Kamis, 22 Januari 2015

Bakela Tude di Sungai Ai Nunuk

"Tude itu apa???" Tanyaku heran, karena ini adalah pertama kali saya mendengar nama itu.
"Tude itu semacam kerang-kerangan yang hidup di sungai dan sekarang jumlahnya lagi banyak-banyaknya." Papar seorang teman tentang Tude itu.
"Ohh.... semacam Remis yang dilaut itu ya??"
"Nah bentuknya tidak jauh seperti itu."
Hasil searching di Google, bahasa umumnya Tude ini dikenal dengan nama Kerang Etok (curbiculacea). Tude atau Kerang Etok umumnya dijumpai di kawasan sungai air tawar yakni pada dasar sungai atau terusan. Ia bisa juga hidup dikawasan muara sungai yang berdekatan dengan delta atau laut, namun kerang ini lebih banyak hidup di sungai yang berdekatan dengan sawah. Kerang ini memiliki dua warna, hitam dan kuning, kerang yang berwarna hitam biasanya hidup di sungai berlumpur, sedangkan yang berwarna kuning hidup di sungai berpasir (Sumber Wikipedia)
Selain enak, ternyata kerang ini sangat bagus untuk dikonsumsi, karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan bagus untuk tubuh.  Tude ini banyak dijual di Pasar Seketeng (nama Pasar di Sumbawa) dan harga Tude yang masih mentah lumayan mahal sekitar Rp.3.000 untuk satu sing (takaran satu mangkok kecil dalam Bahasa Sumbawa), kalau membeli hanya satu atau beberapa sing saja, dipastikan tidak akan cukup, bahkan untuk makan saya sendiri. 
Saya merasa beruntung saat ini, karena seorang teman di Adventurous Sumbawa mengajak saya dan teman-teman AS untuk mencari Tude di sungai dekat rumahnya, di Ai Nunuk. Ai Nunuk itu adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Moyo Hilir, hanya 30 menit dari pusat kota Sumbawa. Kata si empunya yang punya desa, Tude di sungai Ai Nunuk jumlahnya berlimpah ruah, sekuat-kuat kita mencari, sebanyak itu pula hasil yang kita dapatkan. Rasa penasaran saya tentang pengalaman apa yang saya dapatkan nanti ketika mencari Tude membuat saya rela izin untuk pulang lebih awal sama Bos di kantor, hihi, judulnya itu 'Demi Tude apapun rela kulakukan' ^_^
tiba di lokasi

Minggu, 18 Januari 2015

Di Air Terjun Sejari, Kebersamaan Kita Kembali Terukir

Air Terjun Sejari
Jalan menyusuri hutan selama kurang lebih 20 menit kita sudah sampai di air terjun ini, namanya Air Terjun Sejari. Letaknya tidak jauh dari Air Terjun Pelman, air terjun pertama yang kita datangi. Air terjun ini juga masuk kedalam daftar air terjun yang jarang dikunjungi di Sumbawa a.k.a tidak sepopuler air terjun yang telah menjadi mindset pariwisata Sumbawa, padahal keindahannya juga tidak kalah memukau dan sayang jika dilewatkan begitu saja. 

Bang Jaka yang begitu menikmati suasana di air terjun ini
persiapan bakar-bakar ikan
bakar ikan
kebersamaan bersama keluarga besar AS
 Kebersamaan ini yang nantinya akan kita rindukan....


