Minggu, 22 Juni 2014

Jelajah Eksotisme Sumbawa, Episode Pantai Labu Sawo

Hai para traveller.....
Lulu datang lagi nih dengan cerita jalan-jalan yang baru lagi,hehehe. Kalau kemarin blog isinya full dengan cerita jalan-jalan Lombok, sekarang tentang Sumbawa. Ini perjalanan keliling Sumbawa untuk yang pertama setelah kembali lagi ke kampung :D
Pantai ini namanya Labu Sawo, letaknya di Kecamatan Moyo Hulu, Desa Penyaring. Selama ini Desa Penyaring terkenal dengan permen susu sapinya yang mampu menggoyang lidah orang, dan atraksi main jarannya yang mampu juga membuat orang berdecak kagum, ternyata ada juga pantainya yang bisa menjadi tempat asyik untuk liburan keluarga, namanya Labu Sawo. Letaknya tak jauh dari pusat Kota Sumbawa, hanya 30 menit perjalanan. Akses menuju kesana juga bagus, jalannya sudah diaspal, hanya sebagian yang belum.
Pantai ini bukan pasir putih seperti yang ada di Lombok, tetapi untuk keluarga yang ingin mengajak anak-anaknya main ke pantai tanpa takut dengan ombak besar atau karang yang tajam pantai ini bisa jadi pilihan, selain itu pemandangan pantai ini juga indah, dengan Pulau Moyo yang ada di depannya.
Labu Sawo
Kepitingnya numpang narsis
Berjemur dulu ah... ^_^
Labu Sawo
Pantai ini kotor bukan karena sampah manusia, tetapi karena bekas kayu bakau yang mati. Seingat saya dulu ketika SMA, tahun 2008 ada banyak bakau yang hidup disini, entah mengapa sekarang kondisinya jadi begini. Harusnya pemerintah setempat bisa melihat dan memperhatikan potensi tersembunyi seperti ini. Pariwisata mindset,lah.
ternyata pantai ini bisa juga dijadikan tempat paralayang

ayooo berenang..
walaupun masih kecil, fathir jg gak mau kalah ^_^
Seandainya pemerintah sedikit lebih memperhatikan nasib pantai ini, saya yakin bisa jadi destinasi favorit warga Sumbawa, bahkan NTB.

Selasa, 10 Juni 2014

Jalan-jalan Keliling Kampung

Gak ngeblog beberapa bulan rasanya seperti telah kehilangan ribuan kabar teman-teman blogger. Kangen maksimal emaaaak, serius. 
Hai apa kabar kalian??
Baik-baik sajakah....
Hampir 3 bulan berada di kampung halaman, tetapi rasanya tidak sama seperti di Lombok kemarin. Banyak hal baru yang saya dapat, penyesuaian dengan dunia baru. Padahal ini kampung saya sendiri, tempat saya besar, bermain belajar, tapi kok seperti baru masuk hutan, menerabas dan meraba-raba mana tempat yang baik untuk ditanami tanaman. Maka dari itu untuk mengenal kembali kampung saya, seminggu awal di rumah hal pertama yang saya lakukan yaitu jalan-jalan. Tetap ya, dimanapun dan kapanpun hal yang ada di otak cuma jalan-jalan dan jalan-jalan. Travelling is the part of my life, kata orang kampung saya. Walaupun jalan-jalannya rada tidak jelas, travelling must go on, no matter what happen.
Awal pulang kampung, pertanyaan pertama yang saya tanyakan ke Ibu "Bu, mana tempat asyik di Sumbawa untuk jalan-jalan." Ibu yang dengar langsung geleng-geleng kepala. "Tidak di Lombok, tidak di rumah, pikirannya jalan-jalan saja, mbok ya pikirin testnya dulu, jalan-jalannya nanti."
Seperti yang pernah saya katakan di beberapa cerita saya terdahulu, zaman kecil saya tergolong anak rumahan, kerjaannya sekolah rumah, sekolah rumah, bisa dihitung jari kapan saya pergi main ke pantai atau tempat rekreasi, makanya pas ditanya tempat oke di Sumbawa, saya geleng kepala gak tahu apa-apa. Saya lebih mengenal Lombok, daripada kampung sendiri. Malu mak, maluuu gak kenal kampung.
Jalan-jalan gak perlu jauh-jauh ya, keliling dekat rumah juga gak masalah. Ternyata ada banyak view menarik di rumah saya.
Bukit dekat rumah
Narsis mak ^^

