah ya proses perjalanannya itu sendiri. Tidak Ada yang bisa menggantikan harumnya uap air garam yang menempel di kulit, tidak ada yang lebih nikmat dari menyesap aroma debu jalanan yang baru saja di guyur hujan, Dan tiada pernah ada yang lebih membahagiakan dari melihat senyum dan tingkah polah sahabat-sahabat baru yang kita temui di jalanan." Bolang Lost Packer

Perjalanan itu bukan terletak pada destinasi yang akan kita tuju tapi proses perjalanan itu, salah satu status FB dari Mas Bolang Lost Packer yang jleb banget. Yup benar, seindah apapun destinasi yang kita tuju tetapi jika hati tidak 'nyaman' yakinlah semuanya tidak akan terasa nikmat. Setelah nekat melakukan perjalanan bertiga, terkena badai yang sedikit membuat takut, hingga terdampar dengan orang-orang baru di Tanjung Pasir, semuanya adalah proses dari perjalanan itu sendiri. Setiap saat adalah refreshing, semua tergantung dari hati memaknainya seperti apa.
Semua Tak Terencana
Baca cerita sebelumnya.
Semalaman Ai Bari diguyur hujan lebat, walaupun kita tidak bertenda ria dipinggir pantai yang pastinya membuat badan basah kuyup tetapi tetap saja ketakutan-ketakutan itu datang. Terutama ketakutan akan cuaca seperti ini yang tidak berhenti hingga besok pagi, rencana untuk snorkling di Tanjung Pasir Pulau Moyo bisa gagal. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk besok, jika memang hujan tidak mengizinkan untuk mengecup indahnya bawah laut Pulau Moyo, berarti memang Allah sedang merencakan sesuatu yang indah untuk kita. 
Selamat pagi, view dari villa kece tempat kita menginap
jump shoot, view tambora di belakang

Senin, 02 Februari 2015

The Worst Thing it Can Be The Best Thing, Karena Ada Hikmah di Setiap Perjalanan


Membutuhkan waktu dua kali pertemuan untuk memantapkan rencana kemah ini. Rapat untuk menyiapkan segala perlengkapan yang kita butuhkan, list siapa saja yang akan ikut kemah, hingga kegiatan-kegiatan apa saja yang harus kita lakukan ketika sampai dilokasi kemah. Kemah sehari semalam saja kok rempong-nya seperti ini, pikir saya dalam hati. Kemah kali ini adalah ajang reuni bagi teman-teman FKPS(Forum Komunikasi Pemuda Samawa), yang merupakan organisasi kepemudaan yang ada di Sumbawa, beberapa anggotanya termasuk Ketua Umum sedang pulang berlibur ke Sumbawa, dan itu menjadi moment yang tepat untuk kita berkumpul, sekedar berbagi cerita selama dirantauan.  Saya membayangkan ini akan menjadi reuni yang menyenangkan untuk kita.
Ai Bari menjadi lokasi kemah kita. Ai Bari merupakan sebuah desa nelayan yang terletak di Kecamatan Moyo Utara. Butuh waktu 30 menit dari pusat kota Sumbawa untuk menuju daerah tersebut, tepat di depan Ai Bari, Pulau Moyo membentang indah. Jika pagi hari, di sisi kiri dan kanan Ai Bari akan tergambar indah Gunung Tambora dan Gunung Rinjani, gunung maha dahsyat yang ada di NTB. Ai Bari juga kita pilih sebagai lokasi kemah karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan Tanjung Pasir Pulau Moyo (salah satu spot snorkling di Pulau Moyo), sehingga memudahkan kita jika ingin menyeberang kesana.
Rencana dengan Eksekusi Terburuk
Sabtu 31 Januari 2014. Judulnya sih Fun Camp FKPS, tetapi saya tidak tahu apakah ini akan menjadi fun atau tidak, karena hingga pukul 14.00 Wita saya sudah mendengar beberapa kabar yang kurang membahagiakan, mulai dari sms izin beberapa teman yang awalnya positif ikut menjadi tidak bisa, hingga dari keterlambatan teman-teman yang membuat kita mesti menunggu. Semangat saya mulai menggalau, kawan. Saya sudah menyiapkan segala perlengkapan untuk kemah, makanan dan obat-obatan, bahkan izin dari orang tua yang tidak gampang untuk saya kantongi, konyol kan namanya kalau saya pulang dan mengatakan tidak jadi kemah hanya karena tidak ada yang bisa ikut. Dua setengah jam menunggu, yang pasti berangkat baru 3 orang, saya, Kak Oby dan Umam. What?? Rasanya ingin menangis guling-guling di pojokan -_-
Pukul 16.00 Wita hujan mengguyur Sumbawa. Kita sudah mulai pesimis apakah rencana kemah kita akan tetap dilaksanakan.
“Saya heran kok bisa orang dengan gampangnya men-cancel janji yang sudah matang di iya-kan, saya ndak mau kita gagal kemah hanya karena orang-orang yang tidak bisa menepati janji.” Saya menggerutu sebal.
“Ya sudah, ayo kita jalan walau hanya bertiga, ini pasti akan menyenangkan.” Kak Oby menyemangati kami. Ah ini perjalanan dengan eksekusi yang paling mengecewakan yang pernah saya alami. Hujan yang baru saja turun menyejukkan tanah Sumbawa benar-benar tidak bisa menyejukkan hati saya yang terlebih dahulu panas. Lebih baik mengatakan tidak dari awal, daripada iya dan membuat kecewa, hiks. Tapi ya sudahlah, mungkin ada hikmah dibalik keberangkatan kita yang hanya 3 orang ini.