"Terkadang foto lebih bercerita daripada kata-kata, dan biarlah ini menjadi bukti bahwa kita pernah bersama"

Senin, 12 Januari 2015

Terjun Bebas di Pelman

Libur weekend cuma dua hari tapi ajakan jalan-jalan datang dari berbagai arah, itu sama artinya dengan punya uang cuma 100 ribu rupiah tapi keinginan belanja ini-itu tak bisa terbendung, ngenes gaes -_-. Eh tapi karena hidup itu harus memilih, maka harus ada pilihan-pilihan yang juga harus dipilih, dan saya memilih berpetualang ke tempat yang anti mainstream di Sumbawa, niatnya selain ajang promosi, juga sebagai wujud pelampiasan rasa keinginan untuk melihat surga-surga tersembunyi yang ada di Sumbawa.
Setelah sabtunya bernarsis ria di Ai Beling, hari minggu saya kembali diculik oleh teman-teman Adventurous Sumbawa untuk melakukan petualangan yang tak kalah emejing-nya, kita akan ke Pelman. Pelman merupakan sebuah nama air terjun yang terletak di lereng gunung Jaran Pusang, hanya 30 menit berjalan kaki menyusuri hutan dari Dusun Sejari, Kecamatan Plampang. Air terjun ini adalah air terjun yang paling mudah dijangkau di Sumbawa, jalannya pun tidak perlu gradak-gruduk seperti ketika ke Ai Beling kemarin, jalan menuju ke Dusun Sejari-nya sudah sangat bangus, melewati jalan raya besar yang beraspal mulus, kurang dari dua jam kita sudah sampai di Dusun Sejari. Setelah memarkir motor di perkampungan warga, kita bisa langsung melanjutkan trekking menyusuri hutan Jaran Pusang yang hijau nan indah alami. Tidak ada tanjakan yang menguras tenaga, jalannya lurus-lurus saja, makanya wajar dikatakan air terjun ini adalah air terjun yang aksesnya paling mudah di Sumbawa. 
Setelah berjalan kaki selama 30 menit kita akan sampai di tebing air terjun Pelman, tingginya sekitar 3 meter. Dari atas tebing itu kita bisa merasakan sensasi uji adrenaline yang sesungguhnya, yaitu dengan cara terjun bebas dari atas tebing. Buat teman-teman yang tidak bisa berenang, jangan coba-coba untuk ikut terjun bebas seperti ini, karena kolamnya lumayan dalam, kecuali membawa perlengkapan keselamatan seperti pelampung. Ini PR buat saya untuk segera bisa berenang, kan saya juga pengen terbang bebas seperti itu, hiks T_T
siap-siap Foto by Bang Farhan
1 foto by bang farhan