Adek juga gak mau kalah

Tempat jalan-jalan pertama saya adalah bukit dekat rumah. Di atas bukit itu saya bisa melihat view Kota Sumbawa dari atas. Kalau nongkrong di bukit ini, saya jadi teringat drama-drama korea, biasanya di drama itu ada tempat-tempat seperti ini yang jadi tempat favorit pemainnya nongkrong.
Belajar jepret makro
Bulir padi mulai membesar

Berasa jadi peneliti pertanian
Setelah dari bukit, kita main-main ke sawah. Waktu kecil saya paling suka main-main ke sawah, kalau lagi musim tanam, saya suka bikin rusuh sawah, nyari keong sawah terus bawa pulang buat oleh-oleh Ibu, padahal ujung-ujungnya keong itu gak akan kesentuh, jijik pakai maksimal Ibu buat masak keong itu.
Setiap hari selalu ada agenda jalan-jalan, kasian kan kamera saya cuma bisa diam manis dalam tas. Mesti dipanasi mesinnya biar gak rusak,hehehe. Padahal memang dasarnya tidak bisa jauh dari kata jalan-jalan.
Sunset di kotaku

Dermaga labuan. Salah satu tempat favorit saya untuk lihat sunset. Cantik pemandangannya
Menunggu senja

Tempat paling asyik untuk liat sunset di Sumbawa itu ada di Kampung Pasir Labuan Sumbawa. Dari SMA saya paling suka nongkrong sore-sore disini. Pemandangannya cantik, walaupun banyak sampah bergentangan disekitar pantai, namanya juga kampung nelayan, susah untuk merubah kebiasaan masyarakat untuk menghargai lingkungannya.

Ini kampungku,,, Selamat datang kembali Lulu,,,
Menjelajah lagi, jalan-jalan lagi...
Samawa Sabalong Samalewa
^_^

Jumat, 06 Juni 2014

Cerita tentang "Takdir" Itu


“Tak peduli seberapa lembar kertas rencana yang kita buat, tidak peduli seberapa lama kita merencanakan hidup kita, tetapi jika Allah mengatakan ‘tidak’ maka tak ada daya kita untuk merubahnya, bahkan untuk menundanya pun tidak bisa. Itu yang dinamakan dengan takdir.” Lulu