Minggu, 11 Januari 2015

Ai Beling, Air Terjun Paling Narsis di Sumbawa

Nyawa belum sepenuhnya kembali ketika telepon itu berdering, nama "Subhan" tertera di layarnya.
"Ada apa, Han???"
"Diajak sama Bang Farhan dan teman-teman Adventurous Sumbawa ke Ai Beling pagi ini. Bisa ikut Kak Lulu???" Suara Subhan diseberang sana sontak mengembalikan nyawaku seutuhnya, selimut yang masih setia memelukku langsung terlempar cantik disisi ranjang, tanpa babibu aku langsung beberes. 
"Bisa Han, saya siap-siap dulu."
Mimpi apa saya tadi malam sehingga dapat ajakan jalan-jalan yang sungguh sayang untuk ditolak begitu saja.  Ah Adventurous Sumbawa selalu jadi travelmate kece saya beberapa bulan terakhir ini, love it, deh.
Ai Beling. Siapa sih warga Sumbawa yang tidak mengenal air terjun itu. Pamornya hampir mendekati Mata Jitu Pulau Moyo. Ai dalam bahasa sumbawa artinya air, dan beling artinya bicara, Ai Beling jika diartikan seluruhnya bisa disebut sebagai air yang berbicara. Air yang jatuh dari sela-sela batuannya membuat air ini seolah-olah berbicara. Batu-batuan besar yang tersusun rapi membuatnya tampak indah alami. Bentuknya yang bertingkat-tingkat menjadi daya tarik tersendiri air tejun itu. Tapi tidak semua warga Sumbawa yang pernah ke air terjun itu, letaknya yang lumayan jauh, dan jalannya juga sangat anti mainstream a.k.a kurang bagus membuat orang berpikir dua kali untuk menuju kesana.
Perjalanan Menuju Ai Beling
Jam 08.00 Wita saya sudah selesai beberes dan menyiapkan segala perlengkapan untuk menuju ke Ai Beling, kotak makan dan sebotol air dengan ukuran yang lumayan besar tidak lupa saya bawa. Dalam setiap perjalanan saya tidak membiasakan diri untuk membeli air mineral, saya lebih suka membawa air dari rumah, dengan isi ulang di botol khusus yang selalu saya bawa setiap melakukan perjalanan (mencoba go green dengan mengurangi penggunaan bahan-bahan plastik, bumi sudah semakin tua, kawan). 
Mendung pagi ini tidak menjadi halangan bagi kami untuk bisa menikmati keindahan air terjun Sumbawa yang sudah tersohor namanya itu. Ai Beling terletak di Dusun Kuang Amo, Desa Sempe, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa. Memakan waktu sekitar 1 jam untuk menuju ke desa tersebut, dan 30 menit memasuki hutan dengan jalan yang anti mainstream itu, jalannya sangat menantang, dan untuk yang tidak terbiasa dengan jalan seperti itu disarankan untuk lebih berhati-hati dalam mengendarai motor. Jangan heran, kawan, inilah kekurangan pariwisata Sumbawa, sangat banyak tempat eksotis di Sumbawa yang memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai penambah PAD (Pandapatan Asli Daerah), tetapi ya itu aksesnya masih jauh dari kata layak. Bagi sebagian orang menganggap bahwa jalan yang jelek adalah halangan besar, tapi bagi para petualang jalan yang jelek adalah tantangan tersendiri, dan wujud syukur yang nyata, agar lebih menjaga jalan-jalan bagus yang telah dibuatkan pemerintah. Disanalah letak keunikan wisata Sumbawa, tantangannya sangat menantang adrenaline, dan saya suka itu (menantang beudtz gaes ^_^).
Disepanjang perjalanan yang terlihat adalah barisan bukit yang menghijau indah menyejukkan mata, pohon-pohon yang menjulang kokoh membuat sejuk sepanjang perjalanan kami, pemandangan yang indah itu sedikit mengurangi ketakukan kami akan jalan gradak-gruduk yang kami lalui. 
jalannya kayak gini, kalau motor ga bisa nanjak, kita mesti turun untuk mengurangi beban, hehe

Jumat, 26 Desember 2014

Indahnya Air Terjun Pamurun Desa Bangkat Monteh

Selalu ada kejutan disetiap perjalanan kami,  setelah berjuang dijalan yang begitu menantang, masuk hutan dengan medan yang licin, menikmati petualangan di Gua Mumber yang begitu menakjubkan, ternyata petualangan tidak terhenti disitu,  Sang Kapten mengajak kami ke tempat yang tidak pernah kami sangka sebelumnya, sebuah air terjun yang begitu mempesona, kawan.
Hanya 20 menit Desa Bangkat Monteh untuk menuju ke lokasi air terjun tersebut, tetapi karena hujan yang baru saja mengguyur Bumi Pariri Lema Bariri ini jalanan menjadi sedikit licin, kami mesti ekstra hati-hati dalam mengendarai motor, jalurnya juga sangat kece untuk penggemar motor trail (Bagi penggemar motor trail jalanan bagus sudah mainstream, jadi mesti ke jalanan yang sedikit bergoyang supaya anti mainstream, hehehe). Di desa ini (Desa Bangkat Monteh, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat) tidak hanya gua-gua eksotis yang menjadi daya tariknya, tetapi ada juga Air Terjun Pamurun yang begitu mempesona, sungai dengan aliran air yang begitu jernih, ditambah lagi dengan hijaunya hutan Selalu Legini yang membuat kita tidak henti-hentinya berdecak kagum, benar-benar pemandangan alam yang begitu alami tanpa jamahan tangan-tangan jahil manusia, dan harapan kami, semoga tangan-tangan jahil itu tidak mengganggu keindahan Sumbawa ini sampai kapanpun. Kalau ini dijadikan promosi produk, tidak hanya "buy one, get two" "beli satu, dapat dua", tapi "beli satu, dapat banyak", mengunjungi satu desa tapi bisa menikmati banyak keindahan alam yang emejing. 
Air Terjun Pamurun, Foto By Bang Fahri Samalewa