Saya ingin bercerita sedikit saja tentang perjalanan hidup saya yang saya katakan sebagai takdir terindah. Di beberapa tulisan saya terdahulu saya selalu mangatakan bahwa saya mencintai apa yang saya jalani sekarang, saya cinta Lombok, saya cinta segala aktivitas saya dengan anak-anak disekolah, hobi saya jalan-jalan Lombok, menulis, wirausaha. Tetapi ternyata ada lho satu sisi melankolis yang ada dalam diri yang tiba-tiba bisa muncul kapan saja tanpa bisa dihindari, kadang sisi itu membuat bulir bening itu mengalir, sisi itu adalah kebutuhan akan kasih sayang. Kasih sayang yang saya inginkan saat ini adalah keluarga. Saya ingin dekat dengan mereka, saya ingin ada yang memarahi ketika lama pulang kerja atau ketika mulai lalai dengan kesehatan, tetapi selama  merantau jauh dari orang tua, hidup kita hanya kita yang mengendalikan, orang tua hanya pemantau jarak jauh, kadang iri dengan mereka yang tinggal dengan orang tua, kemana-mana ada Bapak yang antar, terus setiap hari makan masakan Ibu. Perhatian-perhatian mereka yang saya butuhkan, karena bagi saya cinta yang nyata adalah keluarga. Dalam setiap doa saya minta kepada Allah “Jika memang takdir saya adalah tinggal di rantauan, maka tunjukkan jalan itu, tetapi jika memang saya harus kembali pulang, maka tunjukkan saya jalan itu juga, entah bagaimana caranya.”
Baiklah kembali lagi kepada cerita takdir terindah itu, kau tahu bahwa kata-kata adalah doa, entah apakah bercanda atau tidak ketika kita sudah mengeluarkan kata-kata dari mulut itu maka itu akan menjadi doa bagi kita. Oleh karena itu, dalam islam kita diminta berhati-hati dalam berucap, karena bisa jadi itu doa yang akan menjadi kenyataan. Saya ingat kejadian pada pertengahan Maret 2014, minggu malam senin, sekedar bercanda saya bilang sama sahabat dekat saya yang namanya Nani, “Ni, aku mau ke Sumbawa minggu depan ni. Bapak bilang ada laki-laki yang mau datang ke rumah ngelamar.” Sontak Nani kaget mendengar apa yang saya katakan, saya juga bukan tipikal orang yang suka bercanda dengan hal seperti itu, tetapi entah mengapa malam itu kata-kata bercandaan itu keluar begitu saja dari mulut saya. Nani cuma bisa terkaget dengan semua cerita yang saya ucapkan, tidak ada hujan tidak ada angin secara tiba-tiba saya harus ke Sumbawa, dan Nani juga paham bagaimana saya, saya tidak akan melawan kata orang tua saya apapun keadaannya, makanya itu ketika saya mengatakan bahwa saya pulang atas kata orang tua dia langsung percaya saja.
Pada hari rabunya, usai shalat dzuhur Bapak tiba-tiba telpon “Lu, siapkan berkas-berkasmu ya, legalisir ijazah, transkrip nilai dan lain2nya. Ada lowongan jadi pendamping anak di Sumbawa.” Tanpa banyak tanya saya seperti terhipnotis cuma bisa ngangguk-ngangguk saja pas Bapak menfatwakan instruksinya. “Lulus atau gak lulus perkara nanti, yang penting kamu coba dulu saja, toh gak ada ruginya, kalo gak lulus bisa kembali lagi ke Mataram, kalo lulus ya Alhamdulillah jadinya bisa kumpul-kumpul sama keluarga lagi.” Kata-kata Bapak itulah yang membuat saya mantap untuk mengurus berkas-berkas saya.  Ijazah dan transkrip nilai pasca wisuda September 2013 lalu belum saya urus, pas mau urus selalu bilang “ah entar juga bisa kok,” begitu seterusnya sampai ada kebutuhan mendesak seperti ini barulah saya kalang kabut mengurus semuanya. Dalam waktu tiga hari semua bahan-bahan lamaran kerja mesti lengkap, panik sekali saat itu, tetapi seperti takdir yang Allah gariskan untuk saya semua berkas itu lengkap bahkan sebelum sampai pada deadline. Birokrasi kampus yang biasanya berbelit saat itu menjadi mulus layaknya jalan tol, tanda tangan orang-orang yang bisanya susah saya temui kemarin semuanya jadi gampang saya temui. Hingga hari H wawancara, semuanya berjalan lancar. Kaki ini seolah dijalankan Allah untuk kesana, ada rezeki mereka yang akan saya bawa melalui ini, saya yakin sekali dengan itu. Alhamdulillah seminggu kemudian ada sms yang datang ke HP mengatakan bahwa saya lulus, dari puluhan pendaftar saya jadi satu dari dua belas orang yang diterima.
Saya bersyukur, ternyata memang jalan saya adalah pulang ke rumah. ini adalah takdir terindah yang Allah gariskan untuk saya. Allah mengatakan kepada hambanya, minta apa yang kalian inginkan maka aku akan kabulkan. Allah tidak pernah melarang hambanya untuk berdoa, Allah malah mengatakan sombong kepada hambanya yang tidak meminta kepadanya. Hanya perkara waktu doa itu akan terkabul. Alhamdulillah doa itu diijabah Allah. Saya punya banyak waktu untuk keluarga saya, saya punya banyak waktu untuk mengabdikan diri saya kepada mereka, saya ingin selalu ada untuk mereka.
Saya jadi teringat dengan apa yang saya katakan kepada Nani pada senin pertengahan maret yang lalu, saya mengatatakan kalau saya akan ke Sumbawa, mungkin kepulangan saya untuk selamanya. Dan benar kata-kata itu menjadi kenyataan, padahal itu hanya main-main lho.Ini adalah kali kesekian saya yakin bahwa kata-kata itu doa. Entah apakah kata-kata yang kita ucapkan adalah bercanda, tetapi itu telah keluar dari mulut, maka ia akan menjadi doa yang datang kepada kita. Saya yakin, haqqul yakin bahwa ada takdir-takdir indah Allah lainnya yang akan saya jalani. Saya yakin juga bahwa ada sesuatu yang akan terjadi disini, ada garis takdir orang lain juga yang Allah titipkan melalui garis saya, karena sekali lagi saya sangat yakin hubungan manusia satu dan yang lainnya seperti jaring laba-laba, saling berhubungan. 

Ini saatnya untuk mengatakan “Selamat datang Sumbawa, selamat datang rumahku. Ini waktunya untuk mengabdikan hidupku untuk anak-anak hebat Sumbawa. Selamat datang kembali.”

Jumat, 14 Februari 2014

Singang (Ikan Kuning Dari Sumbawa)

Hai semuanya,..
Apa Kabar???
Sudah lama gak ngepost disini, kangen juga sih,hehehe...
Mau share apa ya??

Bagaimana kalau kita ngepost tentang makanan. Ini makanan sumbawa yang paling saya sukai, Ibu paling jago masak ini dan membuat saya tergila-gila. Satu makanan yang kalau saya sakit terus dikasi makanan ini saya langsung sembuh.
Sebenarnya makanan ini ada di seluruh Indonesia, cuma namanya saja yang berbeda. Misalnya di NTB saja disemua daerahnya ada makanan khas ini, di Lombok namanya Ikan Rajang Kuning atau yang lebih dikenal dengan Ikan Kelaq Kuning, di Bima/ Dompu, makanan ini namanya Palumara, Kalau di Sumbawa namanya Singang. Ciri khasnya cuma satu dimasak dengan air asam dan kunyit, tapi saya yakin walaupun sama disetiap daerahnya makanan ini punya rasa yang berbeda-beda, kalau di Sumbawa, khasnya masakan ini ditambah dengan daun kemangi supaya menghasilkan aroma yang harum, dan belimbing wuluh (supaya segar). I love this food very much :D :D :D
Sekarang saya mau masak makanan ini, bahan-bahan yang saya gunakan sederhana saja (tanpa kemangis dan belimbing wuluh, padahal itu yang buat makanan ini enak). Ikannya bebas merdeka mau pakai ikan apa saja, pakai daging ayam juga gak masalah...
Bahan2 yang digunakan
Bahan-bahan yang digunakan itu, Ikan tuna yang direndam dengan jeruk nipis supaya ikannya gak amis, cabe, bawang merah, bawang putih, tomat, kunyit, masako, asamnya direndam dengan air. Bahan-bahan yang digunakan sederhana saja soalnya cuma itu yang ada di dapur,ehehe. Tapi jangan khawatir, rasanya tetap enak kok :D
Bumbu2nya dihaluskan (bawang merah, bawang putih, kunyit, cabe, garam), tumis irisan bawang merah, setelah bawangnya agak menguning masukkan bumbu-bumbu tadi, tumis sebentar lalu masukkan air asam. Biarkan mendidih dan ikannya bisa dimasukkan kedalam air singang.
Ini dia singangnya :D
Dimakan pake nasi memang paling enak
Cara buatnya gampang rasanya pun enak dan segar :D
Di daerahmu ini namanya apa???
Share dong :D

Akhirnya Satu Antara Milyaran Manusia Itu Kau Temukan Kak...

Akad nikahnya sensei..
Kau pernah menulis ini kak..
Aku rasa tulisan-tulisanmu di blog yang sedikit melankolis bisa menjadi pertanda bahwa kau akan duluan bertemunya. Alhamdulillah...
"Saya rasa seberapa biasa pun seseorang dengan kesendirian, ia akan tetap merasa sepi. Sepenyendiri-penyendirinya seseorang, seintrovert-introvertnya mereka, mereka tetap butuh seorang pendengar.
Bukan! bukan hanya seorang pendengar, tapi seseorang yang membuat nyaman hati mereka.. seseorang yang mereka percaya, seseorang yang dengannya mereka berani memperlihatkan luka, yang di depannya mereka berani menunjukkan tangis... seseorang yang dengan sabar menjadi pendengar tentang cerita mereka yang patah-patah dan bercampur suara serak, yang itu pun masih tertahan di tenggorokan, yang membuat cerita mereka mungkin akhirnya hanya mampu ruah dalam tangis yang panjang... dan bahkan dalam tangis yang diam.Orang-orang seperti ini benar-benar membutuhkan seorang pendengar, namun adakah yang mengerti bahwa sebuah tangis yang diam juga adalah sebuah cerita? adakah kau, kalian dan saya mau menjadi pendengar dari suara-suara sepi? Ya.. menjadi pendengar dari cerita yang tak bisa diceritakan"
Dan akhirnya kau menemukannya, satu diantara milyaran manusia. Melihatmu duduk dengan kebaya putih, sambil menyaksikan sang pangeran mengucapkan janji 'gentleman' antara laki-laki dan laki-laki, bahwa dia akan mampu memikul tanggung jawab dari Sang Ayah kepadanya. Syahdu rasanya waktu itu. Kau berdua sekarang, setidaknya tangis dan tawa itu bisa kau bagi, beban berat yang kau pikul sendiri bisa menjadi ringan jika berdua.
Waktu itu aku pernah berceloteh 
"Kak carikan saya dong"
"Kamu sudah siap belum???"
Aku seperti biasa hanya cengar-cengir.
"Kalau kamu sudah siap baru tak carikan."