Senin, 15 Desember 2014

Petualangan Menakjubkan di Gua Mumber



Efek petualangan di Liang Dewa beberapa minggu yang lalu ternyata berbekas mendalam di hati saya. Saya jadi terpesona dan mulai menyukai ruang gelap bawah tanah yang bernama gua itu Memasukinya membuat sadar bahwa kekuasaan Allah itu tidak ada batasnya.
Tidak perlu menjelajah jauh untuk mencoba menikmati sensasi berpetualang di dalam gua, apalagi jika harus mengeluarkan banyak uang dan harus keluar negeri untuk itu. Sumbawa punya banyak gua yang amazing (baca:emejing) untuk menguji adrenallin kita, tetapi masalahnya (memang agak klasik tapi berpengaruh besar) adalah tidak adanya publikasi yang masif tentang keberadaan gua tersebut dan akses kesana yang agak susah, sehingga banyak yang mengira bahwa Sumbawa hanya sebuah daerah gersang tanpa sisi menarik sama sekali, padahal Sumbawa begitu mempesona untuk coba dijelajahi lebih dalam lagi. Adventurous Sumbawa mengajak dan memperkenalkan saya tentang semuanya, tentang keindahan Sumbawa yang tidak hanya ada di Pulau Moyo, Madu Sumbawa, dan Main Jarannya, lebih dari itu Sumbawa menjanjikan petualangan yang tak akan terlupakan. 
Sudah direncanakan selama beberapa minggu yang lalu, akhir pekan ini Adventurous Sumbawa akan caving lagi ke salah satu gua yang tidak kalah amazing-nya dengan yang ada di Liang Dewa, yaitu Gua Mumber yang ada di Sumbawa Barat. Gua ini belum banyak yang tahu, informasinya di internet pun tidak begitu banyak, bahkan susah untuk ditemukan. Tidak usah berbicara tentang informasi tentang wisata Sumbawa, karena itu sangat minim sekali, masyarakat Sumbawa saja tidak banyak yang tahu tentang itu. Om Imran adalah salah seorang teman fotografer yang pertama kalinya meracuni saya tentang gua itu, kata beliau gua itu sangat indah, dan terbukti dengan foto-foto yang diperlihatkan kepada saya. Ah ‘racun’ itu ada dimana-mana, kawan, maka berhati-hatilah jika tidak ingin racunnya masuk kedalam syaraf otak terdalam yang bisa membuat otakmu lumpuh seketika jika tidak datang kesana.
West Sumbawa Adventure
Judulnya adalah “West Sumbawa Adventure”. Perjalanan 2 hari di Sumbawa Barat dari tanggal 13-14 Desember 2014 dengan menjelahi beberapa tempat bersejarah di Sumbawa Barat, seperti Tiu Kelamu yang merupakan kolam tempat mandi Lala Jinis, makam Datu Seran yang merupakan makam raja-raja pada Kerajaan Seran dahulu kala, dan beberapa tempat lainnya. Salah satu tempat yang membuat saya sangat tertarik untuk ikut trip ini adalah perjalanan ke Gua Mumber, gua emejing yang membuat saya mupeng tak terkira sejak diracuni oleh Om Imran dengan foto dan cerita-cerita kece-nya.
Perjalanan dari Sumbawa ke Taliwang, Sumbawa Barat memakan waktu kurang lebih tiga setengah jam dengan kecepatan standar. Dari Sumbawa pukul 15.00 wita, tiba di taliwang pukul 17.30 wita. Lumayan melelahkan tetapi itu tidak akan terasa karena disepanjang jalan, mata akan dimanjakan dengan pemandangan hijau dengan barisan bukit dan sawah Sumbawa yang menyejukkan mata. Kalau badan sudah begitu lelah, bisa juga istirahat sejenak sambil menikmati jagung rebus asli Rhee yang terkenal itu. Jagungnya manis dan enak. Disepanjang jalan kawasan Rhee banyak penjual jagung rebus yang menjajakan jualannya di bale-bale sederhana pinggir jalan, disana kita bisa makan jagung sembari memulihkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan kembali. 
Ada satu tempat yang menarik juga untuk menjadi tempat peristirahatan, yaitu Bukit Galau. Dinamakan Bukit Galau bukan karena disini banyak ABG labil yang sering nongkrong  kemudian bergalau ria bersama ya, bukan, itu karena di bukit inilah tempat para pengendara dari Sumbawa ataupun Taliwang beristirahat melepas lelah sambil minum kopi di kedai yang ada di bukit tersebut. Bukit ini sebenarnya bernama Bukit Samarekat, tetapi belakangan lebih populer dengan nama Bukit Galau. Pemandangan yang disajikan juga tak kalah indah seperti jalan yang ada di film-film Hollywood dengan  bukit dan jalan meliuk-liuk tajam. Dari bukit ini akan terlihat jelas lautan Sumbawa dengan pulau-pulau kecilnya.
pemandangan laut Sumbawa dari Bukit Galau
berugak tempat istirahat dipuncak bukit