Dan memang benar, kata siap itu sekarang hanya di bibir saja, ada banyak hal yang menjadi penopang kita untuk mengatakan 'iya'.....

Jumat, 20 Desember 2013

Ada Lombok di Atas Meja

Sudah pernah dengar masakan khas Lombok seperti ayam taliwang, pelecing kangkung, pelecing ayam, bebalung, dan lain-lain??? Kalau sudah mendengar dan mencicipi, tidak ada kata lain yang terucap selain pedas, dan pedasnya itu pasti ingin tambah lagi dan lagi. Yah ciri khas makanan Lombok memang pedas. Pedasnya yang didapat dari cabe itu benar-benar menggoda lidah untuk tetap mencobanya. Kalau sempat bermain-main ke Lombok, rugi rasanya jika tidak bisa menikmati kuliner-kuliner tersebut. 
***
Kamis kemarin usai bagi rapot anak-anak PAUD Merah Putih, Rizal dan kawan-kawan di LPA Kota Mataram mengajak tim untuk makan siang. Kata mereka tempat makan ini paling oke makanannya, dijamin kalau sudah pergi makan kesana pasti bakal ketagihan dan pengen balik lagi. Penasaran seperti apa tempat makan itu, kita langsung tancap gas ke alamat yang di tuju yaitu Rumah Makan Khas Lombok Tanjung Karang. Pemilik rumah makan ini adalah Kak Okki, beliau ini keren, walaupun laki-laki tapi pintar masak, master chef dah. Sampai lokasi kita langsung disajikan menu makanan, ada banyak menu pilihan dan semuanya adalah makanan khas Lombok, ada pelecing ayam, pelecing kangkung, bebalung, ikan rajang bumbu kuning, ayam bakar taliwang. Pas lihat menu, jujur saya pengen pesan semuanya, semua menunya saya suka. Tapi jaga imej sama teman-teman, saya tahu badan saya gemuk dan saya tidak ingin terlalu menunjukkan kegemukan saya lagi dengan banyak makan. Alhasil saya memesan bebalung, bebalung itu kalau Indonesianya terkenal dengan kata sup tulang, tetapi kalau di Lombok bebalung itu bumbunya beda, banyak dan ribet (bagi saya sih,hehee). Teman-teman memesan menu yang berbeda, asyiklah jadi kita bisa sharing menu ketika makan nanti. 
Rumah makan ini suasananya asyik, berugak lesehan, ada free wifi, ada mushalla, ada ATM, halaman parkirnya yang luas, ada kolam ikannya juga di samping. Jadi sembari menunggu makanan datang kita bisa internetan dan main-main dengan ikan.
main-main dengan ikan dulu sembari nunggu masakan jadi :D