Senin, 08 Desember 2014

Hei, Ada Pegunungan Alpen di Sumbawa



“Mau kemana?? Tumben sepagi ini sudah mandi” Tanya Ibu yang heran melihatku sudah bebersih sepagi ini. Ah Ibu, tahu aja anaknya jarang mandi kalau tidak ada keperluan keluar rumah.
“Mau jalan-jalan, Bu, sama teman-teman kita.”
“Sepagi ini??? Biasanya masih dalam selimut.”
Hari minggu bagi saya adalah waktu relaksasi tenaga dan pikiran dengan bersantai. Jika tidak ada agenda keluar rumah alias jalan-jalan, maka jangan harap melihat saya rapi di rumah, kalau tidak untuk keperluan wudhu, air itu tidak akan mampir di kulit saya, Ibu sampai menggerutu “Anak gadis, anak gadis,” Hehehehe. Seharian tidur manis dengan TV di depan mata menjadi ritual wajib saya, bangun pagi sudah pasang channel Trans TV dan Trans 7, karena bagi saya hanya 2 channel TV itu saja yang masih agak normal, tanpa adanya sinetron hewan jadi manusia. Selesai acara petualangan ‘My Trip My Adventure’ barulah saya duduk manis dengan novel-novel cantik dipangkuan. Ah benar-benar hari minggu yang menyenangkan. Tetapi hari minggu saya belakangan ini mulai terganggu dengan tawaran-tawaran trip dari kawan-kawan Adventurous Sumbawa dan teman-teman yang lain, selalu saja ada agenda jalan-jalan disetiap minggunya, dan itu sangat menggiurkan, bisa membuat air liur saya menetes tiada henti. Setelah minggu kemarin ikut tripnya yang menantang adrenalin di Liang Dewa, minggu ini teman-teman AS kembali mengajak saya untuk berpetualang ke sebuah air terjun yang berada di Pernek, letaknya tidak jauh dari pusat kota Sumbawa Besar (Alhamdulillah tidak jauh, irit bensin :D)
Tidak hanya saya ciin yang niat pakai sangat untuk ke air terjun itu, Subhan travelmate saya selama beberapa minggu terakhir ini juga sampai rela menelpon membangungkan saya pagi-pagi demi tidak telat sampai dilokasi berkumpul kami. Saya jadi penasaran dengan keindahan air terjun ini.
Perjalanan ke Pernek
Jembatan Bendungan Pernek
Pukul 06.00 Wita kita sudah sampai lokasi pertemuan, hanya Mbak Elly yang kami jumpai disana, sedangkan yang lain masih dalam perjalanan. Selang beberapa jenak menunggu, teman-teman pun berkumpul dan perjalanan menuju air terjun kami lanjutkan. Memakan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke Pernek, salah satu desa yang berada di Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa. Jalan menuju ke desa ini bagus, tetapi ketika masuk menuju  Bendungan Pernek (Embung Pernek) jalannya sudah mulai jelek. Akibat hujan semalam, jalanan agak licin, jadi kita mesti hati-hati dan waspada dalam mengendarai motor, tidak perlu terburu-buru, safety first. Sampai di Bendungan Pernek, Bang Yudi Rusdian yang terlebih dahulu jalan mendahului kami terlihat kembali dengan muka yang agak kecewa.