Kamis, 19 Desember 2013

Pembagian Hasil Laporan Perkembangan Anak PAUD Merah Putih

Tidak terasa sudah enam bulan kami bergelut di PAUD Merah Putih. Rasanya baru saja kemarin kami di sini. Portofolio hasil kerja anak-anak bertumpuk banyak, wow sebanyak inikah??? Kaget juga kita melihat hasil kerja yang begitu menumpuk di ruang perpustakaan PAUD. Sudah dari beberapa waktu yang lalu kami mencicil sedikit demi sedikit untuk memeriksa hasil portofolio mereka, dari portofolio itulah kita bisa melihat perkembangan anak, bagaimana perkembangan menulisnya, megenal hurufnya, dll. Berasa jadi guru beneran,hehehe.
Ini adalah pertama kalinya saya membuat Laporan Perkembangan Anak. Pernah satu kali diajari semasa kuliah dulu, dan semua data kit bebas manipulasi yang penting adalah cara penilaian yang kita lakukan. Ini sama juga rasanya seperti perasaan dokter yang mendiagnosis pasiennya, sakit apa dan obat apa yang diberikan semua tergantung dengan diagnosis dokter tersebut, yah begitulah saya saat ini. Bertumpuk portofolio dan pengamatan sehari-hari kami disekolah menjadi rujukan utama untuk memberikan penilaian kepada anak-anak. Saya berharap apapun yang tertulis dalam setiap deskripsi Laporan Perkembangan Anak tersebut bisa menjadi rujukan untuk para Orangtua di rumah memperlakukan anak mereka. Berharap sedikit tidak apa kan?? Walaupun saya sadar sampai saat ini kami masih belum berhasil merubah kultur masyarakat di Btn Tsunami ini atau sedikit tidak mempengaruhi anak-anaknya, padahal hampir setahun kami mengabdi di sini. Anak-anaknya telah dengan sekuat tenaga kami didik dengan pembiasaan-pembiasaan, tetapi tetap saja ketika kembali ke rumah mereka kembali lagi dengan kebiasaan di lingkungannya (saya pernah curhat di sini tentang kondisi masyarakat Tsunami). Batu saja jika terus menerus ditetesi air akan berlubang kan?? Saya yakin anak-anak itu juga begitu tidak peduli seberapa keras lingkungan tempat tinggalnya, suatu saat mereka akan melunak juga. Semoga kesabaran ini tetap ada pada kami.
Bagi rapot anak-anak
Guru dan Anak-anak PAUD Merah Putih
Seperti doa-doa saya sebelumnya, saya berharap semoga kita tetap istiqomah untuk mereka...... 
^_^

Selasa, 17 Desember 2013

Jelajah Eksotisme Lombok (Episode Pantai Batu Payung)

Hwaaaaa, serasa perjalanan ini tidak ada habisnya dan tidak ada lelahnya. Walau panas menyengat kulit, tetapi rasa penasaran akan keindahan pantai Lombok membuat semangat tetap menggebu-gebu. Masih dalam hari yang sama, ahad tanggal 15 Desember kemarin usai ke Pantai Seger, kami menyempatkan untuk menjelajah ke pantai yang terkenal dengan batunya yang besar dan berbentuk menyerupai payung itu. Setelah berkali-kali merencanakan untuk ke pantai ini, dan berkali-kali juga rencana itu gagal, akhirnya hari ini tiba juga. Rencana yang datang tiba-tiba memang selalu manjur untuk terlaksana, dibandingkan dengan rencana yang telah tersusun rapi. Bahagiaaaanya bisa ke pantai itu. Setidaknya saya telah menyelesaikan satu lagi daftar kunjungan pantai saya di Lombok. 
Pantai Batu Payung letaknya tidak jauh dari Pantai Aan. Jadi rute pantainya itu seperti ini. Dari Mataram kita langsung menuju ke Lombok Selatan (pakai motor sekitar satu jam setengah dengan keceatan yang sedang), dengan melewati jalan bypass Bandara Internasional Lombok. Bagi teman-teman yang baru pertama kali ke Lombok dan ingin backpackeran, maka jangan khawatir, untuk menjelajah ke semua pantai yang ada di Lombok Selatan, gak bakal nyasar, patokannya cuma jalan ke BIL. Kalau sudah sampai BIL, masih lurus terus hingga ketemu dengan desa sasak yaitu Desa Sade, dari sana masih terus jalan hingga ketemu dengan Pantai Kuta. Dari Pantai Kuta, mulainya bertemu dengan deretan-deretan pantai Lombok nan eksotis.  Pantai Kuta-Pantai Seger-Pantai Kaliantan-Pantai Aan-Pantai Batu Payung.
Teman-teman juga jangan pernah ada yang ragu untuk bertanya, orang-orang di sini ramah-ramah, apalagi dengan orang yang baru (pendatang/ wisatawan). 
***
Daya tarik utama dari Pantai Batu Payung ini adalah tidak lain karena ada batu besar yang menyerupai payung di pantai itu. Orang-orang beramai-ramai kesana karena penasaran dengan batunya yang konon berbentuk payung. Saya juga seperti itu, rasa penasarannya sama kok dengan rasa penasaran saya ketika ingin mengunjungi Pantai Pink. 
Batu Payungnya ada dibelakang bukit. Saya suka relief dari karangnya ^_^