Sabtu, 06 Desember 2014

Pantai Sebekil, Uniknya Tuh Disini

Perjalanan ke Pantai Sebekil
Sepulang dari Goa Liang Dewa kita melanjutkan trip ke pantai yang berada di Labangka 5. Katanya pantai yang akan kita datangi jaraknya lumayan jauh dari goa. Jarak yang dekat saja sudah terasa jauh, apalagi jarak yang jauh, hwaaa semangat Lulu.
Mungkin karena kita terlalu lama dalam mengendarai motor, kita sukses tertinggal dari teman-teman yang lain, dan itu mengakibatkan kita berkeliling di tempat yang sama berkali-kali alias nyasar. Bapak-bapak yang nongkrong dipinggir jalan saja sampai bingung melihat kita yang keliling tidak jelas, sekali lagi lewat ditempat itu saya khawatir piring cantik melayang ke muka, hwahahaha.
"Lost packer nih kita, ah lets get lost, lets goo." Teriak Bang Yudi.
Kita nyasaar ciiiin. Karena sinyal yang datang dan pergi, kita jadi susah menghubungi teman-teman AS untuk bertanya keberadaan mereka. Dan memang benar, malu bertanya sesat di jalan, dari tadi kita hanya putar-putar tidak jelas, tanpa adanya inisiatif untuk bertanya penduduk setempat, entah ide itu datang dari siapa diantara kita berempat, kita pun berhenti di pangkalan ojek dan bertanya kepada Bapak-bapak yang ada disana. Alhamdulillah, Allah selalu bersama para pejalan, berkat tanya-tanya kepada si Bapak kita pun menemukan jalan yang benar, putar arah lagi dan goooo....
Melihat teman AS menunggu kami di pinggir jalan rasanya seperti anak ayam yang telah menemukan induknya, bahagia. Setelah bertemu dengan teman-teman, kita melanjutkan lagi perjalanan kita menuju Pantai Sebekil. Dari jalan yang mulus halus hingga bertemu jalan yang membuat kita ajep-ajep diatas motor, tanda-tanda keberadaan pantai belum terlihat juga, yang ada hanyalah hamparan kebun yang mulai menghijau milik penduduk setempat. Ini adalah perjalanan terjauh saya selama di Sumbawa. 
"Biasanya pantai yang keren itu letaknya jauh kak." Hibur Subhan selama di perjalanan. Kita mengobati kelelahan selama diperjalanan dengan bercerita banyak hal, mulai dari cerita tentang pariwisata hingga cerita tentang gosip artis terkini (saking tidak adanya bahan pembicaraan lagi, gosip pun jadi ciin untuk rempong, hihihi).
Selama kurang lebih 1 jam (dikurangi waktu nyasar) kita sampai Pantai Sebekil Labangka 5. Mata langsung tertuju ke arah pantai, pasir hitam dengan batuan hitam yang cantik sukses menjadi daya tarik tersendiri pantai ini, ditambah lagi dengan ombak besarnya. 
Pantai Sebekil, Bang Yudi langsung action

Rabu, 03 Desember 2014

Petualangan Menakjubkan di Liang Dewa



Dalam Liang Dewa Foto by Bang Yudi Rusdian


Blind Trip
“Minggu ini kita ada agenda susur gua, yang bertempat di Labangka, kak.” Kata Subhan kepada saya malam itu.  Ini akan menjadi petualangan menegangkan, mengingat ini adalah yang pertama bagi saya. Yang pertama untuk menikmati petualangan susur gua, dan yang pertama ikut dalam trip kawan-kawan di Adventurous Sumbawa. Saya tidak punya ekspektasi apapun tentang perjalanan kali ini, yang ada dalam bayangan saya hanyalah, saya bisa bertemu dan berpetualang dengan kawan-kawan AS yang selama ini lebih banyak saya kenal melalui dunia maya a.k.a facebook, sebaik-baik teman dunia maya, alangkah lebih baik jika bertemu di dunia nyata, bukan??? Info tentang Liang Dewa pun saya tidak begitu tahu, baik dari segi sejarahnya atau tentang bentuk dari gua tersebut. Lets get lost, lest go-lah, sambil menirukan gaya Ruben Onsu, hehehe.
Bertemu Kawan-kawan AS untuk yang Pertama
Perasaan malu-malu kucing jelas sekali melanda perasaan saya pada pagi itu. Suasana baru dan orang-orang baru, membuat saya mati gaya, seakan di paksa beberapa saat untuk menjadi salah tingkah, tidak tahu mau berbuat apa. Ingin rasanya menyapa dan say “Ini Bang Takwa, ya??? Ini Bang Farhan, ya??? Salam kenal bang, saya Lulu.” Kata-kata itu ada di ujung lidah, tak bisa terucap dan hanya senyum yang canggung. Saya pemalu dalam hal ini, jujur.  Saya yakin kawan-kawan yang lain juga mengalami kebekuan yang sama dengan saya, hanya membutuhkan seorang perantara untuk membuat suasana dingin menjadi cair seketika. Keramahan langsung mendekap saya ketika Mbak Ely salah satu kawan AS tersenyum dan mengajak saya bersalaman. Detik selanjutnya berjalan seperti biasanya, normal, hanya membutuhkan waktu untuk kita saling mengenal satu sama lain. Perjalanan ini akan membawa kita pada titik itu, tidak perlu perkenalan yang formal, hanya perlu mengamati dalam bingkai masing-masing.

Senin, 01 Desember 2014

Nyongkolan, Pawai ala Sasak

Nyongkolan
Sewaktu kecil ketika aku tinggal di Lombok, aku paling suka menjadi bagian buntut barisan ini. Hanya sekedar membawa dompet kecil lusuh sebagai bekal untuk beli es, kaki mungilku setengah berlari mensejajarkan diri bersama barisan yang lain. Sedangkan, Ibu juga turut menjadi bagian dari barisan ini, bukan karena Ibu ingin turut serta, bukan, itu karena aku juga ikut barisan ini. Ibu akan sangat khawatir, jika dia membiarkanku sendiri dalam barisan yang didominasi orang dewasa itu. 
Gendang-gendangan ditabuh, penari-penari profesional dan amatir pun ikut bergoyang mengikuti irama yang disajikan. Aku hanya ikut goyang-goyang kecil seperti mereka. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang aku lakukan, yang aku tahu bahwa teman-teman seusiaku juga ikut dalam barisan ini.  Mereka semua larut dalam kebahagiaan yang sama. Sang laki-laki dan wanita di arak oleh warga satu kampung, setelah di bawa 'lari' oleh sang laki-laki dan dinikahkan, sang wanita akan diantar kembali dalam prosesi 'nyongkolan' ke rumah keluarga wanita. Ini Pernikahan ala Suku Sasak, kawan.