Senin, 16 Desember 2013

Jelajah Eksotisme Lombok (Episode Pantai Seger)

Lombok memang terkenal dengan keindahan pantainya yang tidak ada habisnya. Pasir putihnya yang menawan, bukitnya yang hijau, airnya yang jernih dan bersih menjadi daya tarik utama pantai-pantai di Lombok. Setiap pantainya selalu memiliki keunikan tersendiri, ciri khas yang membuat kita rindu untuk kembali kesana. Misalnya pantai selong belanak yang ada di Penujak, Lombok Tengah, pasir putihnya itu tidak seperti yang ada di Pantai Kuta (yang butiran pasirnya bermerica dan besar), pasirnya lembut dan padat, sehingga kita yang berjalan di atasnya tidak kelelahan, dan pantulan bayangan kita akan terlihat di pasir itu. Ini mungkin karena efek dari pasirnya yang halus dan padat, sehingga jika air membasahi pasir, maka bisa menimbulkan refleksi dari benda-benda yang ada di atasnya. Pantai Pink dengan alga merahnya yang mendominasi pasir, Pantai Gili trawangan dengan sejuta pesona keindahan bawah lautnya, Pantai Kerandangan dengan karang-karangnya yang awesome, Pantai Batu Payung dengan karangnya yang khas berbentuk payung, Bukit Malimbu dengan pesona matahari terbenamnya, Pantai Tanjung Aan dengan bukit hijaunya, dan banyak lagi pantai-pantai lainnya. Saya selama 4 tahun tinggal di Lombok belum selesai menjelajahi semua pantai-pantai indah nan eksotis itu. 
Untuk menyelesaikan semua daftar kunjungan pantai saya, kemarin ahad 15 Desember saya dengan beberapa teman pergi ke Pantai Seger. Pantai Seger ini adalah salah satu lokasi bersejarah tentang kemunculan Nyale, setelah Pantai Kuta, Kaliantan, Pantai Tanjung Aan. Nyale ini adalah cacing laut yang erat kaitannya dengan legenda puteri mandalika, seorang puteri yang rela bunuh diri membuang dirinya di laut (Untuk cerita yang lebih lengkap bisa dicari digoogle,hehehe). Pantai Seger terletak di Lombok Selatan, dari Mataram membutuhkan waktu sekitar 1 1/2 jam dengan kecepatan yang strandar alias tidak mengebut, kalau dari Bandara Internasional Lombok cuma membutuhkan waktu 45 menit. Pantai Seger ini tidak jauh dari Pantai Kuta, masih dalam satu barisan pantai yang sama. 
Jangan khawatir dengan jalannya, jalan menuju Pantai Seger mulus dan beraspal. Pantai ini selalu ramai ketika perayaan "Bau Nyale", even yang diselenggarakan sekali setahun untuk perayaan kemunculan cacing laut kecil ini, terlebih lagi dengan adanya legenda Puteri Mandalika dibelakang kemunculan nyale ini menjadi point penting wisatawan untuk mengunjungi ini. Perayaan Bau Nyale ini juga sudah menjadi satu daya tarik wisatawan asing maupun domestik untuk mengunjungi Lombok. 

Pantai Seger

Jumat, 13 Desember 2013

Wajah-wajah Indonesia

Tiga minggu tidak buka blog, serasa ada banyak hal yang terlewatkan. Bagaimana kabar mereka yang disana, hal apa saja yang mereka bagikan. Yah, ada banyak hal yang terlewatkan. 
Foto-foto yang akan saya bagikan diblog ini adalah apa yang tertangkap kamera saya selama tiga minggu menghilang. Inilah wajah-wajah Indonesia yang sesungguhnya itu. Raut wajah yang menua, menahan segala beban. Perjuangan itu terlihat kuat dari raut-raut yang telah mengerut itu. Tanpa banyak cerita dan kata, aku tahu semuanya tidak mudah dilalui. Hidup ini tidak bisa terus tertawa, adakalanya kita mesti menangis lalu bangkit, agar kita paham bahwa hidup itu sekumpulan perjuangan yang mesti kita lalui.
1